Tuesday, May 27, 2014

Adelia-

"Mama! Jangan tinggalin Adel sendiri ma! Adel mohon!!" Adel meronta meneriaki mamanya yang sudah siap membawa koper dan segala perlengkapannya untuk pulang ke tempat asalnya. Kota metropolitan, Jakarta.
"Adel, kamu harus janji sama mama! Kamu gak boleh ninggalin papa dalam keadaan apapun. Ini demi kebaikanmu nak.." ucap mama sambil menangis. wajahnya merah dan tidak terlihat tanda bahagia diwajahnya. Hanya ada duka yang menyelimuti mama.
Adel masih menangis dan merengek, wajahnya pun lebih merah dibandingkan mama, ia menangis histeris dan menahan tangan mama. Karena sebentar lagi mama akan meninggalkannya.
"Adel! Dengar mama! Mama minta tolong sekali sama kamu nak, kamu harus janji kamu sama mama, kalau kamu akan tetap tinggal dengan papamu. Dan jangam coba cari mama nak!" Perintah mama lagi, tangis Adel semakin menjadi.
"Adel, mama mohon.." mama memegang wajah Adel yang merah seperti kepiting rebus, badannya bergetar hebat.
"Kamu sayang kan sama mama? Tolong ya nak, kamu harus janji sama mama. Apapun yang terjadi kamu harus tegar, dan mencoba mengerti papa kamu. Ya nak?" Ucap mama terbata-bata.
Akhirnya, dengan berat hati Adel berjanji "ya mah.. Adel janji.."
Mama tersenyum, itulah senyuman mama yang paling manis dan hangat.
Serta ciuman dikening dari mama yang terakhir. Adel harus menerima kepergian mama.

Setelah itu, semuanya gelap. Tertutup awan hitam kelabu. Seperti hati Adel yang tidak pernah terang.

***

Adelia. Gadis manis yang baru berusia 13 tahun itu harus menerima kepergian mamanya. Mama memutuskan untuk bercerai dengan papa. Karena sikap papa yang terlalu egois dan mungkin membuat mama capek hati. Tapi, kenapa Adel harus tinggal dengan papa? Laki-laki yang sudah membuat mama pergi dan terlanjur membuat hati Adel hancur berkeping-keping. Itu semua karena papa. Adel benci papa. Sangat.

Dihidupnya, mama adalah sosok paling penting dan sangat berharga. Tapi, mama telah pergi. Dan Adel tidak boleh menyusulnya, karena ia sudah berjanji. Adel menyesal telah berjanji pada perjanjian bodoh itu.
Semua hancur, termasuk hati dan tubuh Adel. Ia frustasi, tubuhnya kurus kering, hitamnya kantung mata dibawah matanya, dan wajah yang pucat pasi.
Tidak ada tanda kehidupan lagi dihati Adel. Tidak.

Papa?
Laki-laki pengecut yang hanya bisa menyakiti hati seorang wanita. papa bahkan tidak pernah memikirkan perasaan mama, itupun hanya sekali.
Hanya satu yang Adel bingung dari papa.
Jika papa tidak mencintai mama, untuk apa papa menikahi mama?
Apa artinya pernikahan itu?
Entahlah. Hanya papa dan Tuhan yang tau.

Papa.
Papa juga tidak pernah pedulikan aku, papa juga tidak peduli kabarku seperti apa, ia bahkan tidak menganggapku manusia dirumah.
Ia malah menganggap kalo ia hidup sendiri didunia ini
Hanya kerja, kerja, dan kerja.
Jika papa mencintai pekerjaan papa, menikahlah dengan pekerjaan pa.

***

Cerita ini hanya fiktif belaka, jika ada kesamaan nama, peristiwa, dan tanggal harap dimaklumi..

No comments:

Post a Comment