Tuesday, June 24, 2014

Adelia-2


“ku takkan pergi
Bila kau anggap aku ada
Hanya mencintamu aku bisa
Takkan kusesali,
Hidup tanpamu aku bisa
Akan hanya cintamu
Yang kubawa pulang”

Gadis ini manis. Matanya indah berwarna coklat. Rambutnya panjang terurai berwarna hitam pekat. Hidungnya mancung turunan kedua orang tuanya, alis yang penuh dan tebal, bibir yang mungil dan berwarna merah muda. Itulah Adelia. 

Sudah sebulan, mamanya pergi. Tinggal dirumah sebulan tanpa mama itu menyedihkan, terlebih lagi tinggal dengan papa yang pemarah dan cuek. Hidup Adel kini hampa, suram, dan gelap. Sejak kepergian mama, Adel jarang tersenyum. Wajahnya pun suram dan garis senyumnya tidak terlihat. Sungguh mengenaskan. 

Kini, Adel hanya bisa menerima nasib. Adel harus bertahan tinggal dengan papa, karena hanya papa yang bisa merawatnya dan membiayainya sekolah. Mungkin itu maksud mama, meninggalkan Adel untuk papa karena mama tidak bekerja, dan tidak mampu membiayai Adel. 
Setiap malam Adel hanya bisa menangis dikamarnya. Menangisi mama, wanita yang dari dulu sudah mengurus Adel sejak dari dalam rahim.

“Ya Tuhan.. kapan aku bisa merasakan kebahagiaan? Kebahagiaan yang sempurna.” 

***



PLAK!

Adel merasakan sesuatu mengenai punggungnya. Ia menoleh ke belakang, tidak ada orang. Lalu siapa?
“Hai.” Sapa seorang cewek bertubuh tinggi. Rambutnya diikat memakai pita. Adel sama sekali tidak mengenal orang ini.
Adel hanya memasang tampang bingung, cewek ini menepuk punggungnya dari belakang.
“kamu anak Pelita kan?” tanya cewek itu. Adel masih memerhatikan seragam yang dipakai cewek disampingnya. Ternyata sama. Sama-sama murid Pelita Ilmu.
“e-eh iya..” belakangan ini Adel jarang bicara dengan seseorang, mungkin inilah yang membuatnya gugup.
“Oh!” serunya sambil menunjuk pin yang dikerah kemeja Adel. Pin kelas 11. Semua anak kelas 11 memakai pin berwarna merah dikerahnya. Sedangkan kelas 10, pin mereka berwarna putih. Dan kelas 12, pin mereka berwarna hijau. Pin digunakan agar setiap guru dan siswa mengenali tingkat mereka.
Adel melihat ke kerah bajunya, ia memakai pin merah. Lalu ia menatap balik ke cewek itu, dilihatnya ia memakai pin putih. Junior.
“ow, sorry. Berarti kamu kakak kelasku. Hehehe..” katanya sambil tersenyum, memperlihatkan deretan giginya yang putih bersih.
“ya, gak papa. ada apa ya tadi?” Adel mengalihkan ke topik pertama. Cewek itu mendongak dan tersenyum lagi.
“nggak kok.. aku pingin kita jalannya bareng. Soalnya aku lebih suka bareng-bareng.”
Mereka berdua melanjutkan perjalanan ke gerbang sekolah. Jika dilihat, cewek ini lebih tinggi daripada Adel. Membuat Adel sedikit risih mengobrol dengannya.
“nama kamu siapa?”
“oh iya kak. Panggil aja Keke.”


Kini Adel memiliki kenalan baru, mungkin saja dapat mengisi hati Adel yang kesepian. Bisa saja Keke menjadi sahabatnya. Yang selalu ada disaat duka dan suka. Ya, semoga.

Disekolah, Adel bukanlah murid yang terkenal. Mungkin hanya teman sekelasnya dan teman-teman kenalannya yang mengenal Adel. Ya, karena Adel dikenal pendiam. Terlebih lagi disaat mama pergi, Adel lebih menjadi pendiam. 

Sebelumnya, Adel tidak terlalu pendiam. Waktu SMP, ia sangat aktif dan ceria, tapi disaat ia menginjak bangku SMA. Ia berubah, ia jadi suka memendam perasaan, dan pendiam. Mungkin karena sering melihat mama dan papa bertengkar. 

Sebelum bercerai, mama dan papa sering bertengkar. Pagi-siang-malam-pagi lagi, dan seterusnya. Terus-menerus sampai keduanya berhenti, itupun mereka berhenti karena melihat Adel yang sering menangis.

Tetapi, Adel harus tetap semangat. Hidup menjadi anak brokenhome memanglah sulit, tapi, ia harus menerima nasib. Tunggu, nasib? Siapapun bisa merubah nasib, mungkin Adel bisa merubah nasibnya, memunculkan kembali kebahagiaannya sendiri.


"Happiness come from your self.."

***



Sepulang sekolah, Adel melihat rumah sebelah ramai. Ada truk bahkan mobil pribadi. Adel sengaja memiringkan kepalanya agar bisa melihat isi truk itu, dan ternyata isi truk itu adalah barang-barang sipemilik rumah. Tiba-tiba terlintas dipikiran Adel tentang Pak Ari, tetangga yang sebelumnya menempati rumah itu. Pak Ari baru saja pindah lusa kemarin, ia membeli rumah baru dikawasan Selatan. Dan menjual rumahnya. Mungkin itu itu pemilik barunya. 

Dirumah, Adel hanya ditemani 3 orang. Yaitu Bi Anik pembantunya yang baru, Pak Kiki supir pribadi papa yang disuruh mengantar-jemput Adel, dan Pak Sugih satpam dirumah Adel. 


Adel bisa dibilang anak orang kaya, rumahnya saja besar sekali, memiliki kolam renang sendiri dan isi rumah yang mewah. Tak hanya itu, papa juga sudah menginvestasikan Rumah dikawasan Timur untuk Adel, rumah itu juga dikawasan cluster dan bisa dibilang besar juga. Papa juga memiliki 2 perusahaan, yang satu dipimpin oleh papa sendiri dan yang satu lagi dipimpin oleh kakek. 


Adel menghempaskan tubuhnya ke kasur. Ia menarik napas panjang dan membuangnya, lalu ditatapnya langit-langit kamar. Sejenak, ia memikirkan mama lagi. Mama sukses membuat mata Adel selalu bengkak dan berkantung.


Disatu sisi, Adel juga bosan dengan kehidupannya. Dirumah, ia sama sekali tidak memperoleh kasih sayang yang cukup. Bertemu dengan papa saja jarang, apalagi bisa mendapatkan kasih sayang. 


“ya Tuhan.. apakah hidupku akan selalu begini? Aku yakin, Kau telah merencanakan sesuatu yang baik untukku..”


Angin berhembus kencang memasuki jendela kamar Adel yang sengaja dibuka. Adel ingin menghirup udaranya, angin sore yang sejuk dan sedikit menenangkan hati. tiba-tiba, Adel ingin sekali berdiri didepan jendela. Lalu ia bangkit dan melangkahkan kakinya ke dekat jendela, dibukanya lebar-lebar kedua jendela kacanya itu. Seketika ia tersenyum. Senyum itu muncul lagi. 


Dikejauhan, Adel melihat pemuda bertubuh tegap dan tinggi memakai jaket varsity yang berjalan ke arah rumahnya. Melihat itu, Adel langsung keluar dari kamar menuju pintu rumahnya. 


Dan ternyata pemuda itu kerumahnya, lalu mengetuk pintu rumah Adel. Dengan lambat Adel membukanya, dan terlihat wajah tampan pemuda itu.

Adel terkesima. 


“Hai!"
"Kenalin, gue Adit. Tetangga baru disebelah rumah lo” ucapnya ramah, sambil menyodorkan tangannya.

Adel melongo, ternyata sipemilik rumah baru memiliki anak yang sebaya dengannya.

“eh,i-iya. Adelia” Adel menjabat tangannya dan menyebutkan namanya. Cowok itu mengangguk dan tersenyum. 


“eh, lo sekolah di pelita ya?” tanya Adit tiba-tiba sambil menunjuk Adel. Ternyata Adel belum mengganti seragamnya dengan baju rumahnya. Seragam Pelita Ilmu sangat simpel, kemeja putih yang dibalut dengan rompi berwarna biru, dasi pita untuk perempuan, dan dasi panjang untuk laki-laki, dan rok atau celana berwarna biru kehitaman.
Adel mengangguk.
“wah kebetulan nih, besok gue mulai sekolah disana. Kalo kaya gitu, kita berangkat bareng ya?” tawarnya dengan wajah sumringah.
Adel mengangguk lagi, “ya boleh.”
“yaudah, maaf ya udah ngeganggu lo. Yaudah, gue balik ya.”
Adel hanya mengangguk.

“semoga, ia bisa menyembuhkan luka dihati ini..”

-Continued

No comments:

Post a Comment