"Sebenernya lo itu bule atau orang jepang sih? Atau lo orang korea? Hm, tapi wajah lo bukan wajah oriental..." ungkap Kyra sambil memperhatikan wajah Arul dengan serius.
"Gue juga kadang bingung sama diri sendiri,"
"Loh? Kok gitu?"
"bokap orang amrik, nyokap keturunan jepang-korea-jawa" ungkapnya kemudian. Kyra terbelalak, "jepang-korea-jawa? Serius? Seriusan nyokap lo campuran begitu?"
Arul mengangguk, "pusing kalo lo tau tentang keluarga gue, ribet."
Setelah mendengar kalo Ibunya Arul campuran Jepang-Korea-Jawa dan ayahnya orang Amerika, ini membuat Kyra percaya kalau Arul memang putih karena gen orangtuanya, bukan karena Arul memiliki penyakit tertentu atau bukan manusia. Sejenak Kyra terdiam melamun.
"Mau tanya apalagi?" Celetuknya tiba-tiba, membuyarkan lamunan Kyra.
"Nggak! Udah cukup kok!" Kilah Kyra sambil mengerjap beberapa kali.
"Bagus kalo gitu,"
Setelah itu mereka melanjutkan perjalanan ke rumah Kyra. Dengan jalan kaki diterik panas matahari.
***
Kyra jadi teringat waktu ia menuduh-nuduh Arul yang bukan-bukan, bahkan sempat menganggap kalau Arul bukan manusia, Kyra juga sempat berpikir kalau Arul adalah Vampir atau mahkluk aneh lainnya. Jelas saja, dari sikapnya yang dingin dan terkesan menutup diri, membuat hipotesis Kyra semakin kuat kalau Arul bukanlah manusia. Dari segi fisik cowok itu punya kulit putih pucat, lalu mata yang coklat, rambut coklat kepirangan, tubuh tinggi dan kurus kerontang.
"Ke rumah lo lagi," celetuk Arul ketika sudah sampai diteras rumah Kyra. Arul akhirnya mendaratkan tubuhnya dikursi kayu untuk tamu diteras rumah Kyra. Lelaki itu terlihat dehidrasi seperti habis berjalan dipadang pasir.
"Abis lo yang bilang kan kalo ga boleh ke rumah lo?"
"Siapa bilang gaboleh?"
Kyra mengerenyit, "kan lo sendiri bilang, kalo gak boleh ke rumah lo"
"Gue gak ngomong gitu"
"Tapi lo ngomong kaya gitu kok!"
"Gak. Lo salah kaprah"
"Salah kaprah?!"
"Gue kan cuma ngomong kalo ke rumah gue, ya gak ada apa-apa, terus rumah gue jauh, lagipula gue gabawa motor kan, terus rumah gue itu yah sedikit lo taulah.."
Dahi Kyra berkerut rapat lalu membiarkan Arul melanjutkan ucapannya.
"Angker."
"Angker?"
"Yes. Jadi lebih baik gak udah kerja kelompok dirumah gue."
"Tuhkan."
"Apa?"
"Nah tadi lo ngomong kaya gitu, artinya kan gak boleh ke rumah lo?"
"Forget it. Gue capek. Haus nih, minta minum dong," ujar Arul mengakhiri perdebatan lalu masuk kedalam rumah Kyra dengan wajah polosnya.
Tumben-tumbennya anak itu mengakhiri perdebatan, biasanya, Arul tidak pernah mau mengalah sama Kyra, mungkin karena mereka sudah sering bersama dan mungkin Arul sudah mengerti sifat Kyra seperti apa.
"Ada air dingin gak?" Tanya Arul celingukan didapur. Kyra mengikutinya dari belakang sambil mengambil gelas.
"Ada dikulkas."
Arul langsung membuka pintu kulkas dan mendapati botol-botol minum berisi air dingin tepat didepannya.
"Lo minum air dingin juga?"
"Nggak."
"Terus, kok banyak banget botol-botol air dingin disini?"
"Abisnya waktu kemaren-kemaren lo rengek-rengek minta air dingin, yaudah gue ngestok air dingin banyak biar kalo lo kesini lo gak minta-minta lagi, dan gue gak usah repot pergi ke warung buat beli es batu atau minuman dingin lainnya,"
Arul cengo. Tetapi, lelaki itu punya berbagai cara untuk menyamarkan perasannya, dia langsung meminum air dingin itu tanpa menaruhnya digelas terlebih dahulu.
"Ih jorok!"
Arul terus meneguk air dingin itu sampai botol air yang dipegangnya menjadi kosong. Lalu ia membuka pintu kulkas lagi dan mengambil satu botol air dingin.
Dengan cepat Arul membuka tutupnya dan hendak meminumnya, tapi Kyra langsung menahannya.
"Hey!"
"Apa?"
Kyra langsung mengambil botol air itu dari tangan Arul dan menaruhnya dimeja.
"Lo itu lebay deh! Emangnya lo secape apa sih jalan dari sekolah ke rumah gue? Emangnya kaya jalan dipadang pasir ya? Sampe minumnya begitu?"
Arul diam saja menatap Kyra heran.
"Tadi kan kita panas-panasan, lo minta minum yang dingin terus minumnya sekaligus begitu. Bahaya tau!"
Arul menelan ludahnya.
"Tumben lo khawatir sama gue Ky," ujarnya kemudian.
Ucapan itu seperti palu godam yang memukul kepala Kyra. Tidak, siapa juga yang khawatir sama Arul?
"Ng--nggak kok! Gue gak khawatir sama lo! Tapi gue cuma ngasih tau aja.. kalo minum sekaligus gitu gak baik!"
"Oh gitu ya?" Tanya Arul dengan tatapan menggoda.
"I..iya!" Ditatap seperti itu membuat Kyra memanas, akhirnya ia pun pergi kekamarnya membanting pintu.
Arul melihat tingkah laku Kyra seperti itu membuatnya tertawa.
No comments:
Post a Comment