Sunday, July 5, 2015

Dear Luna (2)

"Dimana aku?" Pekikku saat mulai tersadar bahwa aku bukan dilapangan lagi, tetapi disebuah ruangan yang menyeramkan dan baunya sangat tidak enak.
Aku menatap langit-langit ruangan itu bingung, langit-langit itu bercat putih dan mulai memudar.
"Hello kitty udah bangun ternyata," sinis Raihan sambil  bangun dari sampingku. Ternyata ia menungguiku sampai tertidur. Ia menatapku jengkel.
"Kamu nungguin aku?" Tanyaku pura-pura bodoh.
"Pertanyaan macam apa itu? Jelas-jelas aku disini. Nungguin kamu sampe akhirnya akupun ketiduran,"
Aku terdiam dan bangun dari posisi tertidur. aku mengambil posisi duduk sambil memegangi kepalaku yang masih sedikit pusing.
"Kamu itu keras kepala sih."
"Kan tadi aku bilang, kalo nggak kuat ke UKS aja."
"Akukan terpaksa mau gak mau harus ngegotong kamu kesini. Huh" keluhnya sambil cemberut. Aku diam saja, mencoba mengingat kejadian sebelumnya.
"Hey! Aku ngomong sama kamu tau! Kalo orang lagi ngomong itu diperhatiin bukannya bengong!" Bentaknya sambil menatapku sinis. Sepertinya ia kesal karena telah menggendongku sampai ke UKS. sebenarnya simpel saja, kalau ia tidak mau peduli padaku, biarkan saja aku pingsan disitu. Tetapi, aku tau Raihan. Dia orang yang baik. Tidak mungkin membiarkan seorang temannya pingsan dilapangan.
"Maaf." Ucapku singkat sambil mengusap leherku. Aku juga merasa bersalah karena sudah membuatnya repot.
"Maaf aja?" Ketusnya dengan mata yang membulat. Sepertinya ia kaget dengan ucapan minta maafku.
"Ya.." jawabku pelan.
Raihan mengerutkan dahi. Matanya sinis tetapi masih terlihat ada kebaikan dibola matanya itu.
"Ngomong-ngomong, kamu masih pusing?" Celetuknya memecah keheningan setelah terdiam cukup lama.
"Sedikit. Tapi udah nggak terlalu,"
"Baguslah." Ucapnya sambil memalingkan wajah. Ia menatap ke arah pintu UKS yang terbuka.
"Kamu udah sering begini. Apa kamu gak periksa ke dokter?" Tanyanya kemudian.
Aku terdiam sebentar. Dulu sewaktu aku kecil saat usiaku 7 tahun, dokter hanya bilang kalau aku tidak kuat berada dibawah sinar matahari langsung dalam waktu lama. Setelah itu dokter tersenyum padaku dan tidak mengatakan apa-apa lagi.
"Sudah. Tapi nggak apa-apa," jawabku sedikit ragu.
"Kapan?"
"Udah lama sih.. waktu aku kelas 2 SD"
alis Raihan bertaut dan menatapku aneh. Memangnya salah ya?
"Kamu terakhir periksa waktu kelas 2 SD?" ulangnya dengan nada meninggi.
Aku mengangguk.
"Dan sekarang kamu udah 17 tahun,"
"Kamu gak ngerasa aneh gitu?"
"Nggak tuh," jawabku santai.
"Kalo ada apa-apa gimana?" Celetuknya. Aku sempat bertanya pada diriku sendiri, benar juga, kenapa aku masih menganggap enteng kelemahanku ini?
Aku terdiam merenung. Raihan pun geram akhirnya bangkit dari bangkunya.
"Kalo kamu udah baikan, yaudah aku ke lapangan lagi." Katanya kemudian lalu pergi tanpa menoleh kearahku lagi.
Sedangkan aku, aku masih duduk terdiam dikasur. Menerawang dan memikirkan pertanyaan Raihan yang tadi.
Semoga saja, kelemahanku ini bukanlah gejala apa-apa. Semoga saja.

-Continued







No comments:

Post a Comment