"ka? jadian yuk?" celetuk Rizal tiba-tiba.
Diandra kaget setengah mati mendengar itu, kini ia merasakan jantungnya mau copot.
"yang bener?" tanya Diandra dengan mata melotot dan wajahnya yang memerah. bagaimana tidak, daridulu ia sudah menginginkan adik kelasnya itu.
"ya bener lah ka." katanya memasang tampang serius.
"seriusan nih?" tanya Diandra sekali lagi, untuk meyakinkan bahwa Rizal tidak bercanda soal ini.
"iya serius lah. masa bercanda sih."
Diandra terdiam. kini ia berpikir keras. badannya kaku dan panas. air mukanya berubah menjadi kemerahan. tetapi ia mencoba terlihat biasa dihadapan adik kelasnya itu.
"mau gak?" ajak Rizal lagi.
"iya mau." Diandra tersenyum.
"oke." Rizal tersenyum manis dan hampir membuat Diandra ingin pingsan.
betapa singkatnya kejadian itu. hal yang paling ditunggu-tunggu Diandra dalam hidupnya, hal yang selama ini dia cantumkan disetiap doanya, hal yang selama ini ia harapkan dalam hidupnya kini terkabul sudah. mimpinya yang ingin Rizal mengajaknya pacaran sudah terkabul. Diandra tidak percaya. apakah ini mimpi?
***
"Din."
"apaan?" jawab Dina sambil menaikkan sebelah alisnya.
"gue jadian sama Rizal."
"ah masa? cieeeeee" respon Dina sangat biasa setelah mendengar itu. Diandra mengerutkan dahinya.
"kok lo biasa aja sih?"
"dari kemaren gue udah punya firasat sih..... hehe, jadi ya gue gak terlalu kaget denger itu."
"pantesan.. gak nyangka mimpi gue selama ini kejadian juga. gue masih gak percaya Din."
"cie cieeeee, selamat yaa. tapi, lo yakin dia serius sama lo?" celetuk Dina tiba-tiba.
"nah itu Din, gue gak percaya aja gitu. bukannya selama ini Rizal kayanya cuek-cuek aja ya selama ini. ya kaya yang ga peduli gitu sama gue. tapi semenjak seminggu ini dia ngedeketin gue lagi."
"hmm, jadi lo kayanya gak usah terlalu seneng dulu. takutnya, Rizal cuma main-main sama lo."
"gue harap gak kaya gitu Din ya. semoga.."
***
"lagi apa cantik?" tanya Rizal lewat bbm. ia mengechat Diandra. sontak Diandra yang baru pulang sekolah dengan lesunya, langsung semangat membalas sms dari pacarnya itu.
"baru nyampe rumah hehe." balas Diandra.
"ohh, jangan lupa makan ya"
"iya, kamu juga jangan lupa ya"
percakapan manis itu mulai membuat Diandra dan Rizal lupa waktu.
***
sehari pun dilewati Diandra menyandangi status berpacaran dengan adik kelasnya yang dari dulu ia incar yaitu Rizal. sehari biasa saja, besoknya pun. masih seperti biasa. canda tawa, kata-kata manis dari doi, menanyakan kabar dan saling menyemangati. tetapi, kini Rizal hilang bak ditelan bumi. tidak ada kabar darinya satupun. ini membuat Diandra kesal. tapi ia mencoba maklumi.
sampai akhirnya Rizal muncul dihandphonenya.
"kemana aja?"
"maaf tadi habis futsal."
"kenapa gak bilang? kenapa gak ngabarin?" Diandra kesal.
"iya maaf Dee. maaf ya"
"harusnya ngabarin dulu, daritadi aku nungguin kamu tau gak"
pesan itu hanya dibaca saja oleh Rizal. entah apa maksudnya ia hanya membacanya saja, tidak membalasnya.
"sialan. diread doang."
Diandra terus menge-PING Rizal, tetapi hasilnya belum dibaca. ketika menunggu 2 jam, dibaca juga. tapi sialnya, tidak dibalas.
"ni orang maunya apa sih" Diandra membanting hpnya ke kasur.
***
dari kemarin, Rizal menghilang lagi. tidak ada kabar sama sekali. Diandra sedih dan kecewa. sebenarnya, apakah Rizal serius padanya? atau hanya main-main saja? entahlah. disekolah pun, mereka tidak bertemu. sebenarnya Diandra ingin sekali mendatangi kelasnya, tapi ah. Diandra tidak mau terkesan sangat membutuhkan Rizal.
hari demi hari berlalu, sama saja. tidak ada kabar sampai 5 hari. apa maksudnya ini?
"anter ke kantin yuk Din" ajak Diandra. Dina mengangguk.
"bi beli jus mangganya dong. esnya dikit aja ya." kata Diandra sambil memesan jus buah.
"bagi-bagi dong Zal." celetuk Dina sambil tersenyum ke Rizal yang sedang berjalan membawa mangkuk Mie Ayam.
Rizal hanya tersenyum. Diandra terpaku, ia menoleh ke belakang, ternyata didapatinya Rizal pacarnya itu. ia semakin bingung.
"ada gue pun, dia tetep cuek. maunya apa sih ni orang?" batin Diandra.
melihat ekspresi wajah Diandra, Dina menjadi kesal. "biar gue panggilin ya tuh anak."
"NGGAK! GAK USAH!" teriak Diandra pelan. ia sambil menarik tangan Dina yang hendak mendatangi Rizal. Dina tetap bersikeras untuk pergi, akhirnya Diandra mencubit tangannya dengan keras.
"awwww! sakit!"
"gue bilang gak usah ngerti!"
"Rizal! ini Diandra, gimana sih?" ucap Dina cuek.
yang dipanggil diam saja. seperti tidak mendengar apa-apa.
"tuhkan lo liat sendiri. dia diem aja. yaudah lah. kita ke kelas aja!" kata Diandra kesal.
"jadi gini mau lo sekarang? oke, gak papa. kalo mau gini, tapi gue masih berbaik hati sama lo. gue tunggu sampe seminggu. kalo lo masih tetep kaya gini. kita udahan aja" batin Diandra.
kalo iya mimpi gue terkabul, seharusnya gak kaya gini, seharusnya berjalan dengan baik. kenapa cuma gue sekarang yang berjuang? kenapa cuma gue sekarang yang merasa semua gak adil? kenapa lo ngasih harapan ke gue kalo elo cuma mau ninggalin gue? kenapa?--
No comments:
Post a Comment