Wednesday, December 16, 2015

Kyra melangkahkan kakinya malas, padahal bel masuk sudah berbunyi. Terlihat pula para guru berjalan menuju kelas yang akan mereka ajar. Kyra masih saja jalan santai dilapangan. Ia tak peduli terlambat masuk ke kelas.

"Hah." Desahnya pelan ketika sampai didepan tangga menuju lantai dua. lalu Kyra menaiki anak tangga dengan pelan, sampai pada akhirnya ia sampai diatas dan harus berjalan menuju kelasnya.

"Berapa lama lagi gue harus begini..." keluhnya sambil berjalan menuju kelas.

akhirnya Kyra pun sampai didepan kelas, pintu kelasnya setengah terbuka. Pasti sudah ada guru.

Kyra dengan sangat malas masuk dan menyalimi Pak Husein guru Bahasa Indonesia yang sudah berada dikelas.

"Maaf pak saya telat," ungkapnya pelan. Tanpa melihat ekspresi Pak Husein dihadapannya, Kyra langsung pergi ke arah bangkunya.

Kyra menatap Arul jengkel dan melempar tasnya ke atas meja. Seperti biasa Arul menatapnya dengan tatapan kosong yang membuat hari-hari Kyra frustasi. Bagaimana bisa ia terus-terusan sebangku bersama patung dari kutub selatan itu?

Kyra sengaja datang terlambat karena ia sudah muak berada terlalu lama didekat Arul. Kalau ia terlambat, ia kan tidak perlu berbicara banyak pada mahkluk itu. Kalau bicara pun pasti pada saat belajar saja. Itu juga membicarakan pelajaran bukan hal yang lain.
Karena ia tahu, kalau membicarakan hal lain bersama Arul, yang ada hanyalah adu mulut yang tidak ada akhirnya. Hanya buang tenaga dan waktu. Sekaligus membuat kerutan bertambah pada wajah Kyra yang masih muda. Coba bayangkan saja jika diumur segini Kyra sudah sering marah-marah, mungkin diumur 30 ia sudah terlihat seperti nenek-nenek.

Pak Husein mulai menerangkan pelajaran, kali ini tentang teks Anekdot. Kyra merasa waktu tidak berjalan sekarang, pelajaran bahasa indonesia terkadang membuatnya frustasi.

***

"Lo tadi sengaja ya dateng terlambat ke sekolah?" Tanya Sarah begitu sampai didepan bangku Kyra.
Kyra hanya memasang wajah jengkel dan menaikkan kedua alisnya, "nah itu lo udah tahu. Kenapa masih nanya?"
"Yaelah jutek amat bu. Gue kan cuma nanya doang, lagian heran aja biasanya kan lo gak pernah telat." Ungkap Sarah sambil menopang dagu.
"Gue lagi bosen aja." Jawab Kyra sekenanya.
"Terus, Arul bilang apa waktu lo telat? Dia nggak nyeramahin lo atau ngomentarin lo kan?"
Kyra memutar bola matanya jengkel, "hah. Peduli sama gue juga enggak tuh anak. Apalagi nyeramahin atau ngomentar. Ya kalo tuh anak nyeramahin gue, gue mesti bikin syukuran dong."
Sarah tertawa seketika, mengingat kelakuan Arul yang jarang ngomong, ia jadi percaya omongan Kyra.

"Ngomong-ngomong lo gak ke kantin?" Tanya Sarah lagi.
"Lo sendiri juga kenapa ga ke kantin?" Kyra malah bertanya balik.
"Ah males ah. Jam segini kantin rame banget, kayak pasar aja deh. Nanti yang ada desek-desekan kayak ngantri sembako." Ujarnya.
Kyra tersenyum tipis mendengarnya, ternyata ia juga sependapat sama Sarah. Kalau begitu, di waktu terakhir mereka bisa ke kantin karena pasti kantin sudah sepi.

***

"Ky, gak apa-apa nih kita masih dikantin jam segini?" Tanya Sarah dengan wajah cemas. Gimana nggak cemas, mereka aja ke kantin saat bel masuk berbunyi.
"Ah biarin aja lah. Pasti dimaklum kok. Lagipula sekarang pelajaran seni budaya kan? Ah Pak Sani. Baik kok" kata Kyra yang sibuk menyantap nasi gorengnya.
Tapi tetap saja Sarah gelisah, karena ia bukan tipe murid yang suka telat masuk pelajaran, jadi sekalinya diajak buat telat, dia jadi panik sendiri.
"Ky! Lo makannya yang cepet dong, jangan santai begitu!"
"Sabar bu, ini nasi gorengnya masih panas. Lagipula, gue lagi menikmati suasana kantin yang sepi kaya gini. Jarang-jarang kan"
Sarah malah semakin gelisah. Gadis itu memang tidak bisa diajak kerja sama.
"Ky! Cepetan dong! Nanti kita ketinggalan!" Pintanya sekali lagi.
Karena merasa tidak enak, akhirnya Kyra buru-buru menghabiskan nasi gorengnya, "ah elo, gak bisa santai sedikit."
Karena Kyra emang hobi sama makan, menghabiskan nasi goreng dalam satu menit pun dia lakukan. Setelah semuanya sudah masuk ke perut. Ia menggebrak meja pelan, "yuk, cabut!"

***

Ternyata dugaan Sarah benar, Pak Sani sudah dikelas bahkan anak-anak sedang mengerjakan tugas. Sepertinya Pak Sani sudah menjelaskan suatu materi dan memberi tugas seperti biasa.
Kyra dan Sarah masuk ke kelas langsung menyalimi Pak Sani. Pak Sani memaklumi dan mereka pun kembali ke tempat duduk masing-masing.

Kyra merasa ada yang aneh, tidak biasanya Arul menatapnya dengan tatapan cemas seperti itu. Biasanya makhluk itu tidak menyiratkan apapun diwajahnya.
"Lo darimana aja?" Tanyanya kemudian.
Kyra mengerenyit, merasa asing mendengar pertanyaan itu, "kantin."
"Habis ngapain?" Tanyanya kepo.
"Ya makan lah. Masa motokopi," jawab Kyra asal sambil mengeluarkan kertas gambar dari tasnya.
Arul menggelengkan kepalanya.
"Disuruh ngapain?" Tanya Kyra setelah membuat garis pinggir pada kertas gambarnya.
"Lo gak liat tulisan didepan?" Sinis Arul, tanpa melihat wajah Kyra.
Kyra mengerenyit kesal, "ya biasa aja kali. Gue kan baru dateng."
"Makanya kalo udah bel itu masuk. Bukan keluyuran. Waktunya belajar ya belajar, waktunya makan ya makan." Kyra melongo mendengar ucapan Arul yang terdengar menceramahinya.
"Lo mah waktunya belajar malah makan. Aneh deh"
Kyra cengo. Dia berulang kali mencubit lengannya apa itu mimpi atau benar terjadi. Rasanya sakit. Itu berarti, Arul memang menceramahinya. LUAR BIASA.

Tahu ditatap seperti itu, Arul menatap Kyra yang daritadi menatapnya dengan tatapan 'apa lo bilang? Gue gak salah denger kan?'
"Yah malah bengong. Cepet kerjain, Pak Sani kesini lo belum bikin apa-apa mampus lo,"
Kyra langsung bergegas mengerjakan tugas walaupun rasa aneh,bingung,heran terus berkelebat diotaknya.
"Kayanya gue harus bikin syukuran nih." Batin Kyra.

No comments:

Post a Comment