"Mama! Jangan tinggalin Adel sendiri ma! Adel mohon!!" Adel meronta meneriaki mamanya yang sudah siap membawa koper dan segala perlengkapannya untuk pulang ke tempat asalnya. Kota metropolitan, Jakarta.
"Adel, kamu harus janji sama mama! Kamu gak boleh ninggalin papa dalam keadaan apapun. Ini demi kebaikanmu nak.." ucap mama sambil menangis. wajahnya merah dan tidak terlihat tanda bahagia diwajahnya. Hanya ada duka yang menyelimuti mama.
Adel masih menangis dan merengek, wajahnya pun lebih merah dibandingkan mama, ia menangis histeris dan menahan tangan mama. Karena sebentar lagi mama akan meninggalkannya.
"Adel! Dengar mama! Mama minta tolong sekali sama kamu nak, kamu harus janji kamu sama mama, kalau kamu akan tetap tinggal dengan papamu. Dan jangam coba cari mama nak!" Perintah mama lagi, tangis Adel semakin menjadi.
"Adel, mama mohon.." mama memegang wajah Adel yang merah seperti kepiting rebus, badannya bergetar hebat.
"Kamu sayang kan sama mama? Tolong ya nak, kamu harus janji sama mama. Apapun yang terjadi kamu harus tegar, dan mencoba mengerti papa kamu. Ya nak?" Ucap mama terbata-bata.
Akhirnya, dengan berat hati Adel berjanji "ya mah.. Adel janji.."
Mama tersenyum, itulah senyuman mama yang paling manis dan hangat.
Serta ciuman dikening dari mama yang terakhir. Adel harus menerima kepergian mama.
Setelah itu, semuanya gelap. Tertutup awan hitam kelabu. Seperti hati Adel yang tidak pernah terang.
***
Adelia. Gadis manis yang baru berusia 13 tahun itu harus menerima kepergian mamanya. Mama memutuskan untuk bercerai dengan papa. Karena sikap papa yang terlalu egois dan mungkin membuat mama capek hati. Tapi, kenapa Adel harus tinggal dengan papa? Laki-laki yang sudah membuat mama pergi dan terlanjur membuat hati Adel hancur berkeping-keping. Itu semua karena papa. Adel benci papa. Sangat.
Dihidupnya, mama adalah sosok paling penting dan sangat berharga. Tapi, mama telah pergi. Dan Adel tidak boleh menyusulnya, karena ia sudah berjanji. Adel menyesal telah berjanji pada perjanjian bodoh itu.
Semua hancur, termasuk hati dan tubuh Adel. Ia frustasi, tubuhnya kurus kering, hitamnya kantung mata dibawah matanya, dan wajah yang pucat pasi.
Tidak ada tanda kehidupan lagi dihati Adel. Tidak.
Papa?
Laki-laki pengecut yang hanya bisa menyakiti hati seorang wanita. papa bahkan tidak pernah memikirkan perasaan mama, itupun hanya sekali.
Hanya satu yang Adel bingung dari papa.
Jika papa tidak mencintai mama, untuk apa papa menikahi mama?
Apa artinya pernikahan itu?
Entahlah. Hanya papa dan Tuhan yang tau.
Papa.
Papa juga tidak pernah pedulikan aku, papa juga tidak peduli kabarku seperti apa, ia bahkan tidak menganggapku manusia dirumah.
Ia malah menganggap kalo ia hidup sendiri didunia ini
Hanya kerja, kerja, dan kerja.
Jika papa mencintai pekerjaan papa, menikahlah dengan pekerjaan pa.
***
Cerita ini hanya fiktif belaka, jika ada kesamaan nama, peristiwa, dan tanggal harap dimaklumi..
Tuesday, May 27, 2014
Saturday, May 24, 2014
Ungu - Kau Anggap Apa
Sulit tuk ku mengerti jalan pikiranmu
Setengah hatiku terluka, senangkah hatimu
Ku akan pergi, kau tak menginginkanku
Kau lukai kebanggaan, perasaanku
Dengan sadar menyakitiku
Ku takkan pergi bila kau anggap aku ada
Hanya mencintamu pun aku bisa
Takkan ku sesali, hidup tanpamu aku bisa
Akan hanya cinta yang ku bawa pulang
Sulitnya tuk pungkiri hati yang terbagi
Sepenuh hatiku memujamu, kau anggap apa
Ku akan pergi, kau tak menginginkanku
Ku tak ada di hatimu lagi, khianatiku
Dengan sadar menyakitiku
Ku takkan pergi bila kau anggap aku ada
Hanya mencintamu pun aku bisa
Takkan ku sesali, hidup tanpamu aku bisa
Akan hanya cinta yang ku bawa pulang
Ku tak ada di hatimu lagi, khianatiku
Ku takkan pergi bila kau anggap aku ada
Hanya mencintamu pun aku bisa
Takkan ku sesali, hidup tanpamu aku bisa
Akan hanya cinta yang ku bawa pulang
Aku takkan pergi bila kau anggap aku ada
Hanya mencintamu pun aku bisa
Takkan ku sesali, hidup tanpamu aku bisa
Akan hanya cinta yang ku bawa pulang
Peterpan - Menunggumu feat.Chrisye
Di dalam sebuah cinta terdapat bahasa
Yang mengalun indah mengisi jiwa
Merindukan kisah kita berdua
Yang tak pernah bisa akan terlupa
Bila rindu ini masih milikmu
Kuhadirkan sebuah tanya untukmu
Harus berapa lama aku menunggumu
Aku menunggumu
Di dalam masa indah saat bersamamu
Yang tak pernah bisa akan terlupa
Pandangan matanya menghancurkan jiwa
Dengan segenap cinta aku bertanya
Bila rindu ini masih milikmu
Kuhadirkan sebuah tanya untukmu
Harus berapa lama aku menunggumu
Aku menunggumu
Dalam hati kumenunggu..
Dalam hati kumenunggu.. aku…
Dalam benak kumenunggu..
Dalam hati kumenunggu.. aku…
Masih menunggu….
Bila rindu ini masih milikmu
Kuhadirkan sebuah
Harus berapa lama
Harus berapa lama
Aku menunggumu
Aku menunggumu
Aku menunggu
Aku menunggumu
Dalam hati kumenunggu..
Dalam benak kumenunggu..
Dalam hati kumenunggu..
Dalam benak kumenunggu..
Dalam hati kumenunggu..
well, ini lagu udah lawas banget. waktu itu gue masih kecil hahaha, tapi gue suka kok sama lagu-lagu Peterpan. {Peterpan ya, bukan Noah} jujur, waktu itu mereka {yang sekarang Noah} masih lengkap banget, personilnya, kekompakkannya, semuanya deh perfect. lagunya.. liriknya aduh..
gue masih inget banget waktu gue masih TK, My Dad ngebeliin Album Peterpan, waktu itu ayah beliin yang Ost. Alexandria. itu sebagai hadiah ulang tahun loh, waktu itu gue bertiga {mamah, ayah, dan gue} itu adalah Sahabat Peterpan. tetapi saat mereka ngeluarin Andika dan Indra, itu semua udah gak asik lagi..
kalo Peterpan menurut kalian gimana? :)
Peterpan - Ada apa Denganmu
Sudah maafkan aku, segala salahku
Dan bila kau tetap bisu
Ungkapkan salahmu
Dan aku sifatku, dan aku khilafku
Dan aku cintaku, dan aku rinduku
Seduah lupakan semua
Segala berubah
Dan kita terlupakan, kita terluka
Dan aku sifatku, dan aku khilafku
Dan aku cintaku, dan aku rinduku
Reff:
Kutanya malam,dapatkah kau lihatnya perbedaan
Yang tak terungkapkan
Tapi mengapa kau tak berubah
Ada apa denganmu
Oh...hanya malam dapat meleburkan
Segala rasa yang tak terungkapakan
Tapi mengapa kau tak berubah
Ada apa denganmu
Dan bila kau tetap bisu
Ungkapkan salahmu
Dan aku sifatku, dan aku khilafku
Dan aku cintaku, dan aku rinduku
Seduah lupakan semua
Segala berubah
Dan kita terlupakan, kita terluka
Dan aku sifatku, dan aku khilafku
Dan aku cintaku, dan aku rinduku
Reff:
Kutanya malam,dapatkah kau lihatnya perbedaan
Yang tak terungkapkan
Tapi mengapa kau tak berubah
Ada apa denganmu
Oh...hanya malam dapat meleburkan
Segala rasa yang tak terungkapakan
Tapi mengapa kau tak berubah
Ada apa denganmu
Peterpan - Ku Katakan dengan Indah
Ku katakan dengan indah, dengan terbuka hatiku hampa
Sepertinya luka menghampirinya
Kau beri rasa yang berbeda mungkin ku salah...
Mengartikannya yang ku rasa cinta
Tetapi hatiku selalu meninggikanmu
Terlalu meninggikanmu, selalu meninggikanmu
Kau hancurkan hatiku, hancurkan lagi
Kau hancurkan hatiku tuk melihatmu
Kau terangi jiwaku, kau redupkan lagi
Kau hancurkan hatiku tuk melihatmu
Reff:
Membuatku terjatuh dan terjatuh lagi
Membuatku merasakan yang tak terjadi
Semua yang terbaik dan yang terlewati
Semua yang terhenti tanpa ku akhiri
Sepertinya luka menghampirinya
Kau beri rasa yang berbeda mungkin ku salah...
Mengartikannya yang ku rasa cinta
Tetapi hatiku selalu meninggikanmu
Terlalu meninggikanmu, selalu meninggikanmu
Kau hancurkan hatiku, hancurkan lagi
Kau hancurkan hatiku tuk melihatmu
Kau terangi jiwaku, kau redupkan lagi
Kau hancurkan hatiku tuk melihatmu
Reff:
Membuatku terjatuh dan terjatuh lagi
Membuatku merasakan yang tak terjadi
Semua yang terbaik dan yang terlewati
Semua yang terhenti tanpa ku akhiri
Peterpan - Semua Tentang Kita
siapa yang gak tau lagu ini? ini lagu yang bikin gue nangis.. entah kenapa, lagu ini mengingatkan semua kenangan yang ada dalam hidup gue.
Waktu terasa semakin berlalu
Tinggalkan cerita tentang kita
Akan tiada lagi kini tawamu
Akan tiada lagi kini tawamu
Tuk hapuskan semua sepi di hati
Reff:
Ada cerita tentang aku dan dia
Ada cerita tentang aku dan dia
Dan kita bersama saat dulu kala
Ada cerita tentang masa yang indah
Saat kita berduka saat kita tertawa
Teringat di saat kita tertawa bersama
Ceritakan semua tentang kita
back to : Reff
Thursday, May 22, 2014
Jatuh Cinta
Jatuh cinta
berjuta rasanya
Biar siang
biar malam
Terbayang
wajahnya
Bruk!
"Hey!"
Raihan berteriak dengan suara lantang, ia baru saja ditabrak seorang cewek
teman sekelasnya. Fani.
"Hey
Bro! oh iya, ada salam tuh." kata Fani dengan nada menggoda, ia juga
tersenyum jail.
"hah?
dari siapa?" Raihan merasakan rona merah naik ke wajahnya.
"dari
Caris. kelas 11-1" Fani akhirnya tertawa melihat wajah Raihan seperti
kepiting rebus. ia tertawa sejadi-jadinya, tapi Raihan, ia merasakan jantungnya
berdetak lebih cepat dari biasanya.
"cieee....
pipi lo merah tuh hahahaha"
"Caris
mana? kelas 11-1?" Raihan mencoba
bertanya kembali. soalnya, ia belum pernah mendengar nama Caris sejak ia
bersekolah di SMA Nusantara.
"cari
aja sendiri." Fani melengos pergi. Raihan memasang tampang bingung tapi,
untuk pertama kalinya ada cewek yang menyukainya, Raihan merasa bangga.
sepanjang
pelajaran, Raihan melamun memikirkan nama 'Caris'. "siapa sih dia?
kayaknya aku gak kenal sama dia. setauku, disekolah gak ada yang namanya Caris".
umpatnya dalam hati.
disela-sela
Bu Indri mengajar, Raihan mencoba bertanya lagi kepada Fani. informasi yang ia
dapati tadi sama sekali tidak cukup.
"Fan.
woy"
Fani
pura-pura tidak mendengar, wajahnya menahan tawa. sedangkan Raihan terus
mendengus kesal.
"Fan,
eh budeg banget sih lo. woy!"
"Fani!!
Fan!"
"RAIHAN!!!!!!!!"
suara Bu Indri si guru Killer terdengar lantang didalam kelas. beberapa anak
menahan tawa. Raihan yang merasa dipanggil mendongak, dan gugup.
"ngapain
kamu?"
"eh,
anu bu. tadi mau manggil Fani, tapi Faninya gak denger" Raihan mencoba
menjelaskan apa yang terjadi.
Bu Indri
menggeleng, "mau ngapain manggil Fani? ada perlu apa?" Bu Indri
melipat tangannya, ia memasang wajah kusut.
Fani menahan
tawanya, dalam hati ia tertawa sejadi-jadinya.
"ng--gak
bu. nggak na-nanya apa-apa kok." Dalam hati, Raihan ingin sekali menampol
Fani.
“coba kamu
jelaskan apa yang ibu jelaskan tadi!” perintah Bu Indri dengan mata melotot,
kini Raihan semakin kesal. Teman sebangkunya Tino tidak memberitahu kalau Bu
Indri tadi memperhatikannya.
“pelajaran
biologi kan bu?” Raihan mencoba mengeles. Tapi sayang, Bu Indri sangat sulit
ditaklukan.
“kamu lebih
baik berdiri didekat papan tulis. Cepat!!!!” Bu Indri memerintah lagi, akhirnya
Raihan menurut daripada terus diteriaki Bu Indri. Ia melakukan apa yang Bu
Indri suruh, berdiri didepan kelas. Memalukan.
***
“Fani!
Sialan lo ah.” Raihan mengerenyitkan dahinya. Tidak terlihat tanda kalau ia
sedang bahagia.
“hehe,
habisnya lo itu berani banget sih dipelajaran Bu Indri. Nanti gue ikut-ikutan
disetrap lagi ah. Sorry ya Bro,” Fani tertawa kecil, ditatapnya teman cowok
sekelasnya itu, Raihan Davidson.
“sekarang
gue mau nanya sama lo, seumur-umur gue sekolah disini. Gue gak pernah denger
cewek yang namanya Caris. Info dari lo itu tuh bikin gue kesel coba”
“namanya
bukan Caris. Namanya itusih sebenernya Carissa, tapi temen-temen manggilnya
Caris.” Fani mulai menjelaskan. Mulut Raihan berbentuk o.
“oooh, gitu.
Lo kenal sama dia?”
“kenal,
kemarin gue kenalan sama dia.”
“lo tau
orangnya?”
“tau”
“kasih tau
gue dong!!!” Fani membuat Raihan penasaran, wajah Raihan memerah lagi.
“cari aja
sendiri. Masa lo gak mau nyari sih,”
“caranya
gimana?”
“huh! Ya
caranya lo dateng aja ke kelas 11-1. Lo cari deh yang namanya Carissa. Udah ah
gue laper nih mau ke kantin!” Fani melangkah pergi meninggalkan Raihan sendiri
dikoridor kelas 11-10.
“sial.”
Raihan membatin.
Raihan
Davidson atau yang sering disebut Raihan adalah anak remaja yang baru berusia
16 tahun. Ia adalah anak pertama dari dua bersaudara. Nama ‘Davidson’ diambil
karena ayahnya menyukai motor Harley Davidson. Raihan juga dikenal sebagai
pribadi yang baik, ramah, lucu, dan gokil. Tapi, setelah lama menjadi remaja,
ia baru merasakan yang namanya jatuh cinta diusianya yang sekarang.
Disekolah,
wajah Raihan juga menjadi kesukaan cewek-cewek junior. Tetapi, tidak ada yang
berani menyampaikan salam ataupun bertegur sapa. Mereka hanya cengengesan jika
bertemu dengan Raihan. Maka dari itu, setelah ada yang mengirim salam kepadanya
Raihan merasa sangat bangga. Ia merasa tak kalah populernya dengan seniornya
dikelas 12.
“Carissa?
Hmm..” gumamnya sendiri. Ia masih memikirkan siapa gadis pemilik nama itu.
Murid baru? Atau siapa?
“DARRR!!!!”
Tino membuyarkan lamunan Raihan, Raihan hampir terjatuh gara-gara terdorong
oleh teman sebangkunya itu.
“ah sialan
lo No. Untung aja gue gak jantungan”
“habisnya lo
dicari kemana, eh ternyata disini. Pake ngelamun lagi, ngelamunin siapa lo?
Kesambet baru tau deh..” ucap Tino tanpa jeda sedikitpun.
“diem lo ah
kaleng rombeng! Suara lo tuh gak enak didengar. Ngomong mulu ah, yuk anter gue
ke kantin!” Raihan cemberut dan menarik tangan Tino asal. Tino diam tanpa
respon.
“gak mau.
Kalo lo nraktir, baru gue mau..” Tino tersenyum menggoda. Alisnya dinaikkan
sebelah.
“iya ah
banyak omong lo. Cepet nih gue udah laper!”
Hari ini
kantin cukup sepi, mungkin karena kelas 12 masih kelas tambahan. Jadi kantin
hanya dipenuhi oleh junior. Melihat kantin sepi, Tino langsung duduk manis.
Sedangkan Raihan menuju warung kesukaannya jajan. Raihan berjalan pelan, ia
melihat ada cewek diam dipilar kantin dekat warung tempat ia jajan, tapi Raihan
tidak peduli. Ia langsung memesan makanannya.
“Bi, Mie
ayam nya dua, yang satu gak pake pedes yang satu nggak. Nih uangnya” Raihan
memesan kepada bibi penjual Mie Ayam kesukaannya, Bibi Anik sudah sedikit
pikun. Jadi, pernah dulu ada kejadian, ada anak yang memesan mie ayam, lalu
belum membayar, alasannya setelah makan ia mau membayar, tapi ternyata anak itu
kabur. Lupa dengan wajahnya bibi menunjuk anak lain yang tidak bersalah. Maka
dari itu banyak anak yang terlebih dahulu membayar makanannya.
Setelah
memesan mie, Raihan melihat lagi ke arah cewek tadi berdiri. Cewek itu hilang,
mungkin ia sudah pergi.
***
“Carissa!”
“ya?”
“gimana sama
Raihan? Dia udah tau lo belum?”
“belum. Gue gak
mau dia cepet-cepet tau gue. Karena gue pengen ngetes dia, apakah dia berusaha
untuk pengen tau tentang gue, atau dia gak peduli..”
Carissa
Adriana, adalah seorang gadis remaja yang baru berusia 16 tahun dibulan Januari
kemarin. Ia hidup dikeluarga yang ‘bisa’ dibilang kaya. Ayahnya mempunyai
perusahaan dan punya satu hotel disalah satu kota besar diindonesia. Carissa
baru saja pindah saat pertengahan semester 1, ia mulai mengenal lingkungan
sekolahnya. Karena ramah dan ceria, Caris mempunyai banyak teman. Tak hanya
itu, banyak senior yang mengincarnya, tapi Caris menolak semuanya. Ia malah
ingin mencari cintanya sendiri, ia ingin merasakan bagaimana mencari cinta,
bukan langsung mendapatkan cinta yang tidak tau rimbanya.
Jika dilihat,
Carissa memiliki mata yang indah dengan bulu mata yang lentik. Mempunyai kulit
putih bersih tidak pucat, bibir yang berwarna pink alami, hidung yang mancung
keturunan orang tuanya, dan rambutnya yang hitam pekat yang selalu ia gerai
sebahu. Itulah Carissa. Gadis sederhana yang memiliki kecantikan natural yang
luar biasa.
“gue seneng
banget!!!!” teriak Carissa setelah sampai dikelas, ia mulai bercerita kepada
sahabatnya.
“kenapa Ris?
Pasti ketemu Raihan ya? Cieeee”
“iya hehehe,
dia tadi lagi dikantin, pas banget waktu gue nemenin Anis lagi jajan di warung
Bi Anik, Raihan juga jajan disitu. Gilaaa baru kali ini liat dia dari deket.” Wajah
Carissa sumringah. Wajahnya pun memerah.
“cie
cieee....”
“trus
gimana? Apa dia udah tau lo belum?”
“belum. Kenalan
aja belum hahaha. Lagian juga Gue gak mau dia cepet-cepet tau gue. Karena gue
pengen ngetes dia, apakah dia berusaha untuk pengen tau tentang gue, atau dia
gak peduli..”
-Continued
Tuesday, May 20, 2014
Love is Drama
PAGI sudah menunjukan pukul 7 , seharusnya Bianca
sudah berada disekolah. Tapi kali ini ia kesiangan. Tugas matematika yang ia
tunda-tunda menjadi troublemaker dan
membuatnya harus begadang mengerjakannya. Alarm jam beker yang sudah teriak
daritadi dibiarkannya berdering, ia terlalu pulas tertidur sampai tidak
mendengar teriakan jam bekernya.
Setelah bangun, ia mengucek-ngucek matanya. Kepalanya terasa pusing,
perutnya lapar, mungkin ia memutuskan untuk tidak sekolah.
“sial.” Umpatnya sendiri, ia bangkit berdiri dan keluar dari kamar,
didapatinya kedua orangtuanya yang sedang sarapan dimeja makan. Melihat keadaan
Bianca yang seperti itu, mama Bianca hanya menggelengkan kepala.
“Bian. Ckckck, mama sengaja gak bangunin kamu, eh tapi kamu malah
bener-bener ketiduran,” kata mama sambil mengunyah sarapan paginya. Nasi goreng
buatannya sendiri.
Bianca menatap mamanya bingung, lalu ia duduk dikursi meja makan.
Ditatapnya mama dan papa.
“Bianca begadang ma. Ngerjain tugas,” ucapnya santai. Papa
menggeleng.
“kamu emang gak berubah-berubah ya..” papa mulai mengeluarkan
suaranya. Mama mengangguk.
Daridulu, Bianca memang suka menunda tugas sekolahnya, alasannya
malas. Terlalu banyak alasan dan akhirnya papa memarahi Bianca. Tapi, bukan
membuat Bianca jera melainkan membuat Bianca mengulangnya lagi.
“kamu gak boleh gitu dong nak, kamu ini kan anak tunggal. Kamu harus
pintar dong. Mama malu punya anak bodoh ah,” ucap mama datar. Bianca membisu.
“ya maaf deh. Bianca gak akan ngulangin lagi. Tapi, kali ini aja
Bianca absen. Boleh kan ma? Boleh kan pa?” Bianca memelas, ditaruhnya kedua
tangannya didepan badannya, pertanda memohon.
Mama dan papa menggeleng. Setelah itu mereka sarapan pagi bersama.
***
Pentas Seni alias Pensi di SMA Nuansa tinggal beberapa hari lagi.
Tepatnya tanggal 17 Juni. Semua anak sibuk mempersiapkannya, termasuk Bianca.
Ia menjadi pemain drama di acara Pensi. Sepanjang dua minggu kemarin, Bianca
sibuk menghafal Naskah drama. Dan membuat Bianca lupa akan tugas-tugas yang
harus dikerjakannya.
“Bi, kemaren kemana lo?” Ira merangkul Bianca. Bianca kaget dan
memutar bola matanya.
“eh elo Ra. Kemaren gue telat, sorry ya gak ngabarin lo” Bianca menatap lurus kedepan, dilihatnya
sudah ada panggung ditengah-tengah lapangan sekolahnya. Panggung yang akan ia
pakai untuk drama nanti, beserta acara-acara lainnya. Sekolah juga sudah
dihiasi beragam hiasan dan aksesoris. Dan ada pula tenda bazar yang akan
diadakan diacara Pensi. Acara Pensi SMA Nuansa memang sangat ramai, banyak yang
sudah menunggu lama datangnya Pentas Seni Nuansa.
“ah dasar lo, oh iya, gimana naskahnya? Lo udah hafal kan? Lusa
lohhhh” Ira menaikkan alisnya dan tersenyum simpul.
“yaudah lah. Tapi.........”
“tapi ada Fahmi maksud lo?” Ira menebak-nebak dan membuat Bianca
melotot.
“ssssttt, jaga mulut lo, kalo ada yang denger gimana?” Bianca
menyubit pelan tangan Ira. Ira tersenyum jail.
“ohh, gue tau. Jadi lo grogi nih? Hahaha” Ira terus menggodai Bianca.
Bianca cemberut.
Fahmi Alatas atau yang biasa dipanggil Fahmi adalah lawan main Bianca
didrama nanti. Fahmi belakangan ini juga menjadi gebetan Bianca. Sejak kelas 11
lalu, Bianca sudah menyukainya. Fahmi dikenal sebagai pribadi yang baik, dan
ramah. Banyak anak cewek yang menyukainya. Jika dilihat, Fahmi mempunyai senyum
yang manis dan suara yang membuat anak-anak cewek meleleh. Terlebih lagi
Bianca, di Drama nanti, Fahmi akan menjadi pangeran berkuda putih. Dan Bianca,
ia akan jadi putri yang diculik dan disandera disebuah gubuk kecil yang
ditemani kucing anggora berwarna putih.
Sebelumnya, Bianca tidak pernah menduga hal ini akan terjadi padanya.
Ia tidak menyangka kalau ia akan menjadi pemain dalam drama itu. Dan Fahmi
adalah pangerannya. Setelah tahu ia akan bermain dengan Fahmi, ia pingsan dan
langsung dipulangkan ke rumah. Mama yang melihat Bianca seperti itu hanya
menggeleng dan tertawa.
Dikejauhan, ternyata Bianca melihat Fahmi didepan kelasnya, sedang
menatapnya, dan.. tersenyum kepadanya. Bianca mencoba membalas senyumannya, dan
menahan dirinya yang lemas melihat senyuman killer Fahmi, jika ia tidak
menahannya, ia akan pingsan lagi.
***
“Ra. Lo pulang duluan aja yah. Gue mau latihan dulu,” Bianca sibuk
memegang lembaran Naskah drama. Melihat itu, Ira hanya mengangguk.
“gue tungguin.” Ucap Ira datar. Bianca menggeleng.
“gue latihannya lama Ra,”
“biarin, gue gak mau nanti lo pingsan lagi waktu latihan.” Goda Ira,
Bianca menyubit pipi Ira. Kini wajah Bianca memerah.
“apaan sih lo. Udah deh jangan ngomongin itu. Gue kan jadi keinget
lagi.”
“sekarang gue mau nanya sama lo, lo itu kalo latihan grogi gak sih?”
Ira menaikkan sebelah alisnya. Bianca hanya tersenyum.
“sedikit. Karena, udah biasa. Coba kalo jarang ketemu dia, mungkin
gue sport jantung mulu” ujar Bianca. Ira mengangguk. Dilihatnya banyak
anak-anak drama yang sudah berkumpul di aula.
“tuh Prince charming lo, good luck ya Bi.” Ira menunjuk ke arah Fahmi
dengan kedua alisnya, dan mengedipkan sebelah matanya. Wajah Bianca merah
merona, ia tersenyum manja.
Indira Fransiska atau yang biasa dipanggil Ira adalah sahabat Bianca
sejak SMP. Mereka berdua sudah sangat dekat sejak dulu, sampai sekarang, mereka
juga sudah merencanakan akan masuk universitas yang sama. Tapi, Ira juga
dikenal misterius, banyak rahasia dikehidupannya.
“Hai Bi..” sapa Fahmi tersenyum kepada Bianca, Bianca membalasnya dan
bersikap biasa-biasa saja, ia tidak mau menampakkan kegrogiannya didepan Fahmi.
Ia harus terlihat cuek jika didepan Fahmi.
“hai juga Mi. Kapan nih mulainya?”
“masih lama nih, setengah jam lagi kata Velin. Mending kita ke kantin
yuk!”
DAG DIG DUG
jantung Bianca. Mulutnya dibiarkan sedikit menganga, dan melongo. Ia bingung
harus menjawab apa, tapi dengan cepat ia membuang rasa groginya itu.
Belum sempat menjawab, Fahmi cekatan menarik tangan Bianca, ia
membawanya pergi dari aula. Sepandai tupai melompat, akan jatuh juga.
Sedemikian rupa Bianca menyembunyikannya, akan terlihat juga. Jantungnya
bergemuruh lebih cepat dan membuatnya keringatan. Fahmi membuatnya salah
tingkah.
Setelah itu Fahmi mengajak Bianca duduk. Bianca yang masih salah
tingkah mematung dikursi. Ia mencoba mengingat kejadian tadi, kejadian dimana
pertama kali Fahmi memegang tangannya asli, bukan drama. Arghhhhh, Fahmi membuat
Bianca setengah gila!
Setelah memesan juice mangga dan juice buah naga, Fahmi duduk
disebelah Bianca. Kini, Bianca mulai seperti biasa.
“Bi, lo deg-degan gak? Pensi bentar lagi loh” tanyanya singkat.
“hehehe, iyalah deg-degan. Baru kali ini gue tampil didepan banyak
orang,”
Fahmi mengangguk. Datanglah bibi penjual Juice buah mendatangi
mereka. Juice Mangga untuk Fahmi dan Juice buah naga untuk Bianca.
“lo suka mangga ya Mi?” tanya Bianca datar. Fahmi mengangguk dan
meniup poni rambutnya karena kepanasan.
“panas banget ya Bi, mataharinya nyengat banget nih. Duh” Fahmi juga
mengipas-ngipas badannya dengan lembaran naskah. Peluh bercucuran dipinggir
wajah Fahmi. Membuat Bianca melakukan sesuatu.
Bianca mengambil tisu dan mengelapkan keringat dipinggir pipi Fahmi,
Fahmi kaget dan akhirnya ia mematung. Wajahnya sempat memerah, lalu tersenyum
pada Bianca.
“thanks ya Bi. Bener kata orang..”
“emangnya kata orang gue kenapa?” Bianca menaikkan sebelah alisnya.
“ya, kata orang lo itu care, ternyata bener juga yah” mendengar itu,
Bianca tersipu malu, ia merasakan rona merah naik ke wajahnya.
“kejadian kali ini gak bakal
gue lupain. Gue seneng banget Mi! Pengen deh gue teriak kegirangan waktu tadi.”
Umpat Bianca dalam hati.
-Continued
Subscribe to:
Posts (Atom)