Tuesday, May 6, 2014

Bald-2

Ardyan membawa Adinda ke danau, danau yang biasa ia kunjungi.
tapi kali ini suasananya berbeda. Biasanya, Ardyan membawa Adinda ke danau karena hanya ingin bermain, tapi kali ini Adryan mengajak Adinda ke danau karena ada hal yang ingin ditanyakan.

Adinda duduk dibawah pohon yang rindang, disusul Ardyan yang langsung duduk disebelahnya.
"Adinn.." Ardyan melirik Adinda manis. Adinda merasa Ardyan kini berbeda.
"Kamu tau Chelsea?" Kini Ardyan menatap Adinda serius.  Adinda yang tadi tersenyum sekarang wajahnya menjadi suram dan gelap.
Adinda membisu.
Ardyan semakin bingung, ia memiringkan kepalanya dan mengarahkan wajahnya ke arah Adinda. Membuat Adinda sport jantung.
"Din, jawab" pinta Ardyan.
"Kamu suka Chelsea?" Celetuk Adinda tiba-tiba, nada suaranya tinggi. Matanya membulat.
"Kok kamu nanya gitu?"
Adinda menyandarkan tubuhnya kepohon.
"Belakangan ini, aku lihat kamu aneh. Kamu sekarang suka senyum-senyum sendiri.. bahkan kamu kaya orang yang lagi jatuh cinta" ujar Adinda kesal, dahinya mengerenyit.
"Berarti kamu meratiin aku dong?" Pertanyaan Ardyan membuat Adinda melotot.
"Eh, ah, duh! Keliatan kali! Bukannya aku meratiin kamu" Adinda gelagapan.

"Pertama aku ngelihat Chelsea, dia itu udah kaya malaikat.. matanya indah, sorot matanya tajam menusuk hati, bahkan senyumannya bikin aku mau pingsan." Ardyan tersenyum sendiri.
Adinda mendengus.
"Aldi. Jangan cepet jatuh hati sama orang. Nanti cepet juga kamu merasakan sakitnya."
Ardyan menatap Adinda sinis. Sepeti tidak terima.
"Bilang aja kamu cemburu?"
Adinda melotot dan menatap Ardyan jijik.
"Hahaha, lagian siapa sih yang cemburu sama kamu? Cowok botak? Hahahah" ejek Adinda. Padahal, dilubuk hatinya yang paling dalam, ia sangat mengharapkan Ardyan. Cowok yang dari dulu ia sukai, tapi Ardyan tidak pernah merasa.

"Dinda." Suara serak Ardyan terdengar.
Adinda terbangun dari tidurnya, ia mendapati Ardyan disebelahnya, dan kepala Adinda bersender ke bahu Ardyan. Ia sudah lama tertidur disitu.
"Hah?" Adinda masih sempoyongan dan bingung. Ardyan menatapnya serius.
"Kamu tidur sampe 1 jam loh. Baju aku basah kena iler kamu" goda Ardyan.
"Ih, adanya kamu kali yang ileran."
"Hahahaha"

"Oh iya. Kamu kapan punya pacar?" Ardyan melirik Adinda manja. Adinda kesal ditanya seperti itu.
"Sejak kapan kamu care sama perasaanku?" Adinda menatap sinis Aldi.
"Kata siapa sih aku gak peduli sama kamu? Kamu kok nanya kaya gitu sih?"
"Itu pertanyaan yang paling aku benci Aldi.."
"Oke, maafin aku ya. sorry deh.. ayo tidur lagi" ajak Ardyan tersenyum menggoda. Lalu menyodorkan bahunya ke Adinda.
Adinda tersenyum, lalu mulai mendaratkan kepalanya dibahu Ardyan. Ia memejamkan matanya, berharap ada keajaiban datang padanya, atau mungkin ciuman pertama dari Ardyan. Pikiran gila.

Ardyan atau Aldi adalah orang yang sama. Orang-orang disekitarnya cukup sulit memanggil Ardyan, jadi orang-orang memanggilnya Aldi. Sedangkan Adinda, ia adalah sahabat Aldi dari kecil. Tak heran mereka sangat dekat sekali. Saking dekatnya, Adinda tidak dapat menahan rasa sukanya kepada Aldi.
Dimata Adinda, Aldi adalah sosok yang sempurna untuknya. tapi Aldi, sama sekali tidak menyadarinya.

Ini adalah kisah cinta yang biasa, mereka bersahabat dari kecil, setelah remaja rasa itu mulai muncul,  bahkan terus muncul dan tidak bisa hilang. Tapi, tidak ada yang menyadarinya. sayangnya, harus ada yang terluka.

Bahkan kali ini saja, Adinda tidak mau terbangun dari tidurnya. Ia ingin merasakan belaian halus dikepalanya, mendengar suara merdu Aldi, menggenggam erat tangannya. Tapi, cepat atau lambat Adinda akan terluka..

Continued-

No comments:

Post a Comment