"Kamu pucat."
"Apa?"
"Wajahmu pucat"
"Oh?"
Raihan langsung menempelkan telapak tangannya tepat dikeningku.
Aku kaget dan seketika badanku memanas.
"Hangat." Ucapnya kemudian.
"Tidak apa-apa"
aku mengembuskan nafas lega.
"Kamu nggak apa-apa kan?" Tanyanya lagi.
sungguh, setiap hari aku pasti mendapatkan pertanyaan bodoh seperti itu.
Aku menggeleng, "nggak apa-apa, wajahku kan emang seperti ini, nggak usah khawatir,"
"Bukan begitu, kalo kamu pingsan. Aku capek ngegotongnya!"
***
"Selamat pagi Luna," sapa nenek sihir alias Sarah kekasih papa saat ini. Pagi-pagi ia sudah menyiapkan sarapan. Salah satu upaya untuk menarik perhatianku.
Aku diam saja memasang ekspresi datar. Aku tidak ingin meresponnya, maka aku harus turun tangan untuk masak sarapan sendiri.
Sarah menatapku heran, riasan wajahnya sedikit luntur karena tadi ia sudah berkeringat gara-gara memasak. Aku tahu dia marah. Tapi aku tak peduli.
"Mau ngapain?" Tanyanya pura-pura tidak tahu.
Aku diam saja, mengambil teflon wajan untuk memasak nasi goreng. Toh sebenarnya aku bisa masak yang lain, tapi kemarin aku belum kepasar jadi dirumah kehabisan bahan.
Sarah mengerenyit, alisnya bertaut, lalu ia mendekat kearahku.
"Kamu mau masak?" Tanyanya lagi pura-pura bodoh.
aku tahu pasti ia sangat marah. Ia rela bangun pagi dan memasak sarapan sampai mengorbankan makeupnya hanya untuk menarik simpati dariku. Memangnya ngaruh? Memangnya aku jadi suka kepadanya?
Aku masih bungkam dan sibuk memasak sarapanku. Karena geram Sarah mendekat lagi kearahku sampai-sampai ia berdiri disampingku.
"Akukan sudah membuat sarapan untukmu, kenapa kamu malah masak lagi?"
Melihat responku yang buruk. Sarah tidak kehabisan akal.
ia langsung membawa piring berisi nasi goreng buatannya itu kehadapanku.
"Lihat, wanginya sedap bukan? Rasanya pasti enak."
Aku diam saja.
"Luna. Aku kan sudah memasaknya untukmu. Kenapa tidak mau makan padahal belum mencobanya?"
"Luna! Aku ngomong sama kamu! Bisa nggak kamu menatap orang yang sedang berbicara ini?! Meskipun aku hanyalah pacar papamu, tapi setidaknya aku lebih tua darimu, jadi bersikap sopanlah!" Pekiknya kesal.
aku menoleh. Seperti biasa aku menatapnya tanpa ekspresi. Muka tembok.
"Cukup! Berhenti menatapku seperti itu!"
"Hey, ada apa ini?" Suara berat papa menggelegar sampai keruang makan.
aku mengerjap dan mendapati papa sedang menuruni tangga.
Sarah langsung tersenyum seolah-olah tidak terjadi apa-apa.
Wanita itu merangkulku dan sok berpura-pura baik.
aku diam saja.
"Nggak ada apa-apa kok!" Sahut Sarah sambil berjalan ke meja makan.
"Luna, ternyata kamu sudah melunak ya?" Tanya papa tersenyum kecil. Lelaki tua itu sepertinya senang.
aku memberengut, sama sekali tidak terima. "Tidak!" Jawabku sambil menjauh dan membuat Sarah kaget.
papa menatapku aneh.
Aku langsung berjalan dan mendaratkan tubuhku dikursi. Aku melihat roti tawar dengan selai yang masih didalam kaleng. Aku langsung mengambilnya tanpa peduli papa sedang menatapku tajam.
Sarah yang melihat itupun langsung menjalankan aksinya, "Luna sayang, kenapa ngambil roti? Kan tante sudah buatkan nasi goreng,"
Aku diam seribu bahasa.
"Luna," suara papa terdengar keras ditelingaku.
"Ya?"
"Kenapa tidak makan nasi goreng? Malah mengambil roti,"
"Ah. Luna kira, nasi goreng itu bukan untuk Luna,"
"Ngomong apa sih kamu? Cepat makan! Nanti terlambat," suruh papa cepat.
Sungguh, aku tidak mau memakannya. Mending aku tidak sarapan daripada makan makanan dari dia. Bagaimana kalo dia menaruh racun dinasi goreng itu? Sudah jelas dia kan sangat benci padaku dan kakaku. Dia pasti ingin menyingkirkan kami agar ia bisa menikah dengan papa dan menguasai hartanya.
Papa menatapku tajam dan aku tidak mau memulai pertengkaran pagi ini.
Akhirnya dengan berat hati aku langsung menyuap nasi goreng buatannya dan menyimpannya didalam mulut. Aku tidak mau menelannya.
Piring papa sebentar lagi akan bersih. Papa sangat menyukai nasi goreng itu dan memakannya lahap. Sedangkan aku?
Sarah menatapku dengan tatapan membunuh. Aku tak peduli. Toh dia bukan siapa-siapa aku kan?
Dan aku berharap, semoga papa tidak menyuruhku untuk menghabiskan nasi goreng ini.
***
"Luna, kamu nggak apa-apa kan?"
"Wajahmu pucat sekali loh,"
"Kalau tidak kuat, ke UKS aja,"
Persetan dengan kalimat seperti itu. Sungguh! Wajahku sudah seperti ini dari lahir, jadi mau diapakan lagi?
Aku tersenyum hambar menyikapinya. Diam dan melanjutkan pekerjaanku. Belajar.
tiba-tiba aku teringat mama.
Sudah lama aku tidak bertemu dengannya.
Apalagi tadi pagi aku sudah bertemu nenek sihir yang mencoba menggantikan posisi mama. Tidak tahu malu.
"Lagi apa?" Celetuk Raihan menyolek pundakku.
"Nggak lihat lagi apa?"
Raihan mengerenyit dan menatapku heran.
"Udah sarapan?" Tanya kemudian.
aku memberengut kesal. Kenapa nanyain itu sih? Jelas-jelas aku hanya makan sesuap nasi. Itu juga sangat terasa hambar dilidahku.
"Hey! Udah sarapan?"
"Sudah!" Sahutku tajam.
"Memangnya kenapa? Wajahku pucat? Apa aku keliatan mau pingsan?"
Kening Raihan berkerut rapat. Seperti heran kenapa mendapat respon buruk dariku.
"Nggak kok.."
"Aku cuma ingin tahu, bukan ingin meremehkanmu," lanjutnya.
Tiba-tiba ia berdiri, "aku tahu, kau sedang tidak ingin diganggu. Maaf"
Ia pergi menuju bangkunya. Aku merasa kesal dengan diri sendiri kenapa aku berkata seperti itu tadi. Padahal aku tahu Raihan inging menghiburku, tapi aku malah membuatnya pergi.
Karena belakangan ini, Raihan sering menghiburku, mengisi hari-hariku dengan keceriaannya, membuatku merasa hidup.
No comments:
Post a Comment