Aku masih memegang lolly boneka kesayanganku. Aku melihat mama dan papa setiap malam selalu bertengkar. Mendengar suara keras dan teriakan dari keduanya. Papa tidak mau mengalah kepada mama, begitupun mama. Sepertinya mereka tidak mampu mengontrol ego mereka masing-masing. Akuselalu bersembunyi dalam kamar. Tak ku sangka air mataku berjatuhan seiring dengan bentakan suara papa. Aku harus kuat. Harus.
Paginya aku mendapati mama diruang tengah. Ia sibuk membawa kopernya dan tas kecilnya. Wajahnya yang ayu kini sangat berbeda dengan matanya yang bengkak karena menangis semalam. Aku sungguh sedih melihat kondisi mama sekarang.
Mama melihat aku didepan pintu kamarku, ia menatapku lama. Lalu ia berjalan ke arahku, wajahnya yang terlihat suram kini sangat jelas terlihat dimataku.
"Luna.." ucap mama lembut. Ia memegang tanganku. Aku semakin mengerti dengan semua ini, mama pasti akan pergi meninggalkan aku, kakak, dan papa.
"Maafin mama ya nak, mama nggak bisa menjadi mama yang baik untuk kamu. Mama sudah capek nak, papamu sudah berubah. Mama tidak kuat lagi, kalau memang sudah tidak bisa dipersatukan, lebih baik akhiri saja.." kata mama sambil menatapku serius. Wajahnya sangat iba.
Hatiku berantakan. Patah berkeping keping dan mungkin hatiku hancur. Tapi mau bagaimana lagi, aku tidak boleh mempersulit mama. Karena dikondisinya yang sekarang mama sudah sangat prihatin. Mamaku yang selalu membahagiakanku, yang selalu ada untukku, kini harus pergi. Ya Tuhan, kenapa semuanya menjadi seperti ini? Kenapa orangtuaku harus berpisah? Kenapa?
Aku menangis. Aku tak kuasa menahan tangisku dan sakitku. aku langsung memeluk mama. Bahkan aku tak mau melepasnya. Papa benar-benar berengsek.
Kini aku dan mama menangis bersama. Aku harap papa masih membiarkan mama tinggal dirumag meskipun sudah berpisah. Tapi itu mustahil.
Andika mendekati aku dan mama. Ya Andika, ia adalah kakakku. Andika pun langsung memeluk kami berdua. Ia pun menangis.
"Aku mau ikut sama mama," katanya.
"Nggak Dika. Kamu harus tetap tinggal sama papa kamu. Kamu harus jaga adik kamu dan selesaikanlah kuliahmu." Ucap mama.
"Tapi ma--"
"Dika, mama percaya sama kamu. Kamu anak yang baik dan mama yakin kamu pasti sukses nak. Kamu harus jadi arsitek, itukan yang kamu mau?" Kata mama sembari sesegukan.
Dika terdiam. Lalu memeluk mama.
"Mama mau kemana?" Tanyaku.
"Mungkin mama pulang ke rumah ibu. Hanya itu tempat mama pulang nak."
Aku teringat, rumah nenekku ada diBandung. Berarti mama akan pergi jauh dan tidak akan kembali lagi ke Jakarta.
"Kamu gak usah khawatirin mama, kamu harus fokus sama sekolah kamu sayang, mama pengen liat kamu sukses, walaupun mama gak bisa liat kamu berkembang," mama tersenyum lalu memegang pundakku.
Aku tersenyum lirih. Benar juga kata mama, aku harus membuat mama bahagia, aku tidak boleh membuatnya sedih sedikit pun. Takkan ku biarkan mama menangis lagi habis ini.
Hari ini sungguh menyakitkan. Hari ini adalah hari terburuk dalam hidupku. Dimana kini kebahagiaanku berkurang, orang orang yang aku sayangi pergi, termasuk papa. Aku sungguh membencinya. Aku tidak sudi mengakuinya sebagai ayahku
***
2 tahun setelah kepergian mama usiaku genap 17 tahun. Tepatnya aku kelas 2 SMA sekarang ini. Dimana para remaja pasti mengalami jatuh cinta.
Aku memakai jas sekolahku, lalu menyandang tas ranselku, habis itu memakai sepatu.
Terakhir, aku sempat kembali ke kamar hanya untuk mengecek penampilanku dikaca. Rambutku yang berwarna kecoklatan ku biarkan terurai. Dilihat-lihat, aku memang cantik. Pantas saja teman-teman Dika selalu ingin belajar dirumah. Lalu selalu menyapaku jika aku sedang berada diluar kamar. Bahkan salah satu dari mereka berebut meminta nomor hpku.
setelah sarapan pagi, aku diantar oleh Andika kakakku. Aku diantar sampai depan sekolah. Pulang sekolah aku sudah terbiasa pulang sendiri atau dijemput lagi oleh ka Dika.
Disekolah, teman-teman mengenalku sebagai sosok yang baik, namun aku sedikit pendiam. Aku juga pintar dalam semua mata pelajaran, kecuali pelajaran olahraga. Aku tidak tahan jika berada dibawah terik panas matahari, bisa-bisa aku pingsan.
Disekolah aku merasakan masa-masa SMA yang indah dan seru, sama seperti remaja lainnya, aku merasakannya juga.
***
aku terlambat sedikit memasuki kelas. Tapi syukurlah guruku belum datang. Akupun bisa bernafas lega karena tadi aku berlari dari gerbang menuju kelasku. Aku mencoba tidur sebentar dimejaku. Tapi sialnya guru fisika masuk.
"Baiklah, minggu kemarin bapak memberi PR kepada kalian, PR berisi 15 soal, dan sekarang kumpulkan cepat dimeja." Perintah Pak Ghani kepada semua muridnya.
Aku langsung menghela napas dan memeriksa tasku. Aku merasakan ada yang aneh dengan tasku, mengapa buku fisika mendadak hilang? Aku terus merogok-rogok tasku, bahkan menumpahkan semua isinya. Tapi hasilnya nihil, buku fisikaku tidak ada disana.
Sial, bisa-bisa aku dihukum dan disuruh menghadap bendera selama 1 jam. Kau tau kan aku tidak bisa berjemur dibawah matahari? Sungguh sial hari ini.
Aku hanya bisa pasrah, semua temanku sudah mengumpulkan tugasnya, hanya aku yang diam duduk dibangku dengan wajah bingung. Eh tapi....... ternyata aku tidak sendiri. Raihan juga terdiam dibangkunya. Aku menatapnya cukup lama, tapi responnya sangatlah buruk, ia malah menatapku datar.
"Bapak minta yang tidak mengumpulkan tugasnya, maju kedepan!" Ucap Pak Ghani.
Dengan berat langkah aku maju kedepan. Hanya aku yang maju kedepan. Sedangkan Raihan tidak.
Tetapi, akhirnya dia pun maju. Ia kini berdiri disampingku.
Pak Ghani menyuruh aku dan Raihan kekuar dari kelas. Aku terima saja, karena inj memang kecerobohanku. Tapi aku takut pingsan. Lagi-lagi aku harus berurusan di UKS. Aku benci tempat itu.
Sepertinya Raihan sudah mengetahui kelemahanku. Ia bahkan menatapku terus-terusan.
"Kamu berani juga ya," ucapnya.
Aku tersenyum lirih, "ini hukuman. Mau gak mau aku harus ngelakuinnya," ucapku.
"Yakin? Yakin kamu kuat berdiri satu jam disini?" Tanyanya meremehkanku.
Aku menelan ludah, sebenarnya aku tidak yakin kuat dalam hukuman ini.
"Kalo ragu, mendingan ke UKS aja," ucapnya.
"Nggak, aku kuat kok. Cuma satu jam, sebentar"
"Elah, berdiri 20 menit dijemur aja kamu udah smaput..." Raihan meledekku. Jujur, aku tidak suka diremehkan.
"Aku yakin aku kuat."
"Terserah kamu, aku udah nawarin kamu buat ke UKS. Kalo kamu pingsan, aku ga tanggung jawab." Katanya singkat. Aku menggerutu.
Aku berdiri disampingnya, lalu hormat ke bendera merah putih yang berkibar ditiang bendera. Aku mencoba untuk profesional melakukan sesuatu. Lagian, aku ingin melatih tubuhku, bisa saja dengan ini tubuhku menjadi kuat.
Raihan tersenyum padaku, tapi dia tersenyum meremehkanku. Aku mencoba tetap diam dan tidak peduli dengannya.
"Kenapa bisa dihukum?" Celetuknya tiba-tiba.
"Hah? Eh, bukunya ketinggalan." Ucapku.
"Oh"
"Kamu? Kenapa bisa dihukum?" Tanyaku.
"Ya gak jauh beda nasibnya sama kamu," katanya.
Aku mengangguk. Seingatku, Raihan baru 2 kali kena hukuman sejauh ini. Sedangkan aku? Inilah pertama kali aku dihukum. Sial sekali.
4 menit pun berjalan. Matahari semakin panas dan membuatku pusing. Tapi aku mencoba untuk menguatkan diri, harga diriku bisa hilang jika aku pingsan didepan Raihan.
Raihan melirikku, "masih kuat?"
Aku terdiam. Mencoba menguatkan diri tapi sepertinya tidak bisa.
Pusing dikepalaku semakin menjadi, tubuhku juga lemas. Sebentar lagi mungkin akan tumbang.
"Kenapa sih kamu begitu keras kepala?" Raihan gemas dengan tingkahku. Wajahku bercucuran keringat dan air mukaku merah, mataku berkunang-kunang sekarang.
"Eh.." desahku. Aku tidak kuat lagi, aku tidak peduli harga diriku, kepalaku pusing sekali.
Lalu aku merasakan semuanya gelap. Dan seseorang meneriaki namaku.
Continued-