Tuesday, May 20, 2014

Love is Drama



 PAGI sudah menunjukan pukul 7 , seharusnya Bianca sudah berada disekolah. Tapi kali ini ia kesiangan. Tugas matematika yang ia tunda-tunda menjadi troublemaker dan membuatnya harus begadang mengerjakannya. Alarm jam beker yang sudah teriak daritadi dibiarkannya berdering, ia terlalu pulas tertidur sampai tidak mendengar teriakan jam bekernya.
Setelah bangun, ia mengucek-ngucek matanya. Kepalanya terasa pusing, perutnya lapar, mungkin ia memutuskan untuk tidak sekolah.
“sial.” Umpatnya sendiri, ia bangkit berdiri dan keluar dari kamar, didapatinya kedua orangtuanya yang sedang sarapan dimeja makan. Melihat keadaan Bianca yang seperti itu, mama Bianca hanya menggelengkan kepala.
“Bian. Ckckck, mama sengaja gak bangunin kamu, eh tapi kamu malah bener-bener ketiduran,” kata mama sambil mengunyah sarapan paginya. Nasi goreng buatannya sendiri.
Bianca menatap mamanya bingung, lalu ia duduk dikursi meja makan. Ditatapnya mama dan papa.
“Bianca begadang ma. Ngerjain tugas,” ucapnya santai. Papa menggeleng.
“kamu emang gak berubah-berubah ya..” papa mulai mengeluarkan suaranya. Mama mengangguk.
Daridulu, Bianca memang suka menunda tugas sekolahnya, alasannya malas. Terlalu banyak alasan dan akhirnya papa memarahi Bianca. Tapi, bukan membuat Bianca jera melainkan membuat Bianca mengulangnya lagi.
“kamu gak boleh gitu dong nak, kamu ini kan anak tunggal. Kamu harus pintar dong. Mama malu punya anak bodoh ah,” ucap mama datar. Bianca membisu.
“ya maaf deh. Bianca gak akan ngulangin lagi. Tapi, kali ini aja Bianca absen. Boleh kan ma? Boleh kan pa?” Bianca memelas, ditaruhnya kedua tangannya didepan badannya, pertanda memohon.
Mama dan papa menggeleng. Setelah itu mereka sarapan pagi bersama.

***

Pentas Seni alias Pensi di SMA Nuansa tinggal beberapa hari lagi. Tepatnya tanggal 17 Juni. Semua anak sibuk mempersiapkannya, termasuk Bianca. Ia menjadi pemain drama di acara Pensi. Sepanjang dua minggu kemarin, Bianca sibuk menghafal Naskah drama. Dan membuat Bianca lupa akan tugas-tugas yang harus dikerjakannya.
“Bi, kemaren kemana lo?” Ira merangkul Bianca. Bianca kaget dan memutar bola matanya.
“eh elo Ra. Kemaren gue telat, sorry ya gak ngabarin lo”  Bianca menatap lurus kedepan, dilihatnya sudah ada panggung ditengah-tengah lapangan sekolahnya. Panggung yang akan ia pakai untuk drama nanti, beserta acara-acara lainnya. Sekolah juga sudah dihiasi beragam hiasan dan aksesoris. Dan ada pula tenda bazar yang akan diadakan diacara Pensi. Acara Pensi SMA Nuansa memang sangat ramai, banyak yang sudah menunggu lama datangnya Pentas Seni Nuansa.
“ah dasar lo, oh iya, gimana naskahnya? Lo udah hafal kan? Lusa lohhhh” Ira menaikkan alisnya dan tersenyum simpul.
“yaudah lah. Tapi.........”
“tapi ada Fahmi maksud lo?” Ira menebak-nebak dan membuat Bianca melotot.
“ssssttt, jaga mulut lo, kalo ada yang denger gimana?” Bianca menyubit pelan tangan Ira. Ira tersenyum jail.
“ohh, gue tau. Jadi lo grogi nih? Hahaha” Ira terus menggodai Bianca. Bianca cemberut.
Fahmi Alatas atau yang biasa dipanggil Fahmi adalah lawan main Bianca didrama nanti. Fahmi belakangan ini juga menjadi gebetan Bianca. Sejak kelas 11 lalu, Bianca sudah menyukainya. Fahmi dikenal sebagai pribadi yang baik, dan ramah. Banyak anak cewek yang menyukainya. Jika dilihat, Fahmi mempunyai senyum yang manis dan suara yang membuat anak-anak cewek meleleh. Terlebih lagi Bianca, di Drama nanti, Fahmi akan menjadi pangeran berkuda putih. Dan Bianca, ia akan jadi putri yang diculik dan disandera disebuah gubuk kecil yang ditemani kucing anggora berwarna putih.
Sebelumnya, Bianca tidak pernah menduga hal ini akan terjadi padanya. Ia tidak menyangka kalau ia akan menjadi pemain dalam drama itu. Dan Fahmi adalah pangerannya. Setelah tahu ia akan bermain dengan Fahmi, ia pingsan dan langsung dipulangkan ke rumah. Mama yang melihat Bianca seperti itu hanya menggeleng dan tertawa.
Dikejauhan, ternyata Bianca melihat Fahmi didepan kelasnya, sedang menatapnya, dan.. tersenyum kepadanya. Bianca mencoba membalas senyumannya, dan menahan dirinya yang lemas melihat senyuman killer Fahmi, jika ia tidak menahannya, ia akan pingsan lagi.

***

“Ra. Lo pulang duluan aja yah. Gue mau latihan dulu,” Bianca sibuk memegang lembaran Naskah drama. Melihat itu, Ira hanya mengangguk.
“gue tungguin.” Ucap Ira datar. Bianca menggeleng.
“gue latihannya lama Ra,”
“biarin, gue gak mau nanti lo pingsan lagi waktu latihan.” Goda Ira, Bianca menyubit pipi Ira. Kini wajah Bianca memerah.
“apaan sih lo. Udah deh jangan ngomongin itu. Gue kan jadi keinget lagi.”
“sekarang gue mau nanya sama lo, lo itu kalo latihan grogi gak sih?” Ira menaikkan sebelah alisnya. Bianca hanya tersenyum.
“sedikit. Karena, udah biasa. Coba kalo jarang ketemu dia, mungkin gue sport jantung mulu” ujar Bianca. Ira mengangguk. Dilihatnya banyak anak-anak drama yang sudah berkumpul di aula.
“tuh Prince charming lo, good luck ya Bi.” Ira menunjuk ke arah Fahmi dengan kedua alisnya, dan mengedipkan sebelah matanya. Wajah Bianca merah merona, ia tersenyum manja.
Indira Fransiska atau yang biasa dipanggil Ira adalah sahabat Bianca sejak SMP. Mereka berdua sudah sangat dekat sejak dulu, sampai sekarang, mereka juga sudah merencanakan akan masuk universitas yang sama. Tapi, Ira juga dikenal misterius, banyak rahasia dikehidupannya.
“Hai Bi..” sapa Fahmi tersenyum kepada Bianca, Bianca membalasnya dan bersikap biasa-biasa saja, ia tidak mau menampakkan kegrogiannya didepan Fahmi. Ia harus terlihat cuek jika didepan Fahmi.
“hai juga Mi. Kapan nih mulainya?”
“masih lama nih, setengah jam lagi kata Velin. Mending kita ke kantin yuk!”
DAG DIG DUG  jantung Bianca. Mulutnya dibiarkan sedikit menganga, dan melongo. Ia bingung harus menjawab apa, tapi dengan cepat ia membuang rasa groginya itu.
Belum sempat menjawab, Fahmi cekatan menarik tangan Bianca, ia membawanya pergi dari aula. Sepandai tupai melompat, akan jatuh juga. Sedemikian rupa Bianca menyembunyikannya, akan terlihat juga. Jantungnya bergemuruh lebih cepat dan membuatnya keringatan. Fahmi membuatnya salah tingkah.
Setelah itu Fahmi mengajak Bianca duduk. Bianca yang masih salah tingkah mematung dikursi. Ia mencoba mengingat kejadian tadi, kejadian dimana pertama kali Fahmi memegang tangannya asli, bukan drama. Arghhhhh, Fahmi membuat Bianca setengah gila!
Setelah memesan juice mangga dan juice buah naga, Fahmi duduk disebelah Bianca. Kini, Bianca mulai seperti biasa.
“Bi, lo deg-degan gak? Pensi bentar lagi loh” tanyanya singkat.
“hehehe, iyalah deg-degan. Baru kali ini gue tampil didepan banyak orang,”
Fahmi mengangguk. Datanglah bibi penjual Juice buah mendatangi mereka. Juice Mangga untuk Fahmi dan Juice buah naga untuk Bianca.
“lo suka mangga ya Mi?” tanya Bianca datar. Fahmi mengangguk dan meniup poni rambutnya karena kepanasan.
“panas banget ya Bi, mataharinya nyengat banget nih. Duh” Fahmi juga mengipas-ngipas badannya dengan lembaran naskah. Peluh bercucuran dipinggir wajah Fahmi. Membuat Bianca melakukan sesuatu.
Bianca mengambil tisu dan mengelapkan keringat dipinggir pipi Fahmi, Fahmi kaget dan akhirnya ia mematung. Wajahnya sempat memerah, lalu tersenyum pada Bianca.
“thanks ya Bi. Bener kata orang..”
“emangnya kata orang gue kenapa?” Bianca menaikkan sebelah alisnya.
“ya, kata orang lo itu care, ternyata bener juga yah” mendengar itu, Bianca tersipu malu, ia merasakan rona merah naik ke wajahnya.

kejadian kali ini gak bakal gue lupain. Gue seneng banget Mi! Pengen deh gue teriak kegirangan waktu tadi.” Umpat Bianca dalam hati.

-Continued

No comments:

Post a Comment