Friday, June 17, 2016

Shawn Mendes - Treat You Better Lyrics

I won't lie to you
I know he's just not right for you
And you can tell me if I'm off
But I see it on your face
When you say that he's the one that you want
And you're spending all your time
In this wrong situation
And anytime you want it to stop

I know I can treat you better than he can
And any girl like you deserves a gentleman
Tell me why are we wasting time
On all your wasted crying
When you should be with me instead
I know I can treat you better
Better than he can

I'll stop time for you
The second you say you'd like me too
I just wanna give you the loving that you're missing
Baby, just to wake up with you
Would be everything I need and this could be so different
Tell me what you want to do

'Cause I know I can treat you better than he can
And any girl like you deserves a gentleman
Tell me why are we wasting time
On all your wasted crying
When you should be with me instead
I know I can treat you better
Better than he can

Better than he can

Give me a sign
Take my hand, we'll be fine
Promise I won't let you down
Just know that you don't
Have to do this alone
Promise I'll never let you down

'Cause I know I can treat you better than he can
And any girl like you deserves a gentleman
Tell me why are we wasting time
On all your wasted crying
When you should be with me instead
I know I can treat you better
Better than he can

Better than he can
Better than he can

Tuesday, March 8, 2016

PLEASE READ AND VOTE MY STORY

Saya pikir Anda akan menyukai cerita ini: " It's All About K oleh citraanggini di Wattpad http://w.tt/1X9jbTN .

Saturday, January 30, 2016

Friday, January 29, 2016

Monday, January 25, 2016

Bad day -short story-

"Silau banget." Aku terbangun karena mataku terkena pantulan cahaya dari lampu kaca didepan kamarku. Gordeng kamar tidak terlalu kututup. Dan aku mendengar adzan shubuh berkumandang. konsentrasi tidurku jadi hilang. Ditambah aku kebelet kebelakang.
Balik-balik ke kamar, perutku seperti dikoyak. Sakit melilit tidak tau kenapa. Sampai akhirnya aku merebahkan kembali tubuhku dikasur. Rasa sakitnya tidak hilang. Bahkan aku meringis kesakitan. Aku mencoba untuk tidur kembali, tapi tetap tidak bisa. Malah perutku semakin menjadi. rasanya ingin menangis, tapi aku bukan orang yang cengeng. Alhasil, aku harus menahan muntah karena kedinginan. Oh sepertinya hari ini aku tidak akan sekolah.

***

Aku melihat sinar matahari dari gordeng kamar. Suasana diluar rumah sudah cerah. Tidak gelap gulita seperti shubuh tadi. Aku berencana untuk tidak sekolah. Apa jadinya kalau masuk sekolah dengan keadaan sakit perut begini?
Aku memutuskan tidur lagi. kebetulan jam dikamarku rusak. Jadi aku tidak tahu sudah jam berapa.
Setelah tertidur pulasnya. Aku mendengar ayahku masuk ke kamar dan membangunkanku. Dia bilang sudah jam 7.
Tunggu, jam 7?

Mampus. Hari inikan hari senin. Dan kalo hari senin tandanya harus datang pagi dan upacara. Tapi ini sudah jam 7!
Aku berharap agar perutku sakit lagi. Biar ada alasan untuk ayah kalau aku tidak ingin sekolah. Tapi sial. Perutku sudah mendingan. Seperti biasa.
Lalu bagaimana ini? Jam 7 kurang saja aku belum mandi. Alhasil aku kebakaran jenggot. Langsung ngucur ke kemar mandi, habis itu pake seragam sekilat, lalu menyiapkan buku, dan mengucur keluar memakai sepatu.
Aku terus mengeluh terlambat. Aku pasti distrap. Pasti. Buktinya saja aku masih dirumah dan sudah jam 7. Kurasa aku akan sial.
Mungkin karena kasihan ayahku mengantarkanku ke sekolah. Tadinya aku akan pergi sendiri naik angkot.

Sesampainya disekolah. Aku melihat gerbang depan (utama) sudah ditutup. Ohtidak!!!!
Jadinya aku masuk lewat gerbang belakang. Banyak juga yang kesiangan. Aku sedikit lega namun masih gelisah.
Aku berlari dan akhirnya sampai dilorong gelap yang ada wcnya. Ternyata disana berkumpul murid yang nasibnya sama denganku. Murid-murid yang terlambat. Mereka berdiri, lalu aku mendapati 2 guru yaitu pak sur dan pak ris (nama samaran). Mereka memerintahkan anak-anak untuk baris rapi.
"Dibagi 2 banjar sok!" Anak-anak yang sudah disana dan baru datang kalang kabut.
Aku sudah pasrah saja karena akhirnya banyak juga yang kesiangan. Ku kira aku saja yang kesiangan.
Kami (anak-anak yang terlambat) pasrah. Sebenarnya sama saja sih, sama yang ikut upacara disana. Tapi bedanya, kami upacara dilorong, sedangkan yang lain dilapang.
Bedanya kami dihukum, tetapi mereka tidak.
Bedanya kami kena poin pelanggaran 15, mereka tidak.
Tunggu, poin 15?
Pak sur menyuruh kami mengeluarkan buku poin. Syukurlah aku membawanya setiap hari. Karena kalau tidak dibawa akan ditambah pelanggaran tidak dibawa.
Trus mereka menyuruh mengisi buku poin dengan pelanggaran, aku menulisnya. Tapi aku sedih karena pertama kali aku mendapatkan poin pelanggaran sebanyak ini. 15 poin itu tidak sedikit.
Lalu pak sur memparafkan semua buku.
Dan setelah itu kami diberi nasihat--disindir,dimarahi-- tetapi disekolahku tidak ada main fisik.
Kami terus berdiri layaknya orang yang upacara dilapang.
Dan anehnya, upacara senin ini upacara terlama yang pernah kuikuti.

Aku memang pasrah distrap. Tapi yang aku cemaskan kalau orang-orang yang terlambat nantj disuruh ke depan lapang. Malu kan. BANGET.
yaudah aku pasrah lagi aja. Semoga aja gak disuruh ke lapang.
Ternyata bener. Kita ke lapangnya sehabis bubar upacara.
Penderitaan belum sampai situ. Aku kira sehabis upacara selesai disuruh balik ke kelas. Tetapi nggak. Dugaanku salah. Kami malah disuruh berdiri lagi dilapang. Betapa mengenaskannya aku dihukum begini. Malah pelajaran pertama si pa son lagi! (Nama samaran juga) dia guru teraneh dan tergakjelas ditahun ini. Tahun kemarin juga iyasih. Ya biasalah umur. Jadi kelakuannya suka yang aneh-aneh aja. Maklumin aja deh.
Karena banyak anak laki-laki yang rambutnya panjang. Otomatis mereka dapet cukur gratis dulu dilapang.
Nah kami cewek-cewek nontonin mereka yang dicukur gratis.
Bete banget sumpah.
Dan setelah semua anak cowok dicukur dan mereka balik ke kelas masing-masing. Giliran anak cewek disuruh skotjam 50. NGESELIN kan?

Sesampainya aku dikelas, yang pertama aku lakukan yaitu salam ke pak son. Trus bilang terlambat.
Anak-anak dikelas pada ribut. Gila si citra dateng jam segini. Banyak banget yang nanya "cit gak ikut upacara? Cit baru dateng?" Orang gue upacara kok tapi dihukum. Yaelah.
Udah deh ceritanya segini dulu yha aku cape ngetiknya wkwk.

Tuesday, January 19, 2016

Tugas lagi tugas lagi.
Rasanya ingin menjerit. Kyra lebih memilih sekolah SMP dibanding SMA. di SMP, Kyra tidak perlu belingsatan mengerjakan tugas seperti ini.

Hari ini ada 3 tugas yang harus dikumpulkan, dan 3 pelajaran juga kelas Kyra bebas nggak ada guru. Nah waktu-waktu ini dipakai anak-anak buat santai dan main-main. Tapi nggak untuk Kyra. Gadis malang ini justru ingin cepat-cepat menyelesaikan tugasnya kebanding main dulu. Berlama-lama dengan patung kutub selatan itu bisa-bisa membuatnya frustasi. Tunggu, bukannya Kyra memang sudah frustasi dari dulu ya?

Arul baru saja memasuki kelas karena tadi ia habis dari kantin. Jujur, Arul itu tidak suka keramaian. Jadi dia lebih dulu pergi ke kantin untuk makan daripada pergi ke kantin saat jam istirahat. Karena kalau pergi ke kantin saat jam istirahat, yang ada hanya berdesakan kaya ngantri sembako.

Arul menatap Kyra datar, disisi lain lelaki itu bersyukur memiliki teman sebangku seperti Kyra. Karena Kyra adalah anak rajin! Selalu mengerjakan tugas dengan cepat tanpa harus diberi tahu, jadi ia tidak perlu capek-capek untuk menceramahi atau menyuruh Kyra untuk ngerjain tugas. Tanpa dikomando pun gadis itu hawas sama yang namanya tugas.

"Eh, kemana aja luh," tanya Kyra iseng sambil menulis.

"Gue gak nyangki sama lo, ternyata diem-diem menghanyutkan juga ya,"

Arul mengerenyit, apalagi yang dibicarakan gadis aneh ini? Tidak ada hentinya untuk membuatnya buka mulut.

"Lo ternyata suka nyuri waktu juga dijam pelajaran ya? Kenapa gak sekalian bolos aja? Kan gak ada guru?" Ucapnya asal sambil menatap Arul sinis.

Yang ditanya diam saja. bahkan mengabaikan pertanyaan Kyra begitu saja.

Udah biasa. Kyra sudah biasa diabaikan, Kyra sudah biasa bertanya tapi tidak dijawab, Kyra sudah biasa dianggap seperti tidak ada.

Alhasil, Kyra melanjutkan tulis-menulisnya dibuku. Tetapi, ia mengerenyit. Seperti memikirkan sesuatu dan akhirnya ia mengeluarkan i-pod dari tasnya. Lalu gadis itu tenggelam dalam alunan lagu.

Jika dijam kosong atau bebas seperti ini, Kyra lebih sering menghabiskan waktunya dengan mendengarkan lagu. Itung-itung menenangkan diri dari patung kutub selatan disampingnya. Biasanya, setelah mendengarkan lagu, Kyra menjadi lebih kalem. Gadis itu cenderung berbicara jika ada perlunya saja.

Lalu Kyra melanjutkan tugasnya lagi. Ia tidak peduli dengan orang dihadapannya yang sedang mematung melamun tidak tahu harus berbuat apa. Tetapi akhirnya patung itupun bergerak dan melakukan aktifitas yang sama dengannya.

Mengerjakan tugas.

***

"Arul.." panggil Kyra ketika Arul sibuk menyelesaikan tugasnya.
"Arul," Kyra berpikir mungkin sipatung kutub selatan ini terlalu fokus mengerjakan tugasnya sampai suara nyaringnya itu tidak terdengar.
"Arulllll" tetapi sepertinya Arul tidak terlalu fokus pada tugasnya.
"ARUL!!" satu detik, dua detik, tiga detik. Arul menoleh kearahnya.
"Apa?" Tanyanya dingin. Disertai mimik wajah datar tanpa sesuatu yang tersirat diwajahnya.
Kyra mendengus. "Budek amat sih lo!"
"Ada apa?" Tanya Arul sekali lagi tanpa peduli ocehan Kyra.
"Lo udah ngerjain tugas fisika belum?" Tanya Kyra ketus.
"Yang mana?"
Kyra menyodorkan kertas lembar kerja siswa yang berisi banyak soal kepada Arul.
Arul melihat kertas itu. Lalu menggeleng.
"Lo lagi ngerjain apa?"
"Biologi."
Kyra menghembuskan napas keras lalu menatap Arul kesal.

"Lo bisa liat yang punya gue. Gue udah selesai. Sekarang kita selesain fisika aja. Gue gak ngerti nih," ucap Kyra sambil menyodorkan kertas lks pada Arul. Semuanya sudah terisi penuh.

Arul menatap lks Kyra sejenak. Akhirnya tanpa banyak bicara ia mengangguk.
"Yang mana yang lo gak ngerti?"
"Nih yang itung-itungan gini. Gue gak ngerti ni angka asalnya darimana tiba-tiba muncul."
Tanpa basa-basi Arul mulai menjelaskan cara mengerjakan soalnya dengan rumus-rumus yang diajarkan.

Sebenarnya, Kyra juga bersyukur memiliki teman sebangku seperti Arul. Meskipun ia menyebalkan dan pendiam, tetapi ia pintar. Itu makanya kenapa waktu dibagi kelompok belajar, banyak yang pengen sekelompok sama Arul. Tapi Kyra kadang menyesali hal itu, ya walaupun pintar, percuma saja kalau menyebalkan dan susah diajak kerja sama katanya.

Layaknya guru biasa, Arul menanyakan ketidakmengertian Kyra disebelah mana. "Ngerti?"

Yang ditanya tetap menunduk menatap soal dengan bingung. Lalu gadis itu menggeleng.

"Gimana gue bisa ngerti kalo dijelasinnya cepet begitu. Lo kira ngerap?"

Dengan sabar Arul menjelaskan lagi. Tetapi sesuai dengan keinginan Kyra. Lelaki itu menjelaskannya dengan pelan sampai akhirnya semua yang ia jelaskan nempel diotak Kyra.

"Nah kalo kaya gini kan gue ngerti."
Arul menatapnya seketika, gadis itu tersenyum kepadanya. "Nah, lain kali, kalo ngejelasin jangan kecepetan. Otak gue kadang suka lemot."

Entah kenapa Arul terpana ketika Kyra tersenyum seperti itu. Seperti sebuah senyuman kebahagiaan tanpa terbebani dosa sedikitpun. Tanpa ia sadari, bibirnya pun juga ikut melengkung keatas.

Kyra akhirnya langsung mengerjakan tugas itu dengan semangat. Arul pun masih terdiam dan akhirnya ia kembali ke bangkunya.

***

"Arul!" Teriak Kyra dikoridor sekolah. Gadis itu berlari kecil menghampiri lelaki bertubuh tinggi yang sedang berjalan santai itu.
"Arul! Tunggu!" Teriak Kyra sekali lagi. Akhirnya lelaki yang bernama Arul itu berhenti.
"Hfft.. hfft.." Kyra mengatur napasnya yang berantakan, maklum, jarang olahraga, lari sedikit aja udah kaya lari maraton.
"Apa?" Tanyanya dingin.
"Pulang bareng bisa kali!" Ucap Kyra sambil mengerenyit.
"Lo gak pulang sama Dina?" Tanya Arul datar.
"Dia udah pulang. Satu-satunya jalan keluar buat nyampe rumah ya elo."
Arul tak mengerti ucapan Kyra. Lelaki itu mengerenyit dan memasang tatapan 'what do you mean?'
"Yaelah, ni anak pakek bengong! Lo bawa motor kan?"
"Bawa." Jawab Arul singkat.
"Yaudah ayo pulang!" Ajak Kyra sambil berjalan mendahului Arul. Seolah-olah gadis itu yang akan bawa motornya.

Sesampainya diparkiran, Arul terdiam.
"Lo kenapa sih? Daritadi bengong mulu! Kesambet baru tau!"
"Gue gak bawa helm dua." Jawabnya datar tanpa ekpresi.
"Ya terus?"
"Ya kalau kaya gitu lo harus pake helm kalo mau pulang sama gue."
Dahi Kyra berkerut dalam, "what the?! Rumah gue deket kali! Gak usah pake helm lah,"
"Gue gak mau nanti diperempatan ditilang polisi. Gara-gara orang yang gue bonceng gak pake helm. Ribet ya, gue gak mau buang-buang duit untuk hal yang gak berguna," ucapnya panjang lebar.
Kyra sempat melongo mendengarnya, "jadi gue harus pake helm gitu?"
Arul mengiyakan dengan menaikkan kedua alisnya.
"Mampus deh." Gumam Kyra pelan. Tetapi Arul bisa mendengarnya.

Kyta tetap terdiam sambil memegangi dahinya. Gadis itu berusaha menahan kesal dan mulai merasakan pening dikepalanya. Tingkah laku Arul yang seperti ini membuatnya bisa-bisa gila.
Kyra menatap Arul putus asa. Laki-laki itu menatapnya datar.
"Jadi beneran gue harus pake helm?"
"Aha," Arul mengangguk pelan.
"Tapi kan lo liat sendiri kalo gue gak bawa helm!"
"Ya cari."
Kyra mengerenyit, "cari?!"
"Ya, kalo lo mau gue anterin sampe rumah bebas biaya." Jawabnya sambil memakai helmnya.
"Issh!!!"
"Ada ya orang nyebelin kayak si Arul ini. Apa susahnya sih tinggal anterin gue kerumah? Perasaan selama gue sekolah disini pulang kagak pake helm gak kenapa-kenapa tuh." 
Akhirnya dengan perasaan kesal, sekaligus emosi, Kyra langsung meluncur ke semua arah. Menghampiri orang-orang yang ada diparkiran. Untuk meminjam helm.

Ia tidak peduli kalau orang yang akan ia pinjam helmnya itu kakak kelas atau sebaya dengannya. Yang penting bisa pulang gratis tanpa capek jalan kaki.
Dari kejauhan Arul memperhatikannya sambil menggeleng-gelengkan kepala. "Ada ya cewek gila kaya dia. Heran deh gue."
Meskipun begitu, Arul sangat menghargai kerja keras Kyra. Ia tak keberatan menunggu berjam-jam sampai Kyra mendapatkan helm.

Kyra yang sudah capek dan putus asa pun tengah beristirahat dibawah pohon teduh dipojok parkiran. Sudah berapa banyak orang yang ia mintai untuk meminjamkan helmnya? Entahlah.
"Sialan. Ada ya orang rese kaya dia. Argh, kalo bukan karena tumpangan gratis dan males jalan kaki sih gue gak akan bela-belain sampe kayak gini! Bikin malu aja tuh orang!" Cecar Kyra sendiri. Gadis itu tak henti-hentinya mengumpat.

Sampai akhirnya ia melihat teman satu SMP nya baru keluar dari kelas. Ya, Mario.
Kyra langsung bangkit berdiri dan menghampiri Mario yang berjalan santai kearah motornya.
"Hey Rio!" Sapa Kyra ramah. Gadis itu tersenyum lebar tak seperti biasanya. Mario jadi curiga ada udang dibalik batu.
"Hai juga." Jawabnya ragu. Kyra masih saja tersenyum gak jelas kaya orang gila. Mario kan jadi khawatir kalau Kyra jadi aneh begini.
"Lo pulang sama siapa Yo?"
"Hm. Sendiri sih,"
"Oh gituuuuuuu......." ucapnya panjang. Mario semakin tidak mengerti apa maksud Kyra menghampirinya.
"By the way Ky, ada apa nih?" Tanya Mario langsung tanpa basa-basi. Ia tahu pasti, hubungan mereka kan tidak terlalu dekat. Hanya sebatas teman satu sekolah dan teman SMP. lalu, kenapa Kyra bersikap seolah-olah dekat dengan Mario?
"Hmm, gini yah Yo. Gue gak bawa helm nih. gue liat lo punya helm dua ya?" Jawab Kyra tothepoint.
Dahi Mario berkerut tipis, ternyata dugaannya benar. Pasti cewek ini punya maksud tersendiri.
"Kenapa? Lo mau numpang?" Tanyanya kemudian.
"Oh bukan! Bukan!"
"Lah? Terus ngapain nanya begituan?"
"Gue gak ada maksud buat minta tebengan sama lo kok. Gue cuma mau minjem helm aja ke elo. Gue lupa bawa helm nih. Sedangkan sekarang gue harus kerja kelompok dirumah temen gue. Rumahnya jauh, nanti ditilang lagi." Ungkap Kyra jelas.
Kyra pun tak lupa menunjuk ke arah Arul.
Kini Mario mengerti maksud Kyra mendekatinya secara tiba-tiba.
"Oh gitu. Hm,"
"Iya sih, gue bawa helm dua. Tadinya sih buat kecengan gue kalo mau pulang bareng. Tapi ya lo taulah gue kan masih jomblo."
"Yaudah? Kalo kaya gitu boleh gue pinjem kan helmnya?"
Dengan berat hati Mario akhirnya meminjamkan helm itu. Kyra langsung berlari sambil memasang wajah seperti habis memenangkan kuis one millioner.
"Gue udah dapet helmnya!"
"Iya gue liat. Gue gak buta kali." Sinis Arul.
"Yah, kirain gak liat." Sindir Kyra sengaja. Lalu Kyra tersenyum sambil memakai helmnya.
Arul menghidupkan mesin motornya.
"Tapi, kayaknya dia gak ikhlas minjemin helmnya ke elo tuh," ledeknya sambil menaiki motor.
Kyra mengerutkan hidung, tidak terima. "Buktinya dia minjemin ke gue kok. Ya kalau gak ikhlas, suruh siapa minjemin? Lagipula mubazir kalo gak kepake."
"Nih cewek bisa aja ngelesnya."

Lalu motor pun melaju meninggalkan sekolah.
"Gue heran sama lo, lo itu kan anak orang kaya. Bisa minta anter-jemput sama supir. Tapi lo bela-belain cari tumpangan gratis sampe kayak begitu," ucap Arul memulai percakapan dijalan.
Kyra mengrenyit, seperti tidak terima. "orang kaya? Kaya monyet kali ah"
Arul mengerem motornya mendadak, membuat kepala Kyra kejeduk helmnya Arul.
"Aw! Sakit tau onyon!" Arul menahan tawa, lalu melajukan motornya lagi.
"Lo sengaja ya mau bikin gue mental? Gila ya lo!"
Arul terkekeh.
"Lagian lo gue ajak ngomong serius malah dibecandain."
"Idup lu sih sukanya serius mulu! Becanda dikit bisa kali!"
Arul terdiam sesaat, lalu menjawab "gue gak suka dibecandain. Idup gak selucu yang lo kira Ky,"
Mereka berdua akhirnya terdiam. Mereka tenggelam oleh siang yang berganti menjadi senja. Langit mulai kemerahan pertanda matahari akan segera turun.
Arul pun melajukan motornya lebih kencang.

"Makasih tumpangannya nyon," ucap Kyra saat turun dari motor gedenya Arul.
Arul memutar bola matanya jengkel, lalu pergi tanpa pamit.
"Eh gila yah tuh anak!!!!" Rutuk Kyra sambil menenteng helm yang dipinjamkan Rio. Lalu menatap Arul yang semakin lama menghilang dari pandangannya.

***

Sunday, January 17, 2016

Today i was 16 y.o

TODAY IS MY BORNDAY🙌

Happy birthday to me. May i become a better, more mature, more clever, filial to parents, a happy world of the afterlife, given the health, and get a good love match💖

Gatau sebenernya ulang tahun kali ini ngerasa aneh deh yaa. Kaya nothing special gitu deh. Emg sih banyak yg ngucapin tp ga sebanyak wktu smp hha. Trs anak" nica kaya yg nyebelin gitu deh haha, pokonya bt bgt sm mereka. Trs emg sih aku ngerti kok kadang sesuatu yg kita inginkan tidak tercapai itu rasanya gaenak ya. Jd kesel sendiri, marah-marah gitu. pengen ini pengen itu kemauan banyak bgt tp blm bisa tercapai. Ya, this is life guys. If we want it all achieved without any effort, its impossible. Mom said "selama ini kita selalu melihat ke atas. Coba menunduklah, lihat mereka yang dibawah. Hidup kita masih lebih baik drpd mereka, jadi bersyukurlah." Intinya sih kita hrs banyak bersyukur. Well, jd skrng aku harus bersyukur, karena mungkin masih banyak orang diluar sana yang kesusahan, dan banyak juga sih diluar sana yg belum bisa bersyukur.

Ganti topik plis.
I'm bored with my status.
Di umur 16 ini gue ngarep bgt punya pacar😢 sedih amatye idup gue smpe ngarep ngarep gini. Duh.
Coba klo doi jd pcr w, duh bahagia dunia akhirat kali ya wkwkwk. Okay ini kayanya udh mukai bereskpetasi yg nggak".
Who's fond of single? See people out there dating while we single?
I feel like to confine myself.
Woho, but jomblo tak selamanya bersedih.

Friday, January 15, 2016

"Aku ingin pacaran dengan orang yang dia tahu hal yang aku sukai tanpa perlu kuberitahu, yang membuktikan kepadaku bahwa cinta itu ada tetapi bukan oleh apa yang di katakannya melainkan oleh sikap dan perbuatannya." - Milea (Dilan)

Saturday, January 2, 2016

Author by me.

"Maaf aku tidak bisa." Jawab Mia tanpa menatap Alex.
"Kenapa?"
Mia terdiam sebentar, lalu gadis itu memberanikan diri menatap Alex. "Tidak bisa saja."
Alex menatap Mia kecewa. Mia kembali tertunduk. Gadis itu terus memikirkan perkataan Alex tadi. Apakah benar ia bisa menemani Alex selamanya? Apakah benar Mia bisa hidup bertahan lama?
Entahlah. Sekarang saja, seharusnya ia tidak boleh bersedih.
"Aku tahu."
"Kau tak ingin kita memiliki hubungan lebih bukan?" Tanya Alex seraya memiringkan kepalanya agar dapat melihat Mia jelas.
Mia mengerenyit. "Bukan begitu maksudku,"
"Lalu, apa maksudmu? Kau mencintai orang lain?"
Pertanyaan itu bagaikan palu godam yang memukul kepala Mia sekarang. Jelas-jelas ia hanya mencintai Alex Hirano. Tidak ada seorang pun yang ia cintai selain Alex. Alex adalah mentari baginya. Walaupun terkadang Alex suka berubah-ubah sifat dengan sendirinya. Tapi Mia tahu, sekarang Alex adalah alasannya untuk bertahan hidup.
"Tidak." Jawab Mia dengan dahi berkerut rapat. Seperti tidak terima dengan pertanyaan Alex kalau ia mencintai orang lain.
"Lalu apa?" Tanya lelaki itu seketika.
"Kau tidak mengerti Alex." Jawab Mia lagi.
"Kau bisa memberitahuku agar aku mengerti."
Mia sedikit kesal. Gadis itu memasang wajah masam dan tatapan benci kepada Alex. Alex sungguh tidak tahu keadannya, keadaannya sangat buruk.
"Aku tidak mencintaimu Alex." Ucapan itu tertangkap sangat jelas ditelinga Alex. Sebuah pernyataan yang sangat diluar dugaan Alex.
"Apa?"
"Aku tidak bisa karena aku tidak mencintaimu." Jelas Mia.
Alex mengerenyit, seketika rahangnya mengeras. "Bohong."
Mia tidak menjawab, justru gadis itu menatap Alex dengan tatapan benci. "Jangan berharap lebih padaku Alex."
"Tidak. Tidak mungkin."
"Ini kenyataan Alex." Sahut Mia meyakinkan. Sekarang, ia ingin Alex melupakannya.
"Tidak Mia. Kau salah. Kau pasti mencintaiku! Tidak mungkin kalau kau--"
"Kenapa kau terlalu berharap padaku?" Potong Mia dengan suara tertahan.
Alex menatap Mia kecewa. Lalu apa yang telah mereka lewati bersama waktu itu? Apakah hanya perasaan biasa? Atau bahkan, tidak ada perasaan sama sekali?
"Dengar,"
"Kau salah menilaiku Alex." Ungkap Mia kemudian.
"Asal kau tahu, kita tidak akan pernah bisa bersatu dan hubungan kita hanyalah rekan kerja. Tidak lebih. Dan aku harap, kau tidak usah menemui aku lagi. Urusan apartemenmu sudah selesai bukan? Kalau begitu, aku tidak perlu bertemu denganmu lagi."
"Clark,"
"Mulai sekarang, mulailah hidupmu kembali. Hiduplah seperti saat sebelum kau bertemu aku. Semua akan baik-baik saja bukan?"
"Clark," Alex menggelengkan kepalanya cepat dan tidak setuju dengan keputusan Mia.
"What wrong with you?" tanya Alex dengan nada suaranya pelan karena kecewa.
"You dont understand Alex." Sahut Mia tak kalah pelannya. Lalu gadis itu memperlihatkan wajah sedih.

***

Sudah tiga hari Alex tidak bertemu dengan Mia sejak kejadian itu. Dan memang sampai sekarang, Alex tidak tahu kenapa Mia membencinya. Alex tidak mengerti kalau Mia tidak mencintainya. Dan yang paling Alex tidak mengerti adalah, Mia meninggalkannya.

Dulu Mia pernah bilang, "kalau begitu kau tidak bisa hidup tanpaku Alex?"
Alex mengelak. "Tentu saja. Kalau kau tidak bisa hidup tanpa kopiku, berarti kau tidak bisa hidup tanpa aku."

Dan sekarang Mia menghilang. Alex benar-benar frustasi.

***

"Kau sudah cari ke apartemennya?" Tanya Alex pada Ray.
"Sudah. Dan rupanya.." Ray terdiam seperti bingung. Alex menatapnya, lelaki itu menunggu Ray untuk melanjutkan ucapannya.
"Rupanya apa Ray?"
"Dia sudah tidak tinggal disitu lagi Alex." Jawab Ray sambil memasang wajah kecewa.
"Apa? Dia pindah?"
"Mungkin, kutanya tetangganya, tetapi mereka tidak tahu. Saat pindah, katanya Mia tidak ada."
"Tidak ada?" Alex kaget setengah mati. Gadis itu kini benar-benar menghilang.
"Iya. Dan mereka tidak bilang apa-apa selain itu."
"Sudah kau tanya teman-temannya?"
"Sudah Alex. Aku sudah tanya ke seluruh orang distudio. Tetapi mereka tidak ada yang tahu."
"Lucy? Apa dia tidak bilang soal Mia?"
"Lucy pun tidak tahu Mia dimana Alex." Jawab Ray santai untuk menenangkan kakaknya. Ia tahu pasti alasan Alex bersikap aneh saat ini, itu karena Mia. Ia bertengkar dengan Mia dan sekarang Mia menghilang.
Alex menutup wajahnya dengan putus asa. Lelaki itu seperti hendak marah, tetapi ditahan.
"Mungkin kau tahu, tempat yang suka Mia datangi selain studio atau apartemennya Alex?" Tanya Ray mencairkan suasana.
Alex tersadar. Lelaki itu mulai mengingat tempat-tempat yang pernah didatangi Mia, bahkan mengingat perkataan-perkataan Mia saat gadis itu cerita. Mungkin ada sesuatu yang bisa ia temui untuk mencarinya.
"Disaat yang seperti ini ia tidak mungkin sembunyi di Julliard. Pasti... di Greenwich Village." Gumam Alex seperti ditujukan untuk dirinya sendiri.
"Apa? Kau bilang apa Alex?"
"Kau tahu rumah Mia Ray?"
"Rumah Mia?"
"Maksudku, rumah orangtuanya. Apa kau tahu?"
"Coba ku tanya Lucy."
"Baiklah."

"Cepat atau lambat, kau akan kutemui Clark." Batin Alex.

***

P.s : ini bukan potongan dr novel sunshine becomes you yg sbenernya ya gais, tp ini cerita yg gue edit edit sendiri dr novelnya. Biar ga bosen wkwkw