Saturday, January 2, 2016

Author by me.

"Maaf aku tidak bisa." Jawab Mia tanpa menatap Alex.
"Kenapa?"
Mia terdiam sebentar, lalu gadis itu memberanikan diri menatap Alex. "Tidak bisa saja."
Alex menatap Mia kecewa. Mia kembali tertunduk. Gadis itu terus memikirkan perkataan Alex tadi. Apakah benar ia bisa menemani Alex selamanya? Apakah benar Mia bisa hidup bertahan lama?
Entahlah. Sekarang saja, seharusnya ia tidak boleh bersedih.
"Aku tahu."
"Kau tak ingin kita memiliki hubungan lebih bukan?" Tanya Alex seraya memiringkan kepalanya agar dapat melihat Mia jelas.
Mia mengerenyit. "Bukan begitu maksudku,"
"Lalu, apa maksudmu? Kau mencintai orang lain?"
Pertanyaan itu bagaikan palu godam yang memukul kepala Mia sekarang. Jelas-jelas ia hanya mencintai Alex Hirano. Tidak ada seorang pun yang ia cintai selain Alex. Alex adalah mentari baginya. Walaupun terkadang Alex suka berubah-ubah sifat dengan sendirinya. Tapi Mia tahu, sekarang Alex adalah alasannya untuk bertahan hidup.
"Tidak." Jawab Mia dengan dahi berkerut rapat. Seperti tidak terima dengan pertanyaan Alex kalau ia mencintai orang lain.
"Lalu apa?" Tanya lelaki itu seketika.
"Kau tidak mengerti Alex." Jawab Mia lagi.
"Kau bisa memberitahuku agar aku mengerti."
Mia sedikit kesal. Gadis itu memasang wajah masam dan tatapan benci kepada Alex. Alex sungguh tidak tahu keadannya, keadaannya sangat buruk.
"Aku tidak mencintaimu Alex." Ucapan itu tertangkap sangat jelas ditelinga Alex. Sebuah pernyataan yang sangat diluar dugaan Alex.
"Apa?"
"Aku tidak bisa karena aku tidak mencintaimu." Jelas Mia.
Alex mengerenyit, seketika rahangnya mengeras. "Bohong."
Mia tidak menjawab, justru gadis itu menatap Alex dengan tatapan benci. "Jangan berharap lebih padaku Alex."
"Tidak. Tidak mungkin."
"Ini kenyataan Alex." Sahut Mia meyakinkan. Sekarang, ia ingin Alex melupakannya.
"Tidak Mia. Kau salah. Kau pasti mencintaiku! Tidak mungkin kalau kau--"
"Kenapa kau terlalu berharap padaku?" Potong Mia dengan suara tertahan.
Alex menatap Mia kecewa. Lalu apa yang telah mereka lewati bersama waktu itu? Apakah hanya perasaan biasa? Atau bahkan, tidak ada perasaan sama sekali?
"Dengar,"
"Kau salah menilaiku Alex." Ungkap Mia kemudian.
"Asal kau tahu, kita tidak akan pernah bisa bersatu dan hubungan kita hanyalah rekan kerja. Tidak lebih. Dan aku harap, kau tidak usah menemui aku lagi. Urusan apartemenmu sudah selesai bukan? Kalau begitu, aku tidak perlu bertemu denganmu lagi."
"Clark,"
"Mulai sekarang, mulailah hidupmu kembali. Hiduplah seperti saat sebelum kau bertemu aku. Semua akan baik-baik saja bukan?"
"Clark," Alex menggelengkan kepalanya cepat dan tidak setuju dengan keputusan Mia.
"What wrong with you?" tanya Alex dengan nada suaranya pelan karena kecewa.
"You dont understand Alex." Sahut Mia tak kalah pelannya. Lalu gadis itu memperlihatkan wajah sedih.

***

Sudah tiga hari Alex tidak bertemu dengan Mia sejak kejadian itu. Dan memang sampai sekarang, Alex tidak tahu kenapa Mia membencinya. Alex tidak mengerti kalau Mia tidak mencintainya. Dan yang paling Alex tidak mengerti adalah, Mia meninggalkannya.

Dulu Mia pernah bilang, "kalau begitu kau tidak bisa hidup tanpaku Alex?"
Alex mengelak. "Tentu saja. Kalau kau tidak bisa hidup tanpa kopiku, berarti kau tidak bisa hidup tanpa aku."

Dan sekarang Mia menghilang. Alex benar-benar frustasi.

***

"Kau sudah cari ke apartemennya?" Tanya Alex pada Ray.
"Sudah. Dan rupanya.." Ray terdiam seperti bingung. Alex menatapnya, lelaki itu menunggu Ray untuk melanjutkan ucapannya.
"Rupanya apa Ray?"
"Dia sudah tidak tinggal disitu lagi Alex." Jawab Ray sambil memasang wajah kecewa.
"Apa? Dia pindah?"
"Mungkin, kutanya tetangganya, tetapi mereka tidak tahu. Saat pindah, katanya Mia tidak ada."
"Tidak ada?" Alex kaget setengah mati. Gadis itu kini benar-benar menghilang.
"Iya. Dan mereka tidak bilang apa-apa selain itu."
"Sudah kau tanya teman-temannya?"
"Sudah Alex. Aku sudah tanya ke seluruh orang distudio. Tetapi mereka tidak ada yang tahu."
"Lucy? Apa dia tidak bilang soal Mia?"
"Lucy pun tidak tahu Mia dimana Alex." Jawab Ray santai untuk menenangkan kakaknya. Ia tahu pasti alasan Alex bersikap aneh saat ini, itu karena Mia. Ia bertengkar dengan Mia dan sekarang Mia menghilang.
Alex menutup wajahnya dengan putus asa. Lelaki itu seperti hendak marah, tetapi ditahan.
"Mungkin kau tahu, tempat yang suka Mia datangi selain studio atau apartemennya Alex?" Tanya Ray mencairkan suasana.
Alex tersadar. Lelaki itu mulai mengingat tempat-tempat yang pernah didatangi Mia, bahkan mengingat perkataan-perkataan Mia saat gadis itu cerita. Mungkin ada sesuatu yang bisa ia temui untuk mencarinya.
"Disaat yang seperti ini ia tidak mungkin sembunyi di Julliard. Pasti... di Greenwich Village." Gumam Alex seperti ditujukan untuk dirinya sendiri.
"Apa? Kau bilang apa Alex?"
"Kau tahu rumah Mia Ray?"
"Rumah Mia?"
"Maksudku, rumah orangtuanya. Apa kau tahu?"
"Coba ku tanya Lucy."
"Baiklah."

"Cepat atau lambat, kau akan kutemui Clark." Batin Alex.

***

P.s : ini bukan potongan dr novel sunshine becomes you yg sbenernya ya gais, tp ini cerita yg gue edit edit sendiri dr novelnya. Biar ga bosen wkwkw

No comments:

Post a Comment