Wednesday, April 2, 2014

Cerita pendek -4 (Gebetan)

Lebih tepatnya lagi ini bukan cerpen ya, soalnya bersambung>< tapi ya gak papa deh ya..
Selamat Membaca \:D/

Lagi-lagi tidak ada orang dirumah. Tidak ada makanan dan rumahku sangat sepi. Kayaknya, perutku mulai berisik. Mendingan, aku pergi aja ke minimarket tengah komplek. Ya, makan mie instan disana dan minum-minuman soft drink. Nasibku seperti anak kost aja..

Kejadian aku ditabrak oleh anak baru dikelas sebelah itu, membuat lengan kiriku keseleo.  Hah, kalau dia masuk kelasku,  bakal ku bully dia habis-habisan. Tapi kenyataannya dia menang, dia masuk kelas sebelah. Kelas musuh bubuyutan kelasku. Apalagi anak-anaknya, menyebalkan dan menjijikan. Anak cewek nya terlalu berlebihan, memakai make up ke sekolah, HAHA! akhirnya kelas 8-2 diadakan razia. Dan hampir semua cewek dikelas 8-2, membawa make up ke sekolah. Cih. Memalukan. tapi, lebih menjijikan lagi, semua hatersku ngumpul dikelas 8-2. Mau tak mau aku harus menerimanya, yah seperti kalo aku jalan kakiku disandung, disindir-sindir, yah memang anak cewek 8-2 sangat memalukan, tingkah lakunya sangat kampungan. Aku benci mereka. Sangat.

Akhirnya aku sampai di minimarket tengah komplek. Aku langsung masuk, saat yang bersamaan juga sang kasir menyambutku dengan "selamat sore, selamat datang" ah, aku merasa diperhatikan. Hihi. lalu aku langsung mencari rak mie instan,  dan menemukannya. Aku memilih mie goreng sosis dan membayarnya terlebih dahulu, lalu aku menyeduhnya ditempat air seduh. Cukup lama aku menunggu mienya matang, aku memutuskan untuk duduk dimeja makan yang telah disediakan. Minimarket cukup sepi jadi aku tidak perlu malu jika bertemu tetanggaku. oh iya, hari ini Rizal tidak ada kabar. Hari ini dia sama sekali belum sms aku. Eh, aku baru teringat. Untuk apa Rizal ngasih kabar ke aku? Haha jelas aku bukan siapa-siapanya aku hanya kakak kelasnya. Yasudahlah..

"Sendirian aja" ucap seseorang kedengerannya dari sebelah, tapi.. suaranya aku pernah dengar. Aku tidak peduli itu siapa.
Aku diam dan tidak meladeninya, dia pasti orang iseng. Dia pasti orang yang suka menghipnotis dan mencopet korbanya. Itulah sebabnya aku tak mau melihatnya.
"Hei. Sendirian aja. Lagi murung ya?" Tanya dia lagi.  Siapa sih dia? Dengan malas aku menoleh kesebelah, aku mendapati cowok yang pernah menabrakku. Ya Axel.
Mataku melotot,  kenapa disaat aku ingin sendiri aku bertemu dengan orang ini. Orang yang tadi aku bicarakan dalam hati. Yang pastinya, orang ini menyebalkan.
Axel tertawa geli melihatku, "muka kamu suram banget ya. Serem" katanya. Rasanya aku ingin menonjoknya disini, tapi ya, aku bukan orang yang tipe mempermalukan diri sendiri. bisa-biasa aku diusir karna dituduh bikin onar. Tidak.
"Tonjok aja kalo berani" celetuk Axel seakan-akan bisa membaca pikiranku, ah ya, mungkin kali ini dahiku transparan.
Aku mendengus. Axel semakin menjadi-jadi.
"Kamu habis diputusin sama cowok kamu ya?" Katanya sambil menyendok mie instannya.
"Hei. Dasar sok kenal sok deket" ucapku datar. Axel terdiam. Mungkin malu.
"Haha, kantongin tuh muka. Sok kenal banget. Mending kalo kenal, cih" kali ini aku membalasnya.
"Kita kan emang pernah ketemu Luna" tukasnya, ia menyebut namaku. Hah tetap saja sok kenal.
"Trus, kalo kita pernah ketemu, aku langsung bisa kenal sama kamu gitu?" Ucapku kesal.
"Yaudah. Nama aku Axel. Nama kamu Luna kan?" Kata Axel sambil menyodorkan tangan kanannya. Cowok ini sudah gila (mungkin).
Aku kesal, dia membuat selera makanku hilang, aku mengerenyitkan dahi dan marah. Aku meninggalkannya dan pergi keluar. Duduk dimeja makan depan minimarket. Untung saja sepi.

Karyawan minimarket pasti sedang menontonku, memalukan. Seperti seorang gadis yang sedang merajuk pada pacarnya.  Menjijikan.
dan ternyata Axel menyusulku. Kali ia duduk didepanku, aku memasang tampang kusut. Sungguh, Axel membuat mood  soreku hancur berantakan.
"Hei. Jangan marah dong. Sorry" kata Axel membujukku. Tidak mempan.
Aku mendengus beberapa kali. Kalau aku pergi, dirumah juga gak ada orang. Jadi makin membuatku bete.
"Hei Luna. Sorry, aku gak maksud ngeledek kamu kok.." katanya. Akhirnya aku mau melihatnya, melihat senyumnya, dan ternyata senyumnya cukup manis.
"Kamu itu... udah sok kenal tapi sok tau banget. Pake ngatain aku habis diputusin pacar lagi, udah jelas kalo aku............." aku berhenti, jika aku teruskan, sama saja mempermalukan diriku sendiri didepan si tengil ini.
"Ah, kamu gak punya pacar?" Kata Axel tersenyum geli. Kemudian ia tertawa. Lucu gitu?
"Ehem. Sorry deh. Sorry ya?" Pinta Axel. Aku bersedekap.
"Kamu anak 8-1 kan?" Tanya Axel.
"Eheuh" kataku. Ia mengangguk.
"Gimana, sebagai permintaan maaf, aku anterin kamu pulang?" Katanya. Aku berpikir keras.
"Nggak. Gak usah. Rumahku deket kok" kataku. Axel mengerenyitkan dahi.
Lagian, aku baru kenalan sama Axel tadi. Meskpun ia teman sekolahku, tetap saja aku curiga.
"Nggak usah mikir yang ngggak-nggak deh tentang aku. Aku nggak akan nyulik kamu kok" Axel tau apa yang ku pikirkan. Sialan.
"tetep aja aku nggak percaya sama kamu. Tampang kamu itu sulit dipercaya" cibirku.
Axel tertawa keras, sumpah, ia membuatku malu.
"Kamu itu lucu banget ya Luna.." kata Axel tersenyum geli. Aku mendengus
"Yuk" Axel bangkit dan mengajakku pulang.
"Nggak. Aku bisa pulang sendiri" kataku sambil bangkit dan pergi meninggalkan Axel. Tak lama, derum motor menyusulku. Ternyata Axel membawa Ninja hitamnya.
"Kamu bawa motor?" Kataku heran.
"Ayo, cepet naik!" Ajak Axel.
"Kamu kan belum cukup umur, ngapain bawa motor? Nggak ah! Aku gak mau pulang sama kamu!" Kataku kesal.
"Hey, ayolah. Jangan mempermalukan dirimu sendiri.  Lihat,  orang-orang menontoni kita!" Kata Axel tak sabar.
Aku melihat ke seberang jalan, memang aku bahkan melihat musuhku diseberang, mukanya kusut.
Akhirnya aku naik ke belakang Axel, terpaksa aku memegang pinggangnya, karena motornya ngebut.
Rumahku masih tetap sepi, mama dan ayah masih diluar. Ya, sebenarnya aku malas pulang. Aku turun dari motor Axel, lalu aku melihat anak cowok duduk dininja merahnya, memakai jaket varsity hitam, dan terlebih lagi wajahnya, wajahnya kusut.
"Rizal?"
"Hai kak. Kemana aja?" Tanyanya sinis
"Tadi, eh, anu"
"Aku nungguin kaka udah sejam, kaka nggak baca sms aku?" Tanyanya ketus.
Yaampun! Aku lupa, hpku tertinggal didalam rumah!
"Hpku ketinggalan didalem, maaf.. aku gak....."
"Kak, disekolah kan aku bilang mau kerumah, harusnya kakak inget dong. Bukannya kaya gini, malah jalan-jalan sama dia" kata Rizal kesal.
Rizal memakai helmnya, dan menghidupkan motornya.
"Rizal. Maafin aku.." kataku lirih. Rizal pergi tanpa mengeluarkan sepatah katapun.

"Itu cowok kamu ya?"
"Kayaknya, dia lebih muda dari kamu. Oh iya, aku pernah liat dia diarea junior" tukas Axel datar.
"Dia emang junior. Kelas 7" kataku cengo.
"Ckck.. mestinya kamu cari cowok yang seusia, bukannya lebih muda dari kamu. Liat aja tadi. Baru nunggu sejam aja udah ngambek. Childish" kata Axel sok.menyebalkan.
"Apa urusannya sama kamu? Ohiya, dia bukan cowokku. Ngerti?" Kataku ketus
"Ya, tapi dia gebetanmu" tukas Axel .

Ya, Rizal memang gebetanku. Memang.
***

No comments:

Post a Comment