Monday, July 6, 2015

Dear Luna (3)

"syukurlah kalo kamu udah baikan," Ungkap Sarah sambil tersenyum kepadaku.
Sarah. Ya Sarah, dia adalah gadis berambut panjang, dengan bola mata hitam pekat, bertubuh tinggi dan langsing. Dia emang enak dipandang, apalagi dia orang yang baik. Tak salah kalau aku menjadikannya sahabat.
Aku tersenyum hambar, "ya begitulah. Butuh waktu yang gak sebentar buat ngilangin pusingnya"
Sarah menatapku iba, "yang penting, kamu udah sadar kan..."
"tadi aku bilang sama Pak Ghani, kalau kamu dihukum lagi, kamu gak akan dihukum untuk menghadap tiang bendera, tapi, disuruh bersihin wc"
Aku terbelalak, "oh iya?"
Sarah mengangguk. "mending mana? Dijemur atau bersihin wc?" tanyanya iseng.
Aku mengerenyit, "dua duanya gak gak ada yang bagus,"
Sarah tertawa pelan, "makanya, jangan sampe dihukum lagi" katanya sambil menepuk tanganku.
"oh iya, Raihan mana?" celetukku kemudian.
Alis Sarah bertaut, "gak tau tuh,"
"emangnya kenapa?"
"nggak. Tadi itu aku lupa bilang makasih ke dia." jawabku menyesal.
Mulut Sarah membentuk huruf o "oh, kan nanti bisa kok, waktu pulang,"
Aku mengangguk. Betapa bodohnya aku, aku jadi lambat berpikir gara-gara pingsan tadi. Pasti Raihan sudah kecewa kepadaku. Nanti yang ada dia mengira kalau aku bukan orang yang tidak tau terimakasih.
Bel masuk membuyarkan lamunanku. Sarah akhirnya menuntunku untuk turun dari kasur dan merangkulku sambil berjalan.

***

"Raihan!" teriakku saat ia berjalan ke arah motor gedenya itu. Ia terdiam sebentar, lalu menoleh.
"apa?" tanyanya jengkel.
"aku minta maaf,"
"minta maaf buat apa?"
"minta maaf karena udah ngerepotin kamu, sampe repot-repot ngegendong aku,"
"aku gak ngegendong kamu, tepatnya, aku nyeret kamu" ucapnya santai.
Aku jengkel, "ya apapun itulah, aku minta maaf kalo aku udah nyusahin kamu"
"kamu emang selalu nyusahin,"
"sebenernya kamu mau maafin aku gak sih?" Ucapku kesal.
"ya, permintaan maaf kamu aku terima," katanya sembari duduk dijok motornya. Lalu memakai helmnya dengan cepat.
"eh tunggu!" pekikku pelan. Ia terdiam lalu menatapku
"apa lagi?"
Aku gelagapan, "sebelumnya, makasih udah mau nolongin aku,"
Raihan terdiam masih dengan menatapku serius.
"yaa"
Aku tersenyum, kalau begini hatiku kan lega.
Ia menghidupkan mesin motornya, "jangan lupa, nanti periksa ke dokter"
Aku mengangguk pelan. "yaudah, aku pulang dulu" aku tersenyum tipis, lalu ia melajukan motor gedenya itu dengan kencang. Aku menatap motornya yang semakin hilang dari pandanganku.

***

Rumahku sepi. Ka Dika belum pulang juga. Alhasil seperti biasa aku sendirian Dirumah. Hm, gak apa-apa toh aku setiap hari sendirian begini.
Aku melempar tasku ke sofa. Aku duduk disofa yang empuk berwarna merah marun. Aku menatap langit-langit rumahku yang sangat luas dan dihiasi lampu besar yang mewah. Terkadang aku bosan dengan semua ini. Untuk apa aku punya rumah mewah kalau hanya aku dan kakakku yang tinggal disitu. Sedangkan papa, ia memang pulang ke rumah ini, tetapi aku sama sekali tak merasakan kalau papa masih berada dirumah. Menyedihkan bukan?
Lupakanlah tentang papa.
Belakangan ini aku dibuat kesal dengan pria tua itu. Sebenarnya usia papa masih dibilang muda, tapi aku lebih nyaman memanggilnya begitu.

Seminggu sebelumnya ia bilang padaku dan ke ka Dika, kalau ia akan memperkenalkan kekasihnya yang baru itu. Aku sama sekali tidak setuju. Untuk apa dikenalkan ke ke aku dan ke ka Dika, memangnya penting?
Ternyata papa masih menganggap anaknya. Tapi tetap saja aku takkan mengijinkan pria tua itu menikah lagi. Aku tidak sudi punya ibu tiri. Sejauh ini hidupku sudah menderita, apalagi dengan adanya ibu tiri. Bisa-bisa aku sama sekali tidak diizinkan bahagia.

Seperti biasa aku dan ka Dika debat dengannya. Protes marah-marah karena tidak setuju. Tapi pria tua itu santai saja, ia justru tidak peduli. Yang penting dia menikah dan punya istri baru.
Lagian, perempuan itu adalah selingkuhan papa yang kesekian kalinya, mungkin saja perempuan itu hanya ingin kekayaannya saja. Bukankah kebanyakan ibu tiri begitu?

Tiba-tiba aku teringat perkataan Raihan tadi yang menyuruhku check up ke dokter. Sebenarnya aku juga bingung pada diriku sendiri, seharusnya diusiaku yang sudah cukup ini, kelemahanku seharusnya berkurang. Tapi, kelemahanku masih saja terjadi. Aku menunggu ka Dika pulang dari kampus saja, karena, tidak mungkin kan aku minta diantar oleh Raihan?

***

"udah baikan?" celetuk Raihan terdengar jelas ditelingaku.
Aku kaget lalu menoleh ke asal suara itu. Ternyata Raihan berada dibelakangku, yang Anehnya, aku sama sekali tidak mendengar langkah kakinya berjalan.
"ngagetin aja!" bentakku kesal.
Ia tertawa, "habisnya kamu jalan sambil bengong begitu, kenapa? Ada masalah?"
"setiap orang pasti punya masalah kan?" ucapku judes. Raihan tersenyum.
"ya kali aja aku bisa bantu." katanya datar sambil berjalan disampingku. Kami berdampingan.
"ehem. Sejak kapan Raihan mulai peduli sama Luna?" sindirku iseng. Mendengar itu Raihan terdiam dan gelagapan.
"eng.. Bukan begitu, akukan sebagai temen kamu seharusnya bisa membantu... Iya kan?" katanya cepat. Wajahnya memerah.
"oh Syukurlah, masih ada yang peduli sama aku haha"
Raihan menatapku aneh, memangnya ucapanku salah?
"kenapa?"
"nggak." jawabnya sambil memalingkan wajahnya.
"wajah kamu, merah..." ucapku sambil menatap wajahnya dengan seksama. Entah kenapa aku merasa Raihan seperti menahan sesuatu saat aku mencondongkan tubuhku ke arahnya, wajahnya pun semakin memerah.
"apaan sih" Raihan menjauh beberapa meter dariku.
"kamu sakit?" tanyaku keheranan. Raihan semakin gelagapan tidak menentu. Tingkahnya pun aneh.
"sakit apa? Aku baik-baik aja kok,"
"yakin?"
"iya.. Iya aku ya..yakin"
"oke kalo gitu,"

***

Sarah menjitak kepalaku. Hei, apa-apaan ini?
"apaan sih?" bentakku kesal sambil mengusap Kepala.
Sarah tertawa dan menatapku centil, "lagi ngelamunin siapa hayo?"
Aku memutar bola mataku jengkel, "kepo. Mau tau aja"
Sarah mengerenyit, "ih, yaudah kalo gamau cerita," katanya bangkit dari kursi dan berjalan keluar. Bukan aku tidak ingin menceritakannya, tetapi, belum tepat waktunya jika aku menceritakannya sekarang.

Raihan berjalan dari belakang ke depan, lalu ia duduk dibangku milik Fani temanku yang duduk didepanku. Lalu ia menghadap ke arahku.
"Sarah kenapa?"
"gak tau, tanya aja sendiri" jawabku sedikit ketus. Itu karena aku masih kesakitan gara-gara dijitak Sarah. Anak itu kalau sudah main tangan pasti menyebalkan.
Raihan manyun.
"nanti pulang sekolah mau ikut ke toko buku?" tawarnya kemudian.
"hhmmm, ka Rihani lagi disana ya?"
"iya, hari ini dia lagi ngepromosiin novelnya yang baru. Kamu tau kan?"
Aku terdiam sebentar. Ka Rihani baru saja merilis novel baru yang berjudul "happiness come to you".
"yap! Aku tau aku tau! Novel ka Rihani emang seru dan gak usah ditanyakan lagi."
Ya, Rihani Safira. Gadis berusia 20 tahun itu adalah seorang penulis terkenal. Novel-novelnya selalu laku dipasaran, itu karena ceritanya yang bagus bahkan menyentuh hati. Apalagi, ka Rihani emang sangat mengerti perasaan anak muda sekarang, aku saja sudah mengoleksi bukunya. Dan ia adalah kakaknya Raihan Febrian. Semua orang-orang disekolah udah tau itu.
"jadi, mau gak?" tanyanya lagi.
"mau mau! Lagipula aku belum pernah ketemu langsung sama ka Rihani"
Raihan tersenyum.

***

Diluar dugaanku, toko buku yang ku datangi ramai sekali. Itu pasti karena ka Rihani, ia kan sedang mempromosikan buku barunya.
Raihan berjalan disampingku, ia pun celingukan karena nggak bisa melihat kakaknya sendiri.
Tiba-tiba ia menarik lenganku ke arah kerumunan orang-orang, akhirnya kami berdua bisa menerobos kerumunan itu.
Aku mendapati ka Rihani yang sedang diwawancara, ia sangat cantik. Ka Rihani memakai dress berwarna pink muda dengan renda-renda yang sangat manis, rambutnya yang panjang sepunggung dibiarkan begitu saja.
Aku takjub melihatnya, karena ini pertama kalinya aku melihat ka Rihani secara langsung.
Raihan menoleh ke arahku, lalu tersenyum geli.
"kakaku cantik kan?"
"banget."
"siapa dulu, adiknya" katanya sambil membanggakan diri.
"hih"

Setelah menunggu lama, akhirnya aku dan Raihan bisa menemui ka Rihani.
"ka, kenalin ini Luna"
Ka Rihani tersenyum ke arahku, aku langsung menyodorkan tanganku dan dia menjabatnya.
"pacar kamu ya?" ucapnya kepadaku dam Raihan. Aku terbelalak kaget, dadaku mendadak sesak. Begitupun Raihan, ia sangat terkejut mendengar ucapan kakaknya itu.
"ng.. Bukan. Dia bukan pacarku"
"dia temanku," lanjutnya sambil gelagapan.
Ka Rihani tersenyum geli, ia mengangguk.
"oke, oke maaf, aku lupa kalo adikku jomblo" ungkapnya menahan tawa
Raihan memberengut bahkan menatap tajam ke kakaknya. Ka Rihani terdiam.
"maaf. Oh iya, Luna. Senang bisa kenal sama kamu" katanya sambil tersenyum ke arahku. Aku membalasnya.
Aku langsung mengacungkan buku novel terbaru ka Rihani dengan tanganku, "boleh minta tanda tangan kakak? Aku suka semua buku kakak,"
Ka Rihani mengambil buku dari tanganku lalu mulai membuka halaman pertama. Setelah itu ia menulis sesuatu dengan pulpennya.
"terimakasih," ucapnya ramah sambil mengembalikan bukuku.
"oke, ohiya Raihan, ada yang mau kamu omongin? Aku mau break dulu sebentar. Kamu mau ikut makan siang sama aku?"
Raihan menggeleng pelan, "nggak, aku harus mengantar Luna pulang."
"ah nggak usah. Aku bisa pulang sendiri, kamu makan aja dengan ka Rihani.." aku merasa tidak enak.
"kalau begitu kita makan siang bareng aja," tawar ka Rihani. Aku melihat ekspresi Raihan yang kaget dan melotot ke arah kakaknya itu, aku diam saja.
"kali ini aja..." bisik ka Rihani memelas ke adiknya itu.
Raihan mengangguk lemas. Setelah itu ka Rihani tersenyum lebar.
"ayo! Aku udah laper!!" teriaknya sambil menarik tanganku.

***

"kemana aja?" tanya ka Dika saat aku baru sampai rumah. Ia menatapku sinis sambil melipat tangan.
"habis jalan-jalan," jawabku santai. Aku tahu ka Dika sedikit kesal karena seharusnya aku pulang lebih dulu dan menyiapkan makanan, tetapi aku pulang pukul tujuh dan seharusnya aku sudah memasak makan malam untuknya.
"kamu gak pernah pulang semalem ini," ketusnya sambil menghampiriku.
"handphone kamu juga gak aktif. Mau jadi anak nakal ya?"
Aku mengerenyit, "tadi jalanan macet, padahal aku pulang sore hari, tapi kakak tahulah macetnya kota Jakarta seperti apa. Handphone aku juga mati karena habis batre. Tolong maklum lah ka, aku minta maaf sebelumnya," jawabku pelan.

Aku tahu kalau ka Dika sangat mengkhawatirkan aku. Karena dia sayang kepadaku, dan ka Dika lah yang menjalankan amanat dari mama. Kalau ia harus menjagaku dan harus mendidiku dengan baik. Aku tahu itu, tetapi sungguh. Jalan-jalan ke toko buku tadi membuatku lupa waktu.
Apalagi ka Rihani mengajakku makan siang bersama. Dan dia sangat banyak menceritakan pengalamannya dan Kehidupannya. Terlebih lagi ia menceritakan tentang Raihan. Aku tak bisa menggubrisnya karena segala tentang Raihan sangatlah menarik.

"aku minta maaf ya kak," ucapku sekali lagi.
Ka Dika menghela nafas panjang. "lain kali, jangan kaya gitu"
Aku mengangguk pelan.

Hari ini cukup Menyenangkan, karena biasanya hidupku selalu Membosankan.









No comments:

Post a Comment