Thursday, December 24, 2015

"Sebenernya lo itu bule atau orang jepang sih? Atau lo orang korea? Hm, tapi wajah lo bukan wajah oriental..." ungkap Kyra sambil memperhatikan wajah Arul dengan serius.
"Gue juga kadang bingung sama diri sendiri,"
"Loh? Kok gitu?"
"bokap orang amrik, nyokap keturunan jepang-korea-jawa" ungkapnya kemudian. Kyra terbelalak, "jepang-korea-jawa? Serius? Seriusan nyokap lo campuran begitu?"
Arul mengangguk, "pusing kalo lo tau tentang keluarga gue, ribet."
Setelah mendengar kalo Ibunya Arul campuran Jepang-Korea-Jawa dan ayahnya orang Amerika, ini membuat Kyra percaya kalau Arul memang putih karena gen orangtuanya, bukan karena Arul memiliki penyakit tertentu atau bukan manusia. Sejenak Kyra terdiam melamun.
"Mau tanya apalagi?" Celetuknya tiba-tiba, membuyarkan lamunan Kyra.
"Nggak! Udah cukup kok!" Kilah Kyra sambil mengerjap beberapa kali.
"Bagus kalo gitu,"
Setelah itu mereka melanjutkan perjalanan ke rumah Kyra. Dengan jalan kaki diterik panas matahari.

***

Kyra jadi teringat waktu ia menuduh-nuduh Arul yang bukan-bukan, bahkan sempat menganggap kalau Arul bukan manusia, Kyra juga sempat berpikir kalau Arul adalah Vampir atau mahkluk aneh lainnya. Jelas saja, dari sikapnya yang dingin dan terkesan menutup diri, membuat hipotesis Kyra semakin kuat kalau Arul bukanlah manusia. Dari segi fisik cowok itu punya kulit putih pucat, lalu mata yang coklat, rambut coklat kepirangan, tubuh tinggi dan kurus kerontang.

"Ke rumah lo lagi," celetuk Arul ketika sudah sampai diteras rumah Kyra. Arul akhirnya mendaratkan tubuhnya dikursi kayu untuk tamu diteras rumah Kyra. Lelaki itu terlihat dehidrasi seperti habis berjalan dipadang pasir.

"Abis lo yang bilang kan kalo ga boleh ke rumah lo?"
"Siapa bilang gaboleh?"

Kyra mengerenyit, "kan lo sendiri bilang, kalo gak boleh ke rumah lo"
"Gue gak ngomong gitu"
"Tapi lo ngomong kaya gitu kok!"
"Gak. Lo salah kaprah"
"Salah kaprah?!"
"Gue kan cuma ngomong kalo ke rumah gue, ya gak ada apa-apa, terus rumah gue jauh, lagipula gue gabawa motor kan, terus rumah gue itu yah sedikit lo taulah.."
Dahi Kyra berkerut rapat lalu membiarkan Arul melanjutkan ucapannya.
"Angker."
"Angker?"
"Yes. Jadi lebih baik gak udah kerja kelompok dirumah gue."
"Tuhkan."
"Apa?"
"Nah tadi lo ngomong kaya gitu, artinya kan gak boleh ke rumah lo?"
"Forget it. Gue capek. Haus nih, minta minum dong,"  ujar Arul mengakhiri perdebatan lalu masuk kedalam rumah Kyra dengan wajah polosnya.
Tumben-tumbennya anak itu mengakhiri perdebatan, biasanya, Arul tidak pernah mau mengalah sama Kyra, mungkin karena mereka sudah sering bersama dan mungkin Arul sudah mengerti sifat Kyra seperti apa.

"Ada air dingin gak?" Tanya Arul celingukan didapur. Kyra mengikutinya dari belakang sambil mengambil gelas.
"Ada dikulkas."
Arul langsung membuka pintu kulkas dan mendapati botol-botol minum berisi air dingin tepat didepannya.
"Lo minum air dingin juga?"
"Nggak."
"Terus, kok banyak banget botol-botol air dingin disini?"
"Abisnya waktu kemaren-kemaren lo rengek-rengek minta air dingin, yaudah gue ngestok air dingin banyak biar kalo lo kesini lo gak minta-minta lagi, dan gue gak usah repot pergi ke warung buat beli es batu atau minuman dingin lainnya,"
Arul cengo. Tetapi, lelaki itu punya berbagai cara untuk menyamarkan perasannya, dia langsung meminum air dingin itu tanpa menaruhnya digelas terlebih dahulu.
"Ih jorok!"
Arul terus meneguk air dingin itu sampai botol air yang dipegangnya menjadi kosong. Lalu ia membuka pintu kulkas lagi dan mengambil satu botol air dingin.
Dengan cepat Arul membuka tutupnya dan hendak meminumnya, tapi Kyra langsung menahannya.
"Hey!"
"Apa?"
Kyra langsung mengambil botol air itu dari tangan Arul dan menaruhnya dimeja.
"Lo itu lebay deh! Emangnya lo secape apa sih jalan dari sekolah ke rumah gue? Emangnya kaya jalan dipadang pasir ya? Sampe minumnya begitu?"
Arul diam saja menatap Kyra heran.
"Tadi kan kita panas-panasan, lo minta minum yang dingin terus minumnya sekaligus begitu. Bahaya tau!"
Arul menelan ludahnya.
"Tumben lo khawatir sama gue Ky," ujarnya kemudian.
Ucapan itu seperti palu godam yang memukul kepala Kyra. Tidak, siapa juga yang khawatir sama Arul?
"Ng--nggak kok! Gue gak khawatir sama lo! Tapi gue cuma ngasih tau aja.. kalo minum sekaligus gitu gak baik!"
"Oh gitu ya?" Tanya Arul dengan tatapan menggoda.
"I..iya!" Ditatap seperti itu membuat Kyra memanas, akhirnya ia pun pergi kekamarnya membanting pintu.
Arul melihat tingkah laku Kyra seperti itu membuatnya tertawa.

Sunday, December 20, 2015

"Hah? Gue dimana?!"
"Dikamar lo sendiri. Gausah berlagak pergi jauh deh." Sinis Arul ketika Kyra sudah sadar.
Kyra mengerenyit. Matanya masih sedikit buram ketika ia membukanya. Lalu ia pejamkan beberapa kali dan hasilnya..... ia melihat makhluk menyebalkan itu disampingnya. Terlebih lagi, didalam kamarnya!

"Ngapain lo dikamar gue?!" Pekik Kyra sambil bangkit   lalu mengambil posisi setengah duduk dengan siku yang menyangga.
Arul memutar bola matanya jengkel, "emangnya gue keliatan habis ngapain gitu?"
Pertanyaan ambigu, Kyra terdiam. Gadis itu melamun sampai akhirnya sadar kalau tadi ia pingsan.
"Untung lo pingsan dideket rumah, kalo pingsan ditempat lain gak tahu deh." Ungkap Arul sambil mengedikkan bahu.
"Pasti lo khawatir ya?" Tanya Kyra mendadak baper.
"Bukan itu! Kalo lo pingsan dipinggir jalan tadi, ribet! Gue sih ogah mau ngegendong lo, badan lo berat kek gajah gitu. Ih" jawab Arul sambil mengerutkan hidung dan menggedikkan bahu lagi. Pertanda seperti tidak sudi.
Kyra mendecakkan lidah terlihat kecewa, lalu menelan ludah beberapa kali.
"Jadi, kenapa lo bisa pingsan?" Celetuk Arul kemudian.
Kyra terdiam sebentar, "gue belum makan."
Arul menggelengkan kepalanya, lalu menyodorkan piring yang sudah lengkap dengan isinya.
Kyra melongo. Entah kenapa ia jadi baper sama Arul gara-gara kejadian ini. Ia merasa, Arul ada rasa peduli terhadapnya.

"Lo beli dimana?" Tanya Kyra cengo.
"Beli? Lo kira ini makanan gue beli? Ya nggak lah! Gue yang masak!"
"Masak?" Kyra makin cengo. Melihat Arul ada disebelahnya saja sudah membuatnya kaget, terlebih lagi Arul memasak untuknya. Sungguh diluar dugaan.
"Biar gue jelasin, --lo tadi pingsan didepan rumah tetangga lo. Terus, terpaksa gue harus ngegotong lo kerumah lo yang katanya nomer 45. Terus dengan susah payah gue buka pager rumah lo karena dipunggung gue ada lo, akhirnya pager rumah kebuka, dan ujian lainnya, gue bingung gimana caranya masuk ke rumah lo, masa iya pintunya gue dobrak, kan ga banget lah ngabisin tenaga gue. Dan gue muter otak kali aja kuncinya ada ditas lo dan ternyata bener. Yaudah gue buka rumah lo, terus gue liat kamar yang ada nama lo didepan pintunya, yaudah gue masukin dulu lo ke kamar, abis itu gue liat ke meja makan, ga ada apa-apa, yaudah gue akhirnya masak aja seadanya.-- jelas?"
Kyra hanya melongo menatap Arul tidak percaya. Menurutnya, Arul sudah keterlaluan. Ini bukan Arul yang ia kenal, Arul yang ia kenal kan dingin, pendiam, dan anti sosial terhadap sekitar. Jadi tidak mungkin melakukan perbuatan yang diceritakannya tadi.

Kyra merasa dongkol. Tadi ia sudah mengira yang bukan-bukan tentang Arul, dan ia jadi teringat ucapannya waktu itu.
"Kalo tuh anak ngomentar atau nyeramahin, gue mesti bikin syukuran dong."

"Kayanya ini lebih dari syukuran." Batin Kyra.

***

"Ky, lo dirumah sendirian?" Celetuk Arul tiba-tiba saat mereka sedang menyelesaikan tugas mereka yang terakhir. Waktu sudah menunjukan pukul 08.00 malam dan rumah Kyra masih sepi hanya ada mereka berdua.
"Nyokap, bokap masih kerja, paling pulang bentar lagi. Kakak gue gatau dimana, paling dirumah temennya. Biasalah, dia lebih betah dirumah temennya dibanding dirumah sendiri," setelah mendapatkan penjelasan yang jelas dari Kyra, Arul tidak banyak tanya. Ia terus melanjutkan pekerjaannya agar tugas ini cepat selesai.

Sampai pada akhirnya, mama Kyra pulang dan mendapati putrinya dirumah berdua dengan seorang lelaki, yang berada dikamar. Sungguh mengejutkan.

"KYRA!!!" teriak mama Kyra begitu melihat seorang lelaki dikamar putrinya.
Kyra dan Arul terperanjat kaget mendengarnya. Terlebih lagi Arul. Ia tahu pasti penyebab mama Kyra seperti itu.

"Apa ma? Ngagetin aja sih." Jawab Kyra mendatangi mamanya.
Mama Kyra menatap tajam ke Arul dan menatapnya dari atas ke bawah. Lalu meminta penjelasan kepada  putrinya.

"Ah, jadi Kyra lagi kerja kelompok ma. Mama inget kan kalo sekarang Kyra belajar harus sama kelompok. Dan ini dia kelompok Kyra. Dia partnernya Kyra disekolah. Namanya Arul." Kyra mulai menjelaskan kepada mamanya yang menatap Arul killer. Arul akhirnya tersenyum dan menghampiri mama Kyra.

"Malam tante, maaf ganggu ya hehe." Ucapnya dengan nada merasa tidak enak.
Mama Kyra lalu bersikap seperti biasa dan tersenyum. "oh iya Arul. Kalau begitu, cepat selesaikan ya, ini sudah malam." Pinta mama Kyra cuek. Secara langsung kalau mama Kyra mengusirnya cepat pulang kan?

"Anak dan ibu sama saja hah," batin Arul seketika.
"Iya tante," jawabnya tersenyum paksa pada mama Kyra.

Setelah itu mereka berdua kembali bekerja. Tanpa percakapan sama sekali. Sungguh, menyedihkan.

***

Paginya, Kyra mendapati Arul diparkiran sekolah. Kyra langsung berjalan menuju kelas tanpa memperdulikan Arul dibelakangnya. Gadis itu berjalan tanpa dosa. Padahal kemarin sudah membuat Arul dalam kesulitan.

==Arul==

Demi Tuhan, kalo dia bukan teman sebangku dan kelompok belajar gue, udah gue abisin deh tuh anak! Kemarin gue udah diribetin, terus dia ngotot nyuruh ngerjain 3 tugas sekaligus, mana gue kurang tidur lagi! Sialan.

Awas aja kalo dia nyusahin gue lagi. Gak akan gue bantuin. Beneran.

Kayaknya dia juga enggak diajarin ngomong terimakasih sama emaknya, kemarin gue udah ngelakuin apapun buat dia malah gada balasannya.

Dasar gila! Gak tau malu!

==Kyra==

Emang puas kemarin gue kerjain? Haha kali-kali kan gue bikin seorang Arul jadi repot. Puas banget deh gue hahaha.

Lain kali, gue kerjain lagi deh. Biar mampus tuh sekalian, emangnya enak sekelompok sama Kyra? HAHAHAHA

***

Wednesday, December 16, 2015

Tugas, tugas, dan tugas.
Lagi-lagi Kyra harus bersama patung kutub selatan itu lagi.
Jadwal minggu ini padat sekali, Kyra hampir tidak bisa bernafas karena tugas individu maupun kelompok selalu menghampirinya. Terlebih lagi tugas kelompoknya bersama Arul. Ya, si lelaki menyebalkan itu.

Sore ini dipakai untuk kerja kelompok. Ada 3 tugas yang harus mereka selesaikan. sebenarnya untuk minggu depan, tetapi Kyra bukan tipe anak yang suka mengulur waktu dan menumpuk tugas. Jadi ia terpaksa harus bersama Arul seharian ini.

"Lo gak bawa motor?" Tanya Kyra dengan nada suara yang agak kaget begitu melihat Arul berjalan melewati parkiran.
Arul berhenti, lalu menoleh "enggak."
"hah? Gak bawa motor?!" Kyra melotot.
Arul mengangguk pelan. "Motor gue hari ini jadwal servis rutin."
"Ya terus, ke rumah gue gimana? Jalan kaki?!" Tanyanya kesal karena Arul gak bawa motor.
"ya kelihatannya begimana?"
dahi Kyra berkerut rapat dan bibirnya manyun. Sepulang sekolah tadi ia pikir akan pulang diantar naik motor, tapi kenyataan berkehendak lain.
"Ah! Kalo gini sih jalan kaki lah!" keluhnya.
Tanpa banyak bicara gadis jutek itu langsung berjalan keluar gerbang, Arul menggelengkan kepalanya lalu mengikutinya keluar.

Rumah Kyra sebenarnya tidak jauh dari sekolah. Hanya kalau dengan jalan kaki mereka harus naik angkot dulu. Lalu berhenti didepan jalan cendrawasih. Setelah itu mereka menyusuri jalan cendrawasih sampai ke rumah Kyra.
Tetapi, kalau naik motor lebih cepat lagi, tidak usah naik turun angkot terus jalan kaki untuk sampai rumah Kyra.

"Lagian rumah lo kan gak jauh Ky, jalan kaki juga bisa kan." Ucap Arul terdengar seperti menghibur Kyra.
Kyra tetap cemberut seperti biasa. Semenjak sekelompok dengan Arul, Kyra berubah menjadi cewek jutek dan tempramental. Gimana nggak jutek dan tempramental, Toh teman sekelompoknya macam kayak Arul. Siapapun mungkin akan sama kayak Kyra.

Arul akhirnya tutup mulut karena sepertinya menghibur tidak ada gunanya. Kyra malah diam seribu bahasa.

==Kyra==

Rumah gue emang deket sih, tapi kan gue pengennya naik motor! Seharian capek sekolah dan hasilnya jalan kaki. Sama orang kayak dia lagi jalan kakinya. Kenapa gak jalan kaki sama Billy Davidson atau Steffan William gitu? Argh bikin gue bete aja nih orang!

Ah kalo kaya gitu gue diemin aja ah. Siapa tau dia enek sendiri sama gue haha. Emangnya enak ya didiemin? Makanya jadi orang jangan suka kayak gitu!!

==Arul==

Kayaknya nih cewek matre bener dah. gue gak bawa motor aja marahnya minta ampun. Pakek ngediemin gue segala lagi, uh!

Emang lo kira gue bakal kesel?
emang lo kira gue bakal ngehibur lo gitu?
Emang lo kira gus bakal minta maaf bla bla bla ah basi!
Toh gue gak masalah kok jalan kaki. Nih cewek ribet bener mau naik motor.
Cewek emang selalu ribet sih.

***

Setelah lama berjalan menyusuri jalan cendrawasih, Kyra jadi pusing sendiri. Itu pasti gara-gara ia belum makan daritadi siang. Tadi waktu istirahat ia pakai untuk mengerjakan tugas. Saking gak maunya terus-terusan sama Arul, gadis malang ini jadi hawas kalo ada tugas. Kalo dikasih tugas, langsung dikerjain biar cepet selesai.

Arul merasa Kyra jadi aneh. Gadis itu terus-terusan diam semenjak diawal tadi. Arul tahu ia ngambek, tetapi sepanjang perjalanan gadis itu tidak membuka mulutnya. terlebih lagi wajahnya juga memucat dengan sendirinya.

"Ky? Kyra?" Arul menyenggol bahu Kyra. Gadis itu lemah sekali. Sekali senggol langsung terhempas. Aneh.
"Apaan sih?" Ketusnya setelah merasa tubuhnya oleng.
"Lo kenapa?" Tanya Arul penuh selidik, nada suaranya pun terdengar cemas.
Kyra mengerenyit, "gak kenapa-kenapa!"
Arul terdiam. Keheranan. Sepertinya gadis ini sedang tidak dalam kondisi sehat.
"Ky, rumah lo masih jauh gak sih?" Tanya Arul memecah keheningan.
"Bentar lagi juga nyampe. Tuh rumah warna putih nomer 45." Jawabnya sambil menunjuk sebuah rumah diujung sana.
Arul bernafas lega karena sebentar lagi ia akan sampai, ia juga muak dalam suasana mencekam seperti ini. Ditambah Kyra sepertinya menyembunyikan sesuatu darinya.

==Kyra==

Heran bener gue sama nih cowok. Gak peka banget. Apa dia gak liat muka gue pucet gitu? Apa dia gak liat gue lemes gitu? Hih.

Pakek nanya 'lo kenapa?' Lagi! Pertanyaan gak bermutu banget! Udah tau gue kaya gini. Masih aja ditanya!

Eh tapi......
Kok gue jadi tambah pusing ya?
Ah perasaan gue aja kali.

====

Kyra mendengar namanya dipanggil.
Setelah itu semuanya menjadi gelap.

***

Kyra melangkahkan kakinya malas, padahal bel masuk sudah berbunyi. Terlihat pula para guru berjalan menuju kelas yang akan mereka ajar. Kyra masih saja jalan santai dilapangan. Ia tak peduli terlambat masuk ke kelas.

"Hah." Desahnya pelan ketika sampai didepan tangga menuju lantai dua. lalu Kyra menaiki anak tangga dengan pelan, sampai pada akhirnya ia sampai diatas dan harus berjalan menuju kelasnya.

"Berapa lama lagi gue harus begini..." keluhnya sambil berjalan menuju kelas.

akhirnya Kyra pun sampai didepan kelas, pintu kelasnya setengah terbuka. Pasti sudah ada guru.

Kyra dengan sangat malas masuk dan menyalimi Pak Husein guru Bahasa Indonesia yang sudah berada dikelas.

"Maaf pak saya telat," ungkapnya pelan. Tanpa melihat ekspresi Pak Husein dihadapannya, Kyra langsung pergi ke arah bangkunya.

Kyra menatap Arul jengkel dan melempar tasnya ke atas meja. Seperti biasa Arul menatapnya dengan tatapan kosong yang membuat hari-hari Kyra frustasi. Bagaimana bisa ia terus-terusan sebangku bersama patung dari kutub selatan itu?

Kyra sengaja datang terlambat karena ia sudah muak berada terlalu lama didekat Arul. Kalau ia terlambat, ia kan tidak perlu berbicara banyak pada mahkluk itu. Kalau bicara pun pasti pada saat belajar saja. Itu juga membicarakan pelajaran bukan hal yang lain.
Karena ia tahu, kalau membicarakan hal lain bersama Arul, yang ada hanyalah adu mulut yang tidak ada akhirnya. Hanya buang tenaga dan waktu. Sekaligus membuat kerutan bertambah pada wajah Kyra yang masih muda. Coba bayangkan saja jika diumur segini Kyra sudah sering marah-marah, mungkin diumur 30 ia sudah terlihat seperti nenek-nenek.

Pak Husein mulai menerangkan pelajaran, kali ini tentang teks Anekdot. Kyra merasa waktu tidak berjalan sekarang, pelajaran bahasa indonesia terkadang membuatnya frustasi.

***

"Lo tadi sengaja ya dateng terlambat ke sekolah?" Tanya Sarah begitu sampai didepan bangku Kyra.
Kyra hanya memasang wajah jengkel dan menaikkan kedua alisnya, "nah itu lo udah tahu. Kenapa masih nanya?"
"Yaelah jutek amat bu. Gue kan cuma nanya doang, lagian heran aja biasanya kan lo gak pernah telat." Ungkap Sarah sambil menopang dagu.
"Gue lagi bosen aja." Jawab Kyra sekenanya.
"Terus, Arul bilang apa waktu lo telat? Dia nggak nyeramahin lo atau ngomentarin lo kan?"
Kyra memutar bola matanya jengkel, "hah. Peduli sama gue juga enggak tuh anak. Apalagi nyeramahin atau ngomentar. Ya kalo tuh anak nyeramahin gue, gue mesti bikin syukuran dong."
Sarah tertawa seketika, mengingat kelakuan Arul yang jarang ngomong, ia jadi percaya omongan Kyra.

"Ngomong-ngomong lo gak ke kantin?" Tanya Sarah lagi.
"Lo sendiri juga kenapa ga ke kantin?" Kyra malah bertanya balik.
"Ah males ah. Jam segini kantin rame banget, kayak pasar aja deh. Nanti yang ada desek-desekan kayak ngantri sembako." Ujarnya.
Kyra tersenyum tipis mendengarnya, ternyata ia juga sependapat sama Sarah. Kalau begitu, di waktu terakhir mereka bisa ke kantin karena pasti kantin sudah sepi.

***

"Ky, gak apa-apa nih kita masih dikantin jam segini?" Tanya Sarah dengan wajah cemas. Gimana nggak cemas, mereka aja ke kantin saat bel masuk berbunyi.
"Ah biarin aja lah. Pasti dimaklum kok. Lagipula sekarang pelajaran seni budaya kan? Ah Pak Sani. Baik kok" kata Kyra yang sibuk menyantap nasi gorengnya.
Tapi tetap saja Sarah gelisah, karena ia bukan tipe murid yang suka telat masuk pelajaran, jadi sekalinya diajak buat telat, dia jadi panik sendiri.
"Ky! Lo makannya yang cepet dong, jangan santai begitu!"
"Sabar bu, ini nasi gorengnya masih panas. Lagipula, gue lagi menikmati suasana kantin yang sepi kaya gini. Jarang-jarang kan"
Sarah malah semakin gelisah. Gadis itu memang tidak bisa diajak kerja sama.
"Ky! Cepetan dong! Nanti kita ketinggalan!" Pintanya sekali lagi.
Karena merasa tidak enak, akhirnya Kyra buru-buru menghabiskan nasi gorengnya, "ah elo, gak bisa santai sedikit."
Karena Kyra emang hobi sama makan, menghabiskan nasi goreng dalam satu menit pun dia lakukan. Setelah semuanya sudah masuk ke perut. Ia menggebrak meja pelan, "yuk, cabut!"

***

Ternyata dugaan Sarah benar, Pak Sani sudah dikelas bahkan anak-anak sedang mengerjakan tugas. Sepertinya Pak Sani sudah menjelaskan suatu materi dan memberi tugas seperti biasa.
Kyra dan Sarah masuk ke kelas langsung menyalimi Pak Sani. Pak Sani memaklumi dan mereka pun kembali ke tempat duduk masing-masing.

Kyra merasa ada yang aneh, tidak biasanya Arul menatapnya dengan tatapan cemas seperti itu. Biasanya makhluk itu tidak menyiratkan apapun diwajahnya.
"Lo darimana aja?" Tanyanya kemudian.
Kyra mengerenyit, merasa asing mendengar pertanyaan itu, "kantin."
"Habis ngapain?" Tanyanya kepo.
"Ya makan lah. Masa motokopi," jawab Kyra asal sambil mengeluarkan kertas gambar dari tasnya.
Arul menggelengkan kepalanya.
"Disuruh ngapain?" Tanya Kyra setelah membuat garis pinggir pada kertas gambarnya.
"Lo gak liat tulisan didepan?" Sinis Arul, tanpa melihat wajah Kyra.
Kyra mengerenyit kesal, "ya biasa aja kali. Gue kan baru dateng."
"Makanya kalo udah bel itu masuk. Bukan keluyuran. Waktunya belajar ya belajar, waktunya makan ya makan." Kyra melongo mendengar ucapan Arul yang terdengar menceramahinya.
"Lo mah waktunya belajar malah makan. Aneh deh"
Kyra cengo. Dia berulang kali mencubit lengannya apa itu mimpi atau benar terjadi. Rasanya sakit. Itu berarti, Arul memang menceramahinya. LUAR BIASA.

Tahu ditatap seperti itu, Arul menatap Kyra yang daritadi menatapnya dengan tatapan 'apa lo bilang? Gue gak salah denger kan?'
"Yah malah bengong. Cepet kerjain, Pak Sani kesini lo belum bikin apa-apa mampus lo,"
Kyra langsung bergegas mengerjakan tugas walaupun rasa aneh,bingung,heran terus berkelebat diotaknya.
"Kayanya gue harus bikin syukuran nih." Batin Kyra.

Sunday, December 6, 2015

Emm

Gatau pokonya malem ini gabut bgt deh ah, ngapalin juga buat besok ga nerap nerap sumpah😪 padahal besok uas duh kaya bukan uas deh😧 ditambah ini hp sepi banget keknye ya cuma bc sama grup doang, line yah cuma iklan semua parah ngik😩 gatau ah perasaan idup sedih bgt ya jd jomblo, kaga ada yg ngucapin pagi malem atau apapunlah itu sampe lupa juga rasanya disayang sm someone who really really love's you. Gini ya. Sekarang gue nyadar sih bukan anak kecil bocah smp lagi yg pacaran cuma bentaran/status doang karena gamau jomblo atau ngikutin tren, tp skrng udh sma cuy, udh bukan saatnya nambah"in mantan atau apalah itu, skrng udh saatnya serius, pola pikir dewasa, saling pengertian, dan pada dasarnya sih cinta. Ya kalo ga cinta/ gasayang ya ngapain pacaran? Bilang sayang gapake hati lo kira hati ini mainan? Gila kali ya cowo jaman skrng haha. Susah bener nyari yg bener". Aneh deh selama ini perasaan gue klo pcrn serius, tulus, bahkan yg dasarnya kepaksa jd sayang ujg"nya tp disia"in akhirnya. Suka heran kdg sm cowo yg berjuang pas awal doang haha, apalagi cowo yg bosenan duh mati aja kelaut sono haha👊 aneh deh ya perasaan gue kurang apa sih, tulus, bahkan nerima apa adanya masih ada disia-siain, duh hidup namanha juga ya kdg suka gaadil. Heran. Gatau ya smnjk pts gue jd baperan gt orgnya. Jd gatahan klo jomblo kelamaan ky gini gamau😢 gue gamau ngejalanin masa sma gue yg kaya gini kaga mauuu😢😢 gue pen kaya org" yg kisah cintanya sweet dan seru gue pengen tapi kapan? Fix ya ini curhatan gajelas dan nyampah bat tapi gatau lg cape aja. Lg pen cerita semuanya disini. Kdg cape juga pura" seneng bhkn pura" mvon gt. Cape. Kdg org gatau dalemnya gue kaya apa mreka ngiranya enak" aja. Haha sekian ajalahya curahan sampah ini emg ga bermutu bat wkwk. Gutnait bro and sis diluar sana salam jomblo🙅