Monday, May 5, 2014

Love In Lift-

"Acha!" Teriak Kevin diujung sana. Ia meneriaki dan mengejar adiknya yang baru berusia 4 tahun. Ini yang membuat Kevin capek dan jenuh mengurus adiknya. Meskipun begitu, ia sangat menyayangi adik perempuannya itu.
Acha tetap berlari sambil cengengesan, dilihatnya Kevin ngos-ngosan. Ia tertawa cekikikan. Hari ini mama dan papa Kevin sedang sibuk mengurus apertemen mereka. Jadi, Kevin akan tinggal sendiri di apartemen lantai atas, sedangkan orangtuanya dan Acha tinggal dibawah. hal tersebut dikarenakan agar Kevin bisa hidup mandiri tanpa orang tua. Ia juga dibelikan apartemen yang minimalis, berbeda sekali dengan apartemen orang tuanya. Tapi, hidup sendiri akan mudah untuk Kevin. Mungkin ia akan berhenti mengurus Acha dan fokus belajar untuk kelulusan nanti.

Bruk!
Kaki Acha tersandung. Ia langsung menangis. Berulang kali ia memanggil kakaknya, tapi suaranya cukup kecil sehingga Kevin tidak dapat mendengar teriakan adiknya. Acha memang bandel. Acha semakin menjadi-jadi. Kevin juga bingung kemana adiknya pergi, Acha memang pintar berlari, sampai-sampai kakaknya sendiri kehilangan jejaknya.

Tiba-tiba, ada seorang gadis berambut sepunggung menghampiri Acha. Ia mencoba untuk membujuk dan menghentikan tangisan Acha. Dalam beberapa menit Acha melunak dan bangkit berdiri, meskipun kakinya kesakitan. Digandengnya tangan gadis itu. Gadis itu membawa Acha pergi dari tempat kejadian.

*Back to Kevin
Kevin trus mengitari lantai 6, tapi sosok Acha tidak ditemukan.
"Aduh Acha kemana sih. Bisa kena omel mama kalo begini.. duhh" Kevin mengacak-ngacak rambutnya dan menggigit bibir. Ia putus asa karena sudah capek mencari Acha daritadi.
Tiba-tiba hp Kevin bergetar, ia langsung merogoh sakunya dan mulai membaca pesan singkat dari mamanya. Disitu berisi kalo Kevin dan Acha harus sudah sampai dilobby. Kevin semakin kesal dan akhirnya mencari lift untuk turun kebawah.
Setelah menemukan lift ia menekan tombol panah kebawah yang artinya turun. Dengan wajah lesu dan pucat,  Kevin berdiri lemas didepan pintu lift.
Pintu lift terbuka.
Kevin melihat gadis cantik dengan senyum manis tersungging dibibirnya. Lalu tangan gadis itu sedang menggandeng tangan Acha. Kevin melongo.
Acha berteriak girang, "kak Kevin!!!!" Acha berteriak menyuruh Kevin masuk ke Lift itu. Dengan kikuk Kevin langsung menuruti perkataan adiknya. Gadis itu juga bingung dengan Kevin.

Kevin masih mengamati sang gadis, sang gadis yang tahu ia sedang diperhatikan merasa risih dengan Kevin. Kevin justru membiarkan adiknya begitu saja. Ia masih terpesona pada kecantikan sang gadis.
"Woy kak Kevin!!!! Denger aku gak sihhh?" Acha mendengus dan menarik-narik celana jeans yang dipakai Kevin. Lalu, Kevin pun tersadar.
"Ya, apa?" Kevin menatap adiknya yang mungil. Acha mengerucutkan bibir.
"Kak Kevin, kenalin ini ibu peri." Kata Acha sambil menunjuk Si gadis. Gadis itu tersipu malu.
"Dia yang nolongin Acha waktu Acha jatoh" jelas Acha
"Kamu jatoh? mana yang sakit?  Makanya kalo dikasih tau jangan bandel" Kevin kesal lantaran adiknya tidak mendengarkan nasihatnya perihal jangan berlari. Tapi Acha berlari.
"Dia nggak kenapa-napa kok.." ujar gadis itu datar. Ia tersenyum simpul.
"Syukurlah" Kevin bernapas lega.
"Kamu kakaknya ya? Tadi aku nemu adik kamu didepan unitku. Dia jatuh. Kebetulan aku mau ke bawah jadi aku bawa dia kebawah, mau nyerahin ke resepsionis kalo ada anak hilang." Jelas gadis itu pelan.
"Ah, eh iya. Makasih.."
"Yakk, udah sampe. Bye bye Acha. Sampai ketemu lagi.." pamit gadis itu pelan. Pintu Lift terbuka,  ia pun keluar dengan cepat.  Sampai-sampai Kevin tidak melihat bayangannya lagi. Gadis itu benar-benar menghilang.
"Aduh!!! Aku lupa nanyain namanya!!!" Kevin menepuk dahinya.
Lalu ia membawa Acha dengan aman sampai ke lobby. Disitu ia mendapati orang tuanya duduk manis diruang tunggu.

Sejak kejadian itu, Kevin jadi ingin cepat-cepat pindah ke apartemen.

Continued-

No comments:

Post a Comment