Friday, September 18, 2015

BAB 11



BAB 11


Pelajaran olahraga kali ini adalah voli. jadi, anak-anak cewek dan cowok memisahkan diri. Anak-anak cewek membuat sebuah lingkaran sedangkan anak cowok langsung bermain dilapangan.
Jujur, Nadya memang bodoh dalam hal olahraga, nila-nilai olahraganya waktu SD, bahkan SMP, juga biasa-biasa saja. Apalagi kalau diadakan tes lari, Nadya pasti berada diperingkat terakhir.
Apalagi bermain voli, waktu SMP saja, guru olahraganya sempat kesal karena Nadya tidak bisa menerima bola dan melemparkannya lagi. Karena tekniknya salah. Padahal sudah diberitahu teknik yang benar berkali-kali, tetapi tetap salah juga sampai tangan Nadya memar kemerahan.
Dan sekarang, ia harus bertemu dengan voli lagi. Nadya mencoba pasrah dan semoga saja bola voli kali ini memberikan keberuntungan baginya.
Naomi memegang bola. Gadis oriental ini memang jago dalam hal olahraga, lalu Naomi mengopernya kepada Sendy, gadis itu menerima bolanya lalu ia oper ke Shania, bola itu terus mengelilingi anak cewek. Sampai pada akhirnya bola itu sampai pada Amanda. Gadis angkuh itu tersenyum licik dan sepertinya mengincar Nadya.
Lalu ia memegang bola itu dengan sangat hati-hati, dilempar-lempar keatas untuk percobaan dan akhirnya ia lemparkan ke arah Nadya.
Nadya yang melihat itu tidak siap untuk menerima bolanya, dan akhirnya dengan keahlian yang seadanya, Nadya berhasil menangkap bola dengan tangan yang merah lagi. Itu karena Amanda terlalu nafsu melemparnya sehingga bola terlempar sangat keras.
Nadya memekik pelan dan terus mengerang kesakitan, dilihatnya punggung tangan jempolnya memerah. Dan karena kesal, ia melemparkan bola itu dengan kekuatan seadanya. Dan bola itu dilemparkan ke arah Rachel. Bahkan bola itu dilemparkan dengan kencang sampai akhirnya mendarat dikepala Rachel.
Anak-anak cewek pun tertawa terbahak-bahak melihatnya, Rachel yang kena bola jadi oleng dan kesakitan. Gadis angkuh itu langsung marah-marah ngambek masuk kelas. Nadya tidak peduli, yang penting ia puas karena rasa kesalnya sudah terbalas.
Cuaca siang itu sangat panas sehingga keringat lebih cepat mengucur dan membuat semua anak cewek mengikat rambutnya. Termasuk Nadya. Rambut Nadya yang panjangnya sudah melebihi bahu itu langsung ia ikat tanpa menggunakan sisir dan kaca. Nadya tak peduli ikatannya rapi yang penting ia mengikat rambutnya.
Terdengar sorak sorai dari seberang lapang. Ternyata setengah dari anak cewek-cewek tadi sedang menonton anak-anak cowok yang main voli dilapangan. Mereka mensupport cowok kesukaan mereka, sambil teriak-teriak bahkan memperlihatkan aksi cheerleaders dipinggir lapangan. Tidak aneh karena memang cewek-cewek ipa satu kebanyakan anggota cheerleaders.
Nadya tak melihat batang hidung Viona dan Dara. Dimana mereka?
Ternyata Viona dan Dara pun sedang ikut meramaikan anak-anak yang main voli, tak kalah hebohnya dengan anak-anak cheerleaders, mereka berdua hanya bisa berteriak dan mensupport lewat suara. Nadya tertawa cekikikan melihatnya, dan akhirnya ia menyusul Viona dan Dara dari belakang.
“gila juga ya lo, teriak-teriak kaya gitu, gue jadi inget waktu tujuh belasan deh!” ungkap Nadya tertawa geli. Lalu ikut bertepuk tangan.
“emangnya tujuh belasan lo ada apa?” tanya Viona datar. Gadis itu masih bertepuk tangan dan terkadang berteriak “Ayo Putra kamu pasti bisa!” karena Viona tergila-gila sama kegantengannya Putra. Secara, cowok yang termasuk perangkat kelas itu kan atlet, meskipun Putra bukan atlet voli tapi atlet basket, keahliannya dalam bidang olahraga bisa diacungi jempol. Apalagi Putra memiliki tubuh yang tinggi dengan badan yang ideal, selain Fahri, yang populer disekolah, Putra juga memiliki kepopuleran disekolah. Bahkan banyak junior yang rela capek masuk eksul basket demi ketemu Putra.
“waktu tujuh belasan disekolah gue yang dulu, ada teater kemerdekaan, jadi anak-anak teater ceritanya balik ke tahun empat lima dulu, mereka teriak-teriak merdeka dan baca suatu slogan gitu deh, ya pokoknya, teriakan mereka itu heboh sama kayak kalian berdua. Heboh bener deh ah,” ungkap Nadya sambil tertawa geli mengingatnya, lalu ikut bertepuk tangan sampai pada akhirnya cheerleaders meneriakan nama Fahri, dan Dara pun menyenggol Nadya dan menunjuk Fahri yang baru saja meng-smash bola. Bolanya masuk dan tim Fahri lebih unggul dibanding tim Putra.
Nadya menatap Fahri dibelakang, cowok itu lagi sibuk ngatur nafas yang nggak karuan gara-gara smash tadi.
“Nad, kayaknya dia capek banget tuh. Lo nggak ngelapin keringet dia atau ngasih minum gitu?” celetuk Dara tiba-tiba.
“hah? Lo gila apa ya? Buat apa gue ngelapin keringet dia? Segitu amatan sih sama Fahri... duh, gue nggak perlu kaya gitu deh kayanya,” sahut Nadya jengkel. Tetap dengan mata yang mengarah pada Fahri.
“ih, justru, cowok suka digituin tau! Masa lo nggak peka sih sama hal begituan! Fahri aja peka sama lo, masa lo nggak peka sama dia?”
bener juga sih.” Batin Nadya membenarkan ucapan Dara. Tapi apa harus ngelapin keringet dia kaya disinetron-sinetron gitu?
“loh, kok jadi ngomongin beginian sih? Emangnya apa hubungan gue sama Fahri? Sampe harus kaya gitu?” cecar Nadya kesal.
“yaelah, bukannya kalian lagi PDKT? Hah?”
“apa? PDKT?” tanya Nadya dengan teriakan.
Sayangnya, Dara dan Viona mengabaikan Nadya. Mereka malah kembali berteriak menyemangati Putra.
Setelah diam beberapa lama, Nadya pun memiliki ide dan langsung menghilang dari lapangan. Sontak membuat Dara dan Viona bingung.
***
Pertandingan dimenangkan tim Putra. Jelas saja, Putra itukan atlet, nggak mungkin keahliannya dalam olahraga biasa aja.
Anak-anak cowok pun berhamburan entah kemana. Ada yang duduk dilapangan, ada yang ke kantin, ada yang ke kelas, ada juga yang langsung mandi.
Fahri pun termasuk orang yang duduk dipinggir lapangan. Wajahnya memerah karena terkena panas matahari cukup lama, disertai keringat yang mengucur diwajahnya. Kelihatannya ia sedang mencari seseorang sampai-sampai matanya awas memandangi sekitarnya. Memangnya ia mencari siapa?
“Nih, minum buat lo,” ucap seseorang dari belakang. Suara itu tak asing bagi Fahri, suara yang membuat mood Fahri menjadi bagus dan terkadang membuatnya terpaku.
“hah?” pekiknya setelah melihat orang yang ia cari daritadi muncul disampingnya.
“lo Nad?” tanyanya tak percaya dan pura-pura tidak tahu, padahal daritadi ia sedang mencari Nadya.
“iya, emangnya siapa?” sahut Nadya bingung.
“nggak.” Fahri langsung meraih botol minuman tersebut dan meminumnya dalam sekali teguk.
“minumnya pelan-pelan, nggak baik kaya gitu,”
thanks ya, gue tadinya bawa minum kok, tapi di tas. Tadi gue mau ngambil, tapi keburu lo ngasihin ini,” ungkapnya sambil cengengesan gak jelas. Wajahnya sangat cerah pertanda suasana hatinya sedang bagus.
Nadya mendecakan lidah, lalu tersenyum geli, “gak usah modus deh lo. Kalo lo bawa minum, pasti tadi lo udah dikelas, nggak diem celingukan dilapangan kaya gini kan?”
Fahri mengerenyit, merasa dongkol tetapi dengan cepat ia menjawab, “sebenernya lo ikhlas nggak sih ngasih minuman ini?”
“ya ikhlas lah, masa enggak.” Sahut Nadya jengkel.
“yaudah, kalo gitu, gausah banyak komen. Tapi seenggaknya modus gue berhasil kan?” tanyanya sambil tertawa geli. Lalu bangkit berdiri.
Nadya memutar bola matanya, padahal ia sangat senang kalau Fahri memang sedang menunggunya, “kalo soal modus, lo emang paling jago Ri,” mereka berdua saling tersenyum lalu berjalan ke kelas.
Sesampainya dikelas, Nadya dan Fahri disambut dengan teriakan-teriakan bahkan siul-siulan dari anak-anak, termasuk Axel dan Raihan yang memprovokasinya.
“CIEEE YANG UDAH BAIKAN CIEEE”
“CIE CIE CIEEE, KAPAN JADIANNYA NIH?”
“CIEE NADYA FAHRI COCOK DEH”
Nadya memutar bola matanya, rasa malu, senang, jengkel semuanya campur aduk menjadi satu. Akhirnya iapun tertawa sendiri dan tidak menghiraukan teriakan-teriakan itu.
“ini pasti kerjaannya si Axel. Awas aja ya nanti,” ucap Fahri pelan. Membuat Nadya tertawa geli.
“muka lo nggak usah merah gitu Ri, nanti anak-anak makin menjadi-jadi,” celetuk Nadya sambil menahan tawa lalu pergi kebangkunya. Disana, ia juga disambut suit-suitan kecil dari Viona dan Dara.
“apaan sih kalian,”
“habisnya, lo baikan sama Fahri gak bilang-bilang sih..” sahut Viona jengkel.
Nadya mengerenyit, “emangnya gue harus bilang kalo gue udah baikan sama Fahri? Toh pasti gue ceritain kalo waktunya pas, kalian nggak usah takut kalo gue gak cerita,”
“awas aja ya lo kalo gak cerita udah jadian sama Fahri,” tambah Dara dengan nada yang mengancam.
Nadya melongo, kesal sampai-sampai mendecakan lidah, “ngawur!”
Setelah itu keadaan kelas kembali seperti biasa. Tetapi, Nadya merasa ada seseorang yang memperhatikannya daritadi. Bukan memperhatikan karena penasaran atau suka, tetapi seperti benci bahkan sangat iri terhadapnya.
Ternyata Amanda telah memperhatikannya daritadi. Ia menatap Nadya dengan penuh kebencian, gadis angkuh itu sepertinya kecewa.
kalo Fahri suka sama gue, emangnya salah gue?”
***
“Hai Nadya,” sapa Rafika ramah saat ia menemui Nadya ditempat biasa. Bangku penonton pinggir lapangan.
Nadya mengerjap, lalu tersenyum lebar, “hai juga kaka!”
“keliatannya lagi seneng nih, kenapa?” Rafika langsung to the point tanpa basa-basi. Karena semenjak istirahat Rafika melihatnya, Nadya terlihat sedang bahagia, gadis itu selalu tersenyum cerah tanpa raut wajah murung seperti hari-hari sebelumnya.
“oh!” pekiknya sambil membenarkan poni.
“sebenernya nggak kenapa-napa sih. Cuma lagi seneng aja,” lanjutnya sambil tersenyum.
“oh ya? Seneng kenapa?” tanya Rafika lagi.
“hmm....”
“gue sama Fahri udah baikan ka!” lanjutnya kemudian.
Seketika Rafika merasa dirinya drop dan jantungnya seperti berhenti mendadak.
“apa?” tanyanya pelan dengan suara yang tiba-tiba serak.
“iya! Jadi waktu kemarin dia minta maaf.”
“sebenernya gue udah gak tahan musuhan sama dia, gak enak banget musuhan apalagi sama orang yang sekelas. Risih..”
“oh gitu..” jawab Rafika sambil mengangguk lemas. Ternyata itu yang membuat Nadya tersenyum cerah.
“lho, kaka kenapa? Baik-baik aja kan?” tanya Nadya tiba-tiba setelah melihat perubahan drastis raut wajah Rafika. Cepat-cepat Rafika tersenyum dan mengembalikan moodnya lagi. Ia tidak mau terlihat kalau ia kecewa.
“nggak. nggak kenapa-kenapa. Kalau kaya gitu, aku pulang duluan ya,” Rafika pamit tanpa berkata apa-apa lagi. Lelaki itu langsung berdiri dan berjalan sampai membuat Nadya bingung.
“kenapa?”
***
Nadya terpaksa berjalan kaki untuk sampai keluar komplek karena ayahnya tidak bisa mengantar ke sekolah. Dan kalau seperti ini bisa-bisa ia terlambat! Sekarang saja sudah menunjukan pukul 06.30 dan Nadya masih berada didalam komplek. Kalau begitu sih sial namanya!
“bakal telat kalo gue jalan santai kaya gini, belum angkotnya ngetem sembarangan. Duh, sial!” gumamnya sambil berjalan cukup cepat tetapi tidak berlari. Sebenarnya Nadya benci kalau ke sekolah jalan kaki. Kalau telat ia harus berlari dan membuat tubuhnya berkeringat, sedangkan kalau dipagi hari sudah kumal dan berkeringat seperti itu, bakal membuat harinya jadi tidak semangat.
Tiba-tiba setelah ia berbelok, muncul motor gede berwarna hitam disampingnya. Motor itu berhenti tepat disampingnya dan membuatnya terpaku beberapa saat.
“cepet naik, bisa-bisa lo telat kalo masih disini!” pinta Fahri sambil membuka kaca helmnya dan menyuruh Nadya naik ke belakang.
Tanpa banyak bicara, Nadya langsung beralih ke jok belakang lalu mendaratkan tubuhnya disana.
“pake helm dulu,” Fahri menyodorkan helm yang biasa ia pinjamkan pada Nadya.
“pake helm?” tanya Nadya keheranan.
“gue mau ngebut nih, nanti yang ada rambut lo berantakan. ribet urusannya, cepetan pake gausah banyak nanya,”
Setelah mudeng dengan ucapan Fahri, Nadya langsung memakai helmnya.
Lalu motor melaju dengan sangat kencang.
Refleks, Nadya harus memeluk pinggang Fahri. Entah kenapa ia merasa aneh. Dulu, waktu pertama kali dibonceng Fahri, ia sangat terpaksa memegang pinggangnya karena motornya melaju dengan sangat kencang, sekarang, ia tidak merasa terpaksa bahkan ia melakukannya.
Disisi lain juga Fahri tidak merasakan jantungnya mau copot ketika Nadya memegang pinggangnya dari belakang, dulu dia sangat sering merasakan itu sampai-sampai membuatnya menjadi sangat dongkol. Tetapi, sekarang, ia sudah terbiasa bahkan membiarkannya.
Itu tandanya, mereka berdua sudah terbiasa.
Kalau begitu, mereka bisa melakukannya setiap hari tanpa ada rasa canggung, malu, takut atau yang lainnya.
***
“gue heran sama lo Nad, kalian tuh sebenernya pacaran gak sih?” tanya Viona sambil menatap Nadya jengkel.
Nadya mengembuskan nafas panjang sambil mendecakan lidah, “udah gue bilang, gue sama Fahri gak pacaran!”
“kalo pacaran juga gak apa-apa sih,” timpal Dara santai. Nadya dan Viona langsung menatap Dara bersamaan.
“Viona, lo seharusnya gak usah nanya kaya gitu dong. Kasihan kan Nadya jadi tertekan kaya gitu,”
Kening Nadya berkerut rapat dan merasa aneh, “kalau mereka beneran pacaran. Ya biarin aja, toh mereka cocok,”
Setelah itu Nadya memutar bola matanya dan membentak Dara pelan, “ngawur lo ah! Gue pusing sama lo berdua. Dari kemaren ngomongnya pacaran mulu!”
Nadya berjalan sendirian menuju kelas meninggalkan Dara dan Viona dilapangan. Mereka bertatapan lalu menggelengkan kepala.
Sesampainya dikelas, ia melihat Fahri sampai terlebih dulu darinya, itu karena Fahri langsung pergi ke kelas, nggak berhenti terus ngobrol dulu ditengah lapangan kaya Nadya.
Nadya memutar bola matanya dengan perasaan yang jengkel, dipagi hari ia sudah merasa jengkel karena ulah Dara dan Viona.
Fahri yang menyaksikan raut wajah kusut Nadya langsung bingung, keningnya berkerut rapat dan memutar otak. ‘itu cewek kenapa?’
Nadya jalan ke bangkunya dengan wajah kusut dan memanting tasnya begitu saja. Setelah itu ia duduk dikursi. Meskipun begitu, Fahri tahu kalau ada yang tidak beres dengan Nadya. Perasaan tadi Nadya baik-baik saja.
Tak lama dari itu Viona dan Dara muncul dari luar, mereka masuk tanpa merasa bersalah, Nadya sengaja tidak mau melihatnya karena ia sudah bertekad kalau hari ini ia akan menjauhi dua orang sahabatnya.
Sebenarnya, Nadya juga bingung dengan hubungannya sama Fahri. Mereka sangat dekat, bahkan sering bersama, tetapi tidak ada hubungan apa-apa. lantas, apa salah Viona dan Dara mengojok-ngojoknya untuk pacaran?
Nadya sendiri tidak tahu perasaannya pada Fahri, yang pasti, sekarang ini ia selalu merasa nyaman ketika berada didekatnya.
“sttt, Nadya!” bisik Viona dibelakangnya.
Nadya menghiraukan Viona dan pura-pura tidak mendengarnya.
“Nad, lo marah ya?” bisiknya lagi.
Nadya tetap bungkam. Ia tidak peduli. sepertinya niat untuk menjauhi dua sahabatnya itu benar-benar ia lakukan.
Sampai jam istirahat pun, Nadya masih pura-pura tidak mendengar ucapan Viona dan Dara. Ia bahkan ke kantin sendiri.
Sikapnya pun jadi jutek dan galak. Pokoknya, Nadya marah-marah gak jelas kaya cewek yang lagi PMS. Meskipun begitu, teman-teman Nadya masih mengerti mungkin Nadya lagi PMS. Makanya sensian kaya gitu.
Sampai pada akhirnya Nadya pun makan sendiri.
“lo kenapa sih Nad, gue perhatiin lo jadi aneh deh,” pekik Fahri sambil duduk disebelah Nadya yang sibuk makan nasi goreng pedas pake sambel tiga sendok.
Nadya tetap bungkam, hal ini juga dilakukan pada Fahri. padahal, Fahri sama sekali nggak salah apa-apa, dia juga malahan udah mau nebengin Nadya sampe sekolah.
“Nad? Kok ditanya diem aja sih?” Fahri jengkel, kesal merasa diacuhkan.
Yang ditanya tetap diam aja, Nadya sebenarnya juga kesal sama Fahri. Fahri selalu bersikap baik bahkan manis sekarang, tetapi ia sampai sekarang belum pernah bilang kalau dia suka sama Nadya, itu bikin Nadya jengkel juga seperti digantung. Mereka dekat tetapi tanpa hubungan apapun. sebenarnya Nadya tidak mau ambil pusing soal hubungan, tetapi karena terus diojok-ojok temannya, Nadya kesal juga.
“Nad, lo kenapa sih?” tanya Fahri yang ketiga kalinya. Suara Fahri terdengar lebih killer dan sangat berat.
Nadya mengentikan kunyahannya dan menoleh ke Fahri, “nggak kenapa-kenapa,”
Kening Fahri berkerut rapat, “nggak kenapa-kenapa tapi kaya gitu,”
“terus, lo kenapa sama Viona dan Dara? Gue lihat kayanya lo lagi musuhan ya?” tanyanya lagi.
Nadya diam saja, terus menyuapi nasi gorengnya tanpa menghiraukan Fahri.
“lo juga aneh banget deh. Perasaan tadi pagi lo biasa aja, nggak aneh kaya begini.”
“lo nggak kenapa-kenapa kan Nad?” tanya Fahri sambil menempelkan telapak tangannya ke dahi Nadya. Sontak Nadya kaget dan terpaku karena perlakuan Fahri.
“ah?” pekik Nadya pelan.
“nggak panas tuh.”
Nadya menelan ludah, “gue nggak kenapa-kenapa kok.”
“masa? Tadi lo aneh banget. Tadi nih, gue ngeliat lo kaya harimau tau gak. Sempet takut juga mau nemenin lo tadi, tapi ternyata lo nggak kenapa-kenapa. Syukurlah.” Ungkap Fahri polos.
Nadya mengerenyit, “apa maksud lo gue kaya harimau?”
Fahri meringis, “habisnya lo tadi itu jutek banget Nad. Muka lo itu memperlihatkan kalau lo lagi emosi tingkat tinggi, lagi nahan marah gitu, iya kan?”
“kenapa sekarang Fahri jadi pintar membaca pikiran orang?” batinnya.
“sok tau lo ah,” gerutu Nadya.
“yaelah, lo gue kasih tau malah gak percaya.”
“Nad, senyum dikit dong. Hari ini gue belum liat lo senyum,” pinta Fahri sambil menatapnya dengan menopang dagu.
Ditatap seperti itu malah membuat Nadya salah tingkah.
“apaan sih lo,”
“nih ya, dulu kan gue pernah bilang kalo lo senyum lo itu manis.”
“gue gak bohong loh Nad,” ungkapnya lagi sambil meyakinkan Nadya.
“gombal”
“dih, yaudah kalo gak mau percaya,”
“iya iya, gue senyum nih.” Pekik Nadya lalu tersenyum. Itu membuat bibir bawah Fahri terangkat keatas dan membentuk sebuah senyuman.
Mereka saling bertatapan dan tersenyum. Setelah itu semuanya buyar ketika bel masuk pun berbunyi. Nadya harus cepat-cepat menghabiskan nasi gorengnya karena sebentar lagi pelajaran Kimia.
“lo nggak ke kelas?” tanya Nadya dengan mulut yang penuh nasi.
“gausah banyak nanya lo, cepetan abisin nasinya, kita ke kelas bareng,”
Nadya sempat melongo tetapi setelah mudeng dengan ucapan Fahri, gadis itu langsung menelan cepat nasi gorengnya.
***

No comments:

Post a Comment