Sunday, April 13, 2014

Like you (part 3)

"Al.." lirihku. Aku masih bingung dengan kejadian tadi, kejadian yang membuatku tidak mengerti.
"Hm?" Balas Ali dengan suara bass-nya. Kali ini ia melihatku melalui kaca spion.
"Berarti.. tadi itu, kamu bawa narkoba?" Kataku pelan dan tidak yakin,  dengan wajah sedikit memiringkan bibir dan menyipitkan mata.
Pertanyaanku diambangkan begitu saja, Ali terdiam. Kali ini ia menyetir motornya dengan cepat. Aku terpaksa memegang pinggangnya. Huh.

Ternyata Ali menghentikan motornya disebuah cafe, entah apa maksudnya ia membawaku kesini.
"Mau pesen apa?" Tanya Ali padaku
"Samain aja," kataku datar, aku memang sangat tidak mengerti kali ini. Disaat pelayan itu pergi, Ali duduk disebelahku.
"Al. Pertanyaanku belum dijawab!" Kataku kesal, aku mengernyitkan dahi, aku sangat kesal Ali memperlakukanku seperti ini, padahal, ia hampir membuatku mati.
"Lo pengen tau banget? Sepenasaranya elo sama gue?" Kali ini Ali bertanya balik.
"Gini ya Lana cantik. Gue emang bawa narkoba tadi" kata Ali datar, tapi pelan, agar tidak ada yang mencurigainya. Aku menganga dan tak habis pikir, kenapa aku bisa kenal dengan Aliando si anak berandalan ini.
"Ceritanya panjang, intinya, gue gak seperti apa yang lo bayangkan" kata Ali menatap mataku dalam-dalam.
"Maksud kamu?" Ucapku pura-pura tidak tahu.
"Ya, intinya gue gak make barang haram itu." Jelas Ali, ia mulai merogoh saku celananya dan mulai menyiapkan korek.
"Please, jangan ngerokok. Kamu bikin aku gak nyaman" kataku pelan dengan agak sedikit memelas. Akhirnya, Ali mengurungkan niatnya untuk menghisap rokok didepanku.
"Trus,  kalo kamu gak pake barang itu, tapi kenapa kamu ngasih ke orang-orang tadi?" Tukasku lagi. Raut wajah Ali sedikit kesal, mungkin aku terlalu kepo.
"Gue terpaksa cerita ke elo, karena lo maksa minta gue cerita. Jadi gini Lana, sebenarnya,  Ayah gue juga pecandu narkoba. Ayah jadi sakau, ayah jadi gila apalagi setelah nyokap gue minta cerai. Ayah tambah stres aja. Dia beli banyak barang itu, buat nenangin dirinya sementara. Tapi gue gak tega, liat ayah yang makin hari makin parah. Badannya kurus apalagi sekarang wajahnya, setiap liat dia gue ngerasa kalo gue ini anak durhaka" Ali mulai bercerita, dari raut wajahnya Ali benar-benar jujur.
"Karena gue gak mau liat ayah terus menderita kaya gitu. Gue menjual sebagian punya dia, mungkin gue bakal jual semuanya, dan gue bakal berusaha semaksimal mungkin buat nyembuhin ayah. Ya kalo gak bisa, gue bawa dia ke rehabilitasi. Mungkin itu jalan satu-satunya." Kata Ali dengan nada suara yang mulai merendah. Setelah mendengar cerita Ali, hatiku luluh. Dibalik sikap Ali yang serampangan dan berandalan itu, dia sama sekali tidak berengsek. Dia bahkan tidak mau mencoba barang haram itu, padahal ada banyak dirumahnya.
"Sekarang lo udah puas denger cerita gue?" Celetuk Ali disaat aku sedang melamun memikirkannya.
"Eh.. aku gak nyangka" kataku sambil menopang dagu.
"Maksud lo?" Tanyanya.
"Ternyata perkiraanku salah. Kamu, gak seberengsek apa yang kupikirkan." Kataku sambil menahan tawa. Ali menaikkan Alisnya.
"Seberengsek apapun gue, gue gak mau kaya Ayah gue. Mati sia-sia dengan obat-obatan terlarang. Dan, gue gak sebodoh itu" jelas Ali.
"Tapi,  merokok justru bikin kamu perlahan merusaki diri kamu sendiri." Ucapku. Sambil menyeruput Greentea Blendedku.
"Ayolah, ayahku mati gara-gara rokok. Jadi aku benci banget sama orang yang merokok." Kataku singkat. Ali melotot.
"Ayah lo meninggal?"
"Ya, tepatnya waktu aku masih kelas 3 SMP," aku menyandarkan tubuhku ke kursi. Ali mungkin tak habis pikir.
"Kenapa ini acara jadi curhat?" Ali tersenyum jail kepadaku. Aku tersipu.
"Hahahah" aku tertawa, tapi entah kenapa aku merasa aku sudah sangat dekat dengan Ali. Padahal aku baru mengenalnya 4 hari yang lalu, tapi sudah banyak kejadian yang aku lalui bersamanya. apa artinya ini? Apa aku menyukai Ali? Tapi kenapa?
Entahlah

***

No comments:

Post a Comment