Thursday, December 24, 2015

"Sebenernya lo itu bule atau orang jepang sih? Atau lo orang korea? Hm, tapi wajah lo bukan wajah oriental..." ungkap Kyra sambil memperhatikan wajah Arul dengan serius.
"Gue juga kadang bingung sama diri sendiri,"
"Loh? Kok gitu?"
"bokap orang amrik, nyokap keturunan jepang-korea-jawa" ungkapnya kemudian. Kyra terbelalak, "jepang-korea-jawa? Serius? Seriusan nyokap lo campuran begitu?"
Arul mengangguk, "pusing kalo lo tau tentang keluarga gue, ribet."
Setelah mendengar kalo Ibunya Arul campuran Jepang-Korea-Jawa dan ayahnya orang Amerika, ini membuat Kyra percaya kalau Arul memang putih karena gen orangtuanya, bukan karena Arul memiliki penyakit tertentu atau bukan manusia. Sejenak Kyra terdiam melamun.
"Mau tanya apalagi?" Celetuknya tiba-tiba, membuyarkan lamunan Kyra.
"Nggak! Udah cukup kok!" Kilah Kyra sambil mengerjap beberapa kali.
"Bagus kalo gitu,"
Setelah itu mereka melanjutkan perjalanan ke rumah Kyra. Dengan jalan kaki diterik panas matahari.

***

Kyra jadi teringat waktu ia menuduh-nuduh Arul yang bukan-bukan, bahkan sempat menganggap kalau Arul bukan manusia, Kyra juga sempat berpikir kalau Arul adalah Vampir atau mahkluk aneh lainnya. Jelas saja, dari sikapnya yang dingin dan terkesan menutup diri, membuat hipotesis Kyra semakin kuat kalau Arul bukanlah manusia. Dari segi fisik cowok itu punya kulit putih pucat, lalu mata yang coklat, rambut coklat kepirangan, tubuh tinggi dan kurus kerontang.

"Ke rumah lo lagi," celetuk Arul ketika sudah sampai diteras rumah Kyra. Arul akhirnya mendaratkan tubuhnya dikursi kayu untuk tamu diteras rumah Kyra. Lelaki itu terlihat dehidrasi seperti habis berjalan dipadang pasir.

"Abis lo yang bilang kan kalo ga boleh ke rumah lo?"
"Siapa bilang gaboleh?"

Kyra mengerenyit, "kan lo sendiri bilang, kalo gak boleh ke rumah lo"
"Gue gak ngomong gitu"
"Tapi lo ngomong kaya gitu kok!"
"Gak. Lo salah kaprah"
"Salah kaprah?!"
"Gue kan cuma ngomong kalo ke rumah gue, ya gak ada apa-apa, terus rumah gue jauh, lagipula gue gabawa motor kan, terus rumah gue itu yah sedikit lo taulah.."
Dahi Kyra berkerut rapat lalu membiarkan Arul melanjutkan ucapannya.
"Angker."
"Angker?"
"Yes. Jadi lebih baik gak udah kerja kelompok dirumah gue."
"Tuhkan."
"Apa?"
"Nah tadi lo ngomong kaya gitu, artinya kan gak boleh ke rumah lo?"
"Forget it. Gue capek. Haus nih, minta minum dong,"  ujar Arul mengakhiri perdebatan lalu masuk kedalam rumah Kyra dengan wajah polosnya.
Tumben-tumbennya anak itu mengakhiri perdebatan, biasanya, Arul tidak pernah mau mengalah sama Kyra, mungkin karena mereka sudah sering bersama dan mungkin Arul sudah mengerti sifat Kyra seperti apa.

"Ada air dingin gak?" Tanya Arul celingukan didapur. Kyra mengikutinya dari belakang sambil mengambil gelas.
"Ada dikulkas."
Arul langsung membuka pintu kulkas dan mendapati botol-botol minum berisi air dingin tepat didepannya.
"Lo minum air dingin juga?"
"Nggak."
"Terus, kok banyak banget botol-botol air dingin disini?"
"Abisnya waktu kemaren-kemaren lo rengek-rengek minta air dingin, yaudah gue ngestok air dingin banyak biar kalo lo kesini lo gak minta-minta lagi, dan gue gak usah repot pergi ke warung buat beli es batu atau minuman dingin lainnya,"
Arul cengo. Tetapi, lelaki itu punya berbagai cara untuk menyamarkan perasannya, dia langsung meminum air dingin itu tanpa menaruhnya digelas terlebih dahulu.
"Ih jorok!"
Arul terus meneguk air dingin itu sampai botol air yang dipegangnya menjadi kosong. Lalu ia membuka pintu kulkas lagi dan mengambil satu botol air dingin.
Dengan cepat Arul membuka tutupnya dan hendak meminumnya, tapi Kyra langsung menahannya.
"Hey!"
"Apa?"
Kyra langsung mengambil botol air itu dari tangan Arul dan menaruhnya dimeja.
"Lo itu lebay deh! Emangnya lo secape apa sih jalan dari sekolah ke rumah gue? Emangnya kaya jalan dipadang pasir ya? Sampe minumnya begitu?"
Arul diam saja menatap Kyra heran.
"Tadi kan kita panas-panasan, lo minta minum yang dingin terus minumnya sekaligus begitu. Bahaya tau!"
Arul menelan ludahnya.
"Tumben lo khawatir sama gue Ky," ujarnya kemudian.
Ucapan itu seperti palu godam yang memukul kepala Kyra. Tidak, siapa juga yang khawatir sama Arul?
"Ng--nggak kok! Gue gak khawatir sama lo! Tapi gue cuma ngasih tau aja.. kalo minum sekaligus gitu gak baik!"
"Oh gitu ya?" Tanya Arul dengan tatapan menggoda.
"I..iya!" Ditatap seperti itu membuat Kyra memanas, akhirnya ia pun pergi kekamarnya membanting pintu.
Arul melihat tingkah laku Kyra seperti itu membuatnya tertawa.

Sunday, December 20, 2015

"Hah? Gue dimana?!"
"Dikamar lo sendiri. Gausah berlagak pergi jauh deh." Sinis Arul ketika Kyra sudah sadar.
Kyra mengerenyit. Matanya masih sedikit buram ketika ia membukanya. Lalu ia pejamkan beberapa kali dan hasilnya..... ia melihat makhluk menyebalkan itu disampingnya. Terlebih lagi, didalam kamarnya!

"Ngapain lo dikamar gue?!" Pekik Kyra sambil bangkit   lalu mengambil posisi setengah duduk dengan siku yang menyangga.
Arul memutar bola matanya jengkel, "emangnya gue keliatan habis ngapain gitu?"
Pertanyaan ambigu, Kyra terdiam. Gadis itu melamun sampai akhirnya sadar kalau tadi ia pingsan.
"Untung lo pingsan dideket rumah, kalo pingsan ditempat lain gak tahu deh." Ungkap Arul sambil mengedikkan bahu.
"Pasti lo khawatir ya?" Tanya Kyra mendadak baper.
"Bukan itu! Kalo lo pingsan dipinggir jalan tadi, ribet! Gue sih ogah mau ngegendong lo, badan lo berat kek gajah gitu. Ih" jawab Arul sambil mengerutkan hidung dan menggedikkan bahu lagi. Pertanda seperti tidak sudi.
Kyra mendecakkan lidah terlihat kecewa, lalu menelan ludah beberapa kali.
"Jadi, kenapa lo bisa pingsan?" Celetuk Arul kemudian.
Kyra terdiam sebentar, "gue belum makan."
Arul menggelengkan kepalanya, lalu menyodorkan piring yang sudah lengkap dengan isinya.
Kyra melongo. Entah kenapa ia jadi baper sama Arul gara-gara kejadian ini. Ia merasa, Arul ada rasa peduli terhadapnya.

"Lo beli dimana?" Tanya Kyra cengo.
"Beli? Lo kira ini makanan gue beli? Ya nggak lah! Gue yang masak!"
"Masak?" Kyra makin cengo. Melihat Arul ada disebelahnya saja sudah membuatnya kaget, terlebih lagi Arul memasak untuknya. Sungguh diluar dugaan.
"Biar gue jelasin, --lo tadi pingsan didepan rumah tetangga lo. Terus, terpaksa gue harus ngegotong lo kerumah lo yang katanya nomer 45. Terus dengan susah payah gue buka pager rumah lo karena dipunggung gue ada lo, akhirnya pager rumah kebuka, dan ujian lainnya, gue bingung gimana caranya masuk ke rumah lo, masa iya pintunya gue dobrak, kan ga banget lah ngabisin tenaga gue. Dan gue muter otak kali aja kuncinya ada ditas lo dan ternyata bener. Yaudah gue buka rumah lo, terus gue liat kamar yang ada nama lo didepan pintunya, yaudah gue masukin dulu lo ke kamar, abis itu gue liat ke meja makan, ga ada apa-apa, yaudah gue akhirnya masak aja seadanya.-- jelas?"
Kyra hanya melongo menatap Arul tidak percaya. Menurutnya, Arul sudah keterlaluan. Ini bukan Arul yang ia kenal, Arul yang ia kenal kan dingin, pendiam, dan anti sosial terhadap sekitar. Jadi tidak mungkin melakukan perbuatan yang diceritakannya tadi.

Kyra merasa dongkol. Tadi ia sudah mengira yang bukan-bukan tentang Arul, dan ia jadi teringat ucapannya waktu itu.
"Kalo tuh anak ngomentar atau nyeramahin, gue mesti bikin syukuran dong."

"Kayanya ini lebih dari syukuran." Batin Kyra.

***

"Ky, lo dirumah sendirian?" Celetuk Arul tiba-tiba saat mereka sedang menyelesaikan tugas mereka yang terakhir. Waktu sudah menunjukan pukul 08.00 malam dan rumah Kyra masih sepi hanya ada mereka berdua.
"Nyokap, bokap masih kerja, paling pulang bentar lagi. Kakak gue gatau dimana, paling dirumah temennya. Biasalah, dia lebih betah dirumah temennya dibanding dirumah sendiri," setelah mendapatkan penjelasan yang jelas dari Kyra, Arul tidak banyak tanya. Ia terus melanjutkan pekerjaannya agar tugas ini cepat selesai.

Sampai pada akhirnya, mama Kyra pulang dan mendapati putrinya dirumah berdua dengan seorang lelaki, yang berada dikamar. Sungguh mengejutkan.

"KYRA!!!" teriak mama Kyra begitu melihat seorang lelaki dikamar putrinya.
Kyra dan Arul terperanjat kaget mendengarnya. Terlebih lagi Arul. Ia tahu pasti penyebab mama Kyra seperti itu.

"Apa ma? Ngagetin aja sih." Jawab Kyra mendatangi mamanya.
Mama Kyra menatap tajam ke Arul dan menatapnya dari atas ke bawah. Lalu meminta penjelasan kepada  putrinya.

"Ah, jadi Kyra lagi kerja kelompok ma. Mama inget kan kalo sekarang Kyra belajar harus sama kelompok. Dan ini dia kelompok Kyra. Dia partnernya Kyra disekolah. Namanya Arul." Kyra mulai menjelaskan kepada mamanya yang menatap Arul killer. Arul akhirnya tersenyum dan menghampiri mama Kyra.

"Malam tante, maaf ganggu ya hehe." Ucapnya dengan nada merasa tidak enak.
Mama Kyra lalu bersikap seperti biasa dan tersenyum. "oh iya Arul. Kalau begitu, cepat selesaikan ya, ini sudah malam." Pinta mama Kyra cuek. Secara langsung kalau mama Kyra mengusirnya cepat pulang kan?

"Anak dan ibu sama saja hah," batin Arul seketika.
"Iya tante," jawabnya tersenyum paksa pada mama Kyra.

Setelah itu mereka berdua kembali bekerja. Tanpa percakapan sama sekali. Sungguh, menyedihkan.

***

Paginya, Kyra mendapati Arul diparkiran sekolah. Kyra langsung berjalan menuju kelas tanpa memperdulikan Arul dibelakangnya. Gadis itu berjalan tanpa dosa. Padahal kemarin sudah membuat Arul dalam kesulitan.

==Arul==

Demi Tuhan, kalo dia bukan teman sebangku dan kelompok belajar gue, udah gue abisin deh tuh anak! Kemarin gue udah diribetin, terus dia ngotot nyuruh ngerjain 3 tugas sekaligus, mana gue kurang tidur lagi! Sialan.

Awas aja kalo dia nyusahin gue lagi. Gak akan gue bantuin. Beneran.

Kayaknya dia juga enggak diajarin ngomong terimakasih sama emaknya, kemarin gue udah ngelakuin apapun buat dia malah gada balasannya.

Dasar gila! Gak tau malu!

==Kyra==

Emang puas kemarin gue kerjain? Haha kali-kali kan gue bikin seorang Arul jadi repot. Puas banget deh gue hahaha.

Lain kali, gue kerjain lagi deh. Biar mampus tuh sekalian, emangnya enak sekelompok sama Kyra? HAHAHAHA

***

Wednesday, December 16, 2015

Tugas, tugas, dan tugas.
Lagi-lagi Kyra harus bersama patung kutub selatan itu lagi.
Jadwal minggu ini padat sekali, Kyra hampir tidak bisa bernafas karena tugas individu maupun kelompok selalu menghampirinya. Terlebih lagi tugas kelompoknya bersama Arul. Ya, si lelaki menyebalkan itu.

Sore ini dipakai untuk kerja kelompok. Ada 3 tugas yang harus mereka selesaikan. sebenarnya untuk minggu depan, tetapi Kyra bukan tipe anak yang suka mengulur waktu dan menumpuk tugas. Jadi ia terpaksa harus bersama Arul seharian ini.

"Lo gak bawa motor?" Tanya Kyra dengan nada suara yang agak kaget begitu melihat Arul berjalan melewati parkiran.
Arul berhenti, lalu menoleh "enggak."
"hah? Gak bawa motor?!" Kyra melotot.
Arul mengangguk pelan. "Motor gue hari ini jadwal servis rutin."
"Ya terus, ke rumah gue gimana? Jalan kaki?!" Tanyanya kesal karena Arul gak bawa motor.
"ya kelihatannya begimana?"
dahi Kyra berkerut rapat dan bibirnya manyun. Sepulang sekolah tadi ia pikir akan pulang diantar naik motor, tapi kenyataan berkehendak lain.
"Ah! Kalo gini sih jalan kaki lah!" keluhnya.
Tanpa banyak bicara gadis jutek itu langsung berjalan keluar gerbang, Arul menggelengkan kepalanya lalu mengikutinya keluar.

Rumah Kyra sebenarnya tidak jauh dari sekolah. Hanya kalau dengan jalan kaki mereka harus naik angkot dulu. Lalu berhenti didepan jalan cendrawasih. Setelah itu mereka menyusuri jalan cendrawasih sampai ke rumah Kyra.
Tetapi, kalau naik motor lebih cepat lagi, tidak usah naik turun angkot terus jalan kaki untuk sampai rumah Kyra.

"Lagian rumah lo kan gak jauh Ky, jalan kaki juga bisa kan." Ucap Arul terdengar seperti menghibur Kyra.
Kyra tetap cemberut seperti biasa. Semenjak sekelompok dengan Arul, Kyra berubah menjadi cewek jutek dan tempramental. Gimana nggak jutek dan tempramental, Toh teman sekelompoknya macam kayak Arul. Siapapun mungkin akan sama kayak Kyra.

Arul akhirnya tutup mulut karena sepertinya menghibur tidak ada gunanya. Kyra malah diam seribu bahasa.

==Kyra==

Rumah gue emang deket sih, tapi kan gue pengennya naik motor! Seharian capek sekolah dan hasilnya jalan kaki. Sama orang kayak dia lagi jalan kakinya. Kenapa gak jalan kaki sama Billy Davidson atau Steffan William gitu? Argh bikin gue bete aja nih orang!

Ah kalo kaya gitu gue diemin aja ah. Siapa tau dia enek sendiri sama gue haha. Emangnya enak ya didiemin? Makanya jadi orang jangan suka kayak gitu!!

==Arul==

Kayaknya nih cewek matre bener dah. gue gak bawa motor aja marahnya minta ampun. Pakek ngediemin gue segala lagi, uh!

Emang lo kira gue bakal kesel?
emang lo kira gue bakal ngehibur lo gitu?
Emang lo kira gus bakal minta maaf bla bla bla ah basi!
Toh gue gak masalah kok jalan kaki. Nih cewek ribet bener mau naik motor.
Cewek emang selalu ribet sih.

***

Setelah lama berjalan menyusuri jalan cendrawasih, Kyra jadi pusing sendiri. Itu pasti gara-gara ia belum makan daritadi siang. Tadi waktu istirahat ia pakai untuk mengerjakan tugas. Saking gak maunya terus-terusan sama Arul, gadis malang ini jadi hawas kalo ada tugas. Kalo dikasih tugas, langsung dikerjain biar cepet selesai.

Arul merasa Kyra jadi aneh. Gadis itu terus-terusan diam semenjak diawal tadi. Arul tahu ia ngambek, tetapi sepanjang perjalanan gadis itu tidak membuka mulutnya. terlebih lagi wajahnya juga memucat dengan sendirinya.

"Ky? Kyra?" Arul menyenggol bahu Kyra. Gadis itu lemah sekali. Sekali senggol langsung terhempas. Aneh.
"Apaan sih?" Ketusnya setelah merasa tubuhnya oleng.
"Lo kenapa?" Tanya Arul penuh selidik, nada suaranya pun terdengar cemas.
Kyra mengerenyit, "gak kenapa-kenapa!"
Arul terdiam. Keheranan. Sepertinya gadis ini sedang tidak dalam kondisi sehat.
"Ky, rumah lo masih jauh gak sih?" Tanya Arul memecah keheningan.
"Bentar lagi juga nyampe. Tuh rumah warna putih nomer 45." Jawabnya sambil menunjuk sebuah rumah diujung sana.
Arul bernafas lega karena sebentar lagi ia akan sampai, ia juga muak dalam suasana mencekam seperti ini. Ditambah Kyra sepertinya menyembunyikan sesuatu darinya.

==Kyra==

Heran bener gue sama nih cowok. Gak peka banget. Apa dia gak liat muka gue pucet gitu? Apa dia gak liat gue lemes gitu? Hih.

Pakek nanya 'lo kenapa?' Lagi! Pertanyaan gak bermutu banget! Udah tau gue kaya gini. Masih aja ditanya!

Eh tapi......
Kok gue jadi tambah pusing ya?
Ah perasaan gue aja kali.

====

Kyra mendengar namanya dipanggil.
Setelah itu semuanya menjadi gelap.

***

Kyra melangkahkan kakinya malas, padahal bel masuk sudah berbunyi. Terlihat pula para guru berjalan menuju kelas yang akan mereka ajar. Kyra masih saja jalan santai dilapangan. Ia tak peduli terlambat masuk ke kelas.

"Hah." Desahnya pelan ketika sampai didepan tangga menuju lantai dua. lalu Kyra menaiki anak tangga dengan pelan, sampai pada akhirnya ia sampai diatas dan harus berjalan menuju kelasnya.

"Berapa lama lagi gue harus begini..." keluhnya sambil berjalan menuju kelas.

akhirnya Kyra pun sampai didepan kelas, pintu kelasnya setengah terbuka. Pasti sudah ada guru.

Kyra dengan sangat malas masuk dan menyalimi Pak Husein guru Bahasa Indonesia yang sudah berada dikelas.

"Maaf pak saya telat," ungkapnya pelan. Tanpa melihat ekspresi Pak Husein dihadapannya, Kyra langsung pergi ke arah bangkunya.

Kyra menatap Arul jengkel dan melempar tasnya ke atas meja. Seperti biasa Arul menatapnya dengan tatapan kosong yang membuat hari-hari Kyra frustasi. Bagaimana bisa ia terus-terusan sebangku bersama patung dari kutub selatan itu?

Kyra sengaja datang terlambat karena ia sudah muak berada terlalu lama didekat Arul. Kalau ia terlambat, ia kan tidak perlu berbicara banyak pada mahkluk itu. Kalau bicara pun pasti pada saat belajar saja. Itu juga membicarakan pelajaran bukan hal yang lain.
Karena ia tahu, kalau membicarakan hal lain bersama Arul, yang ada hanyalah adu mulut yang tidak ada akhirnya. Hanya buang tenaga dan waktu. Sekaligus membuat kerutan bertambah pada wajah Kyra yang masih muda. Coba bayangkan saja jika diumur segini Kyra sudah sering marah-marah, mungkin diumur 30 ia sudah terlihat seperti nenek-nenek.

Pak Husein mulai menerangkan pelajaran, kali ini tentang teks Anekdot. Kyra merasa waktu tidak berjalan sekarang, pelajaran bahasa indonesia terkadang membuatnya frustasi.

***

"Lo tadi sengaja ya dateng terlambat ke sekolah?" Tanya Sarah begitu sampai didepan bangku Kyra.
Kyra hanya memasang wajah jengkel dan menaikkan kedua alisnya, "nah itu lo udah tahu. Kenapa masih nanya?"
"Yaelah jutek amat bu. Gue kan cuma nanya doang, lagian heran aja biasanya kan lo gak pernah telat." Ungkap Sarah sambil menopang dagu.
"Gue lagi bosen aja." Jawab Kyra sekenanya.
"Terus, Arul bilang apa waktu lo telat? Dia nggak nyeramahin lo atau ngomentarin lo kan?"
Kyra memutar bola matanya jengkel, "hah. Peduli sama gue juga enggak tuh anak. Apalagi nyeramahin atau ngomentar. Ya kalo tuh anak nyeramahin gue, gue mesti bikin syukuran dong."
Sarah tertawa seketika, mengingat kelakuan Arul yang jarang ngomong, ia jadi percaya omongan Kyra.

"Ngomong-ngomong lo gak ke kantin?" Tanya Sarah lagi.
"Lo sendiri juga kenapa ga ke kantin?" Kyra malah bertanya balik.
"Ah males ah. Jam segini kantin rame banget, kayak pasar aja deh. Nanti yang ada desek-desekan kayak ngantri sembako." Ujarnya.
Kyra tersenyum tipis mendengarnya, ternyata ia juga sependapat sama Sarah. Kalau begitu, di waktu terakhir mereka bisa ke kantin karena pasti kantin sudah sepi.

***

"Ky, gak apa-apa nih kita masih dikantin jam segini?" Tanya Sarah dengan wajah cemas. Gimana nggak cemas, mereka aja ke kantin saat bel masuk berbunyi.
"Ah biarin aja lah. Pasti dimaklum kok. Lagipula sekarang pelajaran seni budaya kan? Ah Pak Sani. Baik kok" kata Kyra yang sibuk menyantap nasi gorengnya.
Tapi tetap saja Sarah gelisah, karena ia bukan tipe murid yang suka telat masuk pelajaran, jadi sekalinya diajak buat telat, dia jadi panik sendiri.
"Ky! Lo makannya yang cepet dong, jangan santai begitu!"
"Sabar bu, ini nasi gorengnya masih panas. Lagipula, gue lagi menikmati suasana kantin yang sepi kaya gini. Jarang-jarang kan"
Sarah malah semakin gelisah. Gadis itu memang tidak bisa diajak kerja sama.
"Ky! Cepetan dong! Nanti kita ketinggalan!" Pintanya sekali lagi.
Karena merasa tidak enak, akhirnya Kyra buru-buru menghabiskan nasi gorengnya, "ah elo, gak bisa santai sedikit."
Karena Kyra emang hobi sama makan, menghabiskan nasi goreng dalam satu menit pun dia lakukan. Setelah semuanya sudah masuk ke perut. Ia menggebrak meja pelan, "yuk, cabut!"

***

Ternyata dugaan Sarah benar, Pak Sani sudah dikelas bahkan anak-anak sedang mengerjakan tugas. Sepertinya Pak Sani sudah menjelaskan suatu materi dan memberi tugas seperti biasa.
Kyra dan Sarah masuk ke kelas langsung menyalimi Pak Sani. Pak Sani memaklumi dan mereka pun kembali ke tempat duduk masing-masing.

Kyra merasa ada yang aneh, tidak biasanya Arul menatapnya dengan tatapan cemas seperti itu. Biasanya makhluk itu tidak menyiratkan apapun diwajahnya.
"Lo darimana aja?" Tanyanya kemudian.
Kyra mengerenyit, merasa asing mendengar pertanyaan itu, "kantin."
"Habis ngapain?" Tanyanya kepo.
"Ya makan lah. Masa motokopi," jawab Kyra asal sambil mengeluarkan kertas gambar dari tasnya.
Arul menggelengkan kepalanya.
"Disuruh ngapain?" Tanya Kyra setelah membuat garis pinggir pada kertas gambarnya.
"Lo gak liat tulisan didepan?" Sinis Arul, tanpa melihat wajah Kyra.
Kyra mengerenyit kesal, "ya biasa aja kali. Gue kan baru dateng."
"Makanya kalo udah bel itu masuk. Bukan keluyuran. Waktunya belajar ya belajar, waktunya makan ya makan." Kyra melongo mendengar ucapan Arul yang terdengar menceramahinya.
"Lo mah waktunya belajar malah makan. Aneh deh"
Kyra cengo. Dia berulang kali mencubit lengannya apa itu mimpi atau benar terjadi. Rasanya sakit. Itu berarti, Arul memang menceramahinya. LUAR BIASA.

Tahu ditatap seperti itu, Arul menatap Kyra yang daritadi menatapnya dengan tatapan 'apa lo bilang? Gue gak salah denger kan?'
"Yah malah bengong. Cepet kerjain, Pak Sani kesini lo belum bikin apa-apa mampus lo,"
Kyra langsung bergegas mengerjakan tugas walaupun rasa aneh,bingung,heran terus berkelebat diotaknya.
"Kayanya gue harus bikin syukuran nih." Batin Kyra.

Sunday, December 6, 2015

Emm

Gatau pokonya malem ini gabut bgt deh ah, ngapalin juga buat besok ga nerap nerap sumpah😪 padahal besok uas duh kaya bukan uas deh😧 ditambah ini hp sepi banget keknye ya cuma bc sama grup doang, line yah cuma iklan semua parah ngik😩 gatau ah perasaan idup sedih bgt ya jd jomblo, kaga ada yg ngucapin pagi malem atau apapunlah itu sampe lupa juga rasanya disayang sm someone who really really love's you. Gini ya. Sekarang gue nyadar sih bukan anak kecil bocah smp lagi yg pacaran cuma bentaran/status doang karena gamau jomblo atau ngikutin tren, tp skrng udh sma cuy, udh bukan saatnya nambah"in mantan atau apalah itu, skrng udh saatnya serius, pola pikir dewasa, saling pengertian, dan pada dasarnya sih cinta. Ya kalo ga cinta/ gasayang ya ngapain pacaran? Bilang sayang gapake hati lo kira hati ini mainan? Gila kali ya cowo jaman skrng haha. Susah bener nyari yg bener". Aneh deh selama ini perasaan gue klo pcrn serius, tulus, bahkan yg dasarnya kepaksa jd sayang ujg"nya tp disia"in akhirnya. Suka heran kdg sm cowo yg berjuang pas awal doang haha, apalagi cowo yg bosenan duh mati aja kelaut sono haha👊 aneh deh ya perasaan gue kurang apa sih, tulus, bahkan nerima apa adanya masih ada disia-siain, duh hidup namanha juga ya kdg suka gaadil. Heran. Gatau ya smnjk pts gue jd baperan gt orgnya. Jd gatahan klo jomblo kelamaan ky gini gamau😢 gue gamau ngejalanin masa sma gue yg kaya gini kaga mauuu😢😢 gue pen kaya org" yg kisah cintanya sweet dan seru gue pengen tapi kapan? Fix ya ini curhatan gajelas dan nyampah bat tapi gatau lg cape aja. Lg pen cerita semuanya disini. Kdg cape juga pura" seneng bhkn pura" mvon gt. Cape. Kdg org gatau dalemnya gue kaya apa mreka ngiranya enak" aja. Haha sekian ajalahya curahan sampah ini emg ga bermutu bat wkwk. Gutnait bro and sis diluar sana salam jomblo🙅

Thursday, November 26, 2015

Jomblo (lagi)

Haiiii!
Whatsapp guys!
Udah lama banget ya ga ngetik curhatan disini hehe. Gatau ya belakangan ini sibuk bgt dan mood buat nulisnya gada jadi ya gamuncul🙈
Btw, pasti pada bingung kenapa judulnya yang 🔝
Haha itu karena wa emg jomblo sih..........
Jadi jomblo lagi.....

HAHAHA
btw kemarin wa putus sm doi. Yaudahlahya gausah dibahas.
But, sedikit cerita nih. Tanggal 7 wa UAS. Doain ye biar nilainya bagus bagus AMIIINNNN
eh bentar lagi tahun baru ya?
Bentar lagi Januari dong!😂😂😂
Lila keneh he'eh.

Eh kok ganyambung ya sama titlenya😂😂😂
Mungkin efek gesrek kaliya wkwk
Gatau deh hari ini darting bawaannya, padahal ga pms loh mungkin grgr kmren. YAUDAHLAYHA GAUSA BAPER JUGA

tapi intinya..............
Welcome back jomblo. I wish, i'm more patient and be strong💪 *blah

Sunday, November 22, 2015

Nabilah JKT48 - Sunshine Becomes You

sekian lamanya dalam sepiku
menanti hiasi dihatiku
hanya bersamamu kutemukan
segala harapan yang kuimpikan

you're the light of my life
you're the light of my love
you're the light in my sky
you're my only one
you're the the light that i need
you're the light shining down
all my life
sunshine becomes you

beribu bintang yang hiasi malam
tak seindah sinar yang kau pancarkan
segenap cahaya yang terbentang
tak sehangat terang yang kurasakan

you're the light of my life
you're the light of my love
you're the light in my sky
you're my only one
you're the the light that i need
you're the light shining down
all my life
sunshine becomes you

you're my sunshine .. sunshine becomes you

you're the light of my life
you're the light of my love
you're the light in my sky
you're my only one
you're the the light that i need
you're the light shining down
all my life
sunshine becomes you

Saturday, November 7, 2015

Dear..

Coba deh pikirin yang disini, selama ini udah sabar dan selalu ngalah. Selalu sabar ngadepin org kaya kamu, yg gajelas maunya apa. Kadang suka mikir buat nyerah, tapi yakin ini belum seberapa. Think again before it's too late.

Sunday, October 4, 2015

edisi curhat.

Hai ayem kombek.
abis mid semesteran nih dan udah bebas yeeee!!!
Sekolah lain malahan besok utsnya._. Alhamdulillah 11 mah udahsih...
tapi gabisa dibilang bebas juga lah yha banyak tugas gais. Palagi tugasnya ga nanggung-nanggung nih ah.
mau story jg tentang midsemesteran kemarin, kemaren sekelas sama 11ipa8, alhamdulillah lah kaka kakanya pd baik, rame, mau diajak kerja sama😂😂 trs wa dapet bangku paling belakang jajaran kedua dr meja guru. Varokah bgt yegak
Trs sebangku sama ka walid, sebelah kanan ada ka rizki trs sebelahnya  ada aul.
ya wa pengennya sih gada remed remedan lah. Aminnnnn
tapi gayakin sm mtk😤😤 hffft
pengen les mtk aja bisa ga? Siapapun yang pinter ajarin aku dong. Aku gangerti hiji hiji acan:( sedih.
Apalagi doi yg dingin jd tambah susah dideketin. Doi itu orgnya pendiem bgt, dingin, muka tembok bangetlah. Tapi ganteng:( kaya lee jong suk, jangkung, bodas, udah kek  anime animean lah orgnya:'v masalahnya wa jadi jauh semenjak abis MPLS. Iyalah gmn kagak jauh beda 4 kelas_- mau ngemodus kejauhan. Kalo aja doi di@3 atau @5 pasti bakal gampang modusnya😂😂😂😂
udah aja dehya segini aja. Ntar tambahin lagi---

Tuesday, September 22, 2015

High School Life.

haiii everybody! emmm, ayem kombek nih gais. mau curhat si sebenernyaaa, tapi banyak banget yang mau dicurhatin disini:v tapi males nulisnya:(((( tulisin dong *yaelah

tak terasa waktu cepet berlalu gue udah SMA lagi ya, perasaan dulu masih SD lah kira-kira.. eh gadeng.. perasaan dulu masi SMP, masi dimos kuncir rambut sampe tujuh belas udah kaya orang gila;(( terus cpd camping disekolah duh yang namanya ripuh:(( tapi itu udah pernah dibahas sebelumnya jadi gakan wa bahas lagi deh ah. sekarang bahas yang pasti, pasti aja ya nophp-phpan ah pusing *baper. jadi ya kehidupan semenjak SMA gitu ya gitu. ya kaya gitu.
pergi pagi pulang sore, mayan lah daripada lumanyun kan? haha, jadi aku pergi jam set7an lah dari rumah, nyampe disekolah terus nyampe dikelas belajar. nah nanti jam 10 istirahat, terus belajar lagi, nanti jam set12 istirahat lagi. tapi istirahat kedua lebih lama soalnya kan istirahat buat sholat juga, ya bedanya sama diSMP kan istirahat cuma sekali. terus pulang jam set3 dan itu mendingan, gakaya kaka kelas waktu kemarin lebih parah pulang jam4. kalo smp kan pulang jam 12, jam set1 udah nyampe rumah. ya gitu deh, tapi bedanya waktu kelas 9 kemarin kan wa les jadi banyak ngabisin waktu ditempat les dibanding dirumah, kalo sekarang kan wa udah gak les lagi jadi banyak nganggurnya. jadi kebawa males terus yailah;v yauda si bedanya itu aja. mau story dikit tentang ipa4, Alhamdulillah dapet temen yg baik-baik, kompakk, gokil anak-anaknya haaa, yang 98% anak-anaknya gila selfie, cowo-cowonya kocak, berisiknya bukan main._. tapi aku suka:v, apalagi ya. pokonya banyaklah.

tapi, jarak kelas wa sama doi beda 4 kelas. agak jauh ya:(((((

Friday, September 18, 2015

First Love - Tiger JK feat. Punch (Pinocchio Ost.) & Terjemahan

Seoro dareun banghyangeul hyanghae geotdagado
(Meski kita berjalan dalam arah yang berbeda)
Eochapi majuchilge ppeonhan unmyeongui gyocharo
(Nasib kita yang serupa akan membuat kita berlari menuju satu sama lain)
Dwidorabwado urinmajubwa
(Jadi meski jika kita berbalik, kita akan saling berhadapan)
Annyeongiragodo malhaebwatjiman
(Aku mencoba untuk ucapkan selamat tinggal)

Gyeolguk jejari georeumgeori dorawatjanha
(Pada akhirnya, kita berjalan di tempat, kembali ke awal)
Eorinsijeol uriui mannameun jigeumeul wihan
(Kita bertemu satu sama lain ketika kita masih muda)
Jigeum isunganeul wihan sarangui georeumma
(Itu adalah langkah cinta untuk saat ini)
Geurae oneuldo neoreul hyanghae geotneunda
(Ya, aku berjalan kepadamu lagi hari ini)
*
Jitgujeun unmyeonge jangnane mandeureojin sarange
(Kepada nasib yang gigih, kepada cinta yang dijadikan lelucon)
Geojitmal motae oroji neomaneul neomaneul hyanghan nae
(Aku tak bisa berbohong, hatiku hanya akan pergi kepadamu)
Naemamsok binjarin sarangeul gobaekhae love
(Tempat kosong di hatiku mengakui cinta, cinta)
Naemamsok binjari sarangeul noraehae
(Tempat kosong di hatiku menyanyikan cinta)

Saranghae neoreul bolttaemada
(Aku mencintaimu, setiap kali aku melihatmu)
Sesangui eotteon byeolboda
(Lebih dari bintang apapun di dunia)
Bolsurok niga niga bitna
(Kau semakin bersinar ketika aku melihatmu)
Neomanisseumyeon haengbokhae
(Aku senang hanya jika kau di sini)

O geudae naegehimdeulttae nae eokkaereul gajyeo jebal
(Ketika kau sedang berjuang, kuberikan bahuku)
Honja aesseo garyeohajimara
(Jangan coba untuk sembunyikannya sendiri)
Gariryeohajima geuneuljin apeunmam
(Jangan coba untuk sembunyikan hatimu yang sakit dan gelap)
Bichidwae bichwojulge eonjena ttaseuham
(Aku akan menjadi cahaya dan terang untukmu, selalu dengan hangatnya)

Nae mamsok binjarin sarangeul gobaekhae love
(Tempat kosong di hatiku mengakui cinta, cinta)
Sarangeul noraehae cinta sarangeul noraehae cinta
(Ia menyanyikan cinta, cinta, ia menyanyikan cinta, cinta)
Yeojeonhi neorwihae love love
(Tetap padamu, cinta cinta)
back to *
Neomanisseumyeon haengbokhae
Ketika angin bertiup, kau berhembus padaku
Barambulmyeon niga bureowa
(Kau mekar seperti bunga)
Kkochipcheoreom neoneun pieona
(Kau mengambang di langit malam)
Jeogi bamhaneure tteoisseo niga saranghae i’m in love with you
(Aku mencintaimu, aku jatuh cinta padamu)

BAB 11



BAB 11


Pelajaran olahraga kali ini adalah voli. jadi, anak-anak cewek dan cowok memisahkan diri. Anak-anak cewek membuat sebuah lingkaran sedangkan anak cowok langsung bermain dilapangan.
Jujur, Nadya memang bodoh dalam hal olahraga, nila-nilai olahraganya waktu SD, bahkan SMP, juga biasa-biasa saja. Apalagi kalau diadakan tes lari, Nadya pasti berada diperingkat terakhir.
Apalagi bermain voli, waktu SMP saja, guru olahraganya sempat kesal karena Nadya tidak bisa menerima bola dan melemparkannya lagi. Karena tekniknya salah. Padahal sudah diberitahu teknik yang benar berkali-kali, tetapi tetap salah juga sampai tangan Nadya memar kemerahan.
Dan sekarang, ia harus bertemu dengan voli lagi. Nadya mencoba pasrah dan semoga saja bola voli kali ini memberikan keberuntungan baginya.
Naomi memegang bola. Gadis oriental ini memang jago dalam hal olahraga, lalu Naomi mengopernya kepada Sendy, gadis itu menerima bolanya lalu ia oper ke Shania, bola itu terus mengelilingi anak cewek. Sampai pada akhirnya bola itu sampai pada Amanda. Gadis angkuh itu tersenyum licik dan sepertinya mengincar Nadya.
Lalu ia memegang bola itu dengan sangat hati-hati, dilempar-lempar keatas untuk percobaan dan akhirnya ia lemparkan ke arah Nadya.
Nadya yang melihat itu tidak siap untuk menerima bolanya, dan akhirnya dengan keahlian yang seadanya, Nadya berhasil menangkap bola dengan tangan yang merah lagi. Itu karena Amanda terlalu nafsu melemparnya sehingga bola terlempar sangat keras.
Nadya memekik pelan dan terus mengerang kesakitan, dilihatnya punggung tangan jempolnya memerah. Dan karena kesal, ia melemparkan bola itu dengan kekuatan seadanya. Dan bola itu dilemparkan ke arah Rachel. Bahkan bola itu dilemparkan dengan kencang sampai akhirnya mendarat dikepala Rachel.
Anak-anak cewek pun tertawa terbahak-bahak melihatnya, Rachel yang kena bola jadi oleng dan kesakitan. Gadis angkuh itu langsung marah-marah ngambek masuk kelas. Nadya tidak peduli, yang penting ia puas karena rasa kesalnya sudah terbalas.
Cuaca siang itu sangat panas sehingga keringat lebih cepat mengucur dan membuat semua anak cewek mengikat rambutnya. Termasuk Nadya. Rambut Nadya yang panjangnya sudah melebihi bahu itu langsung ia ikat tanpa menggunakan sisir dan kaca. Nadya tak peduli ikatannya rapi yang penting ia mengikat rambutnya.
Terdengar sorak sorai dari seberang lapang. Ternyata setengah dari anak cewek-cewek tadi sedang menonton anak-anak cowok yang main voli dilapangan. Mereka mensupport cowok kesukaan mereka, sambil teriak-teriak bahkan memperlihatkan aksi cheerleaders dipinggir lapangan. Tidak aneh karena memang cewek-cewek ipa satu kebanyakan anggota cheerleaders.
Nadya tak melihat batang hidung Viona dan Dara. Dimana mereka?
Ternyata Viona dan Dara pun sedang ikut meramaikan anak-anak yang main voli, tak kalah hebohnya dengan anak-anak cheerleaders, mereka berdua hanya bisa berteriak dan mensupport lewat suara. Nadya tertawa cekikikan melihatnya, dan akhirnya ia menyusul Viona dan Dara dari belakang.
“gila juga ya lo, teriak-teriak kaya gitu, gue jadi inget waktu tujuh belasan deh!” ungkap Nadya tertawa geli. Lalu ikut bertepuk tangan.
“emangnya tujuh belasan lo ada apa?” tanya Viona datar. Gadis itu masih bertepuk tangan dan terkadang berteriak “Ayo Putra kamu pasti bisa!” karena Viona tergila-gila sama kegantengannya Putra. Secara, cowok yang termasuk perangkat kelas itu kan atlet, meskipun Putra bukan atlet voli tapi atlet basket, keahliannya dalam bidang olahraga bisa diacungi jempol. Apalagi Putra memiliki tubuh yang tinggi dengan badan yang ideal, selain Fahri, yang populer disekolah, Putra juga memiliki kepopuleran disekolah. Bahkan banyak junior yang rela capek masuk eksul basket demi ketemu Putra.
“waktu tujuh belasan disekolah gue yang dulu, ada teater kemerdekaan, jadi anak-anak teater ceritanya balik ke tahun empat lima dulu, mereka teriak-teriak merdeka dan baca suatu slogan gitu deh, ya pokoknya, teriakan mereka itu heboh sama kayak kalian berdua. Heboh bener deh ah,” ungkap Nadya sambil tertawa geli mengingatnya, lalu ikut bertepuk tangan sampai pada akhirnya cheerleaders meneriakan nama Fahri, dan Dara pun menyenggol Nadya dan menunjuk Fahri yang baru saja meng-smash bola. Bolanya masuk dan tim Fahri lebih unggul dibanding tim Putra.
Nadya menatap Fahri dibelakang, cowok itu lagi sibuk ngatur nafas yang nggak karuan gara-gara smash tadi.
“Nad, kayaknya dia capek banget tuh. Lo nggak ngelapin keringet dia atau ngasih minum gitu?” celetuk Dara tiba-tiba.
“hah? Lo gila apa ya? Buat apa gue ngelapin keringet dia? Segitu amatan sih sama Fahri... duh, gue nggak perlu kaya gitu deh kayanya,” sahut Nadya jengkel. Tetap dengan mata yang mengarah pada Fahri.
“ih, justru, cowok suka digituin tau! Masa lo nggak peka sih sama hal begituan! Fahri aja peka sama lo, masa lo nggak peka sama dia?”
bener juga sih.” Batin Nadya membenarkan ucapan Dara. Tapi apa harus ngelapin keringet dia kaya disinetron-sinetron gitu?
“loh, kok jadi ngomongin beginian sih? Emangnya apa hubungan gue sama Fahri? Sampe harus kaya gitu?” cecar Nadya kesal.
“yaelah, bukannya kalian lagi PDKT? Hah?”
“apa? PDKT?” tanya Nadya dengan teriakan.
Sayangnya, Dara dan Viona mengabaikan Nadya. Mereka malah kembali berteriak menyemangati Putra.
Setelah diam beberapa lama, Nadya pun memiliki ide dan langsung menghilang dari lapangan. Sontak membuat Dara dan Viona bingung.
***
Pertandingan dimenangkan tim Putra. Jelas saja, Putra itukan atlet, nggak mungkin keahliannya dalam olahraga biasa aja.
Anak-anak cowok pun berhamburan entah kemana. Ada yang duduk dilapangan, ada yang ke kantin, ada yang ke kelas, ada juga yang langsung mandi.
Fahri pun termasuk orang yang duduk dipinggir lapangan. Wajahnya memerah karena terkena panas matahari cukup lama, disertai keringat yang mengucur diwajahnya. Kelihatannya ia sedang mencari seseorang sampai-sampai matanya awas memandangi sekitarnya. Memangnya ia mencari siapa?
“Nih, minum buat lo,” ucap seseorang dari belakang. Suara itu tak asing bagi Fahri, suara yang membuat mood Fahri menjadi bagus dan terkadang membuatnya terpaku.
“hah?” pekiknya setelah melihat orang yang ia cari daritadi muncul disampingnya.
“lo Nad?” tanyanya tak percaya dan pura-pura tidak tahu, padahal daritadi ia sedang mencari Nadya.
“iya, emangnya siapa?” sahut Nadya bingung.
“nggak.” Fahri langsung meraih botol minuman tersebut dan meminumnya dalam sekali teguk.
“minumnya pelan-pelan, nggak baik kaya gitu,”
thanks ya, gue tadinya bawa minum kok, tapi di tas. Tadi gue mau ngambil, tapi keburu lo ngasihin ini,” ungkapnya sambil cengengesan gak jelas. Wajahnya sangat cerah pertanda suasana hatinya sedang bagus.
Nadya mendecakan lidah, lalu tersenyum geli, “gak usah modus deh lo. Kalo lo bawa minum, pasti tadi lo udah dikelas, nggak diem celingukan dilapangan kaya gini kan?”
Fahri mengerenyit, merasa dongkol tetapi dengan cepat ia menjawab, “sebenernya lo ikhlas nggak sih ngasih minuman ini?”
“ya ikhlas lah, masa enggak.” Sahut Nadya jengkel.
“yaudah, kalo gitu, gausah banyak komen. Tapi seenggaknya modus gue berhasil kan?” tanyanya sambil tertawa geli. Lalu bangkit berdiri.
Nadya memutar bola matanya, padahal ia sangat senang kalau Fahri memang sedang menunggunya, “kalo soal modus, lo emang paling jago Ri,” mereka berdua saling tersenyum lalu berjalan ke kelas.
Sesampainya dikelas, Nadya dan Fahri disambut dengan teriakan-teriakan bahkan siul-siulan dari anak-anak, termasuk Axel dan Raihan yang memprovokasinya.
“CIEEE YANG UDAH BAIKAN CIEEE”
“CIE CIE CIEEE, KAPAN JADIANNYA NIH?”
“CIEE NADYA FAHRI COCOK DEH”
Nadya memutar bola matanya, rasa malu, senang, jengkel semuanya campur aduk menjadi satu. Akhirnya iapun tertawa sendiri dan tidak menghiraukan teriakan-teriakan itu.
“ini pasti kerjaannya si Axel. Awas aja ya nanti,” ucap Fahri pelan. Membuat Nadya tertawa geli.
“muka lo nggak usah merah gitu Ri, nanti anak-anak makin menjadi-jadi,” celetuk Nadya sambil menahan tawa lalu pergi kebangkunya. Disana, ia juga disambut suit-suitan kecil dari Viona dan Dara.
“apaan sih kalian,”
“habisnya, lo baikan sama Fahri gak bilang-bilang sih..” sahut Viona jengkel.
Nadya mengerenyit, “emangnya gue harus bilang kalo gue udah baikan sama Fahri? Toh pasti gue ceritain kalo waktunya pas, kalian nggak usah takut kalo gue gak cerita,”
“awas aja ya lo kalo gak cerita udah jadian sama Fahri,” tambah Dara dengan nada yang mengancam.
Nadya melongo, kesal sampai-sampai mendecakan lidah, “ngawur!”
Setelah itu keadaan kelas kembali seperti biasa. Tetapi, Nadya merasa ada seseorang yang memperhatikannya daritadi. Bukan memperhatikan karena penasaran atau suka, tetapi seperti benci bahkan sangat iri terhadapnya.
Ternyata Amanda telah memperhatikannya daritadi. Ia menatap Nadya dengan penuh kebencian, gadis angkuh itu sepertinya kecewa.
kalo Fahri suka sama gue, emangnya salah gue?”
***
“Hai Nadya,” sapa Rafika ramah saat ia menemui Nadya ditempat biasa. Bangku penonton pinggir lapangan.
Nadya mengerjap, lalu tersenyum lebar, “hai juga kaka!”
“keliatannya lagi seneng nih, kenapa?” Rafika langsung to the point tanpa basa-basi. Karena semenjak istirahat Rafika melihatnya, Nadya terlihat sedang bahagia, gadis itu selalu tersenyum cerah tanpa raut wajah murung seperti hari-hari sebelumnya.
“oh!” pekiknya sambil membenarkan poni.
“sebenernya nggak kenapa-napa sih. Cuma lagi seneng aja,” lanjutnya sambil tersenyum.
“oh ya? Seneng kenapa?” tanya Rafika lagi.
“hmm....”
“gue sama Fahri udah baikan ka!” lanjutnya kemudian.
Seketika Rafika merasa dirinya drop dan jantungnya seperti berhenti mendadak.
“apa?” tanyanya pelan dengan suara yang tiba-tiba serak.
“iya! Jadi waktu kemarin dia minta maaf.”
“sebenernya gue udah gak tahan musuhan sama dia, gak enak banget musuhan apalagi sama orang yang sekelas. Risih..”
“oh gitu..” jawab Rafika sambil mengangguk lemas. Ternyata itu yang membuat Nadya tersenyum cerah.
“lho, kaka kenapa? Baik-baik aja kan?” tanya Nadya tiba-tiba setelah melihat perubahan drastis raut wajah Rafika. Cepat-cepat Rafika tersenyum dan mengembalikan moodnya lagi. Ia tidak mau terlihat kalau ia kecewa.
“nggak. nggak kenapa-kenapa. Kalau kaya gitu, aku pulang duluan ya,” Rafika pamit tanpa berkata apa-apa lagi. Lelaki itu langsung berdiri dan berjalan sampai membuat Nadya bingung.
“kenapa?”
***
Nadya terpaksa berjalan kaki untuk sampai keluar komplek karena ayahnya tidak bisa mengantar ke sekolah. Dan kalau seperti ini bisa-bisa ia terlambat! Sekarang saja sudah menunjukan pukul 06.30 dan Nadya masih berada didalam komplek. Kalau begitu sih sial namanya!
“bakal telat kalo gue jalan santai kaya gini, belum angkotnya ngetem sembarangan. Duh, sial!” gumamnya sambil berjalan cukup cepat tetapi tidak berlari. Sebenarnya Nadya benci kalau ke sekolah jalan kaki. Kalau telat ia harus berlari dan membuat tubuhnya berkeringat, sedangkan kalau dipagi hari sudah kumal dan berkeringat seperti itu, bakal membuat harinya jadi tidak semangat.
Tiba-tiba setelah ia berbelok, muncul motor gede berwarna hitam disampingnya. Motor itu berhenti tepat disampingnya dan membuatnya terpaku beberapa saat.
“cepet naik, bisa-bisa lo telat kalo masih disini!” pinta Fahri sambil membuka kaca helmnya dan menyuruh Nadya naik ke belakang.
Tanpa banyak bicara, Nadya langsung beralih ke jok belakang lalu mendaratkan tubuhnya disana.
“pake helm dulu,” Fahri menyodorkan helm yang biasa ia pinjamkan pada Nadya.
“pake helm?” tanya Nadya keheranan.
“gue mau ngebut nih, nanti yang ada rambut lo berantakan. ribet urusannya, cepetan pake gausah banyak nanya,”
Setelah mudeng dengan ucapan Fahri, Nadya langsung memakai helmnya.
Lalu motor melaju dengan sangat kencang.
Refleks, Nadya harus memeluk pinggang Fahri. Entah kenapa ia merasa aneh. Dulu, waktu pertama kali dibonceng Fahri, ia sangat terpaksa memegang pinggangnya karena motornya melaju dengan sangat kencang, sekarang, ia tidak merasa terpaksa bahkan ia melakukannya.
Disisi lain juga Fahri tidak merasakan jantungnya mau copot ketika Nadya memegang pinggangnya dari belakang, dulu dia sangat sering merasakan itu sampai-sampai membuatnya menjadi sangat dongkol. Tetapi, sekarang, ia sudah terbiasa bahkan membiarkannya.
Itu tandanya, mereka berdua sudah terbiasa.
Kalau begitu, mereka bisa melakukannya setiap hari tanpa ada rasa canggung, malu, takut atau yang lainnya.
***
“gue heran sama lo Nad, kalian tuh sebenernya pacaran gak sih?” tanya Viona sambil menatap Nadya jengkel.
Nadya mengembuskan nafas panjang sambil mendecakan lidah, “udah gue bilang, gue sama Fahri gak pacaran!”
“kalo pacaran juga gak apa-apa sih,” timpal Dara santai. Nadya dan Viona langsung menatap Dara bersamaan.
“Viona, lo seharusnya gak usah nanya kaya gitu dong. Kasihan kan Nadya jadi tertekan kaya gitu,”
Kening Nadya berkerut rapat dan merasa aneh, “kalau mereka beneran pacaran. Ya biarin aja, toh mereka cocok,”
Setelah itu Nadya memutar bola matanya dan membentak Dara pelan, “ngawur lo ah! Gue pusing sama lo berdua. Dari kemaren ngomongnya pacaran mulu!”
Nadya berjalan sendirian menuju kelas meninggalkan Dara dan Viona dilapangan. Mereka bertatapan lalu menggelengkan kepala.
Sesampainya dikelas, ia melihat Fahri sampai terlebih dulu darinya, itu karena Fahri langsung pergi ke kelas, nggak berhenti terus ngobrol dulu ditengah lapangan kaya Nadya.
Nadya memutar bola matanya dengan perasaan yang jengkel, dipagi hari ia sudah merasa jengkel karena ulah Dara dan Viona.
Fahri yang menyaksikan raut wajah kusut Nadya langsung bingung, keningnya berkerut rapat dan memutar otak. ‘itu cewek kenapa?’
Nadya jalan ke bangkunya dengan wajah kusut dan memanting tasnya begitu saja. Setelah itu ia duduk dikursi. Meskipun begitu, Fahri tahu kalau ada yang tidak beres dengan Nadya. Perasaan tadi Nadya baik-baik saja.
Tak lama dari itu Viona dan Dara muncul dari luar, mereka masuk tanpa merasa bersalah, Nadya sengaja tidak mau melihatnya karena ia sudah bertekad kalau hari ini ia akan menjauhi dua orang sahabatnya.
Sebenarnya, Nadya juga bingung dengan hubungannya sama Fahri. Mereka sangat dekat, bahkan sering bersama, tetapi tidak ada hubungan apa-apa. lantas, apa salah Viona dan Dara mengojok-ngojoknya untuk pacaran?
Nadya sendiri tidak tahu perasaannya pada Fahri, yang pasti, sekarang ini ia selalu merasa nyaman ketika berada didekatnya.
“sttt, Nadya!” bisik Viona dibelakangnya.
Nadya menghiraukan Viona dan pura-pura tidak mendengarnya.
“Nad, lo marah ya?” bisiknya lagi.
Nadya tetap bungkam. Ia tidak peduli. sepertinya niat untuk menjauhi dua sahabatnya itu benar-benar ia lakukan.
Sampai jam istirahat pun, Nadya masih pura-pura tidak mendengar ucapan Viona dan Dara. Ia bahkan ke kantin sendiri.
Sikapnya pun jadi jutek dan galak. Pokoknya, Nadya marah-marah gak jelas kaya cewek yang lagi PMS. Meskipun begitu, teman-teman Nadya masih mengerti mungkin Nadya lagi PMS. Makanya sensian kaya gitu.
Sampai pada akhirnya Nadya pun makan sendiri.
“lo kenapa sih Nad, gue perhatiin lo jadi aneh deh,” pekik Fahri sambil duduk disebelah Nadya yang sibuk makan nasi goreng pedas pake sambel tiga sendok.
Nadya tetap bungkam, hal ini juga dilakukan pada Fahri. padahal, Fahri sama sekali nggak salah apa-apa, dia juga malahan udah mau nebengin Nadya sampe sekolah.
“Nad? Kok ditanya diem aja sih?” Fahri jengkel, kesal merasa diacuhkan.
Yang ditanya tetap diam aja, Nadya sebenarnya juga kesal sama Fahri. Fahri selalu bersikap baik bahkan manis sekarang, tetapi ia sampai sekarang belum pernah bilang kalau dia suka sama Nadya, itu bikin Nadya jengkel juga seperti digantung. Mereka dekat tetapi tanpa hubungan apapun. sebenarnya Nadya tidak mau ambil pusing soal hubungan, tetapi karena terus diojok-ojok temannya, Nadya kesal juga.
“Nad, lo kenapa sih?” tanya Fahri yang ketiga kalinya. Suara Fahri terdengar lebih killer dan sangat berat.
Nadya mengentikan kunyahannya dan menoleh ke Fahri, “nggak kenapa-kenapa,”
Kening Fahri berkerut rapat, “nggak kenapa-kenapa tapi kaya gitu,”
“terus, lo kenapa sama Viona dan Dara? Gue lihat kayanya lo lagi musuhan ya?” tanyanya lagi.
Nadya diam saja, terus menyuapi nasi gorengnya tanpa menghiraukan Fahri.
“lo juga aneh banget deh. Perasaan tadi pagi lo biasa aja, nggak aneh kaya begini.”
“lo nggak kenapa-kenapa kan Nad?” tanya Fahri sambil menempelkan telapak tangannya ke dahi Nadya. Sontak Nadya kaget dan terpaku karena perlakuan Fahri.
“ah?” pekik Nadya pelan.
“nggak panas tuh.”
Nadya menelan ludah, “gue nggak kenapa-kenapa kok.”
“masa? Tadi lo aneh banget. Tadi nih, gue ngeliat lo kaya harimau tau gak. Sempet takut juga mau nemenin lo tadi, tapi ternyata lo nggak kenapa-kenapa. Syukurlah.” Ungkap Fahri polos.
Nadya mengerenyit, “apa maksud lo gue kaya harimau?”
Fahri meringis, “habisnya lo tadi itu jutek banget Nad. Muka lo itu memperlihatkan kalau lo lagi emosi tingkat tinggi, lagi nahan marah gitu, iya kan?”
“kenapa sekarang Fahri jadi pintar membaca pikiran orang?” batinnya.
“sok tau lo ah,” gerutu Nadya.
“yaelah, lo gue kasih tau malah gak percaya.”
“Nad, senyum dikit dong. Hari ini gue belum liat lo senyum,” pinta Fahri sambil menatapnya dengan menopang dagu.
Ditatap seperti itu malah membuat Nadya salah tingkah.
“apaan sih lo,”
“nih ya, dulu kan gue pernah bilang kalo lo senyum lo itu manis.”
“gue gak bohong loh Nad,” ungkapnya lagi sambil meyakinkan Nadya.
“gombal”
“dih, yaudah kalo gak mau percaya,”
“iya iya, gue senyum nih.” Pekik Nadya lalu tersenyum. Itu membuat bibir bawah Fahri terangkat keatas dan membentuk sebuah senyuman.
Mereka saling bertatapan dan tersenyum. Setelah itu semuanya buyar ketika bel masuk pun berbunyi. Nadya harus cepat-cepat menghabiskan nasi gorengnya karena sebentar lagi pelajaran Kimia.
“lo nggak ke kelas?” tanya Nadya dengan mulut yang penuh nasi.
“gausah banyak nanya lo, cepetan abisin nasinya, kita ke kelas bareng,”
Nadya sempat melongo tetapi setelah mudeng dengan ucapan Fahri, gadis itu langsung menelan cepat nasi gorengnya.
***