PAGI sudah menunjukan pukul 7 , seharusnya Bianca
sudah berada disekolah. Tapi kali ini ia kesiangan. Tugas matematika yang ia
tunda-tunda menjadi troublemaker dan
membuatnya harus begadang mengerjakannya. Alarm jam beker yang sudah teriak
daritadi dibiarkannya berdering, ia terlalu pulas tertidur sampai tidak
mendengar teriakan jam bekernya.
Setelah bangun, ia mengucek-ngucek matanya. Kepalanya terasa pusing,
perutnya lapar, mungkin ia memutuskan untuk tidak sekolah.
“sial.” Umpatnya sendiri, ia bangkit berdiri dan keluar dari kamar,
didapatinya kedua orangtuanya yang sedang sarapan dimeja makan. Melihat keadaan
Bianca yang seperti itu, mama Bianca hanya menggelengkan kepala.
“Bian. Ckckck, mama sengaja gak bangunin kamu, eh tapi kamu malah
bener-bener ketiduran,” kata mama sambil mengunyah sarapan paginya. Nasi goreng
buatannya sendiri.
Bianca menatap mamanya bingung, lalu ia duduk dikursi meja makan.
Ditatapnya mama dan papa.
“Bianca begadang ma. Ngerjain tugas,” ucapnya santai. Papa
menggeleng.
“kamu emang gak berubah-berubah ya..” papa mulai mengeluarkan
suaranya. Mama mengangguk.
Daridulu, Bianca memang suka menunda tugas sekolahnya, alasannya
malas. Terlalu banyak alasan dan akhirnya papa memarahi Bianca. Tapi, bukan
membuat Bianca jera melainkan membuat Bianca mengulangnya lagi.
“kamu gak boleh gitu dong nak, kamu ini kan anak tunggal. Kamu harus
pintar dong. Mama malu punya anak bodoh ah,” ucap mama datar. Bianca membisu.
“ya maaf deh. Bianca gak akan ngulangin lagi. Tapi, kali ini aja
Bianca absen. Boleh kan ma? Boleh kan pa?” Bianca memelas, ditaruhnya kedua
tangannya didepan badannya, pertanda memohon.
Mama dan papa menggeleng. Setelah itu mereka sarapan pagi bersama.
***
Pentas Seni alias Pensi di SMA Nuansa tinggal beberapa hari lagi.
Tepatnya tanggal 17 Juni. Semua anak sibuk mempersiapkannya, termasuk Bianca.
Ia menjadi pemain drama di acara Pensi. Sepanjang dua minggu kemarin, Bianca
sibuk menghafal Naskah drama. Dan membuat Bianca lupa akan tugas-tugas yang
harus dikerjakannya.
“Bi, kemaren kemana lo?” Ira merangkul Bianca. Bianca kaget dan
memutar bola matanya.
“eh elo Ra. Kemaren gue telat, sorry ya gak ngabarin lo” Bianca menatap lurus kedepan, dilihatnya
sudah ada panggung ditengah-tengah lapangan sekolahnya. Panggung yang akan ia
pakai untuk drama nanti, beserta acara-acara lainnya. Sekolah juga sudah
dihiasi beragam hiasan dan aksesoris. Dan ada pula tenda bazar yang akan
diadakan diacara Pensi. Acara Pensi SMA Nuansa memang sangat ramai, banyak yang
sudah menunggu lama datangnya Pentas Seni Nuansa.
“ah dasar lo, oh iya, gimana naskahnya? Lo udah hafal kan? Lusa
lohhhh” Ira menaikkan alisnya dan tersenyum simpul.
“yaudah lah. Tapi.........”
“tapi ada Fahmi maksud lo?” Ira menebak-nebak dan membuat Bianca
melotot.
“ssssttt, jaga mulut lo, kalo ada yang denger gimana?” Bianca
menyubit pelan tangan Ira. Ira tersenyum jail.
“ohh, gue tau. Jadi lo grogi nih? Hahaha” Ira terus menggodai Bianca.
Bianca cemberut.
Fahmi Alatas atau yang biasa dipanggil Fahmi adalah lawan main Bianca
didrama nanti. Fahmi belakangan ini juga menjadi gebetan Bianca. Sejak kelas 11
lalu, Bianca sudah menyukainya. Fahmi dikenal sebagai pribadi yang baik, dan
ramah. Banyak anak cewek yang menyukainya. Jika dilihat, Fahmi mempunyai senyum
yang manis dan suara yang membuat anak-anak cewek meleleh. Terlebih lagi
Bianca, di Drama nanti, Fahmi akan menjadi pangeran berkuda putih. Dan Bianca,
ia akan jadi putri yang diculik dan disandera disebuah gubuk kecil yang
ditemani kucing anggora berwarna putih.
Sebelumnya, Bianca tidak pernah menduga hal ini akan terjadi padanya.
Ia tidak menyangka kalau ia akan menjadi pemain dalam drama itu. Dan Fahmi
adalah pangerannya. Setelah tahu ia akan bermain dengan Fahmi, ia pingsan dan
langsung dipulangkan ke rumah. Mama yang melihat Bianca seperti itu hanya
menggeleng dan tertawa.
Dikejauhan, ternyata Bianca melihat Fahmi didepan kelasnya, sedang
menatapnya, dan.. tersenyum kepadanya. Bianca mencoba membalas senyumannya, dan
menahan dirinya yang lemas melihat senyuman killer Fahmi, jika ia tidak
menahannya, ia akan pingsan lagi.
***
“Ra. Lo pulang duluan aja yah. Gue mau latihan dulu,” Bianca sibuk
memegang lembaran Naskah drama. Melihat itu, Ira hanya mengangguk.
“gue tungguin.” Ucap Ira datar. Bianca menggeleng.
“gue latihannya lama Ra,”
“biarin, gue gak mau nanti lo pingsan lagi waktu latihan.” Goda Ira,
Bianca menyubit pipi Ira. Kini wajah Bianca memerah.
“apaan sih lo. Udah deh jangan ngomongin itu. Gue kan jadi keinget
lagi.”
“sekarang gue mau nanya sama lo, lo itu kalo latihan grogi gak sih?”
Ira menaikkan sebelah alisnya. Bianca hanya tersenyum.
“sedikit. Karena, udah biasa. Coba kalo jarang ketemu dia, mungkin
gue sport jantung mulu” ujar Bianca. Ira mengangguk. Dilihatnya banyak
anak-anak drama yang sudah berkumpul di aula.
“tuh Prince charming lo, good luck ya Bi.” Ira menunjuk ke arah Fahmi
dengan kedua alisnya, dan mengedipkan sebelah matanya. Wajah Bianca merah
merona, ia tersenyum manja.
Indira Fransiska atau yang biasa dipanggil Ira adalah sahabat Bianca
sejak SMP. Mereka berdua sudah sangat dekat sejak dulu, sampai sekarang, mereka
juga sudah merencanakan akan masuk universitas yang sama. Tapi, Ira juga
dikenal misterius, banyak rahasia dikehidupannya.
“Hai Bi..” sapa Fahmi tersenyum kepada Bianca, Bianca membalasnya dan
bersikap biasa-biasa saja, ia tidak mau menampakkan kegrogiannya didepan Fahmi.
Ia harus terlihat cuek jika didepan Fahmi.
“hai juga Mi. Kapan nih mulainya?”
“masih lama nih, setengah jam lagi kata Velin. Mending kita ke kantin
yuk!”
DAG DIG DUG
jantung Bianca. Mulutnya dibiarkan sedikit menganga, dan melongo. Ia bingung
harus menjawab apa, tapi dengan cepat ia membuang rasa groginya itu.
Belum sempat menjawab, Fahmi cekatan menarik tangan Bianca, ia
membawanya pergi dari aula. Sepandai tupai melompat, akan jatuh juga.
Sedemikian rupa Bianca menyembunyikannya, akan terlihat juga. Jantungnya
bergemuruh lebih cepat dan membuatnya keringatan. Fahmi membuatnya salah
tingkah.
Setelah itu Fahmi mengajak Bianca duduk. Bianca yang masih salah
tingkah mematung dikursi. Ia mencoba mengingat kejadian tadi, kejadian dimana
pertama kali Fahmi memegang tangannya asli, bukan drama. Arghhhhh, Fahmi membuat
Bianca setengah gila!
Setelah memesan juice mangga dan juice buah naga, Fahmi duduk
disebelah Bianca. Kini, Bianca mulai seperti biasa.
“Bi, lo deg-degan gak? Pensi bentar lagi loh” tanyanya singkat.
“hehehe, iyalah deg-degan. Baru kali ini gue tampil didepan banyak
orang,”
Fahmi mengangguk. Datanglah bibi penjual Juice buah mendatangi
mereka. Juice Mangga untuk Fahmi dan Juice buah naga untuk Bianca.
“lo suka mangga ya Mi?” tanya Bianca datar. Fahmi mengangguk dan
meniup poni rambutnya karena kepanasan.
“panas banget ya Bi, mataharinya nyengat banget nih. Duh” Fahmi juga
mengipas-ngipas badannya dengan lembaran naskah. Peluh bercucuran dipinggir
wajah Fahmi. Membuat Bianca melakukan sesuatu.
Bianca mengambil tisu dan mengelapkan keringat dipinggir pipi Fahmi,
Fahmi kaget dan akhirnya ia mematung. Wajahnya sempat memerah, lalu tersenyum
pada Bianca.
“thanks ya Bi. Bener kata orang..”
“emangnya kata orang gue kenapa?” Bianca menaikkan sebelah alisnya.
“ya, kata orang lo itu care, ternyata bener juga yah” mendengar itu,
Bianca tersipu malu, ia merasakan rona merah naik ke wajahnya.
“kejadian kali ini gak bakal
gue lupain. Gue seneng banget Mi! Pengen deh gue teriak kegirangan waktu tadi.”
Umpat Bianca dalam hati.
-Continued
No comments:
Post a Comment