Shania tersenyum lirih. dilihatnya taman didepan jendela kamarnya. banyak tanaman bunga yang indah, berwarna-warni. salah satu bunga kesukaannya adalah bunga Mawar. tak sengaja, lagi-lagi Shania menangis. lalu memeluk lututnya. dan menundukkan kepalanya. kini ia sama sekali tak mengerti dengan jalan hidupnya. hidupnya kini semakin rumit.
Shania Adriana adalah gadis berumur 16 Tahun. parasnya sangat ayu dan matanya sendu. rambutnya yang sepunggung dibiarkan begitu saja. bibir yang mungil menjadi pelengkap kecantikannya. tapi sayang, manusia tidak ada yang sempurna. meskipun Shania cantik, tetapi ia harus menerima kenyataan, kalau ia mengidap penyakit Kanker Darah atau yang biasa disebut Leukimia. itulah kenapa wajah Shania selalu pucat dan kehilangan gairah. sebelumnya, Shania sering kali merasakan pusing yang tak kunjung hilang, dan bahkan membuatnya sering pingsan. hidungnya pun selalu megeluarkan darah. tetapi, meskipun begitu, Shania harus kuat. ia pun berjanji akan berusaha sekuat mungkin, untuk menyerang penyakitnya..
~
berulang kali kasus ini terjadi. Shania sering pindah sekolah. karena ia sangat tidak tahan diejek teman-temannya karena mengidap penyakit aneh. memang, Shania selalu kejang-kejang jika sedang kambuh, tangannya pun sering terasa dingin kaku, dan suka pingsan. kadang, pihak UKS pun sudah bosan dengan kehadiran Shania yang dalam seminggu 3 kali masuk UKS. sampai-sampai, pak kepala sekolah pun menyarankan agar Shania Homeschooling, alasannya agar lebih mudah. mendengar itu, Shania malah ingin mencekik pak kepsek. Siang tadi, mama dan papa sudah mendaftarkan Shania ke SMA yang baru. yang orang-orangnya lebih baik daripada sekolah yang dulu.
mama dan papa Shania bukanlah orangtua kandung Shania. mereka adalah orangtua angkat Shania. menurut cerita mama, Shania bayi ditemukan dilapangan bola dikomplek rumahnya. kebetulan, mama Shania memang tidak bisa punya anak. dan akhirnya mereka merawat Shania dengan sangat baik dan sampai sebesar ini. Shania pun sangat bersyukur karena bisa diasuh dengan baik oleh orangtua angkatnya. sampai sekarang pun ia bersikeras ingin menemukan orangtua kandungnya, yang telah tega membuangnya seperti itu.
~
hari pertama sekolah Shania tidaklah mudah. pagi-pagi ia pun harus merasakan penyakitnya yang kambuh. kejang-kejang yang kata dokter berkaitan dengan jantung. mama yang dulu selalu panik dengan penyakit Shania, kini ia sudah merasa biasa saja. ia bahkan tambah mengawasi Shania dengan baik. ia juga tidak menyesal sudah mengadopsi Shania yang penyakitan.bahkan membuatnya lebih memperhatikan Shania lebih baik lagi.
"maafin Shania ma.. kalo Shania suka ngerepotin mama setiap hari"
"kamu ngomong apa sih nak? justru ini yang membuat mama semakin perhatian sama kamu. kamu gak boleh gitu. kamu harus mensyukuri, kamu masih diberi kesempatan hidup meskipun begini.."
Shania tersenyum lirih.
"Nama saya Shania Adriana. kalian bisa panggil Shania aja." ucap Shania dalam rangka memperkenalkan diri.
"saya mau nanya" ucap seseorang dibangku tengah. sambil mengacungkan jarinya. wajahnya terlihat sangat menyebalkan.
"kok muka lo kaya mayat hidup ya?" ejeknya.
"HAHAHAHHA" sekelas tertawa. Shania semakin geger, ia mengepalkan tangan kananya yang ia taruh disamping kakinya.
"ini baru hari pertama. gimana nanti?" batin Shania.
"Hai" sapa seseorang disamping Shania. ternyata ada seorang gadis yang agak tinggi dari Shania, senyumnya manis dan memiliki bola mata yang kecoklatan.
"Hai juga."
"kenalin, nama gue Naomi. nama lo Shania kan?" tanyanya sambil menaikkan sebelah alisnya.
"heh iya."
"oh, lo pindah karena apa?" tanya Naomi sambil menatap Shania penasaran.
"eh-- karena.. gak nyaman aja." jawab Shania ragu.
"oh.. semoga disini lo betah ya hehe. oh iya, tadi maafin Rio ya. dia emang kaya gitu sih. omongannya nyelekit.."
"eh, ya gak papa kok. udah biasa hehe." ujar Shania sambil tersenyum.
"eh tapi.. lo gak kenapa-napa kan? soalnya muka lo pucet banget. mau gue anterin ke UKS?" tawarnya sambil mengamati wajah Shania yang benar-benar terlihat seperti mayat hidup.
"eh, gak. gak usah! gue gak kenapa-napa kok. mm, muka gue emang udah kaya gini hehe" Shania mengelak. ia sudah bosan mendengar tawaran itu. mungkin, ini tawaran yang ke 65 kali.
"yakin?" selidik Naomi. sepertinya Naomi memang benar-benar penasaran dengan Shania.
"yaudah kalo gitu. ke kantin yuk!" ajak Naomi ramah. Shania mengangguk pasrah.
"Naomi, gue boleh gak ke toilet dulu?" ucap Shania dengan wajah yang sudah seperti mayat hidup, keringatnya pun menjadi dingin. sepertinya, mimisan akan kambuh lagi.
"oh boleh kok. gue tunggu disini ya." kata Naomi sambil bersender di dinding dekat toilet cewek.
Shania langsung lari kedalam toilet, mengamati wajahnya dikaca yang seperti biasanya. dan ternyata benar. "mimisan lagi" ujar Shania panik. ia segera mengambil tisu yang tersedia. dan mengelap hidungnya. ini bukan mimisan biasa. tapi inilah gejala kanker darah yang bukan mimisan lagi.
Shania mengangkat kepalanya ke atas, berharap darah yang keluar berhenti. tetapi, tidak. darah terus mengalir. membuat Shania panik bukan main. terlebih lagi kepalanya pusing. tetapi ia berusaha untuk menguatkan tubuhnya. ia berusaha agar tidak ada orang lain yang tau tentang penyakitnya, tidak.
8 menit pun berlalu. Naomi bingung kenapa Shania tidak keluar juga. firasatnya menandakan kejadian buruk. Naomi pun langsung masuk ke dalam toilet cewek. dilihatnya Shania yang sedang terduduk dilantai dengan hidung berlumuran darah, dan wajah yang benar-benar seperti mayat hidup.
"HAH? SHANIA!!!" Naomi awalnya takut dan tak percaya, akhirnya ia berlari kearah Shania. Shania masih dalam keadaan setengah sadar.
"lo kenapa Shan? lo KENAPA?"
Shania tidak menjawab apa-apa. "lo bawa obat gak? mana obatnya?"
Shania mengangguk. "DIMANA?"
"di--tas." ucap Shania tidak jelas, namun terdengar jelas ditelinga Naomi.
Naomi langsung bangkit, membopong Shania kedalam toilet duduk. dikeadaan seperti ini, tidak mungkin Naomi membawa Shania keluar.
"lo tunggu sini. gue bakal cari obat lo. jangan lupa kunci pintunya!"
Shania mengangguk lemas. ternyata ia lupa minum obat. ia harus menerima resikonya.
2 menit kemudian Naomi muncul. "Shan! buka pintunya! ini gue!"
Naomi membawakan botol air, dan kantong plastik kecil yang isinya obat. mungkin ada 9 obat yang harus diminum Shania.
"thanks Mi. kalo gak ada lo. mungkin gue mati disini." ucap Shania tersenyum lirih.
"kalo boleh gue tau, lo sakit apa? gue janji! gak akan ngasih tau ini sama seorangpun!!"
"kata dokter. gue sakit Leukimia. terus, gue juga punya masalah sama jantung."
Naomi melongo.
"itu sebabnya gue selalu pindah sekolah. gue selalu menerima ejekan yang menurut gue keterlaluan. mereka menganggap gue aneh. setelah melihat gue kejang-kejang dan bertingakah aneh, mereka berani menindas gue, bahkan mengusir gue." cerita Shania.
"bahkan sekarang, gue berusaha sekuat mungkin untuk terlihat normal."
Naomi memasang ekpresi iba. "lo gak usah terlalu cemas sama gue.."
"gimana gue gak cemas sama lo, gue liat lo tadi itu sempet bikin gue mau pingsan. mulai sekarang, kita teman! oke?"
"oke"
No comments:
Post a Comment