Tak disangka, Adit sudah menunggu diruang tamu. Menunggu Adel keluar dari kamarnya. Mungkin ia sudah 10 menit duduk disitu.
Tak tik tuk
Suara langkah kaki Adel terdengar sampai ruang tamu.
"Adit?" Adel kaget bukan main melihat tetangganya itu sudah menunggunya daritadi.
"Hai Del? Lama banget sih lo? Yuk berangkat!" Ketus Adit dengan wajah kusut. Adel tidak tau kalau Adit benar-benar mengajaknya berangkat bareng.
"Hah? Tapi aku belum sarapan." Jawab Adel dengan wajah polos.
"What? Udah gue traktir lo nanti disekolah. Hayu berangkat!" Adit menarik tangan Adel tiba-tiba.
"Tapi..tapi aku"
"Udah ayo"
"Bi. Adel berangkat dulu"
"Aku kira kemarin itu cuma basa-basi.."
"Emangnya muka gue keliatan basi ya?"
"Engg- enggak sih."
"Yaudah masuk"
Adit sudah rapih memakai seragam barunya. Ia sudah tidak sabar untuk melihat sekolah barunya seperti apa.
"Sekolah dipelita rame gak?"
"Rame? Emangnya pasar?" Jawab Adel dingin
"Ahelah gue punya tetangga dingin banget sih kayak es."
"Hmm."
"Kamu pindahan darimana?"
"Jaksel"
"Oh."
"Oh doang?" Adit menaikkan alis kirinya.
"Ya trus harus ngomong apa?" Balas Adel polos.
"Ckckck, sumpah ni cewek dingin banget. Berasa dikutub selatan." batin Adit. Adel tidak berkutik lagi.
Ternyata mereka sudah sampai digerbang pelita ilmu. Mobil Adit berhenti disamping pohon dekat gerbang. Adit memandangi sekolah barunya.
"Makasih ya udah nyamper kerumah sama numpangin aku dimobil kamu."
"Eh. Ya masama"
"Ternyata nih cewek bisa makasih juga" batin Adit bicara.
"Yaudah. Aku kelas ya"
"Eh tunggu!" Adit meraih tangan Adel. Membuat tatapan mereka bertemu.
"Apaan?"
"Jalannya sama gue ya? Anterin gue ke ruang kepsek"
Adel terdiam. "Yaaaa.."
"dah. ruang kepsek sebelah situ. aku mau ke kelas dulu." Adel pamit pergi ke kelas. Adit melihat sebuah ruangan tampak besar yang terpisah dengan ruangan lain. ruangan itu diapit ruang UKS, dan ruang kelas tambahan.
"aneh. kok sepi ya. bikin gue merinding" Adit mulai berjalan mengarah ke pintu ruang kepala sekolah. lambat tapi pasti sekarang ia sudah mematung sambil memegangi daun pintu.
tok tok tok!
"masuk." suara berat pak kepala sekolah terdengar didepan pintu. Adit dengan berat hati membuka pintu tersebut.
"permisi pak.. saya Aditia Hermawan. saya pindahan dari SMA Cendrawasih Jakarta Selatan. kemarin ayah saya datang kemari untuk mendaftarkan saya ke sini." ucap Adit sambil berdiri didepan meja pak kepsek.
"oh. jadi kamu yang namanya Aditia Hermawan ya? anaknya pak Hermawan bukan?" tanya pak kepsek. Adit mengangguk.
"betul pak."
"wah, kebetulan sekali, mari duduk nak. sini duduk."
Adit mengangguk dan duduk disofa yang disediakan didalam ruangan itu.
"bapak ini teman SMA bapakmu, nak." ucap pak Kepsek mulai bercerita dengan gaya khasnya.
"em, maksud bapak, jadi ayah saya sudah kenal dengan bapak ya?"
"bapak kamu itu, sekelas sama bapak dulu waktu SMA. tapi setelah lulus, bapakmu pindah ke Jakarta Selatan." lanjut pak kepsek.
Adit mengangguk dan bibirnya berbentuk o.
"waktu bapakmu mendaftarkanmu kesini. bapak kaget bukan main. wajahnya sama sekali tidak berubah lho! dan ternyata, memang benar. bapakmu memang Hermawan teman sekelas bapak dulu. bapak tidak menyangka.." seru pak kepsek sambil tertawa sendiri.
"wah, kalau begitu bapak dan ayah saya reuni lagi dong pak. hehehe.."
"hahaha, yasudah. bagaimana? sudah siap dengan sekolah baru? oh iya! kamu bapak tempatkan di kelas 11.1 IPA ya."
"ohehe, kalau begitu. saya langsung kesana saja ya pak?"
"iya,iya. ya sudah. kamu sekarang cepat ke kelas. nanti akan saya panggilkan guru untuk membawa kamu ke kelas." ucap pak Kepsek tersenyum.
"iya pak. terimakasih.." Adit pamit dengan pak kepsek.
"oh iya, Adit. salam untuk bapakmu ya"
"siap pak. mari pak.."
***
disuatu ruang kelas pada pagi hari yang sejuk, ada seorang pemuda sedang berdiri didepan kelas. ia sedang memperkenalkan dirinya dihadapan semua murid dikelas itu.
"ehm. nama saya Aditia Hermawan. saya pindahan dari Jakarta Selatan. kalian bisa panggil Adit. terimakasih" seru Adit dengan santai. tidak terlihat wajah grogi disitu.
Adel kaget bukan main. ia melihat Adit masuk kelasnya. tepatnya, sekarang Adit adalah teman sekelasnya.
"silakan Adit. kamu duduk disebelah.. disebelah Adel" pinta bu Mita sambil menunjuk bangku kosong disebelah kanan Adel. Adel melotot dan tidak terima.
Adit hanya tersenyum cengengesan melihat wajah tetangganya itu.
setelah itu, pelajaran matematika dimulai. pelajaran yang paling rumit menurut Adit.
"Adel! tunggu! tungguin gue dong" teriak Adit dikoridor sekolah. ia berlari mengejar cewek berambut sebahu berwarna pirang kecoklatan. ditepuknya bahu cewek itu.
"apaan sih?"
"tungguin gue napa. lo lupa ya, kan gue janji mau nraktir lo makan dikantin. lo malah langsung pergi." ketus Adit kesal. Adel memutar bola matanya.
"yakin mau nraktir aku?" ucap Adel tersenyum jahil.
"yakinlah. emang kenapa?" Adit menaikkan sebelah alisnya. pertanda bingung dengan pertanyaan Adel.
"nggak. yaudah cepet!" Adel menarik tangan Adit, sempat membuat Adit bingung dengan perlakuan Adel.
"aneh" pekiknya dalam hati.
setelah sampai kantin, Adel dan Adit duduk dibangku kantin yang kosong.
"mau mesen apa Del?"
"ehm, yakin mau nraktir aku?"
"ya yakinlah. emang kenapa sih?"
"ng-nggak kenapa-napa sih.."
"yaudah cepet lo mau mesen apa. rumit banget dah ngomong sama lo del"
"mie ayam, jus mangga, jus buah naga merah, cakue, terus makanan ringan, pocari sweat, emm, apalagi ya. ohiya, sekalian pesenin spagheti tuh diwarung Bi Ani. cepetan!" pinta Adel dengan wajah tanpa dosa.
Adit melotot. "yakin lo mau mesen segitu banyaknya?"
"Yakinlah. kan kamu janji mau nraktir aku?" ucap Adel tersenyum jahil sambil menaikkan alisnya.
Adit menutup wajahnya.
"yaampun, kenapa gue punya tetangga gini-gini amat sihhh" batin Adit berteriak.
"yaudah, tunggu sini. gue mau mesenin" Adit bangkit dan pergi. Adel tertawa puas.
dibalik itu, Adel merasakan ada yang memperhatikannya daritadi.
tapi orang itu langsung pergi dan menghindar.
"siapa?"
***
sepulang sekolah, Adel dan Adit pulang jalan kaki. lantaran Adel ingin menikmati cuaca sejuk, matahari juga tidak terlalu panas untuk dilalui.
"Adel."
"eh?"
"main kek kerumah"
"hah"
"iya main. dirumah sepi. papa sibuk sama kerjaannya, mama apalagi."
Adel terdiam sejenak. "emangnya mama sama papa kamu kerja apa?"
"Papa Direktur perusahaan, kalo mama dokter." jelas Adit.
Adel mengangguk. kini ia berpikir bukan ia saja yang merasa kesepian, tetangganya pun begitu.
"kalo papa lo sama mama lo?" Adit bertanya balik.
Adel terdiam. "kalo papa sama kaya papa kamu.tapi kalo mama.. mama udah gak tinggal dirumah lagi.."
Adit kaget dan terdiam. ditatapnya Adel yang menunduk. "maksud lo, orangtua lo udah cerai?"
Adel mengangguk. kini Adit merasa iba. pantas saja gadis ini kelihatan murung dan tidak ceria. dingin dan misterius.
"maaf. kalo gue lancang." Adit merasa bersalah telah melontarkan pertanyaan yang cukup membuat Adel sedih.
"iya gak papa. biar kamu tau juga kan."
"emangnya kalo gue udah tau kenapa?" Adit menghentikan langkahnya.
"biar aku merasa tenang. dan aku gak merasa tertekan dengan rahasia ini." ucap Adel sambil berhenti dan menatap Adit serius.
Adit hanya bisa diam tanpa kata, ditatapnya gadis disebelahnya dalam-dalam. ia merasakan Adel berbicara dengannya lewat tatapan mata. tapi ia tidak bisa mengartikannya.
"lo emang susah ditebak.." batin Adit berbisik.
Continued-
No comments:
Post a Comment