BAB 11
Pelajaran olahraga
kali ini adalah voli. jadi, anak-anak cewek dan cowok memisahkan diri.
Anak-anak cewek membuat sebuah lingkaran sedangkan anak cowok langsung bermain
dilapangan.
Jujur, Nadya memang
bodoh dalam hal olahraga, nila-nilai olahraganya waktu SD, bahkan SMP, juga
biasa-biasa saja. Apalagi kalau diadakan tes lari, Nadya pasti berada
diperingkat terakhir.
Apalagi bermain voli,
waktu SMP saja, guru olahraganya sempat kesal karena Nadya tidak bisa menerima
bola dan melemparkannya lagi. Karena tekniknya salah. Padahal sudah diberitahu
teknik yang benar berkali-kali, tetapi tetap salah juga sampai tangan Nadya
memar kemerahan.
Dan sekarang, ia harus
bertemu dengan voli lagi. Nadya mencoba pasrah dan semoga saja bola voli kali
ini memberikan keberuntungan baginya.
Naomi memegang bola.
Gadis oriental ini memang jago dalam hal olahraga, lalu Naomi mengopernya
kepada Sendy, gadis itu menerima bolanya lalu ia oper ke Shania, bola itu terus
mengelilingi anak cewek. Sampai pada akhirnya bola itu sampai pada Amanda.
Gadis angkuh itu tersenyum licik dan sepertinya mengincar Nadya.
Lalu ia memegang bola
itu dengan sangat hati-hati, dilempar-lempar keatas untuk percobaan dan
akhirnya ia lemparkan ke arah Nadya.
Nadya yang melihat itu
tidak siap untuk menerima bolanya, dan akhirnya dengan keahlian yang seadanya,
Nadya berhasil menangkap bola dengan tangan yang merah lagi. Itu karena Amanda
terlalu nafsu melemparnya sehingga bola terlempar sangat keras.
Nadya memekik pelan
dan terus mengerang kesakitan, dilihatnya punggung tangan jempolnya memerah. Dan
karena kesal, ia melemparkan bola itu dengan kekuatan seadanya. Dan bola itu
dilemparkan ke arah Rachel. Bahkan bola itu dilemparkan dengan kencang sampai
akhirnya mendarat dikepala Rachel.
Anak-anak cewek pun
tertawa terbahak-bahak melihatnya, Rachel yang kena bola jadi oleng dan
kesakitan. Gadis angkuh itu langsung marah-marah ngambek masuk kelas. Nadya
tidak peduli, yang penting ia puas karena rasa kesalnya sudah terbalas.
Cuaca siang itu sangat
panas sehingga keringat lebih cepat mengucur dan membuat semua anak cewek
mengikat rambutnya. Termasuk Nadya. Rambut Nadya yang panjangnya sudah melebihi
bahu itu langsung ia ikat tanpa menggunakan sisir dan kaca. Nadya tak peduli
ikatannya rapi yang penting ia mengikat rambutnya.
Terdengar sorak sorai
dari seberang lapang. Ternyata setengah dari anak cewek-cewek tadi sedang
menonton anak-anak cowok yang main voli dilapangan. Mereka mensupport cowok
kesukaan mereka, sambil teriak-teriak bahkan memperlihatkan aksi cheerleaders dipinggir lapangan. Tidak aneh
karena memang cewek-cewek ipa satu kebanyakan anggota cheerleaders.
Nadya tak melihat
batang hidung Viona dan Dara. Dimana mereka?
Ternyata Viona dan
Dara pun sedang ikut meramaikan anak-anak yang main voli, tak kalah hebohnya
dengan anak-anak cheerleaders, mereka
berdua hanya bisa berteriak dan mensupport lewat suara. Nadya tertawa cekikikan
melihatnya, dan akhirnya ia menyusul Viona dan Dara dari belakang.
“gila juga ya lo,
teriak-teriak kaya gitu, gue jadi inget waktu tujuh belasan deh!” ungkap Nadya
tertawa geli. Lalu ikut bertepuk tangan.
“emangnya tujuh
belasan lo ada apa?” tanya Viona datar. Gadis itu masih bertepuk tangan dan
terkadang berteriak “Ayo Putra kamu pasti bisa!” karena Viona tergila-gila sama
kegantengannya Putra. Secara, cowok yang termasuk perangkat kelas itu kan
atlet, meskipun Putra bukan atlet voli tapi atlet basket, keahliannya dalam
bidang olahraga bisa diacungi jempol. Apalagi Putra memiliki tubuh yang tinggi
dengan badan yang ideal, selain Fahri, yang populer disekolah, Putra juga
memiliki kepopuleran disekolah. Bahkan banyak junior yang rela capek masuk
eksul basket demi ketemu Putra.
“waktu tujuh belasan
disekolah gue yang dulu, ada teater kemerdekaan, jadi anak-anak teater
ceritanya balik ke tahun empat lima dulu, mereka teriak-teriak merdeka dan baca
suatu slogan gitu deh, ya pokoknya, teriakan mereka itu heboh sama kayak kalian
berdua. Heboh bener deh ah,” ungkap Nadya sambil tertawa geli mengingatnya,
lalu ikut bertepuk tangan sampai pada akhirnya cheerleaders meneriakan nama Fahri, dan Dara pun menyenggol Nadya
dan menunjuk Fahri yang baru saja meng-smash bola. Bolanya masuk dan tim Fahri
lebih unggul dibanding tim Putra.
Nadya menatap Fahri
dibelakang, cowok itu lagi sibuk ngatur nafas yang nggak karuan gara-gara smash
tadi.
“Nad, kayaknya dia
capek banget tuh. Lo nggak ngelapin keringet dia atau ngasih minum gitu?”
celetuk Dara tiba-tiba.
“hah? Lo gila apa ya?
Buat apa gue ngelapin keringet dia? Segitu amatan sih sama Fahri... duh, gue
nggak perlu kaya gitu deh kayanya,” sahut Nadya jengkel. Tetap dengan mata yang
mengarah pada Fahri.
“ih, justru, cowok
suka digituin tau! Masa lo nggak peka sih sama hal begituan! Fahri aja peka
sama lo, masa lo nggak peka sama dia?”
“bener juga sih.” Batin Nadya membenarkan ucapan Dara. Tapi apa
harus ngelapin keringet dia kaya disinetron-sinetron gitu?
“loh, kok jadi
ngomongin beginian sih? Emangnya apa hubungan gue sama Fahri? Sampe harus kaya
gitu?” cecar Nadya kesal.
“yaelah, bukannya
kalian lagi PDKT? Hah?”
“apa? PDKT?” tanya
Nadya dengan teriakan.
Sayangnya, Dara dan
Viona mengabaikan Nadya. Mereka malah kembali berteriak menyemangati Putra.
Setelah diam beberapa
lama, Nadya pun memiliki ide dan langsung menghilang dari lapangan. Sontak
membuat Dara dan Viona bingung.
***
Pertandingan
dimenangkan tim Putra. Jelas saja, Putra itukan atlet, nggak mungkin
keahliannya dalam olahraga biasa aja.
Anak-anak cowok pun
berhamburan entah kemana. Ada yang duduk dilapangan, ada yang ke kantin, ada
yang ke kelas, ada juga yang langsung mandi.
Fahri pun termasuk
orang yang duduk dipinggir lapangan. Wajahnya memerah karena terkena panas
matahari cukup lama, disertai keringat yang mengucur diwajahnya. Kelihatannya
ia sedang mencari seseorang sampai-sampai matanya awas memandangi sekitarnya.
Memangnya ia mencari siapa?
“Nih, minum buat lo,”
ucap seseorang dari belakang. Suara itu tak asing bagi Fahri, suara yang
membuat mood Fahri menjadi bagus dan
terkadang membuatnya terpaku.
“hah?” pekiknya
setelah melihat orang yang ia cari daritadi muncul disampingnya.
“lo Nad?” tanyanya tak
percaya dan pura-pura tidak tahu, padahal daritadi ia sedang mencari Nadya.
“iya, emangnya siapa?”
sahut Nadya bingung.
“nggak.” Fahri
langsung meraih botol minuman tersebut dan meminumnya dalam sekali teguk.
“minumnya pelan-pelan,
nggak baik kaya gitu,”
“thanks ya, gue tadinya bawa minum kok, tapi di tas. Tadi gue mau
ngambil, tapi keburu lo ngasihin ini,” ungkapnya sambil cengengesan gak jelas.
Wajahnya sangat cerah pertanda suasana hatinya sedang bagus.
Nadya mendecakan
lidah, lalu tersenyum geli, “gak usah modus deh lo. Kalo lo bawa minum, pasti
tadi lo udah dikelas, nggak diem celingukan dilapangan kaya gini kan?”
Fahri mengerenyit,
merasa dongkol tetapi dengan cepat ia menjawab, “sebenernya lo ikhlas nggak sih
ngasih minuman ini?”
“ya ikhlas lah, masa
enggak.” Sahut Nadya jengkel.
“yaudah, kalo gitu,
gausah banyak komen. Tapi seenggaknya modus gue berhasil kan?” tanyanya sambil
tertawa geli. Lalu bangkit berdiri.
Nadya memutar bola
matanya, padahal ia sangat senang kalau Fahri memang sedang menunggunya, “kalo
soal modus, lo emang paling jago Ri,” mereka berdua saling tersenyum lalu
berjalan ke kelas.
Sesampainya dikelas,
Nadya dan Fahri disambut dengan teriakan-teriakan bahkan siul-siulan dari
anak-anak, termasuk Axel dan Raihan yang memprovokasinya.
“CIEEE YANG UDAH
BAIKAN CIEEE”
“CIE CIE CIEEE, KAPAN
JADIANNYA NIH?”
“CIEE NADYA FAHRI
COCOK DEH”
Nadya memutar bola
matanya, rasa malu, senang, jengkel semuanya campur aduk menjadi satu. Akhirnya
iapun tertawa sendiri dan tidak menghiraukan teriakan-teriakan itu.
“ini pasti kerjaannya
si Axel. Awas aja ya nanti,” ucap Fahri pelan. Membuat Nadya tertawa geli.
“muka lo nggak usah
merah gitu Ri, nanti anak-anak makin menjadi-jadi,” celetuk Nadya sambil
menahan tawa lalu pergi kebangkunya. Disana, ia juga disambut suit-suitan kecil
dari Viona dan Dara.
“apaan sih kalian,”
“habisnya, lo baikan
sama Fahri gak bilang-bilang sih..” sahut Viona jengkel.
Nadya mengerenyit,
“emangnya gue harus bilang kalo gue udah baikan sama Fahri? Toh pasti gue
ceritain kalo waktunya pas, kalian nggak usah takut kalo gue gak cerita,”
“awas aja ya lo kalo
gak cerita udah jadian sama Fahri,” tambah Dara dengan nada yang mengancam.
Nadya melongo, kesal
sampai-sampai mendecakan lidah, “ngawur!”
Setelah itu keadaan
kelas kembali seperti biasa. Tetapi, Nadya merasa ada seseorang yang
memperhatikannya daritadi. Bukan memperhatikan karena penasaran atau suka,
tetapi seperti benci bahkan sangat iri terhadapnya.
Ternyata Amanda telah
memperhatikannya daritadi. Ia menatap Nadya dengan penuh kebencian, gadis
angkuh itu sepertinya kecewa.
“kalo Fahri suka sama gue, emangnya salah gue?”
***
“Hai Nadya,” sapa
Rafika ramah saat ia menemui Nadya ditempat biasa. Bangku penonton pinggir
lapangan.
Nadya mengerjap, lalu
tersenyum lebar, “hai juga kaka!”
“keliatannya lagi
seneng nih, kenapa?” Rafika langsung to
the point tanpa basa-basi. Karena semenjak istirahat Rafika melihatnya,
Nadya terlihat sedang bahagia, gadis itu selalu tersenyum cerah tanpa raut
wajah murung seperti hari-hari sebelumnya.
“oh!” pekiknya sambil
membenarkan poni.
“sebenernya nggak
kenapa-napa sih. Cuma lagi seneng aja,” lanjutnya sambil tersenyum.
“oh ya? Seneng
kenapa?” tanya Rafika lagi.
“hmm....”
“gue sama Fahri udah
baikan ka!” lanjutnya kemudian.
Seketika Rafika merasa
dirinya drop dan jantungnya seperti berhenti mendadak.
“apa?” tanyanya pelan
dengan suara yang tiba-tiba serak.
“iya! Jadi waktu
kemarin dia minta maaf.”
“sebenernya gue udah
gak tahan musuhan sama dia, gak enak banget musuhan apalagi sama orang yang
sekelas. Risih..”
“oh gitu..” jawab Rafika
sambil mengangguk lemas. Ternyata itu yang membuat Nadya tersenyum cerah.
“lho, kaka kenapa?
Baik-baik aja kan?” tanya Nadya tiba-tiba setelah melihat perubahan drastis
raut wajah Rafika. Cepat-cepat Rafika tersenyum dan mengembalikan moodnya lagi.
Ia tidak mau terlihat kalau ia kecewa.
“nggak. nggak
kenapa-kenapa. Kalau kaya gitu, aku pulang duluan ya,” Rafika pamit tanpa
berkata apa-apa lagi. Lelaki itu langsung berdiri dan berjalan sampai membuat
Nadya bingung.
“kenapa?”
***
Nadya terpaksa berjalan
kaki untuk sampai keluar komplek karena ayahnya tidak bisa mengantar ke
sekolah. Dan kalau seperti ini bisa-bisa ia terlambat! Sekarang saja sudah
menunjukan pukul 06.30 dan Nadya masih berada didalam komplek. Kalau begitu sih
sial namanya!
“bakal telat kalo gue
jalan santai kaya gini, belum angkotnya ngetem sembarangan. Duh, sial!”
gumamnya sambil berjalan cukup cepat tetapi tidak berlari. Sebenarnya Nadya
benci kalau ke sekolah jalan kaki. Kalau telat ia harus berlari dan membuat
tubuhnya berkeringat, sedangkan kalau dipagi hari sudah kumal dan berkeringat
seperti itu, bakal membuat harinya jadi tidak semangat.
Tiba-tiba setelah ia
berbelok, muncul motor gede berwarna hitam disampingnya. Motor itu berhenti
tepat disampingnya dan membuatnya terpaku beberapa saat.
“cepet naik, bisa-bisa
lo telat kalo masih disini!” pinta Fahri sambil membuka kaca helmnya dan
menyuruh Nadya naik ke belakang.
Tanpa banyak bicara,
Nadya langsung beralih ke jok belakang lalu mendaratkan tubuhnya disana.
“pake helm dulu,” Fahri
menyodorkan helm yang biasa ia pinjamkan pada Nadya.
“pake helm?” tanya
Nadya keheranan.
“gue mau ngebut nih,
nanti yang ada rambut lo berantakan. ribet urusannya, cepetan pake gausah
banyak nanya,”
Setelah mudeng dengan
ucapan Fahri, Nadya langsung memakai helmnya.
Lalu motor melaju
dengan sangat kencang.
Refleks, Nadya harus
memeluk pinggang Fahri. Entah kenapa ia merasa aneh. Dulu, waktu pertama kali
dibonceng Fahri, ia sangat terpaksa memegang pinggangnya karena motornya melaju
dengan sangat kencang, sekarang, ia tidak merasa terpaksa bahkan ia
melakukannya.
Disisi lain juga Fahri
tidak merasakan jantungnya mau copot ketika Nadya memegang pinggangnya dari
belakang, dulu dia sangat sering merasakan itu sampai-sampai membuatnya menjadi
sangat dongkol. Tetapi, sekarang, ia sudah terbiasa bahkan membiarkannya.
Itu tandanya, mereka
berdua sudah terbiasa.
Kalau begitu, mereka
bisa melakukannya setiap hari tanpa ada rasa canggung, malu, takut atau yang
lainnya.
***
“gue heran sama lo
Nad, kalian tuh sebenernya pacaran gak sih?” tanya Viona sambil menatap Nadya
jengkel.
Nadya mengembuskan
nafas panjang sambil mendecakan lidah, “udah gue bilang, gue sama Fahri gak
pacaran!”
“kalo pacaran juga gak
apa-apa sih,” timpal Dara santai. Nadya dan Viona langsung menatap Dara
bersamaan.
“Viona, lo seharusnya
gak usah nanya kaya gitu dong. Kasihan kan Nadya jadi tertekan kaya gitu,”
Kening Nadya berkerut
rapat dan merasa aneh, “kalau mereka beneran pacaran. Ya biarin aja, toh mereka
cocok,”
Setelah itu Nadya
memutar bola matanya dan membentak Dara pelan, “ngawur lo ah! Gue pusing sama
lo berdua. Dari kemaren ngomongnya pacaran mulu!”
Nadya berjalan
sendirian menuju kelas meninggalkan Dara dan Viona dilapangan. Mereka bertatapan
lalu menggelengkan kepala.
Sesampainya dikelas,
ia melihat Fahri sampai terlebih dulu darinya, itu karena Fahri langsung pergi
ke kelas, nggak berhenti terus ngobrol dulu ditengah lapangan kaya Nadya.
Nadya memutar bola
matanya dengan perasaan yang jengkel, dipagi hari ia sudah merasa jengkel
karena ulah Dara dan Viona.
Fahri yang menyaksikan
raut wajah kusut Nadya langsung bingung, keningnya berkerut rapat dan memutar
otak. ‘itu cewek kenapa?’
Nadya jalan ke
bangkunya dengan wajah kusut dan memanting tasnya begitu saja. Setelah itu ia
duduk dikursi. Meskipun begitu, Fahri tahu kalau ada yang tidak beres dengan
Nadya. Perasaan tadi Nadya baik-baik saja.
Tak lama dari itu
Viona dan Dara muncul dari luar, mereka masuk tanpa merasa bersalah, Nadya
sengaja tidak mau melihatnya karena ia sudah bertekad kalau hari ini ia akan
menjauhi dua orang sahabatnya.
Sebenarnya, Nadya juga
bingung dengan hubungannya sama Fahri. Mereka sangat dekat, bahkan sering
bersama, tetapi tidak ada hubungan apa-apa. lantas, apa salah Viona dan Dara
mengojok-ngojoknya untuk pacaran?
Nadya sendiri tidak
tahu perasaannya pada Fahri, yang pasti, sekarang ini ia selalu merasa nyaman
ketika berada didekatnya.
“sttt, Nadya!” bisik
Viona dibelakangnya.
Nadya menghiraukan
Viona dan pura-pura tidak mendengarnya.
“Nad, lo marah ya?”
bisiknya lagi.
Nadya tetap bungkam.
Ia tidak peduli. sepertinya niat untuk menjauhi dua sahabatnya itu benar-benar
ia lakukan.
Sampai jam istirahat pun,
Nadya masih pura-pura tidak mendengar ucapan Viona dan Dara. Ia bahkan ke
kantin sendiri.
Sikapnya pun jadi
jutek dan galak. Pokoknya, Nadya marah-marah gak jelas kaya cewek yang lagi
PMS. Meskipun begitu, teman-teman Nadya masih mengerti mungkin Nadya lagi PMS.
Makanya sensian kaya gitu.
Sampai pada akhirnya
Nadya pun makan sendiri.
“lo kenapa sih Nad,
gue perhatiin lo jadi aneh deh,” pekik Fahri sambil duduk disebelah Nadya yang
sibuk makan nasi goreng pedas pake sambel tiga sendok.
Nadya tetap bungkam,
hal ini juga dilakukan pada Fahri. padahal, Fahri sama sekali nggak salah
apa-apa, dia juga malahan udah mau nebengin Nadya sampe sekolah.
“Nad? Kok ditanya diem
aja sih?” Fahri jengkel, kesal merasa diacuhkan.
Yang ditanya tetap
diam aja, Nadya sebenarnya juga kesal sama Fahri. Fahri selalu bersikap baik
bahkan manis sekarang, tetapi ia sampai sekarang belum pernah bilang kalau dia
suka sama Nadya, itu bikin Nadya jengkel juga seperti digantung. Mereka dekat tetapi
tanpa hubungan apapun. sebenarnya Nadya tidak mau ambil pusing soal hubungan,
tetapi karena terus diojok-ojok temannya, Nadya kesal juga.
“Nad, lo kenapa sih?”
tanya Fahri yang ketiga kalinya. Suara Fahri terdengar lebih killer dan sangat berat.
Nadya mengentikan
kunyahannya dan menoleh ke Fahri, “nggak kenapa-kenapa,”
Kening Fahri berkerut
rapat, “nggak kenapa-kenapa tapi kaya gitu,”
“terus, lo kenapa sama
Viona dan Dara? Gue lihat kayanya lo lagi musuhan ya?” tanyanya lagi.
Nadya diam saja, terus
menyuapi nasi gorengnya tanpa menghiraukan Fahri.
“lo juga aneh banget
deh. Perasaan tadi pagi lo biasa aja, nggak aneh kaya begini.”
“lo nggak
kenapa-kenapa kan Nad?” tanya Fahri sambil menempelkan telapak tangannya ke
dahi Nadya. Sontak Nadya kaget dan terpaku karena perlakuan Fahri.
“ah?” pekik Nadya
pelan.
“nggak panas tuh.”
Nadya menelan ludah,
“gue nggak kenapa-kenapa kok.”
“masa? Tadi lo aneh
banget. Tadi nih, gue ngeliat lo kaya harimau tau gak. Sempet takut juga mau
nemenin lo tadi, tapi ternyata lo nggak kenapa-kenapa. Syukurlah.” Ungkap Fahri
polos.
Nadya mengerenyit,
“apa maksud lo gue kaya harimau?”
Fahri meringis,
“habisnya lo tadi itu jutek banget Nad. Muka lo itu memperlihatkan kalau lo
lagi emosi tingkat tinggi, lagi nahan marah gitu, iya kan?”
“kenapa sekarang Fahri
jadi pintar membaca pikiran orang?” batinnya.
“sok tau lo ah,”
gerutu Nadya.
“yaelah, lo gue kasih
tau malah gak percaya.”
“Nad, senyum dikit
dong. Hari ini gue belum liat lo senyum,” pinta Fahri sambil menatapnya dengan
menopang dagu.
Ditatap seperti itu
malah membuat Nadya salah tingkah.
“apaan sih lo,”
“nih ya, dulu kan gue
pernah bilang kalo lo senyum lo itu manis.”
“gue gak bohong loh
Nad,” ungkapnya lagi sambil meyakinkan Nadya.
“gombal”
“dih, yaudah kalo gak
mau percaya,”
“iya iya, gue senyum
nih.” Pekik Nadya lalu tersenyum. Itu membuat bibir bawah Fahri terangkat
keatas dan membentuk sebuah senyuman.
Mereka saling
bertatapan dan tersenyum. Setelah itu semuanya buyar ketika bel masuk pun
berbunyi. Nadya harus cepat-cepat menghabiskan nasi gorengnya karena sebentar
lagi pelajaran Kimia.
“lo nggak ke kelas?”
tanya Nadya dengan mulut yang penuh nasi.
“gausah banyak nanya
lo, cepetan abisin nasinya, kita ke kelas bareng,”
Nadya sempat melongo
tetapi setelah mudeng dengan ucapan Fahri, gadis itu langsung menelan cepat
nasi gorengnya.
***