Thursday, October 30, 2014

Goodbye Happiness.


Cindy memasang matanya. ia arahkan ke sosok laki-laki yang sebaya dengannya. berpakaian seragam SMA yang rapih, dengan gaya rambut yang ngtrend masa kini, berbadan tinggi, dan... senyumnya yang mematikan. Cindy terus memperhatikan gerak-gerik lelaki itu. dan tak disangka. ada yang memperhatikannya dari jauh. ia memasang raut wajah kecewa, lalu pergi dan menghilang.

***

"kenapa lo Cin? daritadi senyum-senyum sendiri gak karuan gitu." Prilly memasang wajah serius dan menaikkan sebelah alisnya yang tebal. lalu mengerenyitkan dahi.

Cindy yang ditanya malah diam saja, ia masih tersenyum sendiri. larut kedalam senyuman maut sang gebetan. "ah, ga kenapa-napa kok Pril.."

"Bohong." sela Prilly. Prilly semakin mengerenyitkan dahinya, wajahnya yang manis ia rubah menjadi suram. sepertinya ia kecewa.

"gak usah main rahasia-rahasiaan deh. gue sama lo udah sahabatan 3 tahun. jadi gue tau gerak-gerik lo kalo lagi ngibul.." ucap Prilly sinis.

"jiahaha, muka lo biasa aja kali.. iya ntar gue cerita. sekarang kita belajar dulu, jangan sampe kita dilempar penghapus sama Bu Dena." bujuk Cindy sambil menyolek hidung sobatnya itu. mendengar Cindy akan cerita, Prilly langsung tersenyum dan mulai fokus kepada buku tulisnya sekarang.

"Aliiiii! kenapa senyum lo selalu terbayang diotak gue? arghhh!!!"

***

"mana? katanya lo mau cerita?" tagih Prilly sambil menaikkan sebelah alisnya. Cindy tersenyum lalu mengajak sahabatnya itu duduk dibangku taman sekolah. 
"lo tau Ali kan?" tanya Cindy
"Ali anak kelas XI-3 IPA itu kan?"
"iyaaaaa. gue suka sama dia." 
"Hah? yang bener?" teriak Prilly. 
wajah Cindy memerah. "sstttttt! jangan berisik! nanti ada yang denger!" 
"kok, lo bisa suka sama dia?"
"ceritanya panjang. pokoknya............"

*Flashback on*

"yah hujan." keluh Cindy sambil memandang langit yang mendung dan gelap, kali ini langit sedang menangis. 
"ish. mana gue lupa bawa payung. ah" Cindy mencoba berteduh diatap bangunan gerbang sekolahnya, masih banyak pula anak-anak yang berteduh disana. 
"udah jam segini lagi ah, gue kan harus ke tempat les. duh, naik angkot harus nyebrang. gak mungkin gue nerobos hujan, yang ada gue basah kuyup nanti. kalo nunggu reda, mau sampe kapan? arghh" Cindy mengacak-ngacak rambutnya. kini ia mulai berpikir keras bagaimana caranya ia sampai ke tempat les tidak terlambat dan tidak basah kuyup. 
akhirnya, Cindy memutuskan untuk menerobos derasnya air hujan. tapi..
ditengah jalan.. seseorang menghentikan langkahnya dan memegang payung meneduhi badan Cindy. Cindy mematung. ternyata, Ali telah memayunginya. mereka saling menatap satu sama lain. ketika itu, Cindy merasa waktu berhenti dan hanya ada dia dan Ali disitu. ia merasakan detak jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya, badannya terasa sangat dingin dan kaku. 
"Ali?" 
"lo pake dulu payung gue. ga mungkin kan lo nerobos hujan gitu aja, sekarang kan lo mau les, yang ada kalo lo nerobos hujan, lo basah kuyup dan  nanti bakal masuk angin." ucap Ali sambil memayunginya. Cindy melongo tak percaya. 
"tapi? lo nanti pake apa?" 
"yaelah, gue kan bisa lari-lari Cin. lagian kan gue langsung pulang. sedangkan lo harus ke tempat les, ga mungkin lah lo belajar basah kuyup gitu.." jawab Ali santai. 
Cindy tersenyum dan memegang tangkai payung yang masih dipegang Ali. "by the way, thanks banget Al. gue janji, besok payungnya bakal gue bawa kok!" 
"yoi sama-sama Cin. tapi lain kali, jangan lupa bawa payung ya, sekarnag kan lagi musim hujan. oh iya, hati-hati ya Cin. gue duluan ya." pamit Ali sambil memakai tudung kepala dijaketnya. lalu berlari. "HATI-HATI AL!" 
"tadi itu apa Cin?" 

*Flashback off*

"sejak itu... gatau kenapa gue seneng ngeliatin dia. terus, liat senyumnyaa bikin gue meleleh." tukas Cindy. 
Prilly melongo. "kok lo baru cerita sih sama gue?" 
"maaf Pril. habisnya waktu itu gue belum bisa mastiin kalo gue suka sama Ali..." 
"jadi, sekarang gebetan lo Ali?" 
"hehehe. bisa dibilang begitu.."
"cieeeeeeeee, tapi jujur sih, lo sama dia cocok kok." kata Prilly sambil mengacungkan 2 jari jempolnya. Cindy hanya tersenyum.

***

"Hai Cin. mau bareng ke tempat les gak?" sapa Rio ramah. Rio adalah sohibnya Ali, mereka udah sahabatan dari SMP. kebetulan, Rio juga sekelas sama Cindy ditempat les. 
"Hai Io. eng-- kayanya ngga deh. lo duluan aja deh hehe, oh iya, Ali kemana?" ditanya begitu, wajah Rio yang tadinya ramah berubah menjadi suram. 
"Ali? dia dilapangan basket. lagi main basket kayanya." jawab Rio santai. 
"oh kalo kaya gitu thanks ya, lo hati-hati ya Io" ucap Cindy lalu pergi dari sana. Rio langsung memakai helmnya lalu membawa motornya keluar dari parkiran. 

"Hai Al." sapa Cindy ramah, ia membawa sebotol minuman khusus yang ia beli untuk Ali. mungkin inilah awal pendekatan mereka. 
"Thanks Cin. lo belum pulang?" tanya Ali sambil meraih botol minumnya.
"enggak. gue pengen.. pengen ngeliat lo latihan hehehe. boleh kan?" tanya Cindy canggung. maklum saja, ia dan Ali bukan teman sekelas, tetapi mereka sama-sama kelas XI. 
"oh boleh-boleh. yang lain kebetulan udah pada pulang. lo mau nungguin gue?" Ali menaikkan sebelah alisnya. ia terlihat sangat tampan, ditambah badannya yang tinggi dan ototnya berisi dan kekar. wajahnya bercucuran keringat membuat Cindy ingin melakukan sesuatu.
"eh, ini lap dulu." Cindy memberi handuk yang ada ditas Ali yang terbuka. Ali mengambilnya dan tersenyum. Cindy merasa jantungnya mau copot. jujur, dalam hal pendekatan, sepertinya Ali gampang untuk didekati. 
"gue mau kok nungguin lo. daripada sekarang gue ke tempat les, masih sepi terus kan 1 jam lagi. yang ada gue bete disana." jawab Cindy sambil tersenyum malu. 
Ali mengangguk. "kalo gitu, gimana kalo kita main?" 
"tapi.. tapi gue gak bisa main basket." 
"gampang.. sini gue ajarin." Cindy tersenyum lalu melempar tasnya ke bangku penonton. lalu ia mengikuti Ali dari belakang. 
"coba lo masukin bolanya." perintah Ali sambil memberi bola. kini Cindy memegangnya dan mengambil jarak untuk memasukannya. 
"cara lo salah Cin. sini gue arahin." tukas Ali. Akhirnya, Ali memegangi tangan Cindy dari belakang. sontak Cindy grogi, dan ditambah kini badannya berubah menjadi panas, lalu bercucuran keringat. 
DASS! bola masuk kedalam ring basket. Cindy berhasil. 
"yes gue bisa!" teriak Cindy kegirangan, disisi lain ia merasakan jantungnya mau copot tadi. tapi semuanya terbayar sudah dengan perlakuan manis Ali kepadanya. 
"hahaha. gue ganti baju dulu ya Cin." 
"oke.."

ternyata, tanpa mereka sadari, ada seseorang yang menontoni mereka dari jauh. lalu orang itu pergi setelah Ali pun pergi ke kamar mandi. 

***


"Sial. gue telat 2 menit ke tempat les!" keluh Cindy setelah duduk dibangkunya yang paling belakang. disamping itu, Rio sedang memperhatikannya. 
"kenapa telat Cin?" tanya Rio.
"iya nih, tadi gue keasyikan main sama Ali disekolah hehe. Ali itu orangnya asyik banget ya. rame hahah" jawab Cindy sambil mengeluarkan buku dan alat tulisnya. Rio mengangguk. 
lalu, Cindy tersenyum sendiri. ia masih mengingat peristiwa tadi, dimana Ali memegang tangannya dari belakang. ia takkan pernah lupa momen itu. 

"Cin? mau bareng sama gue?" ajak Rio sambil memakai jaket varsitynya yang berwarna biru tua. 
"nggak usah Io. gue bisa pulang sendiri kok." Cindy menolak, karena ia memang terbiasa pulang sendiri. meskipun pulang malam pun, Cindy terkadang naik angkot atau naik ojek. 
"Cin, ini udah maghrib. bentar lagi malem. gue gak enak aja gitu ngeliat cewek pulang sendirian. kenapa lo gak pernah minta jemput? sama siapa gitu kek. jadi kan gak terlalu khawatir.." ucap Rio jelas. sangat terdengar jelas ditelinga Cindy. ia mendengar Rio sangat khawatir padanya. "kenapa Rio jadi care sama gue ya?"
"ng-- yaudah deh. gue gabisa nolak. btw, thanks ya Io. lo selalu nawarin gue pulang sama lo. tapi, apa lo gak merasa keberatan?"  
"ya nggak lah Cin. justru gue seneng." tukas Rio dengan suara pelan.
"hah apa?" 
"nggak. ya nggak lah Cin. kalo gue keberatan gak mungkin gue nawarin lo nebeng." kali ini perkataan Rio jelas terdengar. Cindy mengangguk. 
"nih, pake dulu helmnya." kata Rio sambil memberikan helm berwarna biru tua kepada Cindy. sepertinya Rio memang sudah berniat untuk mengantar Cindy kerumahnya, buktinya ia sudah membawa helm untuk cewek.
"helm lo bagus Io. hehe" Cindy pun segera naik ke motor Rio. dan akhirnya Rio melajukan motornya. 

Rio membawa motornya dengan kecepatan sedang, padahal kawasakinya itu tidak cocok dipakai pada kecepatan sedang. mungkin ia ingin mencairkan suasana. 
"Io?" 
"hm?"
"lo kok baik banget sih sama gue?" celetuk Cindy tiba-tiba. Rio hanya diam dan terus melajukan motornya. kali ini ia membawanya dengan cepat. 
"Io? jawab dong. kok diem aja?" 
"yaelah Cin. gue sama semua orang kaya gini kali. mungkin lo nya aja  baru ngeh kalo gue ini emang orangnya baik kok." kata Rio.
Cindy terdiam. ia baru tersadar kalau Rio memang terkenal cowok paling ramah dan baik disekolah. apalagi sama cewek, ia paling sopan memperlakukan cewek.
"lo pegangan yang kuat, gue mau ngebut nih." jelas Rio. akhirnya, Cindy memegang pinggang Rio, suasana menjadi canggung saat itu. Rio pun merasakan pegangan Cindy dipinggangnya. 

"Thanks Io. lo udah nganterin gue sampe depan rumah." Cindy tersenyum dan mencopot helmnya. 
"your welcome. kalo kaya gini kan gue tenang Cin.." kata Rio tersenyum ramah.
"hahaha. emang bener yah kata orang." 
"emang orang ngomong apa?" 
"yaa, mereka bilang lo baik. dan ternyata lo emang ramah, dan baik banget." merasa dipuji, Rio semakin mempermanis senyumnya. 
"oke. bye.." -----
"eh Cin!" sela Rio.
"apa?"
"thanks ya udah mau pulang sama gue." 
Cindy melongo, "eh. sama-sama Io." 
"good night." ucap Rio sambil menghidupkan mesin motornya. lalu pergi. 
Cindy hanya tersenyum simpul. 

Bersambung-

No comments:

Post a Comment