Thursday, May 22, 2014

Jatuh Cinta



Jatuh cinta berjuta rasanya
Biar siang biar malam
Terbayang wajahnya
               


Bruk!
"Hey!" Raihan berteriak dengan suara lantang, ia baru saja ditabrak seorang cewek teman sekelasnya. Fani.
"Hey Bro! oh iya, ada salam tuh." kata Fani dengan nada menggoda, ia juga tersenyum jail.
"hah? dari siapa?" Raihan merasakan rona merah naik ke wajahnya.
"dari Caris. kelas 11-1" Fani akhirnya tertawa melihat wajah Raihan seperti kepiting rebus. ia tertawa sejadi-jadinya, tapi Raihan, ia merasakan jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya.
"cieee.... pipi lo merah tuh hahahaha"
"Caris mana? kelas 11-1?"  Raihan mencoba bertanya kembali. soalnya, ia belum pernah mendengar nama Caris sejak ia bersekolah di SMA Nusantara.
"cari aja sendiri." Fani melengos pergi. Raihan memasang tampang bingung tapi, untuk pertama kalinya ada cewek yang menyukainya, Raihan merasa bangga.
sepanjang pelajaran, Raihan melamun memikirkan nama 'Caris'. "siapa sih dia? kayaknya aku gak kenal sama dia. setauku, disekolah gak ada yang namanya Caris". umpatnya dalam hati.
disela-sela Bu Indri mengajar, Raihan mencoba bertanya lagi kepada Fani. informasi yang ia dapati tadi sama sekali tidak cukup.

"Fan. woy"
Fani pura-pura tidak mendengar, wajahnya menahan tawa. sedangkan Raihan terus mendengus kesal.
"Fan, eh budeg banget sih lo. woy!"
"Fani!! Fan!"
"RAIHAN!!!!!!!!" suara Bu Indri si guru Killer terdengar lantang didalam kelas. beberapa anak menahan tawa. Raihan yang merasa dipanggil mendongak, dan gugup.
"ngapain kamu?"
"eh, anu bu. tadi mau manggil Fani, tapi Faninya gak denger" Raihan mencoba menjelaskan apa yang terjadi.
Bu Indri menggeleng, "mau ngapain manggil Fani? ada perlu apa?" Bu Indri melipat tangannya, ia memasang wajah kusut.
Fani menahan tawanya, dalam hati ia tertawa sejadi-jadinya.
"ng--gak bu. nggak na-nanya apa-apa kok." Dalam hati, Raihan ingin sekali menampol Fani.
“coba kamu jelaskan apa yang ibu jelaskan tadi!” perintah Bu Indri dengan mata melotot, kini Raihan semakin kesal. Teman sebangkunya Tino tidak memberitahu kalau Bu Indri tadi memperhatikannya.
“pelajaran biologi kan bu?” Raihan mencoba mengeles. Tapi sayang, Bu Indri sangat sulit ditaklukan.
“kamu lebih baik berdiri didekat papan tulis. Cepat!!!!” Bu Indri memerintah lagi, akhirnya Raihan menurut daripada terus diteriaki Bu Indri. Ia melakukan apa yang Bu Indri suruh, berdiri didepan kelas. Memalukan.

***

“Fani! Sialan lo ah.” Raihan mengerenyitkan dahinya. Tidak terlihat tanda kalau ia sedang bahagia.
“hehe, habisnya lo itu berani banget sih dipelajaran Bu Indri. Nanti gue ikut-ikutan disetrap lagi ah. Sorry ya Bro,” Fani tertawa kecil, ditatapnya teman cowok sekelasnya itu, Raihan Davidson.
“sekarang gue mau nanya sama lo, seumur-umur gue sekolah disini. Gue gak pernah denger cewek yang namanya Caris. Info dari lo itu tuh bikin gue kesel coba”
“namanya bukan Caris. Namanya itusih sebenernya Carissa, tapi temen-temen manggilnya Caris.” Fani mulai menjelaskan. Mulut Raihan berbentuk o.
“oooh, gitu. Lo kenal sama dia?”
“kenal, kemarin gue kenalan sama dia.”
“lo tau orangnya?”
“tau”
“kasih tau gue dong!!!” Fani membuat Raihan penasaran, wajah Raihan memerah lagi.
“cari aja sendiri. Masa lo gak mau nyari sih,”
“caranya gimana?”
“huh! Ya caranya lo dateng aja ke kelas 11-1. Lo cari deh yang namanya Carissa. Udah ah gue laper nih mau ke kantin!” Fani melangkah pergi meninggalkan Raihan sendiri dikoridor kelas 11-10.
“sial.” Raihan membatin.

Raihan Davidson atau yang sering disebut Raihan adalah anak remaja yang baru berusia 16 tahun. Ia adalah anak pertama dari dua bersaudara. Nama ‘Davidson’ diambil karena ayahnya menyukai motor Harley Davidson. Raihan juga dikenal sebagai pribadi yang baik, ramah, lucu, dan gokil. Tapi, setelah lama menjadi remaja, ia baru merasakan yang namanya jatuh cinta diusianya yang sekarang.
Disekolah, wajah Raihan juga menjadi kesukaan cewek-cewek junior. Tetapi, tidak ada yang berani menyampaikan salam ataupun bertegur sapa. Mereka hanya cengengesan jika bertemu dengan Raihan. Maka dari itu, setelah ada yang mengirim salam kepadanya Raihan merasa sangat bangga. Ia merasa tak kalah populernya dengan seniornya dikelas 12.
“Carissa? Hmm..” gumamnya sendiri. Ia masih memikirkan siapa gadis pemilik nama itu. Murid baru? Atau siapa?
“DARRR!!!!” Tino membuyarkan lamunan Raihan, Raihan hampir terjatuh gara-gara terdorong oleh teman sebangkunya itu.
“ah sialan lo No. Untung aja gue gak jantungan”
“habisnya lo dicari kemana, eh ternyata disini. Pake ngelamun lagi, ngelamunin siapa lo? Kesambet baru tau deh..” ucap Tino tanpa jeda sedikitpun.
“diem lo ah kaleng rombeng! Suara lo tuh gak enak didengar. Ngomong mulu ah, yuk anter gue ke kantin!” Raihan cemberut dan menarik tangan Tino asal. Tino diam tanpa respon.
“gak mau. Kalo lo nraktir, baru gue mau..” Tino tersenyum menggoda. Alisnya dinaikkan sebelah.
“iya ah banyak omong lo. Cepet nih gue udah laper!”
Hari ini kantin cukup sepi, mungkin karena kelas 12 masih kelas tambahan. Jadi kantin hanya dipenuhi oleh junior. Melihat kantin sepi, Tino langsung duduk manis. Sedangkan Raihan menuju warung kesukaannya jajan. Raihan berjalan pelan, ia melihat ada cewek diam dipilar kantin dekat warung tempat ia jajan, tapi Raihan tidak peduli. Ia langsung memesan makanannya.
“Bi, Mie ayam nya dua, yang satu gak pake pedes yang satu nggak. Nih uangnya” Raihan memesan kepada bibi penjual Mie Ayam kesukaannya, Bibi Anik sudah sedikit pikun. Jadi, pernah dulu ada kejadian, ada anak yang memesan mie ayam, lalu belum membayar, alasannya setelah makan ia mau membayar, tapi ternyata anak itu kabur. Lupa dengan wajahnya bibi menunjuk anak lain yang tidak bersalah. Maka dari itu banyak anak yang terlebih dahulu membayar makanannya.
Setelah memesan mie, Raihan melihat lagi ke arah cewek tadi berdiri. Cewek itu hilang, mungkin ia sudah pergi.

***

“Carissa!”
“ya?”
“gimana sama Raihan? Dia udah tau lo belum?”
“belum. Gue gak mau dia cepet-cepet tau gue. Karena gue pengen ngetes dia, apakah dia berusaha untuk pengen tau tentang gue, atau dia gak peduli..”

Carissa Adriana, adalah seorang gadis remaja yang baru berusia 16 tahun dibulan Januari kemarin. Ia hidup dikeluarga yang ‘bisa’ dibilang kaya. Ayahnya mempunyai perusahaan dan punya satu hotel disalah satu kota besar diindonesia. Carissa baru saja pindah saat pertengahan semester 1, ia mulai mengenal lingkungan sekolahnya. Karena ramah dan ceria, Caris mempunyai banyak teman. Tak hanya itu, banyak senior yang mengincarnya, tapi Caris menolak semuanya. Ia malah ingin mencari cintanya sendiri, ia ingin merasakan bagaimana mencari cinta, bukan langsung mendapatkan cinta yang tidak tau rimbanya.
Jika dilihat, Carissa memiliki mata yang indah dengan bulu mata yang lentik. Mempunyai kulit putih bersih tidak pucat, bibir yang berwarna pink alami, hidung yang mancung keturunan orang tuanya, dan rambutnya yang hitam pekat yang selalu ia gerai sebahu. Itulah Carissa. Gadis sederhana yang memiliki kecantikan natural yang luar biasa.
“gue seneng banget!!!!” teriak Carissa setelah sampai dikelas, ia mulai bercerita kepada sahabatnya.
“kenapa Ris? Pasti ketemu Raihan ya? Cieeee”
“iya hehehe, dia tadi lagi dikantin, pas banget waktu gue nemenin Anis lagi jajan di warung Bi Anik, Raihan juga jajan disitu. Gilaaa baru kali ini liat dia dari deket.” Wajah Carissa sumringah. Wajahnya pun memerah.
“cie cieee....”
“trus gimana? Apa dia udah tau lo belum?”
“belum. Kenalan aja belum hahaha. Lagian juga Gue gak mau dia cepet-cepet tau gue. Karena gue pengen ngetes dia, apakah dia berusaha untuk pengen tau tentang gue, atau dia gak peduli..”

-Continued

No comments:

Post a Comment