Sunday, August 3, 2014

Adelia-4

"Disuatu malam yang indah, aku tidak ingin sendirian. aku ingin kau disampingku, menunggu bintang jatuh dan membuat permintaan. ketika kau tanya padaku apa permintaan itu, aku hanya meminta, Kembalikan mama dikehidupanku lagi.." 


Adel hanya bisa tersenyum sendiri dijendela kamarnya, mengingat kejadian kemarin, melihat wajah Adit yang kesal dan bingung. karena ia sudah memesan banyak makanan yang membuat Adit mati gaya. 

angin sepoi-sepoi masuk ke dalam jendela kamar Adel. Adel menghirupnya dan menutup mata. ia merasakan hatinya tenang dan lega. meskipun masih banyak kesedihan yang ia tutupi dihadapan banyak orang. ia pun berpikir, "kenapa aku merasa nyaman bersama Adit?" Adel bahkan tidak percaya ia bisa dekat dengan orang yang baru ia kenal. padahal, setelah mama pergi, Adel terkesan tertutup dan misterius. tetapi, ketika ia bersama Adit, ia merasa sangat terbuka. bahkan ia sudah memberitahu kalau mama sudah pergi. padahal ia berjanji akan merahasiakan hal tersebut kecuali pada orang-orang tertentu. tetapi ia sudah menceritakannya pada tetangga yang baru ia kenal lusa kemarin. Adel menepuk dahinya. lalu menutup wajahnya dan mengusap-ngusap wajahnya kesal.

lalu ia berpikir lagi, kenapa ia memikirkan Adit? cowok yang baru ia kenal 2 hari yang lalu. "apa yang terjadi padaku?!" Adel kesal dengan dirinya sendiri, akhirnya ia memutuskan untuk tidur agar terlupa dengan semua itu.

tok tok tok 
"Non, Adel. buka non pintunya. ada tamu!" seru Bi Anik.
Adel mengurungkan niatnya untuk tidur. dengan malas ia membuka pintu kamar.
"Non! ada tamu tuh. cepetan turun."
"siapa?"
"gak tau non. ngakunya sih temen sekolah non Adel."
Adel memutar bola matanya dan berpikir keras. "yaudah aku turun."

setelah turun dari tangga ia melihat Adit diruang tamunya. dan ia sedang memegang pigura foto dimeja foto. Adel mengerenyitkan dahi.
"Adit?"
"eh. lo. ini lo masih kecil ya?" tanya Adit sambil mengacungkan foto masa kecil Adel. Adel langsung melotot dan dahinya berkerut.
"siniin!" Adel menariknya.
"eh. biasa aja kali."
"kamu gak sopan! megang-megang foto orang sembarangan!"
"habisnya disitu lo lucu banget sih, kan gue penasaran pengen liat dari deket. ternyata lo yang dulu sama yang sekarang beda banget ya. imutan dulu daripada sekarang."
"jadi maksud kamu, aku yang sekarang gak imut?"
"ya, bukan gitu sih. ya bisa jadi begitu."
"iihhhh! kamu nyebelin tau gak!" Adel memukuli Adit kesal.
"eh, eh, sakit tau Del! ampun, ampun deh!" pinta Adit cengengesan.
Adel mengerenyitkan dahi.
"eh, jidat lo itu udah berkerut 5 tingkat tuh hahahaha!!!"
"ih Adit!!!"
"eh ampun!" Adit berjalan masuk ke dalam ruang tengah rumah Adel.
"eh, ngapain masuk kesitu?"
"yaelah Del. sekarang kan gue ini temen sekelas lo sama tetangga lo juga. gue pengen tau dong isi rumah lo kayak apaan." ucapnya sambil melengos kedalam.
Adel hanya bisa tersenyum kecil. lalu mengikuti Adit yang sudah diruang tengah.

"wiii, rumah lo adem bener Del!" Adit duduk dibangku pantai yang tersedia dipinggir kolam renang rumah Adel. ia duduk seperti dipantai.
"emangnya rumah kamu gak adem?"
"ya gak seadem ini sih."
"oh."
"oh doang?"
"emangnya harus jawab apa?"
"gue laper nih Del. masakin gue makanan gitu."
"gak mau. emangnya aku babu kamu?"
"yaelah.. pelit amat sih" mulut Adit mengerucut dan bangkit dari bangku.

"biar gue yang masak." katanya sambil mencari bahan-bahan masakan.
"emangnya bisa masak?" tanya Adel iseng.
"bisa lah. asal lo tau nih, masakan gue selalu enak."
"emh. masa? yaudah cepetan masaknya, penasaran nih."
"lo duduk aja disitu, nanti kalo udah jadi gue kasih ke elo."
"oke."

"Del, lo gak punya saudara ya?" tanya Adit sambil memotong-motong bawang putih.
"gak. aku anak tunggal"
"hmmm, sepi dong"
"eng- nggak juga."
"kalo gue punya kakak. tapi dia lagi kuliah di Australi"
"oh.."
"lo suka pasta kan?"
"banget."
"bagus deh kalo gitu."
"Adit?"
"heh?"
"kamu ngerasa kesepian gak sih?"
"sering. kadang bikin gue gak betah dirumah. itu sebabnya, gue protes ke orangtua gue biar pindah rumah. dan punya temen baru."
"emangnya, dirumah lama kamu gak punya temen?"
"temen sih banyak. tapi bisanya cuma ngabisin duit orangtua. gue paling kesel sama anak yang gak tau diri. temen-temen dirumah gue yang dulu. parah. mereka, saling pamer kekayaan orangtua mereka masing-masing. udah gitu, mainnya balap liar. terus, pulang malem gak kenal waktu."
"oh.." mulut Adel berbentuk o.
"sedangkan gue, gue cuma anak rumahan yang mainnya dirumah, walaupun keluar ke tempat yang bagus. bukan trek-trekan atau mabok-mabokan."
"pantes aja. muka kamu mulus banget, kaya yang suka perawatan." ejek Adel dengan wajah tanpa dosa.
"HAHAHAHA bisa aja lo Del."
"habisnya, waktu pertama aku liat kamu. wajah kamu itu kayak cewek. putih, mulus lagi. mungkin wajah aku aja kalah."
"HAHAHA, bilang aja gue ganteng."
"iiiii, kepedean banget sih." padahal, didalam hati Adel, Adit memang ganteng.
"asal lo tau nih, disekolahan gue yang dulu, banyak cewek yang suka sama gue. tapi gue tolak semua"
"loh, kok ditolak?"
"iya, soalnya belum ada tipe yang pas buat gue. terus, mereka itu matre, dan rese. mereka harus antar-jemput pake mobil. lebay banget deh"
"Hahaha, emangnya, disekian banyak cewek disekolah kamu, gak ada yang kamu suka?"
"ehm, ada sih. tapi eh. ngapain gue ceritain ke elo?"
Adel diam dan menunduk. dalam hatinya ia sangat kesal.
"eh, eh. nggak deng. gue bercanda. ada sih, tapi sayangnya dia udah punya pacar. dan lebih sayangnya lagi, dia gak suka sama gue."
"oh."
"kalo lo gimana? apa disekolah ada yang lo suka?"
"privasi dong."
"ah, gak asik nih. gue aja nyeritain tentang cewek yang gue suka. tapi kok lo malah pelit rahasia sih."
"ya gak penting aja. ya, maksud aku, disekolah emang gak ada yang disuka."
"masa? sebanyak cowok dipelita, gak ada yang lo suka? yakin?"
"mereka kan cuma pengen cewek cantik. sedangkan gue?"
Adit berhenti melakukan aktivitas memasaknya. lalu ia menatap Adel serius. "kata siapa lo gak cantik?"
"ya menurut aku gitu."
"lo itu cantik, tapi sayangnya lo pendiem. jadi kebanyakan orang, susah mau ngedeketin lo." kata Adit sambil melanjutkan masak-masakannya.
Adel termenung mendengar ucapan Adit, memang jelas adanya. Adel memang cantik, tapi sayangnya ia lebih menutup diri.
"ya tapi lo jangan geer dulu." sela Adit dengan santai.
"ih, siapa juga yang geer" Adel mengerenyitkan dahinya. Adit hanya tersenyum.

"masakan kamu emang enak Dit. hebat!" puji Adel sambil mengacungkan jempolnya.
"yee, gue gitu loh. gimana, lo suka nggak sama masakan gue?"
"eng-- ya lumayan lah."
Adit mengerenyitkan dahi, " kok lumayan sih Del? nanggung amat."
"iya, enak kok enak. maksa"
Adit tersenyum simpul.
"Adit, udah jam 5 tuh, kamu gak pulang?"
"ngapain pulang, kan gue udah bilang sama lo, gue bete dirumah."
Adel hanya diam dan melihat Adit dengan ragu.

***

"malam ini cerah juga ya, banyak bintang." kata Adit dengan pandangan ke atas mengarah ke langit.
Adel hanya mengangguk. kini mereka berada dibalkon rumah Adel sambil menatap langit.
"mudah-mudahan aja ada bintang jatuh" pekik Adel.
"emangnya kalo ada, lo mau minta apa?"
"hmmm, pengen tau banget atau tau aja?" goda Adel iseng. Adit hanya tersenyum.
"pengen tau aja sih, tapi ya pengen tau banget deh."
"harapan aku simpel kok."
"cuma pengen mama balik lagi ke rumah, dan akur sama papa." ucap Adel tersenyum.
Adit menatap cewek disebelahnya dengan kagum, ia tersenyum dan mengangguk.
"kalo kamu?" Adel bertanya balik dan menatap Adit serius.
"ya, gue cuma pengen mama sama papa gak terlalu sibuk. dan gue minta seseorang yang bisa nemenin gue setiap hari, yang bisa gue jadiin pacar juga, biar gak bete." katanya sambil tersenyum.
Adel hanya diam menunduk.
"pasti bukan aku orangnya." ucapnya dalam hati. lalu tersenyum simpul.

Continued-


No comments:

Post a Comment