"Woy!" Teriak segerombolan pemuda diujung sana. Entah untuk siapa teriakan itu, tapi.. dibelakangku tidak ada siapa-siapa. Mereka mulai berjalan mendekatiku, ada yang membawa kayu ada pula yang membawa golok. Tubuhku gemetaran, aku semakin takut, kulihat mereka hanya ada 5 orang, setelah kulihat lebih dekat, mereka berjumlah 7 orang. pertanyaanku saat ini adalah, "aku harus kemana dann bagaimana?" Entahlah. Aku membeku, bibirku bergetar hebat, aku takut sekali, sangat takut.
"Mana Ali?" Teriak salah satu dari mereka, sepertinya ia adalah ketuanya.
"Ah?" Aku bingung, kali ini aku dikepung 7 orang, laki-laki pula. Bibirku bergetar hebat.
"Ng-------" aku gelagapan. Peluhku menetes, kali ini rasanya aku ingin pingsan.
"Eh, dimana Ali? Cepet jawab! Gue bacok nih!" perkataannya membuatku kali ini ingin pingsan, ia ingin membunuhku. Tapi mereka bertanya tentang Ali? Memangnya apa hubungannya denganku?
"Eh, ak... akuu gak tau" kataku dengan tampang hampir menangis. Memangnya ada apa dengan Ali? Dan kenapa mereka menanyaiku dimana Ali?
"Eh, jangan bohong lu! Gue ada hal penting sama dia, jadi tolong kasih tau dimana Ali" ucap cowok yang paling belakang, bicaranya lemah lembut, tapi jika ia bergabung dengan orang-orang menyeramkan ini, sama saja seperti yang lainnya.
"Aku gak tau dimana dia sekarang, tapi kenapa kalian nanya sama aku" ucapku memberanikan diri, walaupun kepalaku sudah pusing.
"Boss, mending kita culik nih cewek. Banyak banget gayanya, pake nanya balik lagi bos" ucap cowok yang disebelah kanan ku. Wajahnya psikopat.
"Gue disini" celetuk Ali santai, ia berdiri dibelakang gerombolan itu.
"Sialan lo! Nyari mati sama gua?" Teriak yang satu lagi, kali ini dia megang kayu.
"Balikin tuh cewek, atau nggak ni barang gak bakalan gue kasih" kata Ali sambil mengacungkan tas kecil berwarna coklat. Aku lihat semua cowok-cowok itu melongo.
Tapi, apa isi tas itu?
"Malah bengong. Mau gak? Lo lebih milih cewek tengil itu daripada ini?" Kata Ali sambil menunjukan tas itu lagi.
"Pergi lo!" Kata bos dari rombongan itu, ia menyuruhku pergi.
Aku berjalan dengan cepat menghampiri Ali, ku pegang tangannya, aku takut sekali tadi.
Ali melemparkan tas itu kepada mereka, mereka menangkapnya. Ada yang tersenyum, ada pula yang cemberut.
"Oh iya. Satu lagi, jangan lo ganggu dia lagi. Kalo lo perlu sama gue, jangan ganggu dia." Kata Ali dengan mata sinis, aku masih memegang tangannya. Eh, tapi kenapa aku pegang tangannya?
Ali menuntunku ke motornya, aku bingung, kenapa ia dengan santainya menghadapi 7 orang beringas tadi.
"Makanya, jalan jangan sendirian." Kata Ali datar.
Aku kesal dan aku cemberut, padahal ini gara-gara dia.
"Sorry, jadi elo yang kena imbasnya. Untung gue dateng" katanya sambil menatapku.
"Eh, lo megang tangan gue?" Seru Ali menunjuk tanganku yang masih erat memegang lengannya. Spontan aku langsung melepasnya. Aku malu setengah mati.
"Gak usah malu, itu wajar kali, kalo lo takut. Sekali lagi sorry ya, gara-gara gue tadi lo digangguin sama mereka"
Aku mengangguk, "trus mereka siapa?" Tanyaku.
"Mereka itu pecandu narkoba, nih pake" kata Ali datar, sambil menyodorkan helmnya kepadaku, tak kusangka ia membawa helm dua.
"Pecandu narkoba? " kataku melotot. Berarti mereka orang-orang yang berbahaya.
"Ya, Cepet naik, sebelum mereka ngejar kamu" ledek Ali.
Ali memang sosok yang sangat misterius, aku pun dibuatnya penasaran setengah mati.
***
No comments:
Post a Comment