"Hah? Gue dimana?!"
"Dikamar lo sendiri. Gausah berlagak pergi jauh deh." Sinis Arul ketika Kyra sudah sadar.
Kyra mengerenyit. Matanya masih sedikit buram ketika ia membukanya. Lalu ia pejamkan beberapa kali dan hasilnya..... ia melihat makhluk menyebalkan itu disampingnya. Terlebih lagi, didalam kamarnya!
"Ngapain lo dikamar gue?!" Pekik Kyra sambil bangkit lalu mengambil posisi setengah duduk dengan siku yang menyangga.
Arul memutar bola matanya jengkel, "emangnya gue keliatan habis ngapain gitu?"
Pertanyaan ambigu, Kyra terdiam. Gadis itu melamun sampai akhirnya sadar kalau tadi ia pingsan.
"Untung lo pingsan dideket rumah, kalo pingsan ditempat lain gak tahu deh." Ungkap Arul sambil mengedikkan bahu.
"Pasti lo khawatir ya?" Tanya Kyra mendadak baper.
"Bukan itu! Kalo lo pingsan dipinggir jalan tadi, ribet! Gue sih ogah mau ngegendong lo, badan lo berat kek gajah gitu. Ih" jawab Arul sambil mengerutkan hidung dan menggedikkan bahu lagi. Pertanda seperti tidak sudi.
Kyra mendecakkan lidah terlihat kecewa, lalu menelan ludah beberapa kali.
"Jadi, kenapa lo bisa pingsan?" Celetuk Arul kemudian.
Kyra terdiam sebentar, "gue belum makan."
Arul menggelengkan kepalanya, lalu menyodorkan piring yang sudah lengkap dengan isinya.
Kyra melongo. Entah kenapa ia jadi baper sama Arul gara-gara kejadian ini. Ia merasa, Arul ada rasa peduli terhadapnya.
"Lo beli dimana?" Tanya Kyra cengo.
"Beli? Lo kira ini makanan gue beli? Ya nggak lah! Gue yang masak!"
"Masak?" Kyra makin cengo. Melihat Arul ada disebelahnya saja sudah membuatnya kaget, terlebih lagi Arul memasak untuknya. Sungguh diluar dugaan.
"Biar gue jelasin, --lo tadi pingsan didepan rumah tetangga lo. Terus, terpaksa gue harus ngegotong lo kerumah lo yang katanya nomer 45. Terus dengan susah payah gue buka pager rumah lo karena dipunggung gue ada lo, akhirnya pager rumah kebuka, dan ujian lainnya, gue bingung gimana caranya masuk ke rumah lo, masa iya pintunya gue dobrak, kan ga banget lah ngabisin tenaga gue. Dan gue muter otak kali aja kuncinya ada ditas lo dan ternyata bener. Yaudah gue buka rumah lo, terus gue liat kamar yang ada nama lo didepan pintunya, yaudah gue masukin dulu lo ke kamar, abis itu gue liat ke meja makan, ga ada apa-apa, yaudah gue akhirnya masak aja seadanya.-- jelas?"
Kyra hanya melongo menatap Arul tidak percaya. Menurutnya, Arul sudah keterlaluan. Ini bukan Arul yang ia kenal, Arul yang ia kenal kan dingin, pendiam, dan anti sosial terhadap sekitar. Jadi tidak mungkin melakukan perbuatan yang diceritakannya tadi.
Kyra merasa dongkol. Tadi ia sudah mengira yang bukan-bukan tentang Arul, dan ia jadi teringat ucapannya waktu itu.
"Kalo tuh anak ngomentar atau nyeramahin, gue mesti bikin syukuran dong."
"Kayanya ini lebih dari syukuran." Batin Kyra.
***
"Ky, lo dirumah sendirian?" Celetuk Arul tiba-tiba saat mereka sedang menyelesaikan tugas mereka yang terakhir. Waktu sudah menunjukan pukul 08.00 malam dan rumah Kyra masih sepi hanya ada mereka berdua.
"Nyokap, bokap masih kerja, paling pulang bentar lagi. Kakak gue gatau dimana, paling dirumah temennya. Biasalah, dia lebih betah dirumah temennya dibanding dirumah sendiri," setelah mendapatkan penjelasan yang jelas dari Kyra, Arul tidak banyak tanya. Ia terus melanjutkan pekerjaannya agar tugas ini cepat selesai.
Sampai pada akhirnya, mama Kyra pulang dan mendapati putrinya dirumah berdua dengan seorang lelaki, yang berada dikamar. Sungguh mengejutkan.
"KYRA!!!" teriak mama Kyra begitu melihat seorang lelaki dikamar putrinya.
Kyra dan Arul terperanjat kaget mendengarnya. Terlebih lagi Arul. Ia tahu pasti penyebab mama Kyra seperti itu.
"Apa ma? Ngagetin aja sih." Jawab Kyra mendatangi mamanya.
Mama Kyra menatap tajam ke Arul dan menatapnya dari atas ke bawah. Lalu meminta penjelasan kepada putrinya.
"Ah, jadi Kyra lagi kerja kelompok ma. Mama inget kan kalo sekarang Kyra belajar harus sama kelompok. Dan ini dia kelompok Kyra. Dia partnernya Kyra disekolah. Namanya Arul." Kyra mulai menjelaskan kepada mamanya yang menatap Arul killer. Arul akhirnya tersenyum dan menghampiri mama Kyra.
"Malam tante, maaf ganggu ya hehe." Ucapnya dengan nada merasa tidak enak.
Mama Kyra lalu bersikap seperti biasa dan tersenyum. "oh iya Arul. Kalau begitu, cepat selesaikan ya, ini sudah malam." Pinta mama Kyra cuek. Secara langsung kalau mama Kyra mengusirnya cepat pulang kan?
"Anak dan ibu sama saja hah," batin Arul seketika.
"Iya tante," jawabnya tersenyum paksa pada mama Kyra.
Setelah itu mereka berdua kembali bekerja. Tanpa percakapan sama sekali. Sungguh, menyedihkan.
***
Paginya, Kyra mendapati Arul diparkiran sekolah. Kyra langsung berjalan menuju kelas tanpa memperdulikan Arul dibelakangnya. Gadis itu berjalan tanpa dosa. Padahal kemarin sudah membuat Arul dalam kesulitan.
==Arul==
Demi Tuhan, kalo dia bukan teman sebangku dan kelompok belajar gue, udah gue abisin deh tuh anak! Kemarin gue udah diribetin, terus dia ngotot nyuruh ngerjain 3 tugas sekaligus, mana gue kurang tidur lagi! Sialan.
Awas aja kalo dia nyusahin gue lagi. Gak akan gue bantuin. Beneran.
Kayaknya dia juga enggak diajarin ngomong terimakasih sama emaknya, kemarin gue udah ngelakuin apapun buat dia malah gada balasannya.
Dasar gila! Gak tau malu!
==Kyra==
Emang puas kemarin gue kerjain? Haha kali-kali kan gue bikin seorang Arul jadi repot. Puas banget deh gue hahaha.
Lain kali, gue kerjain lagi deh. Biar mampus tuh sekalian, emangnya enak sekelompok sama Kyra? HAHAHAHA
***
No comments:
Post a Comment