Saturday, May 3, 2014

Bald.

Ardyan masuk kelas memakai topi. Dengan cepat ia terpaksa melompat untuk sampai didepan pintu kelasnya. Disaat sudah sampai didepan pintu, Revo si anak bandel membuka topi yang dikenakan Ardyan.  Ardyan mendongak dan kaget. Revo dan kawan-kawan melihat kepala Ardyan yang halus dan rambutnya yang kini dipotong habis. Bahkan cewek-cewek yang hendak masuk ke kelasnya melongo.

"Iyuh! So bad ALDI!" Cela Hellen saat hendak memasuki kelas, wajahnya kusut. Lalu ia meninggalkan Ardyan setelah ia mencelanya.
"HAHAHAHAHA! BOTAK" teriak Revo dan geng topeng monyetnya. Ardyan menunduk malu,  lalu ia kepalkan jarinya, wajahnya kesal, tatapannya sinis,  dengan cepat ia langsung merebut topi sekolahnya dan memakainya kembali. Revo terbengong-bengong.

Dikelas, Ardyan mendapati anak-anak cewek dikelasnya menatapnya jijik. Tapi, hanya satu yang menatapnya biasa. Adinda. Cewek manis yang sangat baik hati. Ia sama sekali tidak ikut menatap Ardyan jijik, bahkan ia memberi setruman semangat pagi untuk Ardyan.  Ardyan membalas senyum Adinda.

Ia duduk dibangkunya, dilihatnya teman sebangkunya yang terlihat menahan tawa. Ardyan mengerinyitkan dahi. "Ada yang salah sama kepalaku?" Celetuk Ardyan tiba-tiba. Sontak teman sebangkunya Fero mendongak.
"Potongan rambutmu bagus kawan. Kamu sangat mengikuti tren kakak kelasmu." Jawab Fero sambil menepuk bahu Ardyan pelan. Ardyan tersenyum.

Setelah banyak kejadian razia rambut disekolah, banyak senior Ardyan tertimpa razia. Rambutnya dicukur habis. Setelah kejadian itu, banyak anak laki-laki yang langsung memotong rambutnya sampai tipis. Bisa dibilang botak tapi masih tersisa rambut. Karena tidak mau dicukur disekolah, Ardyan terpaksa untuk mencukur rambutnya seperti senior-seniornya. Tapi, ia mendapat respon positif dan negatif.

Ardyan menyandarkan tubuhnya dibangku. Ia menarik napasnya lalu membuangnya. Ia melirik Adinda yang tempat duduknya tidak jauh dari bangkunya. Merasa diperhatikan, Adinda melirik ke arah Ardyan yang sedang melihatnya. Tatapan mereka bertemu sehingga membuat keduanya salah tingkah.

***

Bel pulang sekolah sudah berbunyi, ratusan anak-anak keluar dari kelasnya dengan riang. Di keramaian, Ardyan melihat sosok yang manis, sosok itu juga ternyata sedang memperhatikannya. Dia lebih manis dari Adinda. Rambutnya yang panjang hitam dibiarkan terurai begitu saja. Senyumnya manis sekali sehingga dunia serasa milik berdua. Setelah lama memperhatikan sosok gadis cantik, lama-lama gadis itu menghilang. Dengan cepat Ardyan mengambil tindakan agar bisa bertemu dengan gadis itu. Setelah berdesakan mencari, akhirnya ia temukan juga sosok yang ia lihat tadi. Lebih cantik dan sempurna jika dilihat dari dekat. Ardyan sempat mati rasa, baru kali ini ia lihat gadis  yang secantik ini.

"Hai" sapa Ardyan manis. Gadis itu menoleh dan tersenyum.
"Hai juga." Balasnya malu-malu.
Dengan langkah cepat Ardyan langsung mengulurkan tangannya, mengajak berkenalan. Gadis itu melongo dan akhirnya mengangguk.
"Ardyan." Kata Ardyan menyebutkan namanya.
"Chelsea" balas gadis itu pelan.

"Siapa kamu gadis cantik? Malaikat pencabut nyawa dari surga kah?"
"Memangnya kenapa?"
"Jika kamu benar malaikat pencabut nyawa dari surga, aku rela nyawaku dicabut olehmu.."
"Sungguh?"
"Ya, jika kamu adalah malaikat pencabut nyawaku, bawalah aku pulang ketempat mu dan tempatku berpulang. Lalu genggam tanganku sekuat mungkin, karena aku tidak akan membiarkanmu pergi lagi."

Continued-

No comments:

Post a Comment