Tuesday, May 27, 2014

Adelia-

"Mama! Jangan tinggalin Adel sendiri ma! Adel mohon!!" Adel meronta meneriaki mamanya yang sudah siap membawa koper dan segala perlengkapannya untuk pulang ke tempat asalnya. Kota metropolitan, Jakarta.
"Adel, kamu harus janji sama mama! Kamu gak boleh ninggalin papa dalam keadaan apapun. Ini demi kebaikanmu nak.." ucap mama sambil menangis. wajahnya merah dan tidak terlihat tanda bahagia diwajahnya. Hanya ada duka yang menyelimuti mama.
Adel masih menangis dan merengek, wajahnya pun lebih merah dibandingkan mama, ia menangis histeris dan menahan tangan mama. Karena sebentar lagi mama akan meninggalkannya.
"Adel! Dengar mama! Mama minta tolong sekali sama kamu nak, kamu harus janji kamu sama mama, kalau kamu akan tetap tinggal dengan papamu. Dan jangam coba cari mama nak!" Perintah mama lagi, tangis Adel semakin menjadi.
"Adel, mama mohon.." mama memegang wajah Adel yang merah seperti kepiting rebus, badannya bergetar hebat.
"Kamu sayang kan sama mama? Tolong ya nak, kamu harus janji sama mama. Apapun yang terjadi kamu harus tegar, dan mencoba mengerti papa kamu. Ya nak?" Ucap mama terbata-bata.
Akhirnya, dengan berat hati Adel berjanji "ya mah.. Adel janji.."
Mama tersenyum, itulah senyuman mama yang paling manis dan hangat.
Serta ciuman dikening dari mama yang terakhir. Adel harus menerima kepergian mama.

Setelah itu, semuanya gelap. Tertutup awan hitam kelabu. Seperti hati Adel yang tidak pernah terang.

***

Adelia. Gadis manis yang baru berusia 13 tahun itu harus menerima kepergian mamanya. Mama memutuskan untuk bercerai dengan papa. Karena sikap papa yang terlalu egois dan mungkin membuat mama capek hati. Tapi, kenapa Adel harus tinggal dengan papa? Laki-laki yang sudah membuat mama pergi dan terlanjur membuat hati Adel hancur berkeping-keping. Itu semua karena papa. Adel benci papa. Sangat.

Dihidupnya, mama adalah sosok paling penting dan sangat berharga. Tapi, mama telah pergi. Dan Adel tidak boleh menyusulnya, karena ia sudah berjanji. Adel menyesal telah berjanji pada perjanjian bodoh itu.
Semua hancur, termasuk hati dan tubuh Adel. Ia frustasi, tubuhnya kurus kering, hitamnya kantung mata dibawah matanya, dan wajah yang pucat pasi.
Tidak ada tanda kehidupan lagi dihati Adel. Tidak.

Papa?
Laki-laki pengecut yang hanya bisa menyakiti hati seorang wanita. papa bahkan tidak pernah memikirkan perasaan mama, itupun hanya sekali.
Hanya satu yang Adel bingung dari papa.
Jika papa tidak mencintai mama, untuk apa papa menikahi mama?
Apa artinya pernikahan itu?
Entahlah. Hanya papa dan Tuhan yang tau.

Papa.
Papa juga tidak pernah pedulikan aku, papa juga tidak peduli kabarku seperti apa, ia bahkan tidak menganggapku manusia dirumah.
Ia malah menganggap kalo ia hidup sendiri didunia ini
Hanya kerja, kerja, dan kerja.
Jika papa mencintai pekerjaan papa, menikahlah dengan pekerjaan pa.

***

Cerita ini hanya fiktif belaka, jika ada kesamaan nama, peristiwa, dan tanggal harap dimaklumi..

Saturday, May 24, 2014

Ungu - Kau Anggap Apa

Sulit tuk ku mengerti jalan pikiranmu 
Setengah hatiku terluka, senangkah hatimu 
Ku akan pergi, kau tak menginginkanku 
Kau lukai kebanggaan, perasaanku 
Dengan sadar menyakitiku

Ku takkan pergi bila kau anggap aku ada 
Hanya mencintamu pun aku bisa 
Takkan ku sesali, hidup tanpamu aku bisa
Akan hanya cinta yang ku bawa pulang

Sulitnya tuk pungkiri hati yang terbagi 
Sepenuh hatiku memujamu, kau anggap apa 
Ku akan pergi, kau tak menginginkanku
Ku tak ada di hatimu lagi, khianatiku 
Dengan sadar menyakitiku

Ku takkan pergi bila kau anggap aku ada 
Hanya mencintamu pun aku bisa 
Takkan ku sesali, hidup tanpamu aku bisa 
Akan hanya cinta yang ku bawa pulang

Ku tak ada di hatimu lagi, khianatiku

Ku takkan pergi bila kau anggap aku ada 
Hanya mencintamu pun aku bisa 
Takkan ku sesali, hidup tanpamu aku bisa 
Akan hanya cinta yang ku bawa pulang

Aku takkan pergi bila kau anggap aku ada 
Hanya mencintamu pun aku bisa 
Takkan ku sesali, hidup tanpamu aku bisa 
Akan hanya cinta yang ku bawa pulang 

Peterpan - Menunggumu feat.Chrisye

Di dalam sebuah cinta terdapat bahasa
Yang mengalun indah mengisi jiwa
Merindukan kisah kita berdua
Yang tak pernah bisa akan terlupa

Bila rindu ini masih milikmu 
Kuhadirkan sebuah tanya untukmu 
Harus berapa lama aku menunggumu 
Aku menunggumu

Di dalam masa indah saat bersamamu 
Yang tak pernah bisa akan terlupa
Pandangan matanya menghancurkan jiwa 
Dengan segenap cinta aku bertanya

Bila rindu ini masih milikmu 
Kuhadirkan sebuah tanya untukmu
Harus berapa lama aku menunggumu
Aku menunggumu

Dalam hati kumenunggu..
Dalam hati kumenunggu.. aku… 
Dalam benak kumenunggu.. 
Dalam hati kumenunggu.. aku… 
Masih menunggu….

Bila rindu ini masih milikmu  
Kuhadirkan sebuah   
Harus berapa lama 
Harus berapa lama

Aku menunggumu
Aku menunggumu 
Aku menunggu 
Aku menunggumu

Dalam hati kumenunggu.. 
Dalam benak kumenunggu.. 
Dalam hati kumenunggu.. 
Dalam benak kumenunggu.. 
Dalam hati kumenunggu.. 

well, ini lagu udah lawas banget. waktu itu gue masih kecil hahaha, tapi gue suka kok sama lagu-lagu Peterpan. {Peterpan ya, bukan Noah} jujur, waktu itu mereka {yang sekarang Noah} masih lengkap banget, personilnya, kekompakkannya, semuanya deh perfect. lagunya.. liriknya aduh..
gue masih inget banget waktu gue masih TK, My Dad ngebeliin Album Peterpan, waktu itu ayah beliin yang Ost. Alexandria. itu sebagai hadiah ulang tahun loh, waktu itu gue bertiga {mamah, ayah, dan gue} itu adalah Sahabat Peterpan. tetapi saat mereka ngeluarin Andika dan Indra, itu semua udah gak asik lagi..
kalo Peterpan menurut kalian gimana? :)

Peterpan - Ada apa Denganmu

Sudah maafkan aku, segala salahku
Dan bila kau tetap bisu 
Ungkapkan salahmu 

Dan aku sifatku, dan aku khilafku 
Dan aku cintaku, dan aku rinduku

Seduah lupakan semua 
Segala berubah 
Dan kita terlupakan, kita terluka
Dan aku sifatku, dan aku khilafku 
Dan aku cintaku, dan aku rinduku

Reff:
Kutanya malam,dapatkah kau lihatnya perbedaan 
Yang tak terungkapkan 
Tapi mengapa kau tak berubah
Ada apa denganmu
Oh...hanya malam dapat meleburkan 
Segala rasa yang tak terungkapakan 
Tapi mengapa kau tak berubah 
Ada apa denganmu

Peterpan - Ku Katakan dengan Indah

Ku katakan dengan indah, dengan terbuka hatiku hampa 
Sepertinya luka menghampirinya 
Kau beri rasa yang berbeda mungkin ku salah... 
Mengartikannya yang ku rasa cinta

Tetapi hatiku selalu meninggikanmu 
Terlalu meninggikanmu, selalu meninggikanmu

Kau hancurkan hatiku, hancurkan lagi
Kau hancurkan hatiku tuk melihatmu 
Kau terangi jiwaku, kau redupkan lagi
Kau hancurkan hatiku tuk melihatmu

Reff:
Membuatku terjatuh dan terjatuh lagi
Membuatku merasakan yang tak terjadi 
Semua yang terbaik dan yang terlewati 
Semua yang terhenti tanpa ku akhiri

Peterpan - Semua Tentang Kita

siapa yang gak tau lagu ini? ini lagu yang bikin gue nangis.. entah kenapa, lagu ini mengingatkan semua kenangan yang ada dalam hidup gue.

Waktu terasa semakin berlalu  
Tinggalkan cerita tentang kita
Akan tiada lagi kini tawamu  
Tuk hapuskan semua sepi di hati
 
Reff:
Ada cerita tentang aku dan dia  
Dan kita bersama saat dulu kala  
Ada cerita tentang masa yang indah 
Saat kita berduka saat kita tertawa
 
Teringat di saat kita tertawa bersama  
Ceritakan semua tentang kita
 
back to : Reff  

Thursday, May 22, 2014

Jatuh Cinta



Jatuh cinta berjuta rasanya
Biar siang biar malam
Terbayang wajahnya
               


Bruk!
"Hey!" Raihan berteriak dengan suara lantang, ia baru saja ditabrak seorang cewek teman sekelasnya. Fani.
"Hey Bro! oh iya, ada salam tuh." kata Fani dengan nada menggoda, ia juga tersenyum jail.
"hah? dari siapa?" Raihan merasakan rona merah naik ke wajahnya.
"dari Caris. kelas 11-1" Fani akhirnya tertawa melihat wajah Raihan seperti kepiting rebus. ia tertawa sejadi-jadinya, tapi Raihan, ia merasakan jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya.
"cieee.... pipi lo merah tuh hahahaha"
"Caris mana? kelas 11-1?"  Raihan mencoba bertanya kembali. soalnya, ia belum pernah mendengar nama Caris sejak ia bersekolah di SMA Nusantara.
"cari aja sendiri." Fani melengos pergi. Raihan memasang tampang bingung tapi, untuk pertama kalinya ada cewek yang menyukainya, Raihan merasa bangga.
sepanjang pelajaran, Raihan melamun memikirkan nama 'Caris'. "siapa sih dia? kayaknya aku gak kenal sama dia. setauku, disekolah gak ada yang namanya Caris". umpatnya dalam hati.
disela-sela Bu Indri mengajar, Raihan mencoba bertanya lagi kepada Fani. informasi yang ia dapati tadi sama sekali tidak cukup.

"Fan. woy"
Fani pura-pura tidak mendengar, wajahnya menahan tawa. sedangkan Raihan terus mendengus kesal.
"Fan, eh budeg banget sih lo. woy!"
"Fani!! Fan!"
"RAIHAN!!!!!!!!" suara Bu Indri si guru Killer terdengar lantang didalam kelas. beberapa anak menahan tawa. Raihan yang merasa dipanggil mendongak, dan gugup.
"ngapain kamu?"
"eh, anu bu. tadi mau manggil Fani, tapi Faninya gak denger" Raihan mencoba menjelaskan apa yang terjadi.
Bu Indri menggeleng, "mau ngapain manggil Fani? ada perlu apa?" Bu Indri melipat tangannya, ia memasang wajah kusut.
Fani menahan tawanya, dalam hati ia tertawa sejadi-jadinya.
"ng--gak bu. nggak na-nanya apa-apa kok." Dalam hati, Raihan ingin sekali menampol Fani.
“coba kamu jelaskan apa yang ibu jelaskan tadi!” perintah Bu Indri dengan mata melotot, kini Raihan semakin kesal. Teman sebangkunya Tino tidak memberitahu kalau Bu Indri tadi memperhatikannya.
“pelajaran biologi kan bu?” Raihan mencoba mengeles. Tapi sayang, Bu Indri sangat sulit ditaklukan.
“kamu lebih baik berdiri didekat papan tulis. Cepat!!!!” Bu Indri memerintah lagi, akhirnya Raihan menurut daripada terus diteriaki Bu Indri. Ia melakukan apa yang Bu Indri suruh, berdiri didepan kelas. Memalukan.

***

“Fani! Sialan lo ah.” Raihan mengerenyitkan dahinya. Tidak terlihat tanda kalau ia sedang bahagia.
“hehe, habisnya lo itu berani banget sih dipelajaran Bu Indri. Nanti gue ikut-ikutan disetrap lagi ah. Sorry ya Bro,” Fani tertawa kecil, ditatapnya teman cowok sekelasnya itu, Raihan Davidson.
“sekarang gue mau nanya sama lo, seumur-umur gue sekolah disini. Gue gak pernah denger cewek yang namanya Caris. Info dari lo itu tuh bikin gue kesel coba”
“namanya bukan Caris. Namanya itusih sebenernya Carissa, tapi temen-temen manggilnya Caris.” Fani mulai menjelaskan. Mulut Raihan berbentuk o.
“oooh, gitu. Lo kenal sama dia?”
“kenal, kemarin gue kenalan sama dia.”
“lo tau orangnya?”
“tau”
“kasih tau gue dong!!!” Fani membuat Raihan penasaran, wajah Raihan memerah lagi.
“cari aja sendiri. Masa lo gak mau nyari sih,”
“caranya gimana?”
“huh! Ya caranya lo dateng aja ke kelas 11-1. Lo cari deh yang namanya Carissa. Udah ah gue laper nih mau ke kantin!” Fani melangkah pergi meninggalkan Raihan sendiri dikoridor kelas 11-10.
“sial.” Raihan membatin.

Raihan Davidson atau yang sering disebut Raihan adalah anak remaja yang baru berusia 16 tahun. Ia adalah anak pertama dari dua bersaudara. Nama ‘Davidson’ diambil karena ayahnya menyukai motor Harley Davidson. Raihan juga dikenal sebagai pribadi yang baik, ramah, lucu, dan gokil. Tapi, setelah lama menjadi remaja, ia baru merasakan yang namanya jatuh cinta diusianya yang sekarang.
Disekolah, wajah Raihan juga menjadi kesukaan cewek-cewek junior. Tetapi, tidak ada yang berani menyampaikan salam ataupun bertegur sapa. Mereka hanya cengengesan jika bertemu dengan Raihan. Maka dari itu, setelah ada yang mengirim salam kepadanya Raihan merasa sangat bangga. Ia merasa tak kalah populernya dengan seniornya dikelas 12.
“Carissa? Hmm..” gumamnya sendiri. Ia masih memikirkan siapa gadis pemilik nama itu. Murid baru? Atau siapa?
“DARRR!!!!” Tino membuyarkan lamunan Raihan, Raihan hampir terjatuh gara-gara terdorong oleh teman sebangkunya itu.
“ah sialan lo No. Untung aja gue gak jantungan”
“habisnya lo dicari kemana, eh ternyata disini. Pake ngelamun lagi, ngelamunin siapa lo? Kesambet baru tau deh..” ucap Tino tanpa jeda sedikitpun.
“diem lo ah kaleng rombeng! Suara lo tuh gak enak didengar. Ngomong mulu ah, yuk anter gue ke kantin!” Raihan cemberut dan menarik tangan Tino asal. Tino diam tanpa respon.
“gak mau. Kalo lo nraktir, baru gue mau..” Tino tersenyum menggoda. Alisnya dinaikkan sebelah.
“iya ah banyak omong lo. Cepet nih gue udah laper!”
Hari ini kantin cukup sepi, mungkin karena kelas 12 masih kelas tambahan. Jadi kantin hanya dipenuhi oleh junior. Melihat kantin sepi, Tino langsung duduk manis. Sedangkan Raihan menuju warung kesukaannya jajan. Raihan berjalan pelan, ia melihat ada cewek diam dipilar kantin dekat warung tempat ia jajan, tapi Raihan tidak peduli. Ia langsung memesan makanannya.
“Bi, Mie ayam nya dua, yang satu gak pake pedes yang satu nggak. Nih uangnya” Raihan memesan kepada bibi penjual Mie Ayam kesukaannya, Bibi Anik sudah sedikit pikun. Jadi, pernah dulu ada kejadian, ada anak yang memesan mie ayam, lalu belum membayar, alasannya setelah makan ia mau membayar, tapi ternyata anak itu kabur. Lupa dengan wajahnya bibi menunjuk anak lain yang tidak bersalah. Maka dari itu banyak anak yang terlebih dahulu membayar makanannya.
Setelah memesan mie, Raihan melihat lagi ke arah cewek tadi berdiri. Cewek itu hilang, mungkin ia sudah pergi.

***

“Carissa!”
“ya?”
“gimana sama Raihan? Dia udah tau lo belum?”
“belum. Gue gak mau dia cepet-cepet tau gue. Karena gue pengen ngetes dia, apakah dia berusaha untuk pengen tau tentang gue, atau dia gak peduli..”

Carissa Adriana, adalah seorang gadis remaja yang baru berusia 16 tahun dibulan Januari kemarin. Ia hidup dikeluarga yang ‘bisa’ dibilang kaya. Ayahnya mempunyai perusahaan dan punya satu hotel disalah satu kota besar diindonesia. Carissa baru saja pindah saat pertengahan semester 1, ia mulai mengenal lingkungan sekolahnya. Karena ramah dan ceria, Caris mempunyai banyak teman. Tak hanya itu, banyak senior yang mengincarnya, tapi Caris menolak semuanya. Ia malah ingin mencari cintanya sendiri, ia ingin merasakan bagaimana mencari cinta, bukan langsung mendapatkan cinta yang tidak tau rimbanya.
Jika dilihat, Carissa memiliki mata yang indah dengan bulu mata yang lentik. Mempunyai kulit putih bersih tidak pucat, bibir yang berwarna pink alami, hidung yang mancung keturunan orang tuanya, dan rambutnya yang hitam pekat yang selalu ia gerai sebahu. Itulah Carissa. Gadis sederhana yang memiliki kecantikan natural yang luar biasa.
“gue seneng banget!!!!” teriak Carissa setelah sampai dikelas, ia mulai bercerita kepada sahabatnya.
“kenapa Ris? Pasti ketemu Raihan ya? Cieeee”
“iya hehehe, dia tadi lagi dikantin, pas banget waktu gue nemenin Anis lagi jajan di warung Bi Anik, Raihan juga jajan disitu. Gilaaa baru kali ini liat dia dari deket.” Wajah Carissa sumringah. Wajahnya pun memerah.
“cie cieee....”
“trus gimana? Apa dia udah tau lo belum?”
“belum. Kenalan aja belum hahaha. Lagian juga Gue gak mau dia cepet-cepet tau gue. Karena gue pengen ngetes dia, apakah dia berusaha untuk pengen tau tentang gue, atau dia gak peduli..”

-Continued

Tuesday, May 20, 2014

Love is Drama



 PAGI sudah menunjukan pukul 7 , seharusnya Bianca sudah berada disekolah. Tapi kali ini ia kesiangan. Tugas matematika yang ia tunda-tunda menjadi troublemaker dan membuatnya harus begadang mengerjakannya. Alarm jam beker yang sudah teriak daritadi dibiarkannya berdering, ia terlalu pulas tertidur sampai tidak mendengar teriakan jam bekernya.
Setelah bangun, ia mengucek-ngucek matanya. Kepalanya terasa pusing, perutnya lapar, mungkin ia memutuskan untuk tidak sekolah.
“sial.” Umpatnya sendiri, ia bangkit berdiri dan keluar dari kamar, didapatinya kedua orangtuanya yang sedang sarapan dimeja makan. Melihat keadaan Bianca yang seperti itu, mama Bianca hanya menggelengkan kepala.
“Bian. Ckckck, mama sengaja gak bangunin kamu, eh tapi kamu malah bener-bener ketiduran,” kata mama sambil mengunyah sarapan paginya. Nasi goreng buatannya sendiri.
Bianca menatap mamanya bingung, lalu ia duduk dikursi meja makan. Ditatapnya mama dan papa.
“Bianca begadang ma. Ngerjain tugas,” ucapnya santai. Papa menggeleng.
“kamu emang gak berubah-berubah ya..” papa mulai mengeluarkan suaranya. Mama mengangguk.
Daridulu, Bianca memang suka menunda tugas sekolahnya, alasannya malas. Terlalu banyak alasan dan akhirnya papa memarahi Bianca. Tapi, bukan membuat Bianca jera melainkan membuat Bianca mengulangnya lagi.
“kamu gak boleh gitu dong nak, kamu ini kan anak tunggal. Kamu harus pintar dong. Mama malu punya anak bodoh ah,” ucap mama datar. Bianca membisu.
“ya maaf deh. Bianca gak akan ngulangin lagi. Tapi, kali ini aja Bianca absen. Boleh kan ma? Boleh kan pa?” Bianca memelas, ditaruhnya kedua tangannya didepan badannya, pertanda memohon.
Mama dan papa menggeleng. Setelah itu mereka sarapan pagi bersama.

***

Pentas Seni alias Pensi di SMA Nuansa tinggal beberapa hari lagi. Tepatnya tanggal 17 Juni. Semua anak sibuk mempersiapkannya, termasuk Bianca. Ia menjadi pemain drama di acara Pensi. Sepanjang dua minggu kemarin, Bianca sibuk menghafal Naskah drama. Dan membuat Bianca lupa akan tugas-tugas yang harus dikerjakannya.
“Bi, kemaren kemana lo?” Ira merangkul Bianca. Bianca kaget dan memutar bola matanya.
“eh elo Ra. Kemaren gue telat, sorry ya gak ngabarin lo”  Bianca menatap lurus kedepan, dilihatnya sudah ada panggung ditengah-tengah lapangan sekolahnya. Panggung yang akan ia pakai untuk drama nanti, beserta acara-acara lainnya. Sekolah juga sudah dihiasi beragam hiasan dan aksesoris. Dan ada pula tenda bazar yang akan diadakan diacara Pensi. Acara Pensi SMA Nuansa memang sangat ramai, banyak yang sudah menunggu lama datangnya Pentas Seni Nuansa.
“ah dasar lo, oh iya, gimana naskahnya? Lo udah hafal kan? Lusa lohhhh” Ira menaikkan alisnya dan tersenyum simpul.
“yaudah lah. Tapi.........”
“tapi ada Fahmi maksud lo?” Ira menebak-nebak dan membuat Bianca melotot.
“ssssttt, jaga mulut lo, kalo ada yang denger gimana?” Bianca menyubit pelan tangan Ira. Ira tersenyum jail.
“ohh, gue tau. Jadi lo grogi nih? Hahaha” Ira terus menggodai Bianca. Bianca cemberut.
Fahmi Alatas atau yang biasa dipanggil Fahmi adalah lawan main Bianca didrama nanti. Fahmi belakangan ini juga menjadi gebetan Bianca. Sejak kelas 11 lalu, Bianca sudah menyukainya. Fahmi dikenal sebagai pribadi yang baik, dan ramah. Banyak anak cewek yang menyukainya. Jika dilihat, Fahmi mempunyai senyum yang manis dan suara yang membuat anak-anak cewek meleleh. Terlebih lagi Bianca, di Drama nanti, Fahmi akan menjadi pangeran berkuda putih. Dan Bianca, ia akan jadi putri yang diculik dan disandera disebuah gubuk kecil yang ditemani kucing anggora berwarna putih.
Sebelumnya, Bianca tidak pernah menduga hal ini akan terjadi padanya. Ia tidak menyangka kalau ia akan menjadi pemain dalam drama itu. Dan Fahmi adalah pangerannya. Setelah tahu ia akan bermain dengan Fahmi, ia pingsan dan langsung dipulangkan ke rumah. Mama yang melihat Bianca seperti itu hanya menggeleng dan tertawa.
Dikejauhan, ternyata Bianca melihat Fahmi didepan kelasnya, sedang menatapnya, dan.. tersenyum kepadanya. Bianca mencoba membalas senyumannya, dan menahan dirinya yang lemas melihat senyuman killer Fahmi, jika ia tidak menahannya, ia akan pingsan lagi.

***

“Ra. Lo pulang duluan aja yah. Gue mau latihan dulu,” Bianca sibuk memegang lembaran Naskah drama. Melihat itu, Ira hanya mengangguk.
“gue tungguin.” Ucap Ira datar. Bianca menggeleng.
“gue latihannya lama Ra,”
“biarin, gue gak mau nanti lo pingsan lagi waktu latihan.” Goda Ira, Bianca menyubit pipi Ira. Kini wajah Bianca memerah.
“apaan sih lo. Udah deh jangan ngomongin itu. Gue kan jadi keinget lagi.”
“sekarang gue mau nanya sama lo, lo itu kalo latihan grogi gak sih?” Ira menaikkan sebelah alisnya. Bianca hanya tersenyum.
“sedikit. Karena, udah biasa. Coba kalo jarang ketemu dia, mungkin gue sport jantung mulu” ujar Bianca. Ira mengangguk. Dilihatnya banyak anak-anak drama yang sudah berkumpul di aula.
“tuh Prince charming lo, good luck ya Bi.” Ira menunjuk ke arah Fahmi dengan kedua alisnya, dan mengedipkan sebelah matanya. Wajah Bianca merah merona, ia tersenyum manja.
Indira Fransiska atau yang biasa dipanggil Ira adalah sahabat Bianca sejak SMP. Mereka berdua sudah sangat dekat sejak dulu, sampai sekarang, mereka juga sudah merencanakan akan masuk universitas yang sama. Tapi, Ira juga dikenal misterius, banyak rahasia dikehidupannya.
“Hai Bi..” sapa Fahmi tersenyum kepada Bianca, Bianca membalasnya dan bersikap biasa-biasa saja, ia tidak mau menampakkan kegrogiannya didepan Fahmi. Ia harus terlihat cuek jika didepan Fahmi.
“hai juga Mi. Kapan nih mulainya?”
“masih lama nih, setengah jam lagi kata Velin. Mending kita ke kantin yuk!”
DAG DIG DUG  jantung Bianca. Mulutnya dibiarkan sedikit menganga, dan melongo. Ia bingung harus menjawab apa, tapi dengan cepat ia membuang rasa groginya itu.
Belum sempat menjawab, Fahmi cekatan menarik tangan Bianca, ia membawanya pergi dari aula. Sepandai tupai melompat, akan jatuh juga. Sedemikian rupa Bianca menyembunyikannya, akan terlihat juga. Jantungnya bergemuruh lebih cepat dan membuatnya keringatan. Fahmi membuatnya salah tingkah.
Setelah itu Fahmi mengajak Bianca duduk. Bianca yang masih salah tingkah mematung dikursi. Ia mencoba mengingat kejadian tadi, kejadian dimana pertama kali Fahmi memegang tangannya asli, bukan drama. Arghhhhh, Fahmi membuat Bianca setengah gila!
Setelah memesan juice mangga dan juice buah naga, Fahmi duduk disebelah Bianca. Kini, Bianca mulai seperti biasa.
“Bi, lo deg-degan gak? Pensi bentar lagi loh” tanyanya singkat.
“hehehe, iyalah deg-degan. Baru kali ini gue tampil didepan banyak orang,”
Fahmi mengangguk. Datanglah bibi penjual Juice buah mendatangi mereka. Juice Mangga untuk Fahmi dan Juice buah naga untuk Bianca.
“lo suka mangga ya Mi?” tanya Bianca datar. Fahmi mengangguk dan meniup poni rambutnya karena kepanasan.
“panas banget ya Bi, mataharinya nyengat banget nih. Duh” Fahmi juga mengipas-ngipas badannya dengan lembaran naskah. Peluh bercucuran dipinggir wajah Fahmi. Membuat Bianca melakukan sesuatu.
Bianca mengambil tisu dan mengelapkan keringat dipinggir pipi Fahmi, Fahmi kaget dan akhirnya ia mematung. Wajahnya sempat memerah, lalu tersenyum pada Bianca.
“thanks ya Bi. Bener kata orang..”
“emangnya kata orang gue kenapa?” Bianca menaikkan sebelah alisnya.
“ya, kata orang lo itu care, ternyata bener juga yah” mendengar itu, Bianca tersipu malu, ia merasakan rona merah naik ke wajahnya.

kejadian kali ini gak bakal gue lupain. Gue seneng banget Mi! Pengen deh gue teriak kegirangan waktu tadi.” Umpat Bianca dalam hati.

-Continued