Jatuh cinta
berjuta rasanya
Biar siang
biar malam
Terbayang
wajahnya
Bruk!
"Hey!"
Raihan berteriak dengan suara lantang, ia baru saja ditabrak seorang cewek
teman sekelasnya. Fani.
"Hey
Bro! oh iya, ada salam tuh." kata Fani dengan nada menggoda, ia juga
tersenyum jail.
"hah?
dari siapa?" Raihan merasakan rona merah naik ke wajahnya.
"dari
Caris. kelas 11-1" Fani akhirnya tertawa melihat wajah Raihan seperti
kepiting rebus. ia tertawa sejadi-jadinya, tapi Raihan, ia merasakan jantungnya
berdetak lebih cepat dari biasanya.
"cieee....
pipi lo merah tuh hahahaha"
"Caris
mana? kelas 11-1?" Raihan mencoba
bertanya kembali. soalnya, ia belum pernah mendengar nama Caris sejak ia
bersekolah di SMA Nusantara.
"cari
aja sendiri." Fani melengos pergi. Raihan memasang tampang bingung tapi,
untuk pertama kalinya ada cewek yang menyukainya, Raihan merasa bangga.
sepanjang
pelajaran, Raihan melamun memikirkan nama 'Caris'. "siapa sih dia?
kayaknya aku gak kenal sama dia. setauku, disekolah gak ada yang namanya Caris".
umpatnya dalam hati.
disela-sela
Bu Indri mengajar, Raihan mencoba bertanya lagi kepada Fani. informasi yang ia
dapati tadi sama sekali tidak cukup.
"Fan.
woy"
Fani
pura-pura tidak mendengar, wajahnya menahan tawa. sedangkan Raihan terus
mendengus kesal.
"Fan,
eh budeg banget sih lo. woy!"
"Fani!!
Fan!"
"RAIHAN!!!!!!!!"
suara Bu Indri si guru Killer terdengar lantang didalam kelas. beberapa anak
menahan tawa. Raihan yang merasa dipanggil mendongak, dan gugup.
"ngapain
kamu?"
"eh,
anu bu. tadi mau manggil Fani, tapi Faninya gak denger" Raihan mencoba
menjelaskan apa yang terjadi.
Bu Indri
menggeleng, "mau ngapain manggil Fani? ada perlu apa?" Bu Indri
melipat tangannya, ia memasang wajah kusut.
Fani menahan
tawanya, dalam hati ia tertawa sejadi-jadinya.
"ng--gak
bu. nggak na-nanya apa-apa kok." Dalam hati, Raihan ingin sekali menampol
Fani.
“coba kamu
jelaskan apa yang ibu jelaskan tadi!” perintah Bu Indri dengan mata melotot,
kini Raihan semakin kesal. Teman sebangkunya Tino tidak memberitahu kalau Bu
Indri tadi memperhatikannya.
“pelajaran
biologi kan bu?” Raihan mencoba mengeles. Tapi sayang, Bu Indri sangat sulit
ditaklukan.
“kamu lebih
baik berdiri didekat papan tulis. Cepat!!!!” Bu Indri memerintah lagi, akhirnya
Raihan menurut daripada terus diteriaki Bu Indri. Ia melakukan apa yang Bu
Indri suruh, berdiri didepan kelas. Memalukan.
***
“Fani!
Sialan lo ah.” Raihan mengerenyitkan dahinya. Tidak terlihat tanda kalau ia
sedang bahagia.
“hehe,
habisnya lo itu berani banget sih dipelajaran Bu Indri. Nanti gue ikut-ikutan
disetrap lagi ah. Sorry ya Bro,” Fani tertawa kecil, ditatapnya teman cowok
sekelasnya itu, Raihan Davidson.
“sekarang
gue mau nanya sama lo, seumur-umur gue sekolah disini. Gue gak pernah denger
cewek yang namanya Caris. Info dari lo itu tuh bikin gue kesel coba”
“namanya
bukan Caris. Namanya itusih sebenernya Carissa, tapi temen-temen manggilnya
Caris.” Fani mulai menjelaskan. Mulut Raihan berbentuk o.
“oooh, gitu.
Lo kenal sama dia?”
“kenal,
kemarin gue kenalan sama dia.”
“lo tau
orangnya?”
“tau”
“kasih tau
gue dong!!!” Fani membuat Raihan penasaran, wajah Raihan memerah lagi.
“cari aja
sendiri. Masa lo gak mau nyari sih,”
“caranya
gimana?”
“huh! Ya
caranya lo dateng aja ke kelas 11-1. Lo cari deh yang namanya Carissa. Udah ah
gue laper nih mau ke kantin!” Fani melangkah pergi meninggalkan Raihan sendiri
dikoridor kelas 11-10.
“sial.”
Raihan membatin.
Raihan
Davidson atau yang sering disebut Raihan adalah anak remaja yang baru berusia
16 tahun. Ia adalah anak pertama dari dua bersaudara. Nama ‘Davidson’ diambil
karena ayahnya menyukai motor Harley Davidson. Raihan juga dikenal sebagai
pribadi yang baik, ramah, lucu, dan gokil. Tapi, setelah lama menjadi remaja,
ia baru merasakan yang namanya jatuh cinta diusianya yang sekarang.
Disekolah,
wajah Raihan juga menjadi kesukaan cewek-cewek junior. Tetapi, tidak ada yang
berani menyampaikan salam ataupun bertegur sapa. Mereka hanya cengengesan jika
bertemu dengan Raihan. Maka dari itu, setelah ada yang mengirim salam kepadanya
Raihan merasa sangat bangga. Ia merasa tak kalah populernya dengan seniornya
dikelas 12.
“Carissa?
Hmm..” gumamnya sendiri. Ia masih memikirkan siapa gadis pemilik nama itu.
Murid baru? Atau siapa?
“DARRR!!!!”
Tino membuyarkan lamunan Raihan, Raihan hampir terjatuh gara-gara terdorong
oleh teman sebangkunya itu.
“ah sialan
lo No. Untung aja gue gak jantungan”
“habisnya lo
dicari kemana, eh ternyata disini. Pake ngelamun lagi, ngelamunin siapa lo?
Kesambet baru tau deh..” ucap Tino tanpa jeda sedikitpun.
“diem lo ah
kaleng rombeng! Suara lo tuh gak enak didengar. Ngomong mulu ah, yuk anter gue
ke kantin!” Raihan cemberut dan menarik tangan Tino asal. Tino diam tanpa
respon.
“gak mau.
Kalo lo nraktir, baru gue mau..” Tino tersenyum menggoda. Alisnya dinaikkan
sebelah.
“iya ah
banyak omong lo. Cepet nih gue udah laper!”
Hari ini
kantin cukup sepi, mungkin karena kelas 12 masih kelas tambahan. Jadi kantin
hanya dipenuhi oleh junior. Melihat kantin sepi, Tino langsung duduk manis.
Sedangkan Raihan menuju warung kesukaannya jajan. Raihan berjalan pelan, ia
melihat ada cewek diam dipilar kantin dekat warung tempat ia jajan, tapi Raihan
tidak peduli. Ia langsung memesan makanannya.
“Bi, Mie
ayam nya dua, yang satu gak pake pedes yang satu nggak. Nih uangnya” Raihan
memesan kepada bibi penjual Mie Ayam kesukaannya, Bibi Anik sudah sedikit
pikun. Jadi, pernah dulu ada kejadian, ada anak yang memesan mie ayam, lalu
belum membayar, alasannya setelah makan ia mau membayar, tapi ternyata anak itu
kabur. Lupa dengan wajahnya bibi menunjuk anak lain yang tidak bersalah. Maka
dari itu banyak anak yang terlebih dahulu membayar makanannya.
Setelah
memesan mie, Raihan melihat lagi ke arah cewek tadi berdiri. Cewek itu hilang,
mungkin ia sudah pergi.
***
“Carissa!”
“ya?”
“gimana sama
Raihan? Dia udah tau lo belum?”
“belum. Gue gak
mau dia cepet-cepet tau gue. Karena gue pengen ngetes dia, apakah dia berusaha
untuk pengen tau tentang gue, atau dia gak peduli..”
Carissa
Adriana, adalah seorang gadis remaja yang baru berusia 16 tahun dibulan Januari
kemarin. Ia hidup dikeluarga yang ‘bisa’ dibilang kaya. Ayahnya mempunyai
perusahaan dan punya satu hotel disalah satu kota besar diindonesia. Carissa
baru saja pindah saat pertengahan semester 1, ia mulai mengenal lingkungan
sekolahnya. Karena ramah dan ceria, Caris mempunyai banyak teman. Tak hanya
itu, banyak senior yang mengincarnya, tapi Caris menolak semuanya. Ia malah
ingin mencari cintanya sendiri, ia ingin merasakan bagaimana mencari cinta,
bukan langsung mendapatkan cinta yang tidak tau rimbanya.
Jika dilihat,
Carissa memiliki mata yang indah dengan bulu mata yang lentik. Mempunyai kulit
putih bersih tidak pucat, bibir yang berwarna pink alami, hidung yang mancung
keturunan orang tuanya, dan rambutnya yang hitam pekat yang selalu ia gerai
sebahu. Itulah Carissa. Gadis sederhana yang memiliki kecantikan natural yang
luar biasa.
“gue seneng
banget!!!!” teriak Carissa setelah sampai dikelas, ia mulai bercerita kepada
sahabatnya.
“kenapa Ris?
Pasti ketemu Raihan ya? Cieeee”
“iya hehehe,
dia tadi lagi dikantin, pas banget waktu gue nemenin Anis lagi jajan di warung
Bi Anik, Raihan juga jajan disitu. Gilaaa baru kali ini liat dia dari deket.” Wajah
Carissa sumringah. Wajahnya pun memerah.
“cie
cieee....”
“trus
gimana? Apa dia udah tau lo belum?”
“belum. Kenalan
aja belum hahaha. Lagian juga Gue gak mau dia cepet-cepet tau gue. Karena gue
pengen ngetes dia, apakah dia berusaha untuk pengen tau tentang gue, atau dia
gak peduli..”
-Continued
No comments:
Post a Comment