Tugas lagi tugas lagi.
Rasanya ingin menjerit. Kyra lebih memilih sekolah SMP dibanding SMA. di SMP, Kyra tidak perlu belingsatan mengerjakan tugas seperti ini.
Hari ini ada 3 tugas yang harus dikumpulkan, dan 3 pelajaran juga kelas Kyra bebas nggak ada guru. Nah waktu-waktu ini dipakai anak-anak buat santai dan main-main. Tapi nggak untuk Kyra. Gadis malang ini justru ingin cepat-cepat menyelesaikan tugasnya kebanding main dulu. Berlama-lama dengan patung kutub selatan itu bisa-bisa membuatnya frustasi. Tunggu, bukannya Kyra memang sudah frustasi dari dulu ya?
Arul baru saja memasuki kelas karena tadi ia habis dari kantin. Jujur, Arul itu tidak suka keramaian. Jadi dia lebih dulu pergi ke kantin untuk makan daripada pergi ke kantin saat jam istirahat. Karena kalau pergi ke kantin saat jam istirahat, yang ada hanya berdesakan kaya ngantri sembako.
Arul menatap Kyra datar, disisi lain lelaki itu bersyukur memiliki teman sebangku seperti Kyra. Karena Kyra adalah anak rajin! Selalu mengerjakan tugas dengan cepat tanpa harus diberi tahu, jadi ia tidak perlu capek-capek untuk menceramahi atau menyuruh Kyra untuk ngerjain tugas. Tanpa dikomando pun gadis itu hawas sama yang namanya tugas.
"Eh, kemana aja luh," tanya Kyra iseng sambil menulis.
"Gue gak nyangki sama lo, ternyata diem-diem menghanyutkan juga ya,"
Arul mengerenyit, apalagi yang dibicarakan gadis aneh ini? Tidak ada hentinya untuk membuatnya buka mulut.
"Lo ternyata suka nyuri waktu juga dijam pelajaran ya? Kenapa gak sekalian bolos aja? Kan gak ada guru?" Ucapnya asal sambil menatap Arul sinis.
Yang ditanya diam saja. bahkan mengabaikan pertanyaan Kyra begitu saja.
Udah biasa. Kyra sudah biasa diabaikan, Kyra sudah biasa bertanya tapi tidak dijawab, Kyra sudah biasa dianggap seperti tidak ada.
Alhasil, Kyra melanjutkan tulis-menulisnya dibuku. Tetapi, ia mengerenyit. Seperti memikirkan sesuatu dan akhirnya ia mengeluarkan i-pod dari tasnya. Lalu gadis itu tenggelam dalam alunan lagu.
Jika dijam kosong atau bebas seperti ini, Kyra lebih sering menghabiskan waktunya dengan mendengarkan lagu. Itung-itung menenangkan diri dari patung kutub selatan disampingnya. Biasanya, setelah mendengarkan lagu, Kyra menjadi lebih kalem. Gadis itu cenderung berbicara jika ada perlunya saja.
Lalu Kyra melanjutkan tugasnya lagi. Ia tidak peduli dengan orang dihadapannya yang sedang mematung melamun tidak tahu harus berbuat apa. Tetapi akhirnya patung itupun bergerak dan melakukan aktifitas yang sama dengannya.
Mengerjakan tugas.
***
"Arul.." panggil Kyra ketika Arul sibuk menyelesaikan tugasnya.
"Arul," Kyra berpikir mungkin sipatung kutub selatan ini terlalu fokus mengerjakan tugasnya sampai suara nyaringnya itu tidak terdengar.
"Arulllll" tetapi sepertinya Arul tidak terlalu fokus pada tugasnya.
"ARUL!!" satu detik, dua detik, tiga detik. Arul menoleh kearahnya.
"Apa?" Tanyanya dingin. Disertai mimik wajah datar tanpa sesuatu yang tersirat diwajahnya.
Kyra mendengus. "Budek amat sih lo!"
"Ada apa?" Tanya Arul sekali lagi tanpa peduli ocehan Kyra.
"Lo udah ngerjain tugas fisika belum?" Tanya Kyra ketus.
"Yang mana?"
Kyra menyodorkan kertas lembar kerja siswa yang berisi banyak soal kepada Arul.
Arul melihat kertas itu. Lalu menggeleng.
"Lo lagi ngerjain apa?"
"Biologi."
Kyra menghembuskan napas keras lalu menatap Arul kesal.
"Lo bisa liat yang punya gue. Gue udah selesai. Sekarang kita selesain fisika aja. Gue gak ngerti nih," ucap Kyra sambil menyodorkan kertas lks pada Arul. Semuanya sudah terisi penuh.
Arul menatap lks Kyra sejenak. Akhirnya tanpa banyak bicara ia mengangguk.
"Yang mana yang lo gak ngerti?"
"Nih yang itung-itungan gini. Gue gak ngerti ni angka asalnya darimana tiba-tiba muncul."
Tanpa basa-basi Arul mulai menjelaskan cara mengerjakan soalnya dengan rumus-rumus yang diajarkan.
Sebenarnya, Kyra juga bersyukur memiliki teman sebangku seperti Arul. Meskipun ia menyebalkan dan pendiam, tetapi ia pintar. Itu makanya kenapa waktu dibagi kelompok belajar, banyak yang pengen sekelompok sama Arul. Tapi Kyra kadang menyesali hal itu, ya walaupun pintar, percuma saja kalau menyebalkan dan susah diajak kerja sama katanya.
Layaknya guru biasa, Arul menanyakan ketidakmengertian Kyra disebelah mana. "Ngerti?"
Yang ditanya tetap menunduk menatap soal dengan bingung. Lalu gadis itu menggeleng.
"Gimana gue bisa ngerti kalo dijelasinnya cepet begitu. Lo kira ngerap?"
Dengan sabar Arul menjelaskan lagi. Tetapi sesuai dengan keinginan Kyra. Lelaki itu menjelaskannya dengan pelan sampai akhirnya semua yang ia jelaskan nempel diotak Kyra.
"Nah kalo kaya gini kan gue ngerti."
Arul menatapnya seketika, gadis itu tersenyum kepadanya. "Nah, lain kali, kalo ngejelasin jangan kecepetan. Otak gue kadang suka lemot."
Entah kenapa Arul terpana ketika Kyra tersenyum seperti itu. Seperti sebuah senyuman kebahagiaan tanpa terbebani dosa sedikitpun. Tanpa ia sadari, bibirnya pun juga ikut melengkung keatas.
Kyra akhirnya langsung mengerjakan tugas itu dengan semangat. Arul pun masih terdiam dan akhirnya ia kembali ke bangkunya.
***
"Arul!" Teriak Kyra dikoridor sekolah. Gadis itu berlari kecil menghampiri lelaki bertubuh tinggi yang sedang berjalan santai itu.
"Arul! Tunggu!" Teriak Kyra sekali lagi. Akhirnya lelaki yang bernama Arul itu berhenti.
"Hfft.. hfft.." Kyra mengatur napasnya yang berantakan, maklum, jarang olahraga, lari sedikit aja udah kaya lari maraton.
"Apa?" Tanyanya dingin.
"Pulang bareng bisa kali!" Ucap Kyra sambil mengerenyit.
"Lo gak pulang sama Dina?" Tanya Arul datar.
"Dia udah pulang. Satu-satunya jalan keluar buat nyampe rumah ya elo."
Arul tak mengerti ucapan Kyra. Lelaki itu mengerenyit dan memasang tatapan 'what do you mean?'
"Yaelah, ni anak pakek bengong! Lo bawa motor kan?"
"Bawa." Jawab Arul singkat.
"Yaudah ayo pulang!" Ajak Kyra sambil berjalan mendahului Arul. Seolah-olah gadis itu yang akan bawa motornya.
Sesampainya diparkiran, Arul terdiam.
"Lo kenapa sih? Daritadi bengong mulu! Kesambet baru tau!"
"Gue gak bawa helm dua." Jawabnya datar tanpa ekpresi.
"Ya terus?"
"Ya kalau kaya gitu lo harus pake helm kalo mau pulang sama gue."
Dahi Kyra berkerut dalam, "what the?! Rumah gue deket kali! Gak usah pake helm lah,"
"Gue gak mau nanti diperempatan ditilang polisi. Gara-gara orang yang gue bonceng gak pake helm. Ribet ya, gue gak mau buang-buang duit untuk hal yang gak berguna," ucapnya panjang lebar.
Kyra sempat melongo mendengarnya, "jadi gue harus pake helm gitu?"
Arul mengiyakan dengan menaikkan kedua alisnya.
"Mampus deh." Gumam Kyra pelan. Tetapi Arul bisa mendengarnya.
Kyta tetap terdiam sambil memegangi dahinya. Gadis itu berusaha menahan kesal dan mulai merasakan pening dikepalanya. Tingkah laku Arul yang seperti ini membuatnya bisa-bisa gila.
Kyra menatap Arul putus asa. Laki-laki itu menatapnya datar.
"Jadi beneran gue harus pake helm?"
"Aha," Arul mengangguk pelan.
"Tapi kan lo liat sendiri kalo gue gak bawa helm!"
"Ya cari."
Kyra mengerenyit, "cari?!"
"Ya, kalo lo mau gue anterin sampe rumah bebas biaya." Jawabnya sambil memakai helmnya.
"Issh!!!"
"Ada ya orang nyebelin kayak si Arul ini. Apa susahnya sih tinggal anterin gue kerumah? Perasaan selama gue sekolah disini pulang kagak pake helm gak kenapa-kenapa tuh."
Akhirnya dengan perasaan kesal, sekaligus emosi, Kyra langsung meluncur ke semua arah. Menghampiri orang-orang yang ada diparkiran. Untuk meminjam helm.
Ia tidak peduli kalau orang yang akan ia pinjam helmnya itu kakak kelas atau sebaya dengannya. Yang penting bisa pulang gratis tanpa capek jalan kaki.
Dari kejauhan Arul memperhatikannya sambil menggeleng-gelengkan kepala. "Ada ya cewek gila kaya dia. Heran deh gue."
Meskipun begitu, Arul sangat menghargai kerja keras Kyra. Ia tak keberatan menunggu berjam-jam sampai Kyra mendapatkan helm.
Kyra yang sudah capek dan putus asa pun tengah beristirahat dibawah pohon teduh dipojok parkiran. Sudah berapa banyak orang yang ia mintai untuk meminjamkan helmnya? Entahlah.
"Sialan. Ada ya orang rese kaya dia. Argh, kalo bukan karena tumpangan gratis dan males jalan kaki sih gue gak akan bela-belain sampe kayak gini! Bikin malu aja tuh orang!" Cecar Kyra sendiri. Gadis itu tak henti-hentinya mengumpat.
Sampai akhirnya ia melihat teman satu SMP nya baru keluar dari kelas. Ya, Mario.
Kyra langsung bangkit berdiri dan menghampiri Mario yang berjalan santai kearah motornya.
"Hey Rio!" Sapa Kyra ramah. Gadis itu tersenyum lebar tak seperti biasanya. Mario jadi curiga ada udang dibalik batu.
"Hai juga." Jawabnya ragu. Kyra masih saja tersenyum gak jelas kaya orang gila. Mario kan jadi khawatir kalau Kyra jadi aneh begini.
"Lo pulang sama siapa Yo?"
"Hm. Sendiri sih,"
"Oh gituuuuuuu......." ucapnya panjang. Mario semakin tidak mengerti apa maksud Kyra menghampirinya.
"By the way Ky, ada apa nih?" Tanya Mario langsung tanpa basa-basi. Ia tahu pasti, hubungan mereka kan tidak terlalu dekat. Hanya sebatas teman satu sekolah dan teman SMP. lalu, kenapa Kyra bersikap seolah-olah dekat dengan Mario?
"Hmm, gini yah Yo. Gue gak bawa helm nih. gue liat lo punya helm dua ya?" Jawab Kyra tothepoint.
Dahi Mario berkerut tipis, ternyata dugaannya benar. Pasti cewek ini punya maksud tersendiri.
"Kenapa? Lo mau numpang?" Tanyanya kemudian.
"Oh bukan! Bukan!"
"Lah? Terus ngapain nanya begituan?"
"Gue gak ada maksud buat minta tebengan sama lo kok. Gue cuma mau minjem helm aja ke elo. Gue lupa bawa helm nih. Sedangkan sekarang gue harus kerja kelompok dirumah temen gue. Rumahnya jauh, nanti ditilang lagi." Ungkap Kyra jelas.
Kyra pun tak lupa menunjuk ke arah Arul.
Kini Mario mengerti maksud Kyra mendekatinya secara tiba-tiba.
"Oh gitu. Hm,"
"Iya sih, gue bawa helm dua. Tadinya sih buat kecengan gue kalo mau pulang bareng. Tapi ya lo taulah gue kan masih jomblo."
"Yaudah? Kalo kaya gitu boleh gue pinjem kan helmnya?"
Dengan berat hati Mario akhirnya meminjamkan helm itu. Kyra langsung berlari sambil memasang wajah seperti habis memenangkan kuis one millioner.
"Gue udah dapet helmnya!"
"Iya gue liat. Gue gak buta kali." Sinis Arul.
"Yah, kirain gak liat." Sindir Kyra sengaja. Lalu Kyra tersenyum sambil memakai helmnya.
Arul menghidupkan mesin motornya.
"Tapi, kayaknya dia gak ikhlas minjemin helmnya ke elo tuh," ledeknya sambil menaiki motor.
Kyra mengerutkan hidung, tidak terima. "Buktinya dia minjemin ke gue kok. Ya kalau gak ikhlas, suruh siapa minjemin? Lagipula mubazir kalo gak kepake."
"Nih cewek bisa aja ngelesnya."
Lalu motor pun melaju meninggalkan sekolah.
"Gue heran sama lo, lo itu kan anak orang kaya. Bisa minta anter-jemput sama supir. Tapi lo bela-belain cari tumpangan gratis sampe kayak begitu," ucap Arul memulai percakapan dijalan.
Kyra mengrenyit, seperti tidak terima. "orang kaya? Kaya monyet kali ah"
Arul mengerem motornya mendadak, membuat kepala Kyra kejeduk helmnya Arul.
"Aw! Sakit tau onyon!" Arul menahan tawa, lalu melajukan motornya lagi.
"Lo sengaja ya mau bikin gue mental? Gila ya lo!"
Arul terkekeh.
"Lagian lo gue ajak ngomong serius malah dibecandain."
"Idup lu sih sukanya serius mulu! Becanda dikit bisa kali!"
Arul terdiam sesaat, lalu menjawab "gue gak suka dibecandain. Idup gak selucu yang lo kira Ky,"
Mereka berdua akhirnya terdiam. Mereka tenggelam oleh siang yang berganti menjadi senja. Langit mulai kemerahan pertanda matahari akan segera turun.
Arul pun melajukan motornya lebih kencang.
"Makasih tumpangannya nyon," ucap Kyra saat turun dari motor gedenya Arul.
Arul memutar bola matanya jengkel, lalu pergi tanpa pamit.
"Eh gila yah tuh anak!!!!" Rutuk Kyra sambil menenteng helm yang dipinjamkan Rio. Lalu menatap Arul yang semakin lama menghilang dari pandangannya.
***
No comments:
Post a Comment